
Dua hari berlalu.
Hana tengah memakaikan jas kerja untuk suaminya, hari ini Adam berangkat lebih awal karena akan mengadakan meeting penting dengan klien dari New York.
Adam berdiri di depan Hana memeluk pinggang Hana sembari memandangi wajah seksi itu, yang sedang serius memakaikan jas dan juga dasi untuknya.
"Selesai." ucap Hana tersenyum puas sambil menepuk jas kerja suaminya pelan.
Adam tersenyum lalu dengan spontan mengecup bibir Hana. Hana sedikit tersentak karena aksi Adam yang begitu tiba tiba, ia lalu membiarkan Adam mengecup bibirnya.
Yang tadinya hanya kecupan malah berubah dengan ciuman. Bibir Adam bergerak menciumi bibir seksi Hana dengan ******* pelan benda kenyal itu, Hana dengan senang hati menerima ciuman itu dengan membalas ciuman suaminya.
Tangannya terangkat melingkar di leher Adam, kedua mata mereka terpejam menikmati ciuman lembut itu. Sesekali Adam mengigit bibir Hana pelan memasukkan lidahnya kedalam rongga mulut Hana mengobrak-abrik isi didalam sana.
Ciuman lembut itu perlahan menjadi panas saat Adam menurunkan satu tangannya di pepaya gantung milik Hana. Meremasnya sedikit kuat hingga membuat lenguhan terdengar dari mulut Hana.
"Aaaaa Pi!" Hana melenguh sambil mengeratkan pegangan tangannya di leher Adam.
Mendengar suara itu membuat gairah Adam terpancing. Saat mulut mereka saling mencecap, tangannya dengan lihai turun kebawah dan masuk kedalam dress mini Hana mencari sesuatu yang akan membawa mereka ke puncak kenikmatan.
"Papi stop! papi sedang ada meeting pagi ini." Hana tersadar melepaskan ciumannya, dengan cepat menghentikan kegiatan mereka saat merasakan suasananya tidak kondusif lagi.
Adam sedikit kesal karena kegiatannya dihentikan. Ia kembali meraup bibir tebal Hana ********** Kasar. "Hmmpt .... papi stop! papi akan terlambat jika seperti ini." Hana melepaskan kembali ciuman itu.
"Hah, mommy sangat merusak suasana," kesal Adam, baru saja tangannya sudah ingin berselancar di gua penuh kenikmatan tapi Hana malah menghentikan kegiatannya.
Ia menatap kesal kearah Hana. "Nanti saja setelah papi pulang, sekarang papi harus berangkat bukannya papi tadi mengatakan akan ada meeting bersama klien papi kan?" Hana mengecup pipi Adam lalu berjalan kearah sofa mengambil handuk milik suaminya.
Sementara Adam mencebik kesal dan meraih jam tangannya di laci nakas, memakainya dengan perasaan kesal. Entahlah ia kesal saja karena gairahnya tidak disalurkan.
Ia lalu berjalan keluar tanpa menunggu Hana yang masih membereskan handuk di tempatnya. Hana menghembuskan nafasnya pasrah saat melihat melihat suaminya yang sudah mode merajuk.
Pria itu bahkan tidak mengatakan apapun lagi saat keluar dari kamar. "Seperti anak kecil saja jika sudah merajuk." Hana lalu mengambil baju kotor Adam meletakkan di tempat khusus baju kotor.
Adam menghentikan langkahnya saat berada di anak tangga ke-tiga. Ia jadi tidak tega meninggalkan istrinya di kamar tadi tanpa mengucapkan apapun. Ia pun berniat berbalik untuk menemui istrinya lagi tapi pergerakannya terhenti saat bunyi telepon mengalihkan perhatiannya.
Ia merogoh sakunya mengambil benda pipi itu. Tertera nama sekertaris nya yang menelpon. "Tuan meeting nya akan dimulai beberapa menit lagi, Tuan di mana?"
Adam mendesa kesal. "Ya baiklah aku segera kesana, siapkan saja semuanya!" perintah Adam lalu mematikan sambungan telponnya.
__ADS_1
Ia melirik sebentar kearah pintu kamar berharap Hana sudah keluar tapi beberapa detik menuggu wanita hamil itu tak kunjung keluar. Ia lalu melirik jam tangannya yang menunjukkan jam setengah 8 pagi, itu artinya ia sudah tidak punya waktu lagi.
Dengan terpaksa Adam langsung melangkah pergi tanpa menunggu istrinya. Pria itu tidak sarapan pagi dan langsung berlalu keluar menaiki mobilnya.
Hana baru saja melangkah keluar, perlahan turun kebawah. Saat sudah berada dibawah, Hana tidak mendapati lagi keberadaan suaminya.
"Hah .... pasti papi marah sama aku, buktinya papi tidak menunggu ku lagi." gumam Hana dengan sedikit kecewa.
"Nona! Apa nona mau sarapan? Bibi sudah menyiapkannya di-atas meja." ucap bi Surti saat berjalan masuk ke ruang tamu.
Hana menatap kedatangan bi surti sambil mencoba tersenyum, walaupun suasana hatinya mendadak sedikit tidak baik pagi ini.
"Tidak bi, Hana tidak ingin makan. Hana akan membuat susu hamil saja untuk diminum." ucapnya berjalan tidak semangat menuju dapur.
Bi Surti dengan ekspresi penuh tanya ada apa dengan kedua majikannya? Tadi saat kepergian Adam pria itu tidak sarapan saat pergi dan sekarang Nona nya juga tidak ingin sarapan. "Hah, apa mereka sedang bertengkar lagi?" batinnya menebak.
Hana membuat susu nya dengan tidak semangat. Suaminya bahkan tidak membuatkan susu lagi seperti rutinitasnya di-pagi pagi sebelumnya. Hanya karena ia menolak suaminya tadi. Apa salah jika ia tidak ingin melakukan itu? Dia hanya mengingatkan suaminya saja jika ada pertemuan penting hari ini dan Adam marah dan meninggalkan dirinya tanpa pamit terlebih dahulu padanya.
Hana menuangkan air panas kedalam gelas dengan melamun memikirkan kejadian tadi. "Aow!" desis Hana sambil mengibaskan tangannya mencoba menghilangkan rasa perih saat air panas tadi tak sengaja terkena pergelangan tangannya.
"Astaga Nona! Kenapa tidak hati hati?" bi Surti berlari kearah Hana saat melhat Nona-nya sedang mengadu kesakitan. Ia sudah terlihat khawatir.
"Tidak apa apa bi, ini hanya masalah kecil jangan terlalu cemas." Hana melepaskan tangannya dari BI Surti.
"Tidak apa apa bagaimana! Jelas jelas tangan nona sampai merah begitu. Ayo biar bibi rendam tangannya dengan air dingin." ujar bi Surti lalu berlari mengambil semangkuk air dingin untuk merendam tangan Hana. Beberapa detik kemudian ia kembali menghampiri Hana dengan semangkuk air.
"Tidak usah repot-repot bi, sini biarkan Hana saja yang melakukannya." ucap Hana sambil mengambil alih mangkuk putih itu. Ia berusaha terlihat baik baik, padahal yang terjadi adalah ia sedang mati matian menahan rasa perih ditangannya.
Keduanya kini duduk di kursi makan itu.
Bi Surti membiarkan Hana melakukannya. "Kenapa nona bisa ceroboh sekali, tuan Adam bisa cemas jika melihat ini." ucap bi Surti sambil menyentuh pelan tangan itu.
"Tidak apa apa jangan Khawatir, papi tidak akan khawatir ini hanya luka biasa. Sebentar lagi juga akan kembali seperti semula lagi." ucapnya santai sambil terus merendam tangannya.
"Hah tetap saja bibi khawatir, lain kali nona harus tetap hati hati. Nona juga sedang hamil." ucap bibi mengingatkan Hana.
"Iya Bi iya, kenapa bibi begitu perhatian sekali." Hana terkekeh melihat reaksi bibi yang begitu cemas dengannya.
"Biar bibi buatkan susu yang baru untuk Nona," ucap bi Surti lalu bangkit dari duduknya membuatku susu untuk Hana.
__ADS_1
"Terimakasih bi." ucap Hana sambil melihat kearah bi Surti.
"Sama sama Non." jawab Surti sambil mengaduk susu hamil itu.
*
*
*
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, Adam baru saja menyelesaikan meeting mereka.
"Kalau begitu kami pamit, sampai bertemu di pertemuan berikutnya." ucap pria yang seumuran dengan Adam. Menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Ya, terima kasih. Sampai ketemu lagi." ucap Adam tersenyum ramah sambil membalas jabat tangan dari pria tersebut.
"Sama sama, Tuan Adam, kalau begitu saya permisi." pamitnya undur diri.
"Hmm." singkatnya.
Saat pria itu sudah berlalu pergi. Adam melangkah masuk kedalam ruangannya.
Saat meeting tadi, Adam tidak begitu fokus karena pikirannya melayang memikirkan Hana. Tapi ia berusaha profesional dengan tidak membawa masalah pribadinya ke dalam urusan pekerjaan.
Ia meraih benda pipinya untuk melakukan panggilan video dengan istrinya. Panggilan video itu tersambung tapi belum dijawab oleh pemiliknya.
"Ayo angkat! jangan membuat papi jadi gelisah seperti ini," ucap Adam tidak sabaran.
"Come on, kenapa malah tidak mengangkat panggilannya." Adam terlihat mondar-mandir dalam ruangan itu dengan menatap layar ponselnya.
Berbeda dengan Adam, Hana terlihat duduk santai bersama Dimas di pos satpam. Setelah beberapa menit yang lalu ia merasa bosan hingga membuatnya berjalan keluar sekedar melepaskan penat juga masalah dengan suaminya lagi tadi.
Niatnya ingin berjalan di halaman rumah yang luas itu tapi terhenti saat melihat Dimas sedang duduk sendiri dengan serius membaca koran. Hal itu membuatnya ikut bergabung dengan pria dewasa tersebut.
Dan di sinilah Hana sekarang, dia tengah berbincang bincang dengan Dimas sambil sesekali terdengar gelak tawa dari keduanya karena perbincangan mereka yang terasa lucu. Hana seakan melupakan kejadian tadi pagi karena Dimas yang membuatnya terhibur.
Dia tidak tau saja jika Adam sedang uring-uringan di sebrang sana, saat panggilannya tak dijawab. Bukan tanpa sengaja Hana melakukan itu tapi karena hpnya sedang di dalam kamar dan Hana tak membawanya.
"****! kemana dia? Apa mommy marah?" Adam menendang meja kerjanya dengan kesal karena tak kunjung dijawab panggilan itu.
__ADS_1