Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Hadiah pagi hari.


__ADS_3

Adam sudah keluar dari dalam walk in closet, ia keluar dengan bokser tanpa menggunakan baju. Hingga memperlihatkan perut sixpack nya.


Hana tersenyum melihat Daddy-nya, yang sudah melangkah mendekati dirinya di ranjang. Adam naik keatas ranjang dengan mengambil posisi tepat di samping hana.


Ia membaringkan tubuhnya, lalu meletakkan satu lengannya di belakang kepala gadisnya dan satu tangannya lagi meraih tubuh Hana masuk kedalam pelukannya. Adam menatap Hana dengan senyum yang terus terukir.


"Kenapa lihatin Daddy kayak tadi, hmm?" Adam menatap wajah Hana sebentar lalu membenamkan wajah wanita itu di daddy-nya.


"Hana cuman pengen aja lihatin Daddy, Hana takut nanti nggak bisa lagi pandangi Daddy kayak gini." sahut Hana mengeratkan pelukan pada Daddy-nya.


Adam mengerutkan keningnya mendengar ucapan Hana. "Kenapa ngomong kayak gitu? Kamu akan tetap bisa lihatin Daddy." sahut Adam sambil mengecup kepala Hana.


Tidak ada sahutan dari wanitanya itu. Adam mendongakkan kepalanya kebawah melihat Hana, gadis itu masih dengan mata yang terbuka sambil kepalanya terus menempel di dada bidang itu.


"Besok malam kamu akan ikut sama Daddy, kita akan malam bersama kakek dan juga Oma." ucap Adam tiba tiba.


Pria itu sengaja tidak mengatakan akan ada Nanda juga dimakan malam mereka, di rumah kedua orang tuanya. Kalau Adam mengatakannya sekarang, sudah pasti Hana akan menolak ajakan itu dengan berbagai alasan.


Hana sontak mengangkat kepalanya keatas menatap Adam. "Makan malam bersama? Di rumah kakek?" Tanya Hana.


"Hmm .... Oma ingin kamu juga datang di makan malam nanti." sahut Adam tersenyum kecil.


"Kenapa perasaan aku mendadak nggak enak ya?" batin Hana dengan perasaan yang sudah merasa akan ada sesuatu."


"Kenapa? kok muka kamu nggak bahagia gitu?" tanya Adam menatap manik wajah milik Hana. Terlihat jelas guratan khawatir dan gelisah di wajah seksi itu.


"Ah .... nggak kok Daddy. Hana cuman kaget aja tiba tiba kakek sama Oma ajakin makan malam." sahutnya.


"Memangnya kenapa? kamu keberatan untuk datang?" tanya Adam.


"Ng ... nggak kok, Hana malah senang karena diundang Oma." sahut Hana dengan cepat samil memaksakan senyumnya.


"Daddy tetap bawah kamu, tanpa disuruh sama Oma." sahut Adam tersenyum menatap Hana.


"Hmm ...." sahut Hana tersenyum.


"Ya udah, ayo tidur! Besok kamu harus ke kampus kan." ucap Adam sambil mengeratkan pelukannya, kini kedua kakinya melingkar di tubuh wanitanya itu.


"Iyah Daddy." sahut Hana membalas pelukan Adam. Ia lalu memejamkan matanya, mencoba untuk masuk kedalam mimpinya.


Sementara Adam masih terjaga. Ia menepuk-nepuk punggung Hana layaknya menidurkan bayi. Dagunya ia letakkan di-atas kepala Hana.


"Daddy mencintai kamu Hana." entah sudah berapa kali ungkapan itu terus terucap dari mulut pria itu.


Entahlah Adam merasa tak akan pernah puas mengungkapkan kata cinta itu terus menerus. Ia tidak perduli jika nanti Hana sudah bosan karena terus mendengarkan ucapan cinta itu. Tapi rasanya tidak mungkin jika Hana akan bosan mendengarnya, gadisnya itu akan selalu senang jika Adam terus mengatakan hal itu.


Beberapa menit Adam menidurkan Hana, wanita itupun akhirnya masuk kedalam mimpinya. Ia tertidur begitu lelap dalam pelukan Adam.


Tak berselang lama Hana tertidur, Adam juga menyusul Hana kedalam tidurnya. Mereka sama sama terlelap dengan tubuh yang saling memeluk melampiaskan segala kerinduan mereka.


Walaupun hanya sehari Adam mendiami Hana, pria itu tetap saja merasa rindu yang begitu teramat besar pada gadis yang dicintainya ini.


Hingga pagi pun tiba. Di luar sana matahari sudah menampakkan dirinya dengan malu malu. Waktu menunjukkan pukul jam enam pagi, kedua manusia itu masih terlelap dalam tidurnya.


Di lantai bawah para pekerja sudah mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Tampak bi Surti dan dua pembantu lainnya berkutat di dapur untuk membuat sarapan pagi bagi Tuan dan Nona-nya.


Aryo dan Dimas tampak sedang menikmati satu gelas kopi mereka masing masing di teras pos satpam, sembari bercengkrama.


"Semalam ibu kamu nelpon?" tanya Dimas melirik Aryo, kemudian menyeruput kopinya.

__ADS_1


"Mereka nanyain kabar aku, katanya udah kangen sama aku." sahut Aryo tersenyum.


"Kenapa nggak coba ijin dulu sama Tuan, biar kamu bisa ke kampung jenguk mereka." usul Dimas.


"Ia rencananya kemarin, cuman aku nggak berani karena lihat wajah Tuan Adam yang kayak punya masalah gitu. Kemarin aku sempat lihat Tuan Adam pergi dengan wajah yang kayak nahan amarah gitu. sahut Aryo memberitahukan Dimas dengan apa yang ia lihat kemarin saat Tuannya pergi menaiki mobilnya.


Aryo memang sempat melihat pria itu meninggalkan rumah, karena secara kebetulan ia melewati garasi mobil itu.


"Yang benar kamu?" sahut Dimas dengan cepat.


"Iyah, makanya gue nggak jadi buat ijin. Takut di tonjok lagi nantinya." ucap Aryo mengingat kembali saat ia diberikan tamparan dan juga pukulan dari Adam. Rasanya nyeri nyeri sedap. Ia menggelengkan kepalanya amit amit tidak ingin merasakan hal itu lagi.


Karena pukulan pria itu begitu kuat dan sakit. Dimas terkekeh mendengar Aryo yang ditonjok. "Hahaha, untuk gue bukan di-bagian supir pribadi Nona Hana." kata Dimas merasa beruntung karena tidak ditugaskan sebagai supir.


Aryo menatap malas teman kerjanya itu, bukannya mengasihani malah menertawakan nasib sialnya itu. "Belum aja itu, nanti juga kamu bakalan dapat amukan juga sama Tuan Adam." sahut Aryo.


"Ya ampun, amit amit deh jangan sampai, karena aku masih mau rasain hidup dengan badan sehat." sahut Dimas menggeleng kepala, berusaha menghilangkan bayangan seperti itu.


Tapi ngomong-ngomong, kenapa Tuan Adam marah kayak gitu kemari?" Dimas Kemabli melontarkan pertanyaan.


"Mana aku tau, orang akunya cuman lihat pas Tuan lagi masuk ke mobil kemudian pergi gitu aja." sahut Aryo.


"Hmm .... apa iya, ada kaitannya sama Nona Hana?" Dimas menebak nebak.


"Sok tahu kamu, udahlah dari pada ikut campur urusan Tuan Adam mending kita nikmati aja nhi kopi kita." selah Aryo lalu meraih cangkir kopinya.


Dimas menganggukkan kepalanya setuju, lalu mengikuti apa yang Aryo lakukan. Kedua pria dewasa itu terus bercengkrama mengenai hal hal pribadi mereka hingga urusan pekerjaan.


Di dalam kamar. Hana tampaknya sudah terbangun lebih dulu. Ia berusaha mengumpulkan nyawanya sebentar lalu melirik daddy-nya di-samping. Terlihat Adam masih memejamkan matanya dengan wajah yang begitu teduh.


Jika tertidur seperti ini, tatapan tajam dari wajah Adam menghilang entah kemana tetapi jika sudah terbangun tatapan elang itu akan menghiasi lagi wajahnya.


Cup


Tak ada pergerakan dari pria itu, ia masih terlelap dibawah sana. Hana tersenyum lalu bangkit dari baringnya. Hana memutuskan beranjak dari ranjang itu tersebut.


Saat satu kakinya akan menyentuh lantai, tiba tiba tangan kekar Adam menahan pergelangan Hana. Hana lalu menoleh kearah tangan itu. Ia tersenyum lalu menatap daddy-nya.


"Daddy udah bangun." ucapnya dengan senyum.


"Kamu mau kemana?" tanya Adam sambil mengucek matanya.


"Hana mau ke kamar mandi." sahut Hana tersenyum.


"Emangnya kamu mau ke kampus sepagi ini? Ini masih jam enam pagi baby." sahut Adam melihat jam mini yang terletak di atas meja tepat di samping kasur mereka.


"Ia Hana mau ke kampus jam tujuh pagi, makanya Hana harus siap siap lebih awal."


"Nggak biasanya kamu punya jadwal sepagi itu." sahut Adam tidak percaya, ia lalu merubah posisi tidurnya menjadi terduduk sambil kepalanya ia sandarkan di sandaran ranjang itu.


"Hana punya beberapa tugas yang harus di setor, ke dosen lebih awal. Makanya Hana harus ke kampus jam tujuh pagi Daddy." sahut Hana mengulas senyumnya.


"Ha ....." Adam membuang nafasnya kasar. Ia masih ingin bermanja manja sebentar dengan Hana di kasur empuk itu. Tapi malah gagal lagi.


"Kenapa respon Daddy kayak gitu?" Hana menahan tawanya karena melihat Adam yang sepertinya tidak ikhlas jika Hana pergi sepagi ini.


"Ayolah Dad, lagian Daddy juga kan yang anterin Hana ke kampus. Maka dari itu Daddy juga harus cepat cepat mandi biar kita pergi bareng. Tapi kalau Daddy ngga bisa, biar om Aryo aja yang nganterin Hana." sahut Hana mencoba menggoda daddy-nya.


"Enak aja, Daddy yang tetap anterin kamu ke kampus." sahutnya cepat dengan nada kesal.

__ADS_1


"Ya udah, sebagai gantinya Hana mau kasih hadiah buat Daddy karena Daddy ngga ikhlas Hana ke kampus lebih awal kan." ucap Hana tersenyum nakal mendekati Adam.


"Hadiah apa?" tanya Adam dengan wajah yang sudah terlihat penasaran.


"Menurut Daddy apa?" ucapnya dengan menampilkan senyuman nakal.


Adam langsung mengerti dengan maksud gadisnya itu. Ia tersenyum menyeringai menatap Hana. Hana yang akan naik kepangkuan Adam, malah kalah cepat dengan gerakan tangan Adam yang sudah lebih dulu menarik tubuh itu keatas pangkuannya.


Hana tersenyum menatap daddy-nya sembari menggoyang goyangkan bokongnya di atas pangkuan Adam.


"Kamu semakin nakal ya, sama Daddy." kata Adam menatap gemas wajah Hana. Rasanya ia ingin langsung menyantap saja wanita di-depannya itu.


"Hahahha, ini juga karena Daddy makanya Hana jadi nakal." sahut Hana tertawa mengelus Daddy bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus ditempat itu.


Adam menatap Hana sambil sesekali memejamkan matanya karena merasakan sensasi yang diberikan Hana pada dadanya. Padahal itu baru juga di dada, belum yang lainnya nanti.


"Sssst .... kamu benar benar nakal Hana." ucap Adam dengan tatapan yang sudah terlihat sayu.


"Daddy hanya cukup diam, biar Hana yang memanjakan Daddy." ucapnya dengan nakal.


Adam tersenyum menatap gadisnya itu. Oh astaga rasanya gadisnya itu sudah mulai bermain-main dengannya.


Hana mengangkat sebentar bokongnya, lalu kedua tangan Hana menurunkan bokser Adam hingga ke lutut, dan terpampang sudah senjata panjang dan besar itu. Senjata itu sudah berdiri tegak dan siap diasah.


Hana menatap gemas senjata itu, kedua telapak tangannya langsung beralih ke benda tumpul itu, Sebelum benar benar menggenggam benda itu, tangan Hana mentoel toel benda itu dengan gemas.


"Sssst, Hana jangan lakuin itu, aaaa!." Adam sudah mengeram merasakan sensasi karena ulah Hana.


Hana mendongakkan wajahnya menatap Adam dengan senyum menyeringai sambil mengigit bibirnya dengan sensual.


"Enak nggak Daddy?" tanya Hana.


"Come on, jangan bikin Daddy tersiksa kayak gini." desisnya dengan wajah berkabut g*i*rah. Hana tersenyum lalu dengan cepat menurunkan wajahnya di benda itu. Tanpa ba bi bu Hana langsung memasukkan benda itu kedalam mulutnya. Mengulumnya dengan begitu lihai.


Adam melototkan matanya dengan apa yang Hana lakukan. "Aaaa, Hana. Astaga ini benar-benar gila, sssst." desah Adam disela ucapannya.


Mulut Hana terus bergerak lincah di-benda itu, menjilati dan menghisap lollipop itu dengan lincah. Hana tampak bermain handal kali ini.


"Sssst .... Aaaa. Ini gila Hana ....." ******* panjang Adam terdengar menggema di ruangan kamar Hana, saat pelepasannya.


Hana lalu melepaskan dengan cepat mulutnya dari tempat itu, karena merasa Adam yang sudah ingin meledak.


Dan benar saja beberapa detik setelah mengangkat kepalanya dari situ. Lollipop itu sudah menyemburkan vla pudingnya.


Gadis itu tersenyum senang menatap daddy-nya. Tampak Adam membalas tatapan itu dengan nafas yang masih memburu.


"Kamu hebat, baby." Adam memuji.


Hana hanya tersenyum merespon pujian Adam. Hana pun ingin beranjak dari atas tempat itu, tapi Adam dengan cepat menarik tubuh itu hingga membuat Hana terlentang di-atas ranjang.


"Apa dad." Hana terkejut dengan aksi Adam yang begitu tiba-tiba.


"Kamu juga harus dapat hadiah dari Daddy." ucap Adam dengan cepat langsung menyingkap baju tidur Hana keatas hingga melewati buah melon Hana.


Ia dengan cepat menenggelamkan wajahnya dibawah sana tepat di rumput indah milik Hana. Bermain main di tempat itu.


"Aaa, Daddy." era*g Hana mengigit bibirnya kuat, kedua tangannya menahan kepala Adam yang masih berada di bawah sana.


Adam terus bermain-main di tempat itu hingga membuat Hana mengeluarkan suara merdunya berulang ulang.

__ADS_1


__ADS_2