Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
mau dibawa kemana hubungan ini?


__ADS_3

Sedari tadi Hana berharap dalam hatinya bawah Adam menolak permintaan orangtuanya tapi malah sebaliknya membuat ia menahan sesak di-dadanya.


Hana mengigit pelan bibirnya menahan rasa sakit itu. Ia melirik sebentar kearah Adam lalu membalikkan lagi pandangannya kearah makanannya berpura pura menyuapkan kedalam mulutnya saat Adam mengarahkan pandangannya kearah Hana.


Sementara Adam juga sebenarnya tidak ingin mengatakan hal itu apalagi didengar oleh Hana seperti ini. Ia terpaksa mengatakan hal itu untuk menyenangkan saja perasaan maminya.


"Hana gimana dengan kuliah kamu, apa lancar?" tanya Oma Ani dengan senyum.


Hana mendongakkan kepalanya menatap oma Ani. "Lancar Oma, Hana juga disibukkan dengan tugas kuliah." sahut Hana tersenyum paksa.


"Belajar yang giat, Adam sudah susah susah membiayai kamu dan jangan membuat anak ku menjadi rugi karena sudah membiayai mu." ucap kakek Barack melontarkan ucapan pedas dengan nada sedikit tidak suka.


Hana tersenyum miris mendengar ucapan kakek Barack. Lagi dan lagi ia merasakan rasa sesak itu.


"Iyah kakek, Hana tidak akan mengecewakan kalian." ucap Hana memaksakan senyumnya.


Adam yang mendengar penuturan ayahnya merasa tidak terima dan sedikit emosi. "Papi jaga ucapan mu! Hana adalah tanggung jawab Adam jadi apapun yang ia lakukan itu tidak akan membuatku rugi." ucapnya dengan nada sedikit meninggi.


"Memang harus seperti itu kan, membalas jasa seseorang yang sudah mengangkatnya menjadi anak adopsi dari keluarga kaya." ucap kakek Barack.


Hana yang merasa suasana di tempat itu sudah tidak kondusif akhirnya ia mengeluarkan suara.


"Ngga apa apa kok Daddy, memang benar yang dikatakan kakek, jika Hana harus belajar yang baik biar bisa buat Daddy bangga." ucap Hana tersenyum lebar. yang senyuman itu adalah kebohongan belaka hanya untuk terlihat baik baik saja di depan Daddy-nya.


Hana mengelus punggung Adam mencoba menenangkan Daddy-nya. "Udah ya kita lanjutin lagi makannya." ucap Hana kepada Adam.


Adam langsung menarik nafasnya kasar dan melanjutkan kembali makannya. Sementara kakek Barack menatap tidak suka pada Hana.


"Hana, kamu memang selalu bisa membuat Daddy mu mengendalikan emosinya, Oma salut sama kamu." ucap Oma Ani tersenyum kearah Hana. Hana membalas senyuman itu dengan paksa.


Dari kedua orang tua Adam, hanya Oma Ani yang menyukai Hana dari pertama kali ia dibawah oleh Adam ke rumah itu.


Oma Ani tidak tahu saja, jika keduanya sudah jatuh cinta dan melakukan hubungan terlarang itu.


Makan malam mereka pun berakhir. Adam tampak mengobrol santai dengan ibunya juga di temani Hana di taman belakang rumah itu, sesekali mereka membicarakan wanita yang di ceritakan di meja makan tadi. Hana yang sedari tadi berada di samping Omanya, pamit keatas sebentar dengan alasan mulas. Dan hal itu disetujui oleh Adam tanpa merasa curiga sama sekali.

__ADS_1


Hana lalu masuk kedalam rumah. Saat akan menaiki anak tangga, terdengar suara Kakek Barack memanggilnya. Panggilan itu sangat menusuk dadanya. Hana lalu berbalik dan menatap kakeknya dengan memasang senyumnya agar terlihat kuat didepan pria tua itu.


"Tunggu anak pungut! Jangan begitu senang dengan kekayaan yang kamu nikmati sekarang ini, karena saya pastikan itu semua tidak akan menjadi milik kamu." ucap kakek Barack dengan angkuhnya.


"Kakek ngga perlu khawatir kok, Hana tidak berhak atas semua yang Daddy punya. Hana juga sadar dimana Posisi Hana di rumah ini." ucap Hana dengan sopan sambil tersenyum.


"Bagus kalau begitu, saya tidak perlu repot mengingatkan kamu." ucap kakek Barack lalu berjalan meninggalkan Hana begitu saja.


Detik itu juga Hana langsung meneteskan air matanya yang ditahan sedari tadi sejak makan malam tadi. Ia berlari menaiki tangga dengan air matanya yang membasahi pipinya.


Sampainya di kamar. Hana langsung berlari masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Ia menyalakan kran air agar tidak terdengar tangisannya didalam sana.


"Hiks hiks ... ap ... apa sebegitu buruknya aku sebagai anak adopsi? Ma ... Pa Hana rindu kalian." ucapnya lirih disela tangisannya sambil meringkuk dengan kepalanya ia sandarkan di sudut kamar mandi.


"Hiks hiks ... kakek memang benar aku harus sadar dengan posisi aku di rumah Daddy." ucap Hana masih menangis.


Beberapa menit kemudian Adam memasuki kamar Hana setelah kepergian kedua orangtuanya. Saat masuk ke kamar, Adam tidak mendapati sosok Hana di sana.


"Dimana dia?" Adam bertanya dengan wajah tampak panik.


Tapi rasa paniknya hilang saat mendengar bunyi air yang berasal dari dalam kamar mandi membuat senyum pria itu terukir lebar. Ia bernafas lega dan melangkah kearah pintu itu bermaksud untuk menyusul Hana didalam sana tapi tidak bisa dibuka karena dikunci dari dalam sana.


Tak ada sahutan dari dalam sana membuat Adam menjadi khawatir.


"Hana! Kamu dengar tidak, Daddy panggil?" ucapnya lagi dengan wajah panik.


Adam lalu mencoba melangkah kearah meja untuk mencari kunci cadangannya, tapi terhenti karena pintu kamar mandi sudah terbuka dari dalam sana.


Hana keluar dengan wajah yang terlihat basah karena habis mencuci mukanya. "Loh, Daddy! Kakek sama Oma udah pulang?" tanya Hana dengan wajah santainya mencoba basa basi agar tidak ketahuan oleh Adam, jika ia sedang menangis didalam tadi.


Adam langsung memeluk Hana erat. "Daddy pikir kamu kenapa napa." ucapnya dengan perasaan takut.


"Hahaha Emangnya Hana kenapa? Orang Hana lagi cuci muka kok." ucapnya berbohong sambil tertawa.


Hana begitu pandai sekali menyembunyikan kesedihannya didepan Adam hingga terlihat baik baik saja dan tidak nampak wajah sedih, sedikit pun di-wajahnya.

__ADS_1


"Jangan dikunci lagi kalau kamu lagi di dalam! kamu buat Daddy jadi panik tadi." sahut Adam sedikit kesal saat melepaskan pelukan mereka.


"Hahaha, baik Daddy sayang." sahut Hana terkekeh menatap daddy-nya.


"Udah malam ayo tidur!" ajak Hana tersenyum menarik tangan Adam menuju ranjang.


Hana naik keatas kasur itu lalu masuk kedalam selimut itu. "Ayo naik! Daddy ngga mau tidur lagi sama Hana?" tanya Hana dengan bercanda saat melihat Adam masih berdiri di samping tempat tidur.


Adammerasa bersalah dan takut dengan pembicaraan mereka tadi membuat Hana pergi meninggalkannya. Ia tidak ingin membayangkan hal itu terjadi pada hidupnya. Adam masih bergeming sambil menatap Hana yang terus tersenyum menatapnya di-atas ranjang itu.


"Daddy, ayo naik!" ucap Hana dengan nada sedikit merengek manja sambil merentangkan kedua tangannya.


Adam langsung tersenyum dan naik keatas ranjang. Masuk kedalam selimut dan membawa tubuh Hana masuk kedalam pelukannya. Menaruh kepala Hana di dadanya.


Satu tangannya ia gunakan mengelus rambut Hana dengan penuh kelembutan sambil menaruh dagunya di-kepala wanita itu.


Hana tersenyum menerima perlakuan Adam yang begitu manis, ia lalu mengeratkan pelukannya di tubuh atletis itu sambil tangannya memainkan bulu halus yang tumbuh di-dada bidang Adam.


"Oh iyah, ngomong ngomong soal tad_" ucapan Hana terhenti karena dipotong dengan cepat oleh Adam.


"Jangan macam macam! Daddy tahu apa yang ingin kamu katakan." ucap Adam cepat dengan nada terdengar sedikit tidak suka.


Adam tidak ingin Hana membahas tentang hal itu lagi, jika mereka sedang berdua seperti ini. Ia tidak ingin hal itu merusak suasana mereka yang sedang berdua.


"Hana hanya ingin tahu saja, mau sampai dimana hubungan terlarang ini?" Hana memberanikan diri menanyakan hal itu.


Selama mereka menjalin hubungan ini, ia tidak pernah berani menanyakan hal itu pada Adam. Dan malam ini mendengar jika Daddy nya ingin dijodohkan dengan wanita lain. Membuat ia harus memastikan hubungan mereka ini akan sampai dimana.


Adam langsung menghentikan pergerakan tangannya di-kepala Hana dengan wajah yang sudah terlihat tidak suka. "Maksud kamu apa tanya seperti itu?."


Hana mendongakkan kepalanya keatas menatap Adam. "Hana hanya ingin tahu saja Daddy, tidak apa apa kalau Daddy memang tidak bisa menjawabnya." sahut Hana tersenyum kearah Adam.


Ia lalu membaringkan lagi kepalanya di dada Adam sambil memeluk pria itu. Hana merasa miris dengan kisah cintanya harus terjebak dengan cinta terlarang ini.


"Apa pun yang terjadi kamu akan tetap bersama Daddy dan hanya milik Daddy." sahut Adam tegas mengelus kembali kepala Hana.

__ADS_1


Hana hanya tersenyum miris mendengar ucapan Daddy-nya. Belum ada kepastian sebagai apa ia akan berada di sisi Daddy-nya. Apa hanya sekedar anak saja? Lalu kenapa harus ada hubungan terlarang diantara anak dan ayah.


Adam memang mencintai Hana tapi belum saatnya ia memutuskan hubungan ini akan kemana. Masih begitu bimbang memutuskan semua itu, katakan jika ia begitu egois bukan? Tapi itulah yang terjadi.


__ADS_2