
Nara menghampiri Davin, dia hendak menolong Davin untuk memapah Davin jalan. Tapi tiba-tiba ada tangan kekar, yang sudah dulu mengangkat tubuh Davin.
Nara melihat laki-laki itu, tatapan matanya membulat sempurna dia agak terkejut.
Entah siapa yang Nara lihat?
"Kak Daniel, bukannya...." Nara melihat Daniel, tapi Daniel hanya mengangguk seolah-olah dia tahu apa maksud pertanyaan dari Nara?
"Ra, kamu mau tanya. Kenapa aku masih disini kan? Aku tadi gak jadi ada acara itu, jadi aku putuskan menunggu kamu disini," jelas Daniel dan Nara mengangguk pertanda mengerti.
Daniel memapah Daniel ke dalam mobil Davin, malam ini Davin di jemput oleh supir pribadinya sedangkan Daniel akhirnya mengantarkan Nara pulang tempat tinggalnya.
Di dalam mobil Nara hanya diam, dia tampak canggung dengan Daniel.
"Ra, kamu mau makan sesuatu?" Tanya Daniel, dia sebenarnya ingin mengajak Nara makan malam berdua, hanya saja malu untuk mengatakannya pada Nara.
"Tidak kak, Nara mau langsung pulang saja. Karena sudah malam, besok Nara juga harus berangkat kerja," tolak Nara dengan sopan.
Daniel mengangguk pelan, sambil menatap Nara yang begitu cantik malam ini.
"Bagaimana, kalau lain kali kita pergi berdua?" Tanya Daniel, dia mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada Nara.
__ADS_1
Nara terlihat tertarik dengan ajakan Daniel, kini dia menatap Daniel yang sedang menyetir.
"Kemana kak?" Tanya Nara penasaran.
"Nonton berdua atau makan berdua," tawar Daniel penuh harap.
"Boleh kak," jawab Nara dengan nada lembut.
Daniel terlihat bahagia, apalagi ajakannya pada Nara diterima oleh Nara.
"Akhirnya berhasil, aku tidak boleh keduluan dengan Davin," batin Daniel dalam hatinya.
Kini Daniel terus melajukan mobilnya dengan begitu semangat.
"Terimakasih kak, sudah mengantarkan Nara pulang. Tapi Davin bagaimana?" Nara terlihat memikirkan Davin yang pulang dalam keadaan mabuk.
"Sama-sama, sudahlah jangan pikirkan Davin. Dia pulang bersama supirnya, pasti baik-baik saja!" Tutur Daniel, dia terlihat tidak suka jika Nara kawatir pada Davin.
"Iya kak, Nara masuk ya kak." Pamit Nara dan dia berlalu masuk ke dalam rumah.
Daniel masih berdiri, dia menunggu Nara sampai benar-benar Nara masuk ke dalam rumah. Setelah Nara sudah masuk, Daniel baru masuk ke mobilnya lalu dia melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.
__ADS_1
*****
Davin sudah sampai di rumahnya, Marlin terlihat begitu marah karena Davin pulang dengan keadaan mabuk seperti biasanya.
"Mau jadi apa anak ini?" Gerutu Marlin, dia melepaskan sepatu Davin dengan kasar.
Sungguh anak satu-satunya ini, susah sekali di atur. Di suruh menikah tidak mau, di suruh kencan buta selalu buat masalah, entah Marlin ini harus bagaimana menghadapi anak satu-satunya ini?
Setelah melepaskan sepatu Davin, Marlin menyelimuti Daniel dengan selimut tebal lalu dia keluar dari kamar Daniel.
Jam menunjukkan pukul 10 malam, Alvian dan Laras baru saja pulang dari acara makan malam mereka. Sorot mata Alvian begitu berbinar senang, sungguh ini adalah pertama kalinya Laras dia bersikap jutek pada dirinya.
"Terimakasih Al, buat hari ini." Kata Laras dia tersenyum pada Alvian.
Alvian tersenyum, ingin rasanya dia menyentuh bibir mungil Laras. Tapi itu tidak mungkin dia lakukan, dan pastinya Laras akan memukul Alvian jika Alvian sampai melakukan hal itu.
"Laras, apa sedikit saja kamu pernah menyukaiku?" Tanya Alvian tiba-tiba, kini Laras menatap Alvian dengan tatapan penuh tanda tanya?
"Maksudnya kamu Al?" Tanya Laras terkejut.
BERSAMBUNG 😊
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 🤗