
Malam semakin larut Davin dan Nara juga sampai di Apartemen milik Davin.
"Kamu istirahatlah!"
"Lalu kamu?"
"Aku juga malam ini mau menginap disini, tanganku sangat lelah untuk menyetir, mata aku juga sudah mengantuk."
Seketika Nara terdiam, dia memikirkan perkataan Davin di dalam mobil tadi, Nara terlihat ketakutan. "Bagaimana jika Davin benar-benar memakanku malam ini?" batin Nara dalam hatinya.
"Nara, kenapa kamu diam saja?"
"Aku takut jika kamu ada disini, maka kamu akan memakanku."
Dalam hati Davin, Davin menghela nafas panjang sungguh gadis kampung ini polos sekali, apa dia mengira candaan aku tadi itu serius? Nara, kamu itu terlalu polos.
"Kamu tidak akan memakanku kan?"
Terlihat raut wajah Nara ketakutan, otak Nara juga sudah traveling kemana-mana.
"Nar, aku hanya bercanda. Mana mungkin aku memakanmu, lagian aku ini bukan makhluk pemakan manusia."
Jawab Davin sambil bercanda karena ingin membuat suasana di ruangan ini tidak tegang lagi dan Nara juga tidak takut lagi.
Nara tersenyum malu-malu, Davin yang biasanya ini menyebalkan sekali ternyata bisa bercanda juga.
"Lalu kamu tidur dimana? Kita tidak tidur satu kamar kan?" Nara melihat sekeliling ruangan, dia mengira kamar di Apartemen Davin hanya ada satu saja.
"Apakah kamu berharap jika kita tidur satu kamar?" goda Davin, terlihat matanya itu sangat genit dan jail.
"Tentu saja tidak," sahut Nara dengan gugup dan salah tingkah gitu. "Tidurlah, aku sudah mengantuk," sambung Nara untuk ngilangin rasa geroginya.
__ADS_1
Nara berlalu pergi masuk ke dalam kamar, sedangkan Davin masih terdiam karena ingin memastikan Nara masuk ke dalam kamar.
Setelah Nara sudah masuk ke dalam kamar, Davin juga masuk ke kamarnya.
Davin langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk itu.
"Rasanya nyaman sekali."
"Nara, kenapa hari ini kamu begitu menggemaskan sekali?"
"Kamu terlihat begitu lucu dan kamu itu sangat polos sekali."
Davin tertawa-tawa sendiri, bahkan wajah cantik Nara terus terbayang-bayang di benak matanya.
Kalau lama-lama seperti ini Davin pasti bisa gila karena Nara.
Setelah lelah dengan pikirannya, Davin seketika terlelap tidur, bahkan dia tidak mandi lebih dulu.
Sedangkan di kamar Nara, Nara sudah terlelap tidur dari tadi, dia juga tidak lupa mengunci pintu kamarnya karena takut Davin masuk ke dalam kamarnya dan memakannya.
Malam semakin larut, Laras terdiam sendirian di kamarnya.
Laras tiba-tiba teringat akan Nara, dia membayangkan Nara yang tadi tidur di kursi dekat jalanan.
"Apa, aku ini begitu kejam?"
"Nara, tidak tahu kota ini, tapi aku membiarkan Nara di jalanan sendirian seperti itu."
"Aturan aku bertanggung jawab akan Nara, dia datang ke kota, itu hanya aku yang di tuju tapi aku malah bersikap seperti ini pada Nara."
Laras menyesali perbuatannya, tapi di saat dirinya teringat Daniel lebih menyukai Nara daripada dirinya, seketika Laras tidak mau memikirkan Nara lagi. "Biarkan saja Nara, untuk apa juga aku memikirkan dia? Lebih baik aku tidur saja," batin Laras dalam hatinya.
__ADS_1
Laras membaringkan tubuhnya di kasur yang empuk, lalu memilih tidur nyenyak daripada mikirin Nara.
*****
Alvian dan Daniel kini mereka sedang berada di Apartemen milik Alvian.
Daniel malam ini menemani Alvian minum, karena Daniel tidak mau membiarkan Alvian sendirian, akhirnya Daniel putusan untuk menginap di Apartemen Alvian.
"Al, kamu sudah terlalu banyak minum. Sudahlah, jangan minum lagi!" larang Daniel, di saat Alvian ingin kembali meneguk minuman yang ada di dalam botol itu, Daniel dengan cepat merebutnya.
"Dan, aku hanya minum...." Alvian ingin kembali merebut botol itu, tapi Daniel tidak memperbolehkannya.
Alvian terlihat begitu frustasi, beginilah kalau laki-laki sudah jatuh pada satu wanita lalu wanita itu ternyata tidak menerima cintanya, sungguh rasanya sakit sekali dan rasa sakit itu belum hilang sepenuhnya dari hati Alvian.
"Al, kenapa kamu harus minum begitu banyak? Sudahlah, lupakan Laras!" pinta Daniel, sungguh rasanya kesal sekali kalau mengingat Alvian berbuat bodoh seperti ini hanya karena Laras yang tidak pernah perduli pada dirinya.
"Dan, kenapa Laras malah menyukaimu? Apa kurangnya aku?" Alvian bertanya dengan nada ngelantur.
"Aku tidak tahu, aku juga tidak pernah menyukai Laras." Daniel menjawab pertanyaan Alvian dengan tegas.
"Sudahlah, Al lebih baik kamu besok jemput saudara sepupuku di bandara, dia cantik dan tentunya lebih cantik daripada Laras, siapa tahu jodoh!" pinta Daniel, Alvian hanya tertawa tidak jelas.
Lagian Daniel ada-ada saja orang lagi mabuk berat malah diajak bicara.
"Gadis cantik....." kata Alvian.
"Iya cantik, lebih cantik dari Laras." Sahut Daniel dengan semangat, berharap Alvian bisa cepat-cepat move-on dari Laras.
"Baiklah......" Alvian menjatuhkan kepalanya di pangkuan Daniel.
Daniel menghela nafas panjang, sabar menghadapi sahabatnya yang satu ini.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia