
"Daniel, ayo kita pergi makan berdua?" Tanya Laras tiba-tiba, seketika Alvian merasa sedih.
"Haruskah Daniel? Kenapa tidak Alvian?" Batin Alvian dalam hatinya.
"Laras....aku...."
Daniel tampak ragu, sekilas dia melirik ke arah Alvian yang terlihat sedih. Cintanya yang bertepuk sebelah tangan, membuat Alvian harus menahan rasa sakitnya sendirian tanpa Laras tahu.
"Laras, aku hari ini ada acara. Jadi maaf aku tidak bisa pergi makan malam bersamamu," tolak Daniel dengan alasan yang menurut dia masuk akal.
Laras mengangguk pertanda mengerti, sekilas Alvian tersenyum diam-diam.
"Daniel, kamu adalah sahabatku. Kamu bahkan menolak ajakan makan malam Laras," batin Alvian dalam hatinya.
Kini suasana menjadi hening seketika, semuanya diam, membuat Nara terlihat canggung, ini kenapa pada diam?
"Ras...." panggil Alvian, sengaja memecahkan keheningan yang ada saat ini.
"Iya Al, kenapa?" Jawab Laras malas, hatinya merasa kesal karena Daniel menolak ajakan makan malam bersamanya.
"Bagaimana, kalau kamu pergi makan malam denganku saja? Kamu pilih saja, makanan yang kamu suka, mahal juga tidak apa-apa yang penting kamu mau makan malam bersama denganku," kata Alvian. Tatapan matanya begitu penuh harap, jika Laras menolaknya ini akan menjadi sakit hati untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Laras tampak diam, dia sedang berpikir sambil menatap Alvian.
"Jika aku pergi bersamamu, lalu bagaimana dengan Nara?" Tanya Laras pada Alvian.
"Daniel kan malam ini ada acara, biarkan saja nanti Davin yang akan mengantarkan Nara pulang," kata Alvian meyakinkan Laras, matanya melirik Davin. "Iya kan Vin, kamu nanti yang akan mengantarkan Nara pulang?" Alvian menyikut lengan tangan Davin, dia berharap Davin mengerti dengan isyarat yang dia berikan padanya.
Davin terlihat kesal, dia paham akan isyarat yang Alvian berikan hanya saja dia tidak bisa bicara apa-apa hanya bisa menggerutu dalam hatinya. "Selalu saja, aku yang di jadikan kambing hitam," batin Davin dalam hatinya.
"Davin tidak menjawab, aku yakin pasti dia tidak mau." Laras sudah berburuk sangka, dia paham sekali kalau Davin itu sangat tidak suka dengan Nara.
"Apasih Ras, aku mau mengantarkan Naya pulang." Tandas Davin dengan tegas, Alvian langsung kegirangan dalam hatinya.
Sedangkan Daniel terlihat kecewa, karena alasannya ini demi bisa menolak Laras, dia harus merelakan gadis incarannya di antar pulang oleh Davin.
"Davin, terimakasih kamu memang yang terbaik." Kata Laras, membuat Davin menatap nya dengan kesal.
"Laras, kamu juga paling pandai kalau ngabisin uang aku," kata Davin. Senyumnya terlihat kesal tapi Laras malah tertawa.
"Hey, untung saja tadi ada aku dan Nara, coba kalau tidak. Pasti kamu harus melakukan kencan buta itu sampai selesai," Laras tertawa kecil, yang lain juga ikut tertawa.
Semuanya tahu, di antara mereka Davin lah yang selalu di paksa untuk pergi kencan buta oleh mamanya.
__ADS_1
"Vin, mamamu itu ya belum berubah juga." Kata Daniel, membuat Davin kesal.
"Kalau cantik, kamu tidak mau. Aku siap jadi pengantinnya," sambung Alvian yang juga sudah tertawa.
Davin merasa kesal karena sering menjadi olok-olokan para sahabatnya jika masalah kencan buta seperti ini.
"Al, kamu jadi pergi tidak? Atau aku akan berubah pikiran?" Tanya Davin, dengan nada mengancam.
"Jadi dong, ayo Laras kita pergi!" Ajak Alvian, dan mereka langsung pergi.
"Daniel, kamu juga ada urusan kan. Pergilah!" Davin menatap Daniel dengan sinis, bahkan dia mengusirnya secara halus.
Daniel terpaksa pergi, padahal dalam hatinya dia tidak rela kalau Nara harus berduaan dengan Davin.
Kini tinggal Nara dan Davin di bar itu, membuat Nara terlihat canggung dan Davin hanya diam sambil menikmati minumannya.
Saat itu di situ hanya ada keheningan di antara mereka berdua.
...BERSAMBUNG 🤗...
Terimakasih para pembaca setia 🤗
__ADS_1