
Seketika kedua tangan Davin langsung mengepal sempurna, sorot matanya tampak marah, cemburu berat kini melanda hati Davin.
Entah apa yang akan terjadi di antara mereka nanti?
"Darimana kamu...?" tanya Davin dengan nada galak, ia melihat Nara dengan sorot mata yang sulit di artikan.
"Kamu bertanya padaku?" sahut Daniel sambil menatap Davin dengan senyum kemenangan.
"Untuk apa juga aku bertanya padamu," sahut Davin dengan nada membentak.
Nara menghela nafas berat, lalu ia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Daniel.
"Sini kamu.....!!" Davin tiba-tiba menarik tangan Nara, hingga Nara jatuh tempat di pelukannya.
"Vin, kamu kenapa sih?" Nara terlihat kesal, siapa yang tidak kesal orang sedang berdiri tiba-tiba di tarik begitu saja.
"Nara, kamu itu adalah kekasihku, lalu kamu seenaknya jalan dengan laki-laki lain," tandas Davin dengan sorot mata tegas pada Nara.
Dalam hati Nara, bukankah semuanya hanya sandiwara, tapi ini apalagi?
__ADS_1
"Vin kita itu hanya....!!!"
"Hanya apa? Mulai sekarang kita pacaran secara resmi." Davin memotong kata-kata Nara dengan cepat.
"Tapi Vin......"
"Tapi apalagi?" tanpa meminta izin dari Nara, Davin langsung mencium bibir Nara dengan cepat, membuat mata Nara membulat kesal, tapi Nara juga tidak bisa menolak ciuman Davin itu karena Davin saat ini menarik tekuk lehernya dengan kuat menggunakan tangannya.
Dan saat ini ciuman Davin semakin panas, membuat Nara tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menikmati ciuman paksa dari Davin itu.
Hingga Nara merasakan sesak nafas dan dengan kesal Nara menggigit bibir Davin membuat Davin langsung melepaskan ciumannya.
"Aish, kenapa kamu menggigit bibirku?" tanya Davin, sambil memegangi bibir yang tadi bekas di gigit oleh Nara.
Alvian tersenyum senang melihat pemandangan yang tepat ada di hadapannya itu.
"Vin, aku rasa kamu harus cek kewarasanmu saat ini...!!" suruh Alvian, ia juga cukup kaget melihat hal yang begitu wow di hadapannya secara langsung.
"Al, aku masih waras, aku melakukannya tentu saja dengan kesadaran tingkat dewa," kata Davin dengan tegas, dan sorot matanya menatap Daniel penuh ketegasan, bahwa Nara itu sudah resmi menjadi miliknya.
__ADS_1
"Daniel, aku tegaskan kalau Nara itu sudah resmi menjadi kekasihku, jadi kamu tidak boleh mengajaknya jalan berdua lagi!" tandas Davin dengan tegas pada Daniel.
Daniel menatap Davin masih tidak percaya, ia yakin kalau ini hanyalah permainan Davin saja.
"Vin, selagi janur kuning belum melengkung, Nara bukan milik siapapun!" jawab Daniel dengan tegas, ia menatap Nara yang masih diam saja. "Nara, aku tetap akan berusaha mendapatkanmu," batin Daniel dalam hatinya.
"Dan aku tidak akan membiarkan kamu merebut Nara dari hidupku....!!" sahut Davin, ia langsung menarik Nara masuk ke dalam pelukannya.
Daniel tersenyum malas, biar bagaimanapun Daniel tidak terima jika Nara harus menjadi kekasihnya Davin.
"Ayo ikut denganku....!!" ajak Davin dan ia menarik tangan dengan lembut, lalu berlalu pergi dari hadapan Alvian dan Daniel. Entah Davin itu mau mengajak Nara kemana?
Setelah Davin dan Nara berlalu pergi, Daniel masih terus melihat ke arah Davin dan Nara berjalan.
"Nil, biarkanlah Nara bersama dengan Davin!" tutur Alvian pada Daniel.
"Tidak, aku yang lebih dulu menyukainya, maka aku harus mendapatkannya!" tandas Daniel dengan tegas.
Alvian hanya menghela nafas berat, biarkanlah kedua sahabatnya ini bersaing secara sehat.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia