Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Laras diabaikan


__ADS_3

"Ceklek....."


"Kamu.... untuk apa kamu kesini?"


Melihat Laras yang datang bukannya bahagia tapi Alvian malah memasang wajah masam.


"Aku merindukan kalian, makanya aku datang Al," ujar Laras, tanpa disuruh masuk oleh Alvian, Laras main masuk saja ke dalam ruangan Alvian.


"Merindukan Daniel kan, Daniel tidak datang kesini," sindir Alvian, biarpun ia belum move on sepenuhnya dari Laras, tapi Alvian sudah tidak mau berharap lagi pada Laras.


"Al, kamu gimana kabarnya?" Laras mencoba mengalihkan pembicaraan Alvian.


"Seperti yang kamu lihat," sahut Al dengan malas, ia berjalan ke kursi kerjanya lalu ia duduk disana dan kembali sibuk dengan laptopnya.


"Masih marah padaku?" tanya Laras lagi.


"Aku tidak pernah marah padamu, aku yang salah, sudah mencintai gadis yang salah," lagi-lagi Alvian menjawab pertanyaan Laras dengan malas, ia lebih memilih fokus dengan laptopnya.


Laras merasa canggung, beda sekali Alvian yang dulu dan yang sekarang, ya bagaimana tidak beda, laki-laki yang sudah mencintainya sejak lama tapi ternyata gadis yang di cintai olehnya malah mencintai sahabatnya sendiri.


Alvian mencoba mengalah, ia berusaha move on biarpun itu sangat sulit ia lakukan. Tapi Al juga tidak mau terus-terusan cintanya tidak terbalaskan.

__ADS_1


"Tok...tok...."


"Masuklah...!!"


Davin dan Nara membuka pintu ruangan Alvian, lalu mereka masuk ke dalam ruangan kerja Alvian.


"Nara, Davin, ada apa?" tanya Alvian.


"Kita hanya ingin makan siang bersama denganmu Al, apakah boleh?" jawab Davin, melihat Laras Davin menghela nafas kesal. "Apakah, Al kembali lagi pada Laras?" batin Davin dalam hatinya.


"Tentu saja boleh," jawab Alvian dengan senang hati.


Laras tercengang melihat Davin memakai pakaian pelayan cafe, ini ada apa? Davin juga memakai pakaian seorang pelayan, apakah Davin sudah jatuh miskin? Laras merasa banyak yang berubah, Davin yang dulunya asik juga saat bertemu dengan dirinya ia hanya diam saja.


"Vin, aku makan diluar saja bareng teman kerja yang lain," kata Nara.


"Ra, kamu makan disini saja bareng kita!" pinta Alvian, sebelum Nara melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangannya.


Nara tidak jadi melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan Alvian, Davin juga terus menggenggam tangan Nara dengan lembut.


"Ada aku, kamu tidak usah kawatir," dengan sorot mata lembut Davin menyakinkan Nara.

__ADS_1


"Kalian gandengan sudah seperti truk gandeng saja," sindir Laras dengan gaya agak sombongnya.


"Kita sudah resmi pacaran jadi kita gandengan," tandas Davin dengan tegas.


"Kalian jadian, baguslah jadi Nara tidak akan menjadi orang ketiga lagi untuk hubungan aku dan Daniel," ujar Laras dengan santainya, tanpa memikirkan perasaan Alvian sama sekali.


"Nara, Davin, ayo kita makan! Kalian bawah makanan apa?" Alvian memilih mengalihkan pembicaraan Laras.


Davin dan Nara langsung menuju ke sofa, lalu mereka menaruh makanan yang mereka bawah di atas meja.


Davin membawa tiga jus jeruk dan Nara membawa 3 porsi makanan, ya wajar kan mereka tidak tahu kalau Laras ada di ruangan Davin.


Alvian beranjak dari kursi kerjanya, ia berjalan melewati Laras begitu saja, sungguh tidak Laras sangka, Alvian yang dulu begitu perhatian kini mengabaikan dirinya begitu saja.


Kini Alvian sudah bergabung dengan Davin dan Nara, mereka siap menikmati makan siang bersama sedangkan Laras malah di abaikan begitu saja oleh mereka bertiga.


"Kalian mengabaikanku?" tanya Laras dengan sorot mata kesal.


"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Alvian cuek. "Di abaikan tidak enak kan," gumam Al dengan suara lirih.


Laras merasa sangat kesal, menurut Laras para sahabatnya ini begitu tega pada dirinya!

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2