Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Sindiran keras buat Davin


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti pagi biasanya Alvian, Davin dan Nara berangkat ke cafe bersama-sama mengunakan mobil milik Alvian.


"Nara, lihat apakah ini bagus?" tanya Alvian, ia menunjukkan sebuah kotak cincin yang berisi cincin sepasang pada Nara.


"Bagus sekali, apa bos mau melamar kekasih bos?" tanya Nara penasaran.


"Iya Nar, nanti di cafe," jawab Alvian dengan senyuman hangat di bibirnya.


Nara beralih menatap Davin yang dari tadi hanya diam saja tidak sebawel biasanya.


"Jika sudah yakin memang harus segera di lamar saja bos, lagian kalau lama-lama takut di ambil orang," kata Nara dan sengaja menyindir Davin biar peka.


"Iya Nar, aku kan bukan Davin, pacaran lama-lama," sindir Alvian sengaja agar Davin juga segera halalin Nara.


"Kalian berdua sedang menyindirku," cebik Davin kesal.


"Al, aku akan menikahi Nara," sahut Davin dengan yakin.


"Nar, kamu jangan kawatir, tidak akan ada yang berani mengambil kamu dari seorang Davin," dengan tegas Davin mengatakan hal itu pada Nara.


Begitu yakinkan Davin, padahal hati manusia tidak ada yang tahu, siapa tahu suatu saat nanti hati Nara berubah, kan tidak ada yang tahu.


Alvian dan Nara saling menatap dan mereka hanya sama-sama tertawa kecil.


Kini mereka akhirnya sampai di cafe, Alvian, Davin dan Nara turun dari mobil.


Davin dan Nara langsung bergegas ke loker untuk berganti pakaian, sedangkan Alvian langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya dan ia mau menunggu Rena datang ke cafenya.


Sambil duduk di kursi kerjanya, Alvian tak henti-hentinya melihat cincin sepasang ya ia beli, rasanya tidak sabar ingin memakaikan cincin ini di jari Rena.


"Laras, pada akhirnya aku harus melupakanmu, karena aku sadar kamu bukanlah jodohku," gumam Alvian dalam hatinya.


Jika ia terus memikirkan Laras, entah kapan dia akan bahagia? Jadi inilah saat terbaik untuk aku bersatu dengan cinta sejatiku dan segera menyebar undangan pernikahan untuk Laras.

__ADS_1


***


Di loker hanya ada Davin dan Nara, saat Nara selesai berganti pakaian tiba-tiba Davin menarik tangan Nara dan mendorong tubuh Nara hingga kini Nara berada di kukuhannya tubuh kekarnya.


"Katakan padaku, jika ada laki-laki lain yang akan melamarmu, apakah kamu akan menerima laki-laki itu?" tanya Davin, tubuh Nara sudah terkunci sehingga ia tidak bisa bergerak kekanak-kanakan. Debaran jantungnya begitu kencang, ia takut ada seorang yang datang melihat ini semua.


"Apa salahnya jika aku menerimanya? Lagian jika seorang laki-laki yang tak kunjung memberikan kepastian, untuk apa di pertahankan?" jawab Nara dengan tegas.


Davin malah menatapnya dengan tajam. "Selamanya kamu akan menjadi milikku," kata Davin dan tanpa permisi ia mencium bibir Nara dengan lembut, membuat Nara membelalakkan kedua matanya karena terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Davin.


Kini ciuman Davin semakin dalam membuat, Nara susah bernafas dan akhirnya Nara mengigit bibir Davin dengan keras, membuat Davin buru-buru melepaskan ciumannya itu.


"Sakit, kenapa di gigit sih?" omel Davin pada Nara.


"Lagian kamu suka nyosor sih, kalau ada yang melihatnya bagaimana?" Nara balik mengomeli Davin.


Bukan balik ngomel kali ini Davin malah tersenyum senang. "Bagus dong kalau ada yang lihat, akan menjadi gosip terpanas nanti di cafe," cibir Davin dengan jail.


"Nyebelin tapi sayangkan," ledek Davin semakin jail.


Kini mereka siap untuk berkerja, namun tiba-tiba ponsel Davin berdering dan ternyata itu telpon dari Alvian.


Davin mengangkat telpon dari Alvian.


"Ada apa, Al?"


"Vin, ke ruanganku sekarang, ajak Nara ya!"


"Baiklah."


Tanpa menunggu lama, Davin langsung mengajak Nara pergi ke ruangan Alvian, entah ada apa disana?


Sesampainya di ruangan Alvian, Davin dan Nara langsung masuk dan di sana sudah ada Rena.

__ADS_1


"Al, ada apa? Apa kamu mau pamer kemesraan?" sewot Davin saat melihat ada Rena di dalam ruangan Alvian.


"Aku ingin kalian menjadi saksi cintaku dengan Rena, Vin biar kamu cepat nyusul," ledek Alvian dengan jail.


"Baik-baiklah akan aku saksikan cinta kalian," kata Davin dan di anggukin oleh Nara.


Kini Rena duduk di kursi yang terbatas meja kerja Alvian, lalu Alvian beranjak dari tempat duduknya dan kini sudah berjongkok di hadapan Rena. Sedangkan Davin dan Nara berdiri berdampingan.


"Rena, maukah kamu menikah denganku?" tanya Alvian tanpa basa-basi.


Rena cukup terkejut dan tidak percaya, tapi hatinya begitu bahagia.


"Al, apa kamu serius?" tanya Rena masih belum percaya.


"Aku serius Ren," jawab Alvian dengan tegas.


"Terima Ren!!!" titah Davin.


"Terima, terima!!" seru Nara sambil senyam-senyum.


Rena tersenyum pada Alvian dengan begitu sumpringah. "Al, aku mau menikah denganmu," jawab Rena dengan senang hati.


Alvian tersenyum bahagia, lalu ia menyematkan cincin di jari manis Rena, dan Rena juga menyematkan cincin di jari manis Alvian.


Jodoh memang tidak ada yang tahu, siapa yang di kejar dan ternyata orang lain yang menjadi jodohnya.


Mudah-mudahan Davin dan Nara bisa cepat menyusul Rena dan Alvian.


Akhirnya lamaran Alvian di terima oleh Rena dan Alvian juga sudah bisa move on dari Laras.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2