Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Sandiwara cinta


__ADS_3

Sesampainya di luar rumah Nara mempoloti Davin dengan sorot mata tajam seolah-olah Nara mempertanyakan apa maksud dari ini semua? Kenapa sandiwara kita menjadi sangat menegangkan seperti ini?


Davin yang bisa mencerna sorot mata Nara, ia hanya tersenyum kecil. "Nanti kita bahas di rumah," lirih Davin dan ia langsung menarik Nara dan menyuruh Nara masuk ke dalam mobilnya.


Setelah Nara masuk ke dalam mobil, Davin pun beranjak masuk ke dalam mobil tapi belum sempat Davin membuka pintu mobilnya tiba-tiba ada salah penjaga rumahnya yang datang menghampiri Davin.


"Ada apa?" tanya Davin penuh curiga.


"Maaf Tuan Muda, kata Nyonya Marlin Tuan Muda tidak boleh membawa mobil ini," jawab sang penjaga rumah atas perintah dari Marlin.


Sekita Davin mengangguk paham, lalu ia segera menyuruh Nara turun dari dalam mobil miliknya itu.


"Ayo sayang kita pergi dari sini...." ajak Davin dan Nara hanya menuruti apa kata Davin.


"Davin memang sudah gila, entahlah sandiwaranya mengapa menjadi berantakan seperti ini?" batin Nara dalam hatinya.


Sebelum pergi meninggalkan rumahnya Davin memberikan kunci mobilnya pada sang penjaga rumah suruhan mamanya itu.


"Aku bisa hidup tanpa uang mama," batin Davin dalam hatinya.


Davin menggenggam tangan Nara dengan erat, lalu menatap Nara dengan sorot mata lembut.

__ADS_1


"Katakan pada mama, aku tidak membutuhkan mobil ini lagi!" titah Davin dengan tegas, lalu Davin langsung mengajak Nara pergi dari hadapan sang penjaga rumah itu.


Kini Davin dan Nara berjalan melangkahkan kaki keluar sambil bergandengan tangan.


"Vin, ini kenapa malah menjadi seperti ini sih?" tanya Nara, terlihat raut wajah Nara sangat marah pada Davin.


"Gadis kampung, siapa yang tau kalau akhirnya akan seperti ini?" Davin malah balik bertanya dengan santainya, membuat Nara menginjak kaki Davin dengan kuat. "Auhh sakit bodoh..." cetus Davin seraya memegangi kakinya yang baru saja diinjak oleh Nara.


Dalam hati Davin, sandiwara cinta yang aku buat semuanya menjadi kacau, entahlah mama itu kebangetan sekali pada calon mantunya, ehh maksudnya calon mantu pura-pura maksudnya.


Dalam hati Nara, kenapa aku tadi mau menuruti sandiwara cinta konyol sih dedemit ini? Nara, kamu itu sungguh bodoh, entah akan bagaimana hidupku selanjutnya? Niat ke kota mau mencari uang yang banyak, ini malah ada-ada aja dan kenal dengan laki-laki aneh seperti Davin.


Nara hanya bisa mengutukki dirinya sendiri dari dalam hatinya.


"Kembali ke Apartemen, sayangku...." Jawab Davin dengan semangat.


Nara hanya mengangguk, akhirnya mereka berdua pulang menuju ke Apartemen milik Davin dengan naik bus.


Di dalam bus Davin terlihat risih dan tidak nyaman, apalagi ini pertama kalinya Davin naik bis, karena sebelum kejadian ini terjadi Davin itu kemana-mana selalu naik mobil atau jika pergi kemana saja dia selalu diantarkan oleh supir pribadinya.


"Gadis kampung, apa tidak ada tempat duduk?" tanya Davin, ia dan Nara sama-sama berdiri karena busnya penuh dengan penumpang.

__ADS_1


"Apa matamu buta? Kamu lihatkan semua kursi penumpang sudah penuh!" lagi-lagi Nara menjawab pertanyaan Davin dengan ketus, sungguh sangking kesalnya sama Davin.


"Mataku dari tadi hanya melihatmu yang sedang kesal, dan kamu itu terlihat lebih cantik dari biasanya." Davin malah menggombali Nara sambil senyam-senyum tanpa merasa bersalah sama sekali pada Nara.


"Terserah kamu saja! Dasar dedemit sinting," cibir Nara dan memilih fokus pegangan karena tidak mau sampai terhuyung dan jatuh tepat di pelukan Davin.


"Dedemit sinting, lalu kamu apa? Gadis galak yang super ketus?" Davin malah balik mencibir Nara dengan jail.


Nara memilih diam saja, ia tahu jika meladeni Davin itu tidak akan ada habisnya dan yang ada perdebatan pasti akan sangat panjang.


Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di apartemen miliknya Davin, mereka berdua masuk ke dalam apartemen itu, sesampainya di depan pintu apartemen miliknya itu Davin membuka pintunya tapi lagi-lagi tidak bisa ia lakukan.


"Ini kenapa lagi?" Davin mengotak-atik pintunya tapi tetap tidak bisa dibuka..


"Ada apa Vin?" tanya Nara, ia melihat Davin cukup panik.


"Sepertinya ini ulah mamaku lagi," jawab Davin dengan helaan nafas kesal.


Nara mengangguk paham, sungguh sandiwara cintanya berakhir tidak jelas dan akhirnya dirinya dan Davin tidak tahu mau kemana lagi?


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2