Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Tidak sepadan


__ADS_3

Seketika tatapan matanya Marlin langsung membulat sempurna.


"Apakah itu benar.....?" tanya Marlin sambil melihat Nara dengan sorot mata tajam.


"Tante....." Nara menghentikan kata-katanya, Nara tidak yakin untuk melanjutkan kata-katanya.


Tubuh Nara gemetaran, Nara merasa canggung dan keringatnya begitu dingin, melihat sorot mata Marlin yang tajam Nara merasa takut.


"Lanjutkan....!!" tatapan mata Marlin terlihat tidak suka pada Nara "Jelas-jelas cantikan Sita, keluarganya juga sepadan, tapi Davin ini malah membawa perempuan kampungan ini ke rumah," batin Marlin dalam hatinya.


"Ma, Nara memang kekasihku." Davin berusaha menyakinkan mamanya, Nara juga mengangguk.


"Sayang, kamu tidak usah gerogi di hadapan mama ya!" pinta Davin, seraya mengusap pucuk kepala Nara dengan lembut.


Dalam hati Marlin, apa-apaan Davin ini sungguh dia benar-benar sudah turun kasta, aku pilihkan gadis yang cantik, sepadan dengan keluarga ini malah membawa gadis kampung, sungguh tidak habis pikir mama denganmu Vin.


Nara hanya tersenyum kecil, rasanya dia ingin cepat-cepat keluar dari dalam rumah Davin, apalagi dia sadar kalau mamanya Davin tidak terlalu suka dengan kedatangannya.


"Mama, ayo kita duduk....." ajak Davin, lalu menarik tangan mamanya dengan tangan sebelah kirinya dan menarik tangan Nara dengan tangan sebelah kanannya.

__ADS_1


Kini mereka bertiga duduk di ruang keluarga, Nara hanya menundukkan kepalanya sambil menaruh kedua tangannya di pangkuannya.


Sedangkan Marlin duduk agak jauh dari Nara dan Davin, sorot matanya juga terlihat semakin tidak suka pada Nara.


"Apa kerjaan orang tuamu?" tanya Marlin dengan tatapan dingin.


"Kedua orang tua saya hanya seorang petani di sebuah desa, tan." Nara menjawab pertanyaan dari Marlin dengan tenang.


"Oh pantesan kamu terlihat begitu kampungan ternyata kamu berasal dari desa, sungguh tidak di sangka anakku akan menyukai gadis kampung sepertimu, padahal banyak gadis yang berlomba-lomba ingin bisa menikah dengannya," kata Marlin dengan nada meremehkan.


Nara menghela nafasnya dengan pelan, rasanya tidak sudih sekali di remehkan oleh Mamanya Davin, apalagi Nara juga sebenarnya bukan pacar Davin yang sesungguhnya.


"Benar kata Nara ma, beda dengan gadis-gadis lain yang mama kenalkan padaku, aku yakin mereka mau denganku karena aku anak orang kaya, mereka juga tidak akan mau jika Davin ajak makan di pinggir jalan, mereka juga pasti akan memilih membeli barang branded, dan tentunya suka menghambur-hamburkan uang," sambung Davin dengan begitu berani.


Mata Marlin melirik tajam Davin, membuat Davin agak deg-deggan, karena sang mama yang tidak pernah mau mengalah pada dirinya.


"Lalu apa bedanya dengan gadis kampung ini? Mama yakin, lama kelamaan gadis kampung ini pasti akan menghabiskan harta yang kamu miliki juga," sindir Marlin dengan pedas.


"Mama cukup......!!!"

__ADS_1


"Davin sudah besar, Davin bukan anak kecil yang bisa mama atur hidupnya kapan saja dan mama juga tidak berhak bicara seperti itu karena Nara itu berbeda dengan gadis yang lain apalagi gadis-gadis yang mama kenalkan padaku, Nara jauh lebih baik dari mereka semua." Davin melawan Marlin dengan tegas, Marlin ternganga tidak percaya, sungguh anak kesayangannya ini sudah berani terang-terangan melawan dirinya, apalagi di hadapan gadis kampung ini, seketika tatapan Marlin semakin kasar dan tidak suka pada Nara.


"Belum apa-apa saja, kamu sudah berani membuat Davin melawan padaku," kata Marlin dengan sorot mata berapi-api.


"Mama cukup....!!"


"Bukan Nara yang membuat Davin melawan mama, Davin hanya tidak mau kalau hidup Davin terus-terusan di atur oleh mama," jelas Davin dengan tegas.


"Terserah kamu saja, mama yakin kamu tidak akan bahagia hidup dengan gadis kampung ini!" tandas Marlin, sebagai seorang ibu yang tidak terima kalau Davin berpacaran dengan gadis yang tidak sepadan dengan hidup mereka.


"Aku akan buktikan pada mama, kalau aku dan Nara akan hidup bahagia untuk selamanya!" jawab Davin dengan tegas, membuat Nara ternganga tidak percaya.


"Davin, inikan hanya pura-pura tapi kamu sampai melawan mama kamu," batin Nara dalam hatinya.


Marlin hanya tertawa meremehkan, dia tahu kalau Davin itu tidak bisa hidup tanpa uang darinya itulah yang ada di otak Marlin, Davin itu anak manja yang tidak bisa apa-apa tanpa uang dari kedua orang tuanya.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2