
Setelah selesai makan malam, Alvian, Daniel dan Nara tidak langsung tidur, mereka duduk di saung yang ada di atap Apartemen milik Alvian.
Suasana malam ini cukup dingin tapi mata mereka belum mengantuk, Nara menyiapkan cemilan dan kopi untuk di nikmati bersama-sama.
Alvian duduk sambil memangku kedua tangannya, matanya melihat keatas sungguh terang benerang sekali malam ini, bulan yang bersinar indah dan kemerlip bintang yang sangat banyak, itu membuat langit malam ini sangat indah.
"Andai saja aku bisa menikmati malam ini bersama dengan gadis yang aku cintai, aku yakin pasti aku tidak akan merasakan kesepian sepanjang malam," kata Alvian nada suaranya terdengar senduh.
Davin menoleh ke arah Alvian duduk, membuat Alvian menoleh juga, kini mereka saling menatap satu sama lain.
"Kesepian yang kamu rasakan, itu kamu yang ciptakan sendiri Al, banyak gadis cantik diluar sana yang ingin menjadi kekasihmu, tapi apa kamu pernah membuka hatimu untuk para gadis itu? Cobalah move on dari Laras!" ujar Davin, bukannya merasa ibah pada Alvian, Davin malah merasa kesal mendengar keluhan Alvian.
"Dikira move on itu gampang Vin, aku sudah mencobanya tapi wajah cantiknya itu selalu saja menganggu pikiranku," sahut Alvian dengan kesal, Davin tidak tahu seberapa besar Alvian mencoba melupakan Laras dari dalam kehidupannya.
"Tidak perlu melupakan seseorang yang pernah ada di dalam hati kita, yang perlu kita lakukan adalah mencoba untuk memberikan kesempatan pada orang baru, jalanin saja dulu dengan orang baru dan rasa terbiasa itu akan muncul dengan sendirinya, semakin kita sering bersama orang baru, maka hati kita akan melupakan orang yang pernah ada di dalam hati kita dengan sendirinya," tutur Nara dengan lembut.
__ADS_1
"Satu lagi, cinta itu bisa datang kapan saja, tidak perlu dengan masa lalu kita," lanjut Nara dengan senyuman lembut di sudut bibirnya.
"Ternyata kekasih pintar juga soal percintaan," puji Davin, hampir saja Davin memeluk Nara karena posisi Nara duduk tepat di sebelahnya tapi dengan cepat Nara menghindar.
"Jangan peluk-peluk aku!" cetusnya sambil menghindari Davin.
Alvian tertawa bahagia, melihat Davin di tolak oleh Nara. "Vin, makanya jangan mesum jadi laki-laki, Nara saja sampai takut," cibir Alvian dan ia masih tertawa lepas.
"Dikit-dikit peluk, dikit-dikit cium, Davin kamu itu terlalu agresif," lanjut Alvian yang diiringi gelengan kepala.
"Kapanpun aku mau, dasar bucin sendirian, Nara kamu harus hati-hati pada Davin, atau kamu akan dimakan hidup-hidup oleh dia," kata Alvian dan dia beranjak dari tempat duduknya, lalu masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Davin dan Nara berduaan.
"Dasar cecungguk gila.....!!" teriak Davin, tapi Alvian sudah masuk ke dalam rumahnya.
Kini di saung hanya tinggal Davin dan Nara, mereka saling menatap satu sama lain, lalu Nara buru-buru mengalihkan tatapannya karena tiba-tiba merasa gugup dan jantungnya berdebar kencang. "Ada apa dengan jantungku?" batin Nara dalam hatinya.
__ADS_1
"Nara, apa kamu sudah bisa menerimaku menjadi kekasihmu?" tanya Davin tiba-tiba, membuat Nara semakin gugup.
"Tentu saja belum, lagian jadian tiba-tiba," Nara menjawab pertanyaan Davin dengan gugup, tapi ia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
Davin mengangguk paham, ia sadar kalau dirinya mungkin terlalu buru-buru tapi Davin juga tidak mau kalau sampai keduluan dengan Daniel.
"Lalu, jika Daniel menyatakan perasaannya padamu, apakah kamu akan menerima dia sebagai kekasihmu?" tanya Davin, sorot mata Davin begitu dalam pada Nara.
"Aku akan...."
"Akan apa?" Davin menatap Nara dengan sorot mata tajam seperti singa yang akan menerkam mangsanya.
"Aku akan....."
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia