
"Sejak kapan kamu berubah kak? Bukannya dulu kamu lebih suka gadis cantik yang seksi?" tanya Rangga serius.
"Sejak.... entahlah sejak kapan?" Seketika pipi Davin menjadi merah.
Davin mengingat-ingat sejak kapan dirinya merubah tipe wanitanya, padahal ia sadar dari dulu ia lebih suka gadis cantik dan seksi. Tapi setelah mengenal Nara, semuanya berubah dan gadis kampung yang sederhana menurut Davin itu lebih menarik dan tentunya sulit untuk ia dapatkan, butuh perjuangan dan tentunya banyak saingan yang tidak lain adalah Daniel sahabatnya sendiri dan entah laki-laki tampan mana lagi yang akan menjadi saingan selanjutnya nanti?
"Aku rasa, Kak Davin itu sudah banyak berubah," celetuk Rangga.
"Apa salahnya jika aku berubah? Lagian Angga aku berubah menjadi lebih baik bukan menjadi lebih buruk," sahut Davin.
"Baiklah kak, tapi gadis mana yang membuat kakak bisa berpikiran normal seperti itu?" cibir Rangga dengan penuh kejailan.
"Menurutmu gadis mana? Yang jelas bukan Sinta atau Anita, atau adalagi?" Davin terdiam, ia memikirkan gadis mana saja yang dari dulu pernah mengejar-ngejar dirinya.
"Sita....itu loh kak, calon jodoh kakak yang sudah di siapkan oleh Tante Marlin," sambung Rangga lagi-lagi dengan jail.
Seketika Davin melempar buah apel yang sedang ia makan kepada Rangga. "Dasar bedebah, sana kamu saja yang mengantikan aku untuk kencan buta dengan Sita," oceh Davin dan hanya di sambut tawa oleh Rangga. "Halah kak, Sita bukan tipeku, aku mau mencari tipe yang sederhana dan tidak matre saja, sama seperti Kak Davin," ujar Rangga seketika Davin menatap kesal Rangga.
"Sudahlah, aku mau pulang. Berikan satu kartu ATM kamu padaku! Ingat, yang anti limit!" pinta Davin, Rangga pun menuruti kakaknya itu, lalu mengambil satu kartu ATM miliknya dan memberikan pada Davin. "Jangan bilang-bilang pada Tante Marlin!" pinta Rangga, ia tahu jika Tante sampai tahu hal ini pasti tantenya itu akan marah besar padanya.
__ADS_1
"Tentu saja tidak adikku," dengan senang hati Davin menerima ATM milik Rangga dari tangan Rangga. "Terimakasih," kata Davin sambil tersenyum senang.
Rangga hanya mengangguk, ia tahu kalau kakaknya ini tidak akan sanggup hidup tanpa uang, lagian Rangga juga percaya pada Davin kalau Davin pasti akan menggunakan uang yang ada di ATM nya dengan baik.
"Ingat gunakan uangku dengan baik..." pesan Rangga sebelum Davin bergegas pergi.
Davin buru-buru membersihkan tubuhnya, lalu ia berganti pakaian dan tentunya ia memakai pakaian milik Rangga, Rangga juga tidak marah ataupun keberatan, lagian selama ini Davin juga sangat baik pada dirinya jadi ya mungkin saat ini Rangga harus membalas kebaikan Davin.
Setelah selesai berganti pakaian Davin langsung pergi meninggalkan rumah Rangga, karena ia harus kembali bekerja menjadi pelayan cafe.
Davin kembali ke cafe naik bis, untung saja sebelumnya Nara sudah pernah mengajak dirinya naik bis jadi Davin sudah tidak bingung lagi.
"Vin, sudah makan siang?" tanya Alvian, melihat Davin celingak-celinguk seperti mencari-cari seseorang, Alvian cukup paham siapa yang Davin ya cari? Iya siapa lagi kalau bukan Nara gadis kampung.
"Aku sudah kenyang, habis berenang," sahut Davin ketus.
"Baguslah, lebih baik kamu berenang lagi saja! Percaya deh, kalau kamu mendengar hal ini pasti kamu akan kembali merasakan panas yang begitu hebat," cibir Alvian dengan penuh kejailan.
Rasanya bahagia sekali kalau meledek Davin, apalagi kalau Davin sampai kesal, itu ada rasa bahagia tersendiri bagi Alvian.
__ADS_1
"Hal apa?" tanya Davin, ia berjalan menghampiri Alvian yang sedang duduk di salah meja tamu sambil menikmati makan siang sendirian.
"Aku lihat tadi Daniel mengajak Nara keluar cafe, entahlah mereka mau kemana?" kata Alvian dengan serius, seketika sorot mata Davin langsung berubah merah.
"Coba telpon Nara....!!" pinta Davin.
"Telpon saja sendiri...!!" tolak Alvian, lalu kembali fokus ke makanannya, rasanya ingin tertawa girang sekali, Alvian tahu kali ini Davin sedang merasakan kepanasan karena rasa cemburunya.
"Allll....."
"Itu mereka pulang," kata Alvian sambil menunjuk Nara dan Daniel yang sedang berjalan sambil bergandengan tangan masuk ke dalam cafe.
Seketika kedua tangan Davin langsung mengepal sempurna, sorot matanya tampak marah, cemburu berat kini melanda hati Davin.
Entah apa yang akan terjadi di antara mereka nanti?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1