Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Berhenti jadi pacar pura-pura


__ADS_3

Seketika Davin menatap Daniel dengan tatapan sengit.


"Nara, ayo kita bicara....!!!"


Dalam hati Nara, apalagi yang mau Davin bicarakan padaku? Muncul tiba-tiba, lalu seenaknya mengajak bicara, dasar laki-laki menyebalkan.


"Bicara disini saja Vin!" pinta Daniel, dengan tatapan tidak suka pada Davin.


"Tidak bisa, ini rahasia." Jawab Davin tegas, lalu Davin langsung meraih tangan Nara dan menarik Nara entah kemana?


Daniel menatap Davin semakin sengit, selalu saja Davin ini menjadi nyamuk penganggu di antara dirinya dan Nara, pasti datangnya juga tiba-tiba.


"Apaan sih Vin? Datang-datang main tarik orang sembarangan, kamu tidak lihat aku sedang makan berdua dengan Kak Daniel?" Nara menatap Davin sengit, dengan kasar Nara juga mengibaskan tangan Davin dengan kasar.


"Kamu yang kenapa? Aku telpon tidak di angkat, aku kirim pesan tidak balas, aku itu tadi sangat butuh bantuan kamu untuk pergi dari kencan buta gila yang sudah mamaku atur," sahut Davin terdengar suara Davin agak menekan.


"Aku lupa, ponselku baterainya habis." Jawab Nara dengan jujur.


"Dasar pacar pura-pura tidak becus," omel Davin dengan wajah yang kesal, Davin terus menatap Nara.


"Mulai sekarang aku berhenti jadi pacar pura-pura kamu, aku juga mau keluar saja dari Apartemen milikmu, aku tidak mau menjadi beban untukmu," sahut Nara dan Nara berlalu pergi dari hadapan Davin.

__ADS_1


Mungkin ini yang terbaik, karena jika Nara terus menjadi pacar pura-pura Davin, entah kapan Nara bisa dekat dengan laki-laki lain dengan tenang, ini saja sedang makan berdua dengan Daniel, tiba-tiba cecungguk Davin datang.


Setelah Nara berlalu pergi, Davin menghela nafas kesal, baru beberapa hari pacaran pura-pura ini sudah di tinggalkan.


"Aish, Davin ini semua salahmu.....!!"


"Kamu yang tidak sabar, Nara sedang bersama Daniel, kamu main tarik begitu saja."


"Davin, kamu terlalu gegabah."


Davin menggaruk-garuk kepalanya, bahkan Davin terus menyalakan dirinya sendiri tanpa henti.


Kini Nara sudah duduk di sebelah Daniel, Daniel melihat Nara seperti sedang kesal.


"Nara, kamu kenapa?" tanya Daniel.


"Apa, Davin berbuat sesuatu?" sambung Daniel dengan perasaan kawatir.


Nara tersenyum kecil, lalu diam-diam melirik Daniel. "Kak Daniel, kamu tampan sekali," batin Nara dalam hatinya.


"Kok malah senyam-senyum sih Nar?" tanya Daniel, yang ternyata sadar kalau Nara dari tadi memperhatikan dirinya.

__ADS_1


"Ehh tidak kak...." Jawab Nara gugup.


"Davin, berbuat macam-macam?" Daniel kembali bertanya.


"Tidak kak, oh iya kak aku mau pamit pulang dulu ya, aku ada urusan." Nara bergegas pergi dari hadapan Daniel.


Melihat Nara pergi terburu-buru, Daniel hanya diam sambil memperhatikan Nara, hatinya terus berpikir, apakah terjadi sesuatu antara Davin dan Nara?


Nara langsung pergi menuju ke ruangan Alvian, untuk izin pulang lebih awal, karena Nara ingin membereskan semua pakaiannya dan segera pindah dari Apartemen milik Davin secepatnya, entah Nara mau pergi kemana lagi?


Kini Davin berjalan ke meja tempat Daniel sedang makan dengan raut wajah yang sulit di artikan oleh Daniel.


Davin main duduk di hadapan Daniel, bahkan dia tiba-tiba meminum minuman bekas minum Nara, Daniel semakin bingung di buat oleh Davin. "Ada apa dengan Davin?" batin Daniel dalam hatinya.


"Vin, apa kamu sudah tidak waras? Tumben kamu mau minum bekas punya orang," sindir Daniel dengan tatapan bingung.


"Orang siapa? Orang ini minuman punya Nara kan," jawab Davin asal jeplak begitu saja.


Daniel menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, entah sahabatnya ini kesambet apaan? Sampai-sampai seperti orang tidak waras seperti ini.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2