Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Sikap cuek Alvian


__ADS_3

Sungguh mereka itu membuat Nara pusing dan hanya bisa geleng-geleng kepala.


Nara memilih menggeser duduknya agar agak jauh dari Davin, tapi dalam hati Davin malah mendengus kesal.


"Kenapa dia malah bergeser? Tadi perasaan waktu di dekat Daniel, dia biasa saja," batin Davin dalam hatinya.


"Nar, kamu sudah makan belum?" tanya Alvian tiba-tiba, seketika Nara kaget mendengar Alvian bertanya seperti itu.


"Belum bos, tapi nanti kalau lapar saya akan makan bos, apa bos ingin makan sesuatu?" tanya Nara, dia menghormati Alvian sebagai bosnya.


"Nar, aku pingin apel, bolehkah kamu kupaskan apel untukku?" tanya Alvian, Laras menatap Al agak kesal. "Bukankah tadi aku menawari Al mau aku kupaskan buah atau tidak? Lah kenapa, harus Nara?" batin Laras dalam hatinya.


Seketika Laras menatap Nara dengan tatapan tidak suka, apalagi perhatian tiba-tiba laki-laki yang ada di hadapannya ini semua tertuju pada Nara.


"Baik bos..." Nara hendak beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba Davin menarik tangan Nara dengan kasar. "Tetaplah duduk, biar aku saja yang kupaskan apel untuk Alvian!" cegah Davin, seketika Daniel menatap Davin dengan tatapan sulit di artikan.


"Apa Davin sudah mulai gila? Kenapa dia berubah menjadi aneh dari tadi," batin Daniel dalam hatinya.


Nara mengangguk, lalu Davin beranjak dari tempat duduknya dan dia mengupaskan Apel untuk Alvian.


"Al, aku saja yang kupaskan apelnya ya?" tawar Laras, tapi Alvian menatap Laras dengan cuek. "Tidak usah Ras, biarkan Davin saja!" tolak Al, kali ini dia berusaha tidak mau mendapatkan perhatian dari Laras.

__ADS_1


Laras mengangguk, sungguh kenapa Alvian menjadi aneh seperti ini?


"Nar, Davin sepertinya sudah mulai gila." Bisik Daniel pelan di telinga Nara.


"Sungguh kak! Apakah, kita perlu membawanya ke rumah sakit jiwa?" Nara balik bertanya, dia menahan tawanya.


Memang Nara juga merasakan ada yang aneh pada Davin, mungkin Davin sedang kesambet dedemit, makanya mendadak aneh tidak jelas.


"Aturan Nar," sahut Daniel yang diiringi tawa kecil di sudut bibirnya.


Davin melirik ke arah Daniel dan Nara, sungguh tatapan Davin terlihat begitu tidak suka apalagi melihat Daniel dan Nara tertawa bersama, itu membuat Davin seketika menjadi kesal.


Setelah selesai mengupas kan buah apel untuk Alvian, Davin memberikan sepiring kecil buah apel itu pada Alvian.


Davin mendengus kesal, lalu dia melihat ke arah Laras. "Laras saja yang siapin kamu ya," sahut Davin malas, haruskah dia menyuapi Alvian? Aish sungguh jika ada suster atau Dokter yang tiba-tiba masuk, pasti akan mengira kalau mereka ini jeruk makan jeruk.


Sekilas Alvian menatap Laras dengan tatapan malas. "Sudahlah tidak usah, biar aku makan sendiri saja atau aku akan meminta tolong pada Nara saja, Naraaa!!!!" mata Alvian tertuju pada Nara. "Iya bos?" sahut Nara dengan nada lembut.


"Kamu....."


"Aish, Al biar aku saja yang suapi kamu!" cegah Davin, yang lagi-lagi bersikap aneh.

__ADS_1


Alvian tersenyum dalam hatinya, dia tahu tingkah Davin itu sangat berbeda dari biasanya.


"Terimakasih sahabatku..." kata Alvian, yang membuat Davin tersenyum malas.


Davin menyuapi Alvian, sedangkan Daniel menatap pemandangan ini dengan tatapan tidak biasa. "Sungguh Davin, sudah benar-benar gila," batin Daniel dalam hatinya.


Laras menatap kesal Alvian, sungguh Laras hanya di abaikan oleh Alvian, tidak biasanya Alvian bersikap seperti ini pada dirinya.


"Al, kamu ini sedang kenapa?" batin Laras dalam hatinya.


Laras yang merasa kehadirannya tidak inginkan, akhirnya Laras mengajak Nara untuk pulang. Sungguh, hati Laras seketika menjadi marah pada Alvian.


Setelah Nara dan Laras sama-sama pulang, Alvian menarik nafasnya dengan berat.


"Apa aku salah, aku sudah mengabaikan Laras? Aku hanya tidak ingin berharap lebih, aku juga ingin membuka hatiku untuk wanita lain saja," keluh Alvian dengan nada suara yang tidak bahagia.


"Lakukan apa yang menurutmu baik!" saran Davin, dia juga tidak mau terlalu ikut campur urusan percintaan apalagi dia sendiri juga gagal dalam percintaannya.


Daniel hanya bisa diam, dia rasa dirinya lah yang harus tegas dalam hal ini.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2