Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Gendengan sama angin


__ADS_3

Seketika Nara yang tadinya merasa kesal, kini terukir senyum begitu manis di sudut bibirnya.


"Kak Daniel...dia sungguh pahlawan penyelamatku." Nara terlihat sangat senang, ia tidak peduli Davin menatapnya dengan sorot mata yang sulit di artikan. "Pahlawan! Lagian untuk apa sih Daniel kesini sih?" Davin menggerutu, raut wajahnya terlihat tidak senang melihat Daniel berjalan menuju ke arah dia dan Nara sedang duduk.


"Tentu saja untuk menyelamatkanku dari dedemit aneh sepertimu," cetus Nara dengan yakin.


Tanpa permisi Daniel menarik satu kursi, lalu ia duduk di kursi yang ia tarik itu. "Nara, kamu tumben bareng sama Davin?" tanya Daniel, sorot matanya terlihat sangat lembut dan penuh perhatian.


"Kita....."


"Kita kan pacaran, ya tentu saja bareng, memangnya kamu jomblo, jalan kemana-mana sendirian terus," cetus Davin dengan nada menekan.


"Apa kamu tidak lelah gandengan sama angin setiap hari Daniel?" ledek Davin, tawa di sudut bibir Davin membuat Daniel merasa kesal.


"Hish mana ada aku gandeng angin, aku maunya gandeng Nara," sahut Daniel yang tidak mau kalah.


"Gandeng....!! Ingat ya, mulai sekarang Nara adalah pacarku, laki-laki manapun tidak boleh mengandeng tangannya atau aku akan mematahkan tangannya jika itu sampai terjadi," tegas Davin membuat Nara ternganga tidak percaya. "Davin, ini sandiwara apalagi? Enak saja main klaim aku jadi pacarmu," batin Nara dalam hatinya.


"Davin...."


"Nara sayang, ingat ya kamu itu pacarku!" dengan cepat Davin langsung memotong kata-kata Nara.


Alvian akhirnya sampai juga di apartemen milik Davin, ia langsung pergi menuju ke restoran yang ada di dalam sana, lalu mencari Davin dan akhirnya Al menemukan Davin yang sedang duduk bersama Nara dan Daniel juga.


"Disini ada Daniel juga...."

__ADS_1


Alvian melangkahkan kakinya menuju ke meja mereka, melihat Al datang Davin sangat senang.


"Akhirnya kamu datang juga," sapa Davin dan Al menatap ke arah Davin. "Ada apa Vin? Apa kamu dan Daniel terlibat cinta segitiga? Dan aku di suruh menjadi penengah di antara kalian?" tanya Al, matanya berganti menatap Daniel. "Daniel, kamu tahu sendiri kan nasib cintaku saja tidak jelas," keluh Al dengan raut wajah memelas.


Seketika Daniel berbalik menatap Al, ini apalagi? Pikir Daniel dalam hati.


"Aish, Al sudahlah jangan bicara tentang cinta atau penengah, aku hanya tidak mau kalau di suruh sampai mencuci piring dadakan di restoran ini," kata Davin seraya mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Haah.... pencuci piring dadakan!!" Alvian kaget.


"Iya Al, aku tidak bisa membayar makanan yang sudah aku makan dan Nara makan," kata Davin dengan memasang wajah sedih.


Tanpa menunggu lama, akhirnya Alvian pergi ke kasir untuk membayar semua makanan Davin dan Nara.


"Vin, kamu bukannya bilang padaku," kata Daniel pada Davin.


"Memangnya apa salahnya? Bukankah bagus jika aku jatuh ke pelukan Kak Daniel," sambung Nara dengan tatapan yang begitu lembut pada Daniel.


"Jangan harap!!" kata Davin dengan tegas.


Setelah selesai membayar semuanya, Alvian kembali ke meja Davin dan Nara.


"Ini sudah aku bayar," kata Alvian sambil memberikan satu lembar kertas yang di bawahnya pada Davin.


"Terimakasih Al," dengan senang hati Davin beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Alvian dengan erat.

__ADS_1


"Aish lepaskan aku Vin.....!!" Alvian berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Davin, aish jijik sekali Davin sampai peluk-peluk dirinya di depan banyak pelanggan restoran itu.


"Sudah selesaikan, apalagi masalahmu?" tanya Alvian pada Davin.


"Aku tidak tahu malam ini mau tidur dimana? Hari ini telah terjadi perang besar," jawab Davin membuat Alvian dan Daniel menatapnya dengan tatapan serius.


"Perang besar, maksudnya?" tanya Alvian dengan kawatir.


"Ceritakan, pada kami Vin....!!" pinta Daniel, biarpun Daniel itu seperti musuh bagi Davin tapi tetap saja yang namanya sahabat pasti kawatir pada sahabatnya sendiri.


Davin pun menceritakan kejadian tadi pagi pada kedua sahabatnya, hingga Daniel dan Alvian mengerti.


"Aku malam ini tidak tahu mau tidur dimana? Bahkan mamaku memblokir semua kartu aku yang penuh dengan uang, mobil aku saja aku tidak boleh membawanya, sekarang apartemen pribadiku pun tidak bisa untuk aku tempati," keluh Davin dengan raut wajah sedih.


"Kamu bisa menginap di rumahku atau rumahnya Alvian," tawar Daniel pada Davin.


"Iya Vin, kalau masalah tempat tinggal itu gampang lah," sambung Alvian.


Davin tersenyum senang, biarpun perdebatan sering kali terjadi dengan kedua sahabatnya ini tapi di saat Davin sedang kesusahan kedua sahabatnya ini selalu ada untuk dirinya.


"Malam ini aku menginap, kita mau menginap dimana sayang?" tanya Davin pada Nara, membuat Nara terdiam karena terkejut.


"Hahh, dimana...?" Nara melihat Daniel dan Alvian secara bergantian, Nara bingung apalagi keduanya ini semuanya orang-orang baik.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2