Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Ketegasan Al & Daniel


__ADS_3

"Laras, yang membuat kita berubah itu kamu...!!" tandas Daniel dengan tegas.


Seketika Laras menatap Daniel dengan tatapan sulit di artikan.


"Aku.....!!??" seru Laras tidak terima.


"Iya kamu, karena ambisi kamu yang tidak jelas itu membuat semuanya berubah, kamu jelas-jelas tahu yang menyukai kamu dari dulu itu Alvian, bukan aku tapi kamu pura-pura tidak tahu, sungguh kamu itu gadis yang tidak punya perasaan, kamu begitu egois, selalu saja mementingkan diri sendiri dan enggan memikirkan perasaan orang lain termasuk perasaan Alvian selama ini!" tandas Daniel dengan tegas, rasanya begitu geram karena Laras terus-terusan menyalakan Nara dalam masalah yang Laras buat sendiri.


Seketika perasaan Laras bagikan kesambar petir, Daniel yang dari dulu diam saja, kini dia berani bicara dengan tegas di hadapannya.


"Daniel, hanya demi gadis kampung ini kamu mempermalukanku di hadapan Nara," batin Laras dalam hatinya.


"Daniel, aku dari dulu hanya mencintai kamu, aku tidak pernah mencintai Alvian, aku hanya menganggap Alvian sebagai sahabat," jelas Laras, hatinya menolak dengan pernyataan yang Daniel katakan.


"Aku harus tetap mendapatkan cinta Daniel, aku tidak perduli biarpun Daniel tidak suka atau tidak mencintaiku, tapi aku akan tetap mengejar cintanya," hati Laras berbicara.


Seketika Alvian hanya ketar-ketir tapi dia berusaha kuat, sungguh Laras ini sungguh tidak punya perasaan sama sekali, bahkan dia mengungkapkan hal seperti itu di hadapan Alvian secara langsung.


"Laras, jika kamu datang hanya ingin membuat keributan, lebih baik kamu pergi saja dari sini!" usir Alvian dengan halus, tapi suaranya terdengar menekan.


"Benar, lebih baik kamu keluar saja!" sambung Davin, yang sangat geram pada Laras.


Nara hanya diam saja, dia ingin ikut bicara tapi takut salah, Nara melihat Laras begitu marah bahkan Laras menatap Nara dengan tatapan sengit.


"Dasar gadis pembawa sial, semua ini karena kamu datang," tandas Laras sebelum pergi meninggalkan semuanya.


"Laras pergi dari sini atau aku akan menyeretmu keluar dengan kasar!" ancam Alvian, kali ini Alvian tidak main-main dengan perkataannya.

__ADS_1


Tatapan mata Alvian begitu tegas, Alvian juga tidak mau kalau terus-terusan berharap cinta dari Laras, gadis yang tidak punya perasaan ini sungguh sudah sangat melukai hatinya.


"Alvian, bahkan kamu sekarang berani berbicara denganku dengan nada keras," kata Laras sambil geleng-geleng kepala, karena tidak percaya dengan sikap Alvian yang sangat berubah pada dirinya.


"Semua ini gara-gara ke datangan gadis kampung ini, dulu aku menjadi ratu di antara mereka bertiga tapi sekarang Nara sudah merebut posisi aku," batin Laras dalam hatinya.


Dengan perasaan penuh kemarahan, Laras akhirnya pergi meninggalkan cafe milik Alvian.


Kini semuanya duduk, Nara hanya diam melihat ketiga laki-laki yang ada di hadapannya saat ini juga hanya diam saja, raut wajah mereka juga terlihat kesal.


"Nar, maafkan Laras ya." Daniel meminta maaf atas nama Laras.


"Tidak apa-apa kak, lagian kakak tidak perlu minta maaf padaku," jawab Nara pelan.


"Entahlah, Laras sekarang berubah tidak jelas karena ambisinya," kata Daniel dan di anggukin oleh Davin dan Alvian.


Sudah beberapa lama ini Laras yang lemah lembut, yang mereka kenal dulu sudah entah kemana, karena sekarang Laras sudah sangat berubah dan terlalu egois.


"Laras segitu tidak cintanya kah kamu padaku?" batin Alvian dalam hatinya.


Alvian menunduhku kepalanya, kali ini hatinya begitu tidak jelas.


"Lupa Laras, cari gadis cantik yang lain!"


"Ingat, bukan hanya Laras gadis di dunia ini!"


"Laras itu tidak pantas mendapatkan cinta yang tulus dari laki-laki sebagai kamu Al."

__ADS_1


"Ayolah Al, lupakan Laras!"


Hati kecil Alvian terus berbicara, tapi Alvian hanya diam karena rasa cintanya pada Laras tidak akan mudah hilang begitu saja.


*****


Jam menunjukkan pukul 7 malam, Nara baru saja selesai siap-siap untuk pulang kerja, tapi Nara bingung malam ini mau pulang kemana?


"Nara, kamu belum pulang?" tanya Vivi, sambil duduk di sebelah Nara.


"Nanti kak, aku masih capek sekali," jawab Nara dengan alasan yang tepat, padahal Nara sendiri tidak tahu mau pulang kemana malam ini?


Vivi mengangguk, lalu dia beranjak dari tempat duduknya.


"Kalau begitu aku pulang duluan ya, Ra." pamit Vivi dengan nada lembut.


"Iya Kak Vivi, hati-hati di jalan!" jawab Nara, ingin sekali ikut Vivi pulang tapi Nara bingung dan dia memilih untuk tidak memberitahu masalahnya pada Vivi, karena takut akan merepotkan Vivi.


Akhirnya Vivi berjalan keluar dari cafe, setelah beberapa lama Vivi keluar, akhirnya Nara juga keluar dari dalam cafe sambil menarik koper yang berisi pakaian miliknya.


Sesampainya diluar cafe, Nara melihat kesana-kemari tapi suasana malam hari ini sepi sekali.


"Aku harus kemana?" tanya Nara, matanya sudah berkaca-kaca ingin mennagis.


"Ikutlah denganku!" suara laki-laki itu membuat Nara kaget, ternyata laki-laki itu sudah berdiri di belakang Nara, entah dari kapan?


Nara menoleh, entah dia harus senang atau tidak melihat laki-laki yang ada di belakang dirinya?

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2