
Daniel ternganga tidak percaya, Alvian melotot kepada Davin, kesambet dedemit mana Davin ini, tumben otaknya benar?
Nara terdiam sambil menatap Davin yang sudah mulai menyuapi Alvian dengan sabar.
"Vin, biarkan Nara yang menyuapiku saja!" Pinta Alvian, karena merasa tidak nyaman di suapin oleh laki-laki.
"Al, biar bagaimanapun kalian itu bukan sepasang kekasih jadi janganlah! Biar aku saja yang menyuapi kamu," tolak Davin dengan raut wajah yang sulit di artikan.
Daniel menatap Davin dengan tatapan sengit, apakah Davin juga menyukai Nara? Sekilas hal itu melintas di benak pikiran Daniel.
"Al, tapi benar kata Davin. Nara, kamu tidak usah menyuapi Alvian ya!" Daniel setuju dengan ide Davin.
Nara hanya mengangguk, menurut Nara ketiga laki-laki yang ada di dalam ruangan itu mereka semua tidak jelas.
Akhirnya Nara beranjak dari tempat duduknya dan dia berpindah tempat duduk ke samping Daniel, tatapan mata Davin terlihat tidak suka tapi Davin tidak bisa berbuat apa-apa dia hanya fokus menyuapi Alvian saja.
"Nara, kamu lapar tidak? Ayo makan siang dulu!" Ajak Daniel, tapi Davin mendengar suara Daniel itu.
"Nil, belilah makanan bawah ke ruangan saja! Aku juga lapar, kita makan bersama disini dan Nara, kamu tetaplah duduk aku tahu kamu itu pasti kecapean," sahut Davin yang tiba-tiba begitu perhatian pada Nara.
Nara lagi-lagi hanya mengangguk dan dia memilih diam saja sedangkan Daniel buru-buru pergi membeli makanan.
Di kantor Laras, Laras baru saja selesai dengan pekerjaannya. Laras melihat ponselnya tapi dia tidak melihat balasan pesan dari Daniel, Daniel juga tidak menelpon balik Laras.
__ADS_1
"Daniel, kamu itu kemana?"
"Apa jangan-jangan kamu pergi sama Nara?"
"Nara, kamu itu tidak tahu malu sekali ya padahal aku sudah memberikan tumpangan hidup untuk kamu."
"Tapi kamu tidak tahu berterima kasih bahkan kamu malah berniat merebut Daniel dari aku."
"Tidak akan aku biarkan kamu merebut Daniel dariku!"
Laras terlihat kesal sambil menatap ponsel miliknya, sungguh rasanya ingin buru-buru pulang dan bertemu dengan Nara.
Di rumah sakit Nara, Davin dan Daniel, mereka sedang menikmati makan siang mereka.
"Malam ini kita jagain Al ya!" Kata Davin, dia masih kawatir pada Alvian apalagi Alvian hanya hidup sebatang kara di kota ini.
Kedua orang tua Alvian sudah lama pergi meninggalkan Alvian untuk selamanya, Alvian dulu tinggal bersama saudaranya tapi karena tidak betah akhirnya Alvian memilih tinggal sendirian di sebuah Apartemen yang dia beli dengan hasil kerja keras selama ini.
"Iya Vin, oh iya Nara kamu....."
"Nara, dia biar pulang. Lihat dia begitu kelelahan, kasian dia nanti sakit." Potong Davin dengan tatapan penuh perhatian.
"Belum selesai bicara Vin, sepertinya ada sesuatu, apa kamu menyukai Nara?" tanya Daniel tanpa basa-basi.
__ADS_1
Seketika kedua pipi Nara memerah, sungguh rasanya sangat malu. "Kenapa Kak Daniel bertanya seperti itu kepada cecungguk ini?" batin Nara dalam hatinya.
"Kamu ini bicara apa Nil? Mana mungkin aku menyukai gadis kampung seperti Nara ini? Itu sangat mustahil, kamu tahu selera seperti...." Davin menghentikan kata-katanya, dia terdiam sejenak sambil mengingat salah satu mantan kekasihnya.
"Seperti siapa? Vinka, gadis yang sudah membuatmu patah hati dan dia memilih pergi dengan laki-laki lain, lagu lama itu Vin." Ledek Daniel sambil tertawa.
"Haruskah kamu menyebutkan merk," Davin mendengus kesal.
"Aku hanya bicara kenyataan saja, haruskah kamu sekesal itu?" Lagi-lagi Daniel meledek Davin.
Davin menatap Daniel dengan kesal, tiba-tiba dia meraih tangan Nara dengan lembut Nara yang sedang menikmati makanannya dia terlihat terkejut.
"Kenapa? Aku sedang makan," tanya Nara sambil melihat Davin yang sudah memegang tangannya.
"Kita pulang sekarang!" Ajak Davin.
"Biar aku di antarkan oleh Kak Daniel saja," tolak Nara dengan malas.
"Tidak ada, jika kamu di antar oleh Daniel maka akan terjadi perang dunia untuk selanjutnya." Kata Davin mengingatkan Nara.
Seketika Nara mengingat kata-kata Laras dan akhirnya Nara setuju di antar pulang oleh Davin.
BERSAMBUNG 🙏
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 🤗