Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
memeriksa kandungan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, Adam dan Hana sudah berada di rumah sakit dimana mereka akan memeriksa kandungan istrinya.


Keduanya tengah duduk menunggu giliran untuk di panggil. Banyak lbu hamil yang akan di periksa kandungannya hari ini. Kebanyakan dari mereka sudah hamil Tua dan bisa dilihat dari perut mereka jika sudah mendekati kelahiran.


Adam menatap Hana dan mengusap lembut perut istrinya.


"Kenapa mommy ingin sekali untuk mengantri seperti ini? Kita bisa saja masuk dengan kekuasaan papi, rumah sakit ini mengenal siapa papi." ucap Adam.


"Mommy tidak mau melakukan itu Pi, itu namanya tidak adil, kita harus tetap antri walaupun Hana istri dari seorang Adam Matteo. Apa papi tidak kasihan melihat ibu ibu hamil yang sudah mengantri dari tadi tapi kita yang baru datang masuk lebih dulu? Mommy tidak setega itu melakukannya. Kita tidak boleh melakukan sesuatu menggunakan kekuasaan kita kan Pi." ucapnya panjang lebar.


Adam menatap kagum pada istri mudahnya. Semakin hari Hana semakin membuatnya jatuh cinta dengan paras dan juga kebaikan hatinya pada orang lain yang bahkan ia tidak mengenal mereka. Ia mengecup puncak kepala Hana.


"Papi semakin cinta sama mommy." Hana tersenyum mendengar penuturan Adam.


Beberapa detik kemudian pandangan Adam tak sengaja melihat wanita hamil besar.


"Mommy." panggil Adam


"Hmm." jawab Hana sambil menatap Adam.


"Pasti mommy akan mengemaskan jika perut mommy seperti ibu itu." ucap Adam sambil mengarahkan pandangannya pada salah satu ibu yang kehamilannya sangat besar, mungkin saja sudah berusia di delapan atau sembilan bulan.


Hana pun mengikuti arah yang dimaksud Adam.


"Gemas? Jadi papi mau mommy jadi gendut kayak gitu." ucap Hana mengerucutkan bibirnya.


"Iya, gemas kayak boneka beruang, apalagi kalau perut mommy seperti itu." Adam menyamakan Hana dengan ibu ibu yang hamil besar tersebut.


"Papi kok kayak gitu, sih? Aku, tuh, lagi hamil anak papi, ya, masa aku di bilang kayak boneka beruang sih." ucap Hana dengan nada kesal.


"Dengerin dulu, maksud papi itu beruang cantik." ucap sambil tersenyum lebar.


Hana menatap malas pada suaminya.


"Mana ada beruang cantik? Bukannya semua beruang wajahnya sama?" batinnya kesal.


"Nyonya Matteo." Panggil salah satu suster.


"Mommy masuk duluan, papi ke toilet dulu, sebentar, nanti setelah itu papi nyusul." ucap Adam.


Hana mengangguk dan masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Hana tersenyum melihat Dokter yang juga tengah tersenyum padanya, dokter tampan berkulit putih yang terlihat sudah cukup dewasa, sepertinya usianya sekitar 35 tahunan.


"Selamat sore, Ibu. Eh, Ibu atau Mbak? atau Kakak?" tanya sang Dokter sambil tersenyum Manis. Sang dokter terlihat sangat ramah dengan senyuman tak lepas tersungging dari bibirnya yang pink memerah.


Rupanya dokter tersebut belum mengetahui jika wanita muda didepannya ini adalah istri Adam Matteo.


"lbu muda, Dok." ucap Hana sambil tersenyum manis.


"Benar, kah, berapa usia anda?" tanya Dokter.


"19 tahun, Dok" ucap Hana.


Dokter pria itu terkejut. Hana terlihat seperti anak dari keluarga kaya, terlihat dari style nya yang berkelas, dan elegan. Bagaimana bisa wanita cantik dan seksi itu mau saja dinikahi di usia muda.


Biasanya wanita seksi dan cantik seperti Hana ini pasti suka bersenang-senang dan menghabiskan masa mudanya dengan teman teman ataupun bisa saja ia mengejar karir dan pendidikannya dibandingkan urusan percintaan ataupun rumah tangga seperti ini, pikir sang Dokter yang bernama David.

__ADS_1


"Baik, kalau begitu." David memeriksa hasil laporan kehamilan Hana sebelumnya yang tercatat pada buku kehamilan lalu menatap Hana dan tersenyum.


"Ini kehamilan pertama anda, betul." ucap David.


"Iya, betul, Dok." David mengangguk.


"Di usia muda sudah hamil, ya, tentu saja resiko keguguran mungkin terjadi" batin David.


Pemeriksaan pun di mulai. Hana berbaring di atas brankar. Ada suster perempuan juga di sana yang menjadi asisten sang Dokter, Suster meminta Hana membuka atasan yang dia kenakan agar perutnya terlihat karena akan mengoleskan gel di perutnya sebelum melakukan USG.


Setelah suster selesai mengoleskan gel itu di perut Hana, Dokter pun mendekati Hana dan tersenyum.


"Maaf, ya." ucap David dan di anggukan kepala oleh Hana. Hana tak mempermasalahkan dia di periksa oleh Dokter pria, karena dia mengerti bahwa di dunia kedokteran memang tak ada istilah pria maupun wanita.


David mulai memasang alat USG dan menggerakkannya di atas perut Hana.


"Janinnya terlihat sehat, ya, Bu." ucap David.


Hana tersenyum dan mengangguk, sedangkan David masih terus mengerakkan alat itu di perut Hana.


Bugh.


Hana membulatkan matanya, dia begitu terkejut dan dengan cepat dia langsung merapikan pakaiannya.


"Dasar brengsek ...! bentak seseorang yang tak lain adalah Adam.


Bugh.


Ia kembali menghajar wajah Dokter David dan membuatnya tersungkur ke lantai.


"Papi cukup, hentikan papi." Hana mencoba menahan Adam saat tangan Adam akan mendaratkan pukulan ke tiga di wajah Dokter David.


"Papi cuman salah paham, Pi." ucap Hana.


"Dok, apa anda baik-baik saja?" tanya sang suster yang baru saja memasuki ruang Dokter dan membantu dokter David untuk bangun. Entah sebelumnya suster itu keluar untuk apa hingga meninggalkan Hana dan David hanya berdua di dalam ruang periksa.


"Maaf, Tuan Matteo, ada apa ribut ribut seperti ini." suster itu menunduk.


"Tanyakan dokter cabul itu, beraninya dia menyentuh perut istri saya." ucap Adam dengan nada geram.


Suster terkejut dan menatap dokter David. Dokter David menggelengkan kepala sambil meringis merasakan lumayan ngilu di wajahnya akibat pukulan Adam yang cukup keras


"Papi salah paham, Pi, Dokter ini tidak berbuat macam macam dengan mommy." ucap Hana.


Adam menatap Hana.


"Tidak macam macam sama mommy? Terus yang tadi ,itu, apa, ha? Dia menyentuh perut mommy, dan mommy bilang tidak berbuat macam-macam? Astaga jangan bilang mommy menikmati sentuhan dia, tadi." ucap Adam dengan nada kesal.


Hana dan David terkejut mendengar ucapan Adam.


"Anda salah paham, sebaiknya kita bicarakan baik-baik agar tak ada lagi ada kesalahpahaman." ucap Dokter David.


Adam semakin emosi dan menarik kra baju David memaksanya untuk berdiri. Lagi-lagi Adam akan memberikan pukulan di wajah Dokter David.


"CUKUP ...!" Hana berteriak dan menghentikan tangan Adam, Dia langsung memeluk tubuh suaminya.


"Kamu salah paham, Pi, Dokter itu sedang memeriksa kandungan mommy, bayi kita, mommy lagi di USG, Pi, makanya dokter itu melihat perut perut mommy." jelas Hana mencoba menenangkan Adam.

__ADS_1


Adam melepaskan pelukannya dan menatap Hana.


"Tapi kenapa harus Dokter pria? Kemana dokter yang biasa memeriksa kandungan mommy? Dia bahkan melihat perut mommy, cuman papi, suami mommy ini yang berhak lihat tubuh kamu." ucap Adam geram. Hana mengangguk dan kembali memeluk Adam.


"lya, ini, salah mommy, mommy yang izinin dokter memeriksa mommy. Maaf Pi."


Adam hanya diam, dia menarik nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan, berharap dapat mengurangi amarah yang memuncak.


"Papi sudah bilang bukan papi tidak suka melihat kamu dilirik ataupun disentuh oleh pria lain seperti ini." Hana mengangguk dan melepaskan pelukan Adam.


Cup.


Perlahan amarah Adam mulai berkurang setelah Hana mengecup pipinya, Hana tak peduli dengan Dokter David dan juga suster yang tengah memperhatikan keduanya, yang Dania pikirkan adalah dia ingin suaminya itu tak lagi emosi.


"Mommy janji, lain kali mommy cuman akan di periksa sama dokter perempuan, Papi jangan marah lagi, ya, Pi. Baby nya jadi sedih lihat Daddy nya marah-marah." ucap Hana sendu.


Adam menghembuskan nafas perlahan dan menundukkan kepalanya hingga kini tepat berada di depan perut Hana.


Cup.


Adam mengecup perut Hana yang sudah terlihat menonjol itu.


"Maaf ya, baby, Papa ga akan marah-marah lagi." ucap Adam sambil mengelus perut Hana.


"Ekhem ... Jadi semua sudah selesai, ya. Tidak ada lagi kesalahpahaman sekarang. Sungguh saya merasa buruk karena anda mengatakan saya dokter cabul," ucap Dokter David. Adam berdiri dan menatap Dokter David.


"Hmmm." ucap Adam dingin.


Hana melihat Dokter David yang tengah tersenyum tipis. Hana pun menjadi tak enak hati, karena suaminya itu wajah Dokter David menjadi agak lebam. Hana sedikit berjinjit dan berbisik di telinga Adam.


"Ayo Pi minta maaf." ucap Hana.


Adam membulatkan matanya dan dengan cepat menggelengkan kepalanya.


Hana langsung memperlihatkan wajah sedihnya yang sudah pasti akan berhasil membuat Adam mengalah. Adam membuang nafasnya perlahan, dengan terpaksa ia harus mengabulkan permintaan istrinya. Baru kali ini ia harus meminta maaf pada orang lain.


"Maaf kan saya, karena sudah salah paham sama kamu." ucap Adam sambil menyodorkan tangannya.


Dokter David tersenyum dan menyambut tangan Adam.


"Yah, namanya juga bucin." batin David.


"Baik lah, saya akan menjelaskan hasil USG tadi." ucap David.


Hana dan Adam duduk berhadapan dengan Dokter David dan Dokter David pun menjelaskan hasil pemeriksaan tadi.


Setelah selesai, Adam dan Hana keluar dari ruangan Dokter David dan pergi kembali ke rumah setelah sebelumnya menebus vitamin Ibu hamil yang sudah diresepkan dokter David.


Di perjalanan menuju ke rumah. Hana tengah memandangi keluar jendela mobil. Sementara Adam fokus menyetir sesekali ia melirik kearah Hana.


"Mommy!" panggil Adam sambil mengusap lembut kepala Hana.


"Ya." Hana melihat ke arah Adam yang tengah fokus menyetir.


"Maaf ya, soal tadi, Papi selalu tidak bisa mengontrol emosi papi, kalau lihat papi dekat-dekat dengan pria lain." ucap Adam.


Hana mengangguk dan tersenyum." lya, aku maafin.

__ADS_1


"Tapi lain kali jangan kayak tadi."


"Iya," Adam mengecup punggung tangan Hana.


__ADS_2