Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Menikah dengan Rena


__ADS_3

"Al, kamu mau menikah dengan siapa?" tanyanya lagi, rasa penasarannya sangat menggebu-gebu.


"Aku mau menikah dengan,"


Alvian menghentikan kata-katanya, ia menarik nafasnya dengan pelan.


"Al, kenapa malah diam?" Davin mulai sewot, rasanya ingin sekali melempar makanan yang ada di toples yang sedang ia pegang ke Alvian.


"Vin, aku mau menikah dengan Rena," ujarnya dengan yakin.


Hampir saja Davin tersedak mendengar apa yang dikatakan oleh Alvian.


Davin menaruh toples yang berisi makanan di atas meja, lalu ia pindah tempat duduk tepat di sebelah Alvian, kini di antara mereka tidak ada jarak, membuat Alvian merasa tidak nyaman.


"Vin, aku masih waras, jangan dekat-dekat seperti ini duduknya, aku masih doyan perempuan Vin," ujar Alvian dan di tatap sengit oleh Davin.


"Lagian siapa juga yang mau jeruk makan jeruk, noh di dalam kamar ada Nara yang mulus dan seksi," sahut Davin tidak mau kalah.


"Nikahilah, buat apa di pacarin kalau tidak di nikahi?" ledek Al dengan sengaja.


"Tunggulah Al, kamu tahukan masalahnya belum dapat restu dari mamaku," jawab Davin terdengar sendu suaranya.

__ADS_1


"Kenapa tidak kawin lari saja Vin? Bukankah itu lebih menantang," tanya Alvian dengan nada meledek.


Davin terdiam, ia menatap Alvian dengan lekat membuat Alvian agak jijik dengan tatapan Davin itu.


"Al, kamu serius mau menikah dengan Rena?" Davin kembali mempertanyakan masalah penting ini.


"Serius Vin, aku tidak mau terus-terusan memikirkan Laras," ujar Alvian dengan yakin.


"Laras hanya masa lalu, jika kamu mau menikah dengan Rena, aku dukung Al. Tapi ingat jangan pernah sakiti hatinya, Rena itu gadis yang baik," kata Davin kali ini serius, apalagi Davin yang sudah memperkenalkan Rena pada Alvian.


"Tidak akan Vin, aku akan menjaganya dengan baik," jawab Alvian dengan mantap.


Davin tersenyum kecil pada Alvian, mereka pun mengakhiri obrolan mereka. Davin masuk ke kamarnya, begitu juga Alvian, ia masuk ke kamarnya karena mau telponan sama Rena.


Di dalam kamar Alvian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, lalu ia meraih ponselnya yang ada di atas nakas dekat tempat tidurnya.


Alvian langsung menghubungi Rena, biarpun hatinya deg-degan tapi ia juga merindukan gadis cantik itu.


Rena yang sedang di sibukkan dengan laptopnya, ia pun mengalihkan pandangannya ke ponselnya yang berbunyi.


"Alvian, ada apa menelpon malam-malam seperti ini?" Rena mengangkat telpon dari Alvian, ia menempelkan ponselnya di telinganya.

__ADS_1


"Hallo Al, ada apa?"


"Hallo Ren, entahlah tiba-tiba aku merindukanmu," goda Alvian, dasar Alvian ternyata bisa main goda-godaan juga.


"Begitukah, kenapa tidak datang saja ke rumahku?" tanya Rena.


"Aku akan datang ke rumahmu besok, sekarang sudah malam aku takut hilaf," sahutnya dengan nada menggoda lagi.


"Dasar kamu ini Al," dengan senang hati Rena senyam-senyum di seberang sana.


Obrolan demi obrolan terus berlanjut, mereka saling tertawa, ya romantis juga.


"Ren, besok kita ketemu ya!" ajaknya dengan hati-hati.


"Dimana?" tanya Rena, namun hatinya begitu senang saat Al mengajaknya untuk bertemu.


"Di cafe aku, tapi aku jemput kamu nanti," sahut Alvian dengan nada lembut. Al, kamu harus berani, besok kamu lamar gadis ini!


"Baiklah, aku tutup dulu telponnya," pamit Rena dan mematikan saluran telponnya.


Entahlah besok apa yang akan di lakukan oleh Alvian? Yang jelas sudah jelas-jelas move on dari Laras.

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2