
Setelah tiga hari kemudian akhirnya Alvian sudah dibawa pulang. Davin dan Daniel juga begitu kompak menjaga sahabatnya yang sedang sakit itu.
Kini Davin dan Daniel bahkan menginap di Apartemen milik Alvian karena takut Alvian akan berbuat macam-macam lagi hingga membahayakan dirinya.
Alvian berbaring di atas tempat tidur, sedangkan Davin dan Daniel duduk di sebelah Alvian berbaring.
"Al, apakah aku harus memeriksakan kamu ke rumah sakit jiwa?" tanya Davin, seketika Alvian menatap Davin dengan garang.
"Hey b*d*h, apa kamu ini menganggap aku ini gila?" Alvian terlihat sewot, dasar Davin ini punya mulut asal jeplak saja.
"Kalau kamu tidak gila, setidaknya kamu tidak akan melakukan hal konyol yang hampir membuat kamu mati b*d*h," ketus Davin geram sekali rasanya pada sahabatnya ini.
Hanya karena seorang gadis, Alvian sampai berbuat gila dan sangat membahayakan dirinya padahal jelas-jelas gadis itu tidak pernah perduli pada Alvian, entah Laras ini pura-pura tidak tahu atau bagaimana? Yang jelas dia tidak pernah sedikit saja membuka hatinya untuk Alvian.
"Aku hanya minum, tidak ada yang salah. Katakan pada sahabatmu yang satu itu, tegas lah pada satu wanita Laras atau Nara?" tanya Alvian, dia menatap Daniel dengan tatapan sengit.
Daniel melihat ke arah Alvian, dia menatap Alvian dengan tatapan tajam.
"Bukankah sudah aku bilang, aku tidak pernah menyukai Laras!" tegas Daniel, terlihat begitu kesal pada Alvian.
__ADS_1
"Katakan pada Laras secara langsung, jangan sebentar Nara, sebentar Laras," kata Alvian tatapannya semakin sengit pada Daniel.
Kali ini Davin hanya bisa garuk-garuk kepala, sungguh kedua sahabatnya ini memang sudah gila karena seorang gadis.
"Hey kalian, banyak gadis cantik di luaran sana, bagaimana kalau nanti malam kita berburu ke club malam?" Davin nyengir lebar, menurutnya ini adalah ide bagus.
"Aku bukan kamu b*d*h, urusan percintaan tidak pernah becus sok-sokan mau berburu gadis," cibir Daniel sambil geleng-geleng kepala.
"Aish kalian ini, daripada kalian gila memikirkan satu gadis yang tidak pernah suka pada kalian," Davin balik mencibir kedua sahabatnya itu.
Alvian hanya bisa menghela nafas panjang.
"Sudah-sudahlah, ayo kita ke club malam, benar kata Davin, berburu wanita cantik lebih baik daripada mengharapkan satu cinta dari seorang gadis yang tidak pernah terbalaskan," mata Alvian terlihat begitu sedih.
Terlalu lelah mengharapkan balasan cinta Laras yang sudah bertahun-tahun, tapi Laras malah suka dengan Daniel.
Akhirnya mereka langsung berangkat ke sebuah club malam tempat biasa mereka nongkrong.
"Kamu yakin, kamu kan baru sembuh?" tanya Daniel, perhatiannya begitu tulus pada Alvian.
__ADS_1
"Tentu saja yakin," jawab Alvian dengan begitu yakin.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka sampai di sebuah club malam itu.
Mereka bertiga langsung masuk ke dalam club malam itu.
"Hay, Tuan....ayo saya temani!"
"Saya juga siap menemani Tuan-tuan tampan ini."
"Hey, jangan ganggu mereka! Kalian tidak tahu siapa mereka," cetus salah satu wanita yang mengenal Davin dan teman-temannya.
Mereka adalah tamu VIP di club malam ini, pelayanan mereka juga khusus dan tentunya wanita-wanita malam yang akan menemani mereka juga wanita-wanita pilihan yang servis nya bagus, ya biarpun mereka tidak meminta untuk servis di atas ranjang tempat tidur tapi mereka hanya minta di temani minum saja.
Kini mereka langsung masuk ke dalam, wanita-wanita yang tadi menawarkan diri mereka juga langsung menyingkir secara halus.
Kini ketiga laki-laki tampan itu menghabiskan malam di club malam, hanya saja malam ini Alvian tidak minum dan dia hanya menikmati jus jeruk yang dia pesan, Daniel juga tidak minum terlalu banyak tapi Davin jangan di tanya dia sudah habis lebih dari satu botol.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia