
"Diamlah!" Pinta Laras, dia terus melanjutkan aktivitasnya.
Nara hanya menurut, entah Nara akan secantik apa nanti?
Setelah beberapa lama akhirnya Laras selesai mendandani Nara. Kini Nara terlihat cantik dengan balutan dress warna merah, rambut terurai dan riasan yang terlihat natural di wajah polosnya.
Visual Kinara.
Laras memutar-mutar tubuh Nara, dia melihat betapa kagumnya pada Nara.
"Ra, sungguh kamu cantik sekali." Puji Laras, terlihat tatapan matanya masih tidak percaya.
Nara yang kampungan, kini menjelma menjadi angsa cantik padahal Laras hanya sedikit memberikan polesan di wajah Nara. Tapi hasilnya begitu membuat mata siapa yang melihatnya pasti akan terkejut.
"Laras, tapi aku tidak biasa pakai seperti ini. Aku tidak percaya diri," kata Nara terlihat kaku.
"Laras, percayalah padaku kamu sangat cantik. Kamu sekarang hidup di kota, jika kamu terus-terusan berdandan kampungan, maka mulut Davin akan terus menghina kamu," tutur Laras. Dia berusaha meyakinkan Nara, kini tangan Laras sudah menegang tangan Laras.
"Sekarang ayo kita pergi!" Ajak Laras. "Tapi mau kemana?" Tanya Nara, dia melihat Laras dengan tatapan bingung.
Sebelum pergi, Laras masuk ke dalam kamarnya dia mengambilkan salah satu sandalnya untuk Nara. "Jika Nara, memakai sandal hak tinggi aku takut dia jatuh, ya sudah yang ini saja." Laras mengambil sandal teplek yang menurutnya cocok untuk di padukan dengan dress warna merah yang Nara pakai.
"Kamu pakai ini dan ayo kita berangkat, aku yakin para cecungguk itu pasti sedang kumpul-kumpul di tempat biasa, apalagi mereka sedang libur kerja." Celoteh Laras panjang lebar, Nara hanya menuruti Laras dia memakai sandal teplek itu.
__ADS_1
Kini Laras langsung mengajak Nara pergi ke tempat tongkrongan mereka berempat di tempat biasanya.
"Ras, apa di antara mereka hanya kamu yang perempuan?" Tanya Nara, karena selalu melihat Laras perempuan sendirian di antara mereka.
"Tidak Ra, ada satu lagi. Hanya saja dia sedang di luar negeri, entah kapan dia akan pulang." Jawab Laras, sambil terus fokus menyetir.
Sesampainya di sebuah bar tempat Laras dan para sahabatnya nongkrong, mereka langsung turun dari mobil.
Sambil berjalan masuk ke dalam bar, Nara terlihat tidak yakin. Tapi Laras meyakinkan Nara dan terus memegang tangan Nara.
Semua mata terpana, sungguh Alvian, Daniel dan Davin, mereka tidak berkedip sama sekali melihat dua wanita cantik yang sedang berjalan ke tempat mereka sedang berkumpul.
"Laras dengan siapa dia?" Tanya Davin, dia tidak tahu kalau yang di samping Laras adalah Nara. Gadis yang dia hina, gara-gara penampilannya terlalu kampungan.
"Itu bukannya Nara," kata Alvian ternganga tidak percaya melihat betapa cantiknya Nara.
"Iya itu Nara, cantik sekali dia." Sambung Daniel, matanya tidak berkedip melihat Nara.
Sedangkan Davin masih tidak percaya, dia hanya mendengus kesal.
"Mana mungkin, bebek buruk rupa menjelma menjadi angsa yang begitu cantik." Protes Davin, dengan begitu sombongnya.
Laras tersenyum pada ketiga sahabatnya itu, dia tahu kalau sahabat-sahabatnya ini pasti sangat kagum pada kecantikan Nara hari ini.
"Hey, kalian berkediplah!" Omel Laras, membuat semuanya sadar dari tatapannya.
__ADS_1
Alvian dan Daniel saling sikut menyikut, sedangkan Davin hanya diam. Biarpun Nara sudah sangat cantik, tapi Davin masih tetap tidak bergeming.
"Ra, kamu cantik sekali." Celetuk Daniel, raut wajahnya merah merona.
"Terimakasih kak," jawab Nara malu-malu.
Laras menatap Davin, kini tatapan Laras begitu sengit pada Davin. Padahal kemarin sudah di belanjakan tapi tetap saja, bagi Laras Davin adalah musuhnya yang sering kali berdebat tidak jelas.
"Jangan munafik Vin, lihat Nara begitu cantikkan." Kata Laras dia senyam-senyum.
"Apasih Ras? Oh iya, gadis udik. Nanti jangan lupa baju aku yang waktu itu," kata Davin. Dia menatap Nara dengan tatapan sulit di artikan.
Nara menghela nafas panjang, bisa-bisanya di saat seperti ini. Davin membahas bajunya yang waktu itu tidak sengaja ke tumpahan kopi.
Nara hanya mengangguk, kini Laras menatap Daniel dengan tatapan begitu dalam.
"Daniel, ayo kita pergi makan berdua?" Tanya Laras tiba-tiba, seketika Alvian merasa sedih.
"Haruskah Daniel? Kenapa tidak Alvian?" Batin Alvian dalam hatinya.
"Laras....aku...."
BERSAMBUNG 😊
Terimakasih para pembaca setia 🤗
__ADS_1