Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
kolam renang


__ADS_3

"Masuk!" perintah Adam dengan tegas tak lupa wajah datarnya menghiasi wajahnya itu.


Hana menurut dan melangkah masuk disusul Adam dari belakang, dengan kedua tangannya disaku celana. Keduanya menaiki tangga tanpa berbicara sedikit pun.


"Ganti baju kamu dan istirahat!" ucap Adam melirik sebentar kearah Hana sambil melepaskan jas dari tubuhnya, menyisakan kemeja putih di badannya, ia menggulung lengan bajunya sebatas siku.


"Iya Dad." Hana lalu masuk kedalam walk in closet dan Menganti pakaiannya.


Tak butuh waktu lama Hana keluar dengan menggunakan bathrobe melewati ruang tengah tempat Adam sedang duduk bersandar di kursi memejamkan matanya, Hana membuka pintu belakang dimana kolam renang berada.


Suara pintu yang buka terdengar membuyarkan lamunan Adam. Pria itu bangkit, menatap keluar jendela. Terlihat Hana yang berjalan menuju kolam renang pada hampir tengah malam dengan bathrobe yang membalut tubuhnya.


"Mau apa dia malam-malam gini?" gumamnya, dahinya mengerut.


Terlihat Hana yang telah sampai di pinggir kolam renang di bawah sana. Melepaskan bathrobe yang dikenakannya. Membuat Adam hampir menahan napas ketika pemandangan indah itu terpampang nyata di depan matanya.


Tubuh polos Hana terpampang dengan indah didepan sana. Membuat dada pria 39 tahun itu bergemuruh. Jakunnya naik turun. Sesuatu terbangun dibawah sana, membuatnya merasa tak nyaman.


Perlahan Hana turun ke kolam renang. Menenggelamkan sebagian tubuhnya di air. Rasa dingin seketika menyerangnya. Namun tak membuat nya menghentikan pergerakannya.


Hana mulai bergerak menyelami air. Sesekali menenggelamkan kepalanya hingga seluruh tubuhnya basah. Perempuan itu berenang kesana kemari. Mengambang, menyelam, kemudian diam setelah beberapa saat, menempelkan tubuh bagian depannya ke pinggiran kolam, menatap gelapnya lautan lepas yang mengalunkan deburan ombak dari kejauhan.


Dengan langkah pelan, Adam berjalan menuju kolam tempat Hana berendam. Melepaskan pakaiannya satu persatu hingga berserakan dilantai.


Tanpa disadari perempuan itu, Hana telah mengikutinya masuk kedalam air. Riak kecil yang diakibatkan pergerakan pria itu luput dari perhatiannya.


Hingga akhirnya Satria telah berada tepat dibelakangnya yang masih betah menikmati pemandangan malam yang pekat disertai suara deburan gelombang dipantai.

__ADS_1


Tubuh Hana meremang ketika terasa hembusan napas hangat menyapu kulit tengkuknya. Lalu sebuah ciuman mendarat dipundak, merayap ke leher jenjang nya. Dua tangan kokoh bertumpu pada pinggiran kolam, mengurung tubuh basah perempuan itu.


Hana memutar kepala, tampak pria tinggi tegap itu telah berada sangat dekat di belakang. Hampir menempelkan dada bidang nya dengan punggungnya. Hana terkesiap. Sedetik kemudian Adam telah merapatkan tubuh mereka berdua. Sebelah tangannya masuk kedalam air, merayap diperut rata Hana.


"Kamu bisa kedinginan berenang malam malam gini." Adam berbisik, hampir menggigit telinga perempuan itu.


"Hana kepanasan, makanya Hana mau berenang di tengah malam kayak gini."


Adam terkekeh. "Apa dengan berenang seperti ini bisa mendinginkan tubuh kamu? hmm ...." Adam kembali mengecup leher Hana, membuat perempuan itu menggigit bibir bawahnya, merasakan sesuatu yang yang mulai bangkit didalam dirinya.


"Iya, kecuali ada yang menggangguku seperti ini. Hana menjawab lagi. Napasnya kini mulai memburu. Dadanya naik turun.


Adam membalikkan tubuh Hana hingga kini mereka berhadapan. Tampak kedua pipi perempuan itu merah merona. Kedua mata bulatnya berkilauan diterpa lampu dari teras villa. Rambut dan wajah basahnya meninggalkan kesan seksi yang membuat pria itu menelan ludahnya kasar.


"Kenapa kamu sama pria lain, tadi? Adam berbisik lagi, Kedua tangannya telah mengunci rapat tubuh Hana hingga mereka berhimpitan.


"Hana udah jelasin tadi, dia hanya teman." Hana mencoba menjelaskan lagi.


"Daddy tahu segalanya, jadi jangan coba-coba bermain-main di belakang Daddy." katanya lagi.


"Tapi Hana, ss .. ah!!" Hana menggeram.


"Tapi tadi Hana tidak berbuat apa-apa sama dia." Hana membela diri.


"Daddy tahu. Tapi tetap saja Daddy tidak suka melihat kamu berdekatan dengan pria manapun selain Daddy." Adam menegaskan.


Hana terdiam.

__ADS_1


"Daddy cemburu?" senyuman terbit dari bibir merahnya. Adam tergelak


"Pria matang seperti Daddy tidak pantas cemburu dengan pria muda yang bahkan tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Daddy." Hana menatap manik hitam Adam yang mulai melembut.


"Pemuda mudah?"


"Dia bahkan tak sedikitpun memiliki apa yang Daddy miliki." jemari lentiknya merayap di dada bidang Adam. Rupanya Hana mencoba menggoda pria dewasa itu.


"Oh ya? dia masih muda." Adam mengeram.


"Itu tidak menjamin dia bisa melakukan apa yang bisa kamu lakukan." Hana mendekatkan wajahnya.


"Dia cukup tampan." pria itu balik menggoda.


"Hmmm ... Tapi tak setampan Daddy." mata sayu nya terus menatap Adam, hembusan napas mereka saling beradu.


Sedetik kemudian bibir mereka bertemu. Saling mengecup dan memangut. Berbagi napas dan perasaan yang membuncah dalam dada. Tangan Adam menekan punggung Hana hingga dada mereka benar-benar menempel. Kembali mengahdirkan gelenyar hebat pada tubuh keduanya.


Hana melingkarkan kedua tangannya pada leher Adam dan pada saat yang bersamaan pria itu mengangkat tubuh Hana sehingga kini perempuan itu ada dalam gendongannya.


Menempel seperti bayi koala pada induknya. Kaki jenjangnya melingkar di pinggang sang Daddy dengan erat. Ciuman tak berhenti selama beberapa menit, bahkan malah semakin dalam.


Semakin merapatkan tubuh keduanya, kulit mereka benar-benar bersentuhan dengan intens. Membuat air dingin disekitar tubuh mereka terasa menghangat.


Hana menggigit bibir bawahnya ketika merasakan sesuatu menyeruak memasuki dirinya. Membuatnya semakin mengeratkan kakinya dipinggang Adam.


Napas keduanya sama-sama memburu. Saling berkejaran dengan hentakan yang beraturan, menyebabkan air kolam beriak-riak. Suara ******* berlomba dengan bunyi kecipak air disekitar mereka. Lalu berubah menjadi erangan ketika tempo hentakan itu mulai meningkat. Semakin intens, dan semakin cepat.

__ADS_1


Setelah hampir lebih dari tiga puluh menit kemudian terdengar lenguhan tertahan dari bibir keduanya. Hana membenamkan wajahnya di ceruk leher Adam, meneriakkan nama pria itu dalam diam.


Bersamaan dengan hentakan terakhir yang begitu dalam. Menyatukan sesuatu yang keluar dari dalam diri mereka. Membiarkannya melebur menjadi satu.


__ADS_2