Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Adam meyakinkan Hana


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu.


Hubungan Adam dan Hana semakin baik, Adam tak segan memperlihatkan keromantisan mereka di depan para pekerja di rumah itu. Sementara Hana masih merasa malu karena para pembantu di rumah itu melihat mereka berdua.


Setelah hubungan mereka sudah diketahui oleh orang orang di rumah itu, Adam memutuskan untuk tidak lagi menyembunyikan hal itu dan lebih terang terangan memamerkan sikap romantisnya pada mereka.


Untuk apa di tutupi jika mereka sudah mendengar pembicaraan ia dan papinya, satu minggu yang lalu. Pikirnya.


Adam sudah siap dengan setelan kerjanya dan Hana juga sudah rapi untuk ke kampus nanti.


Kedua sejoli yang terpaut usia jauh itu, sedang berada di ruang makan. Mereka sedang menikmati sarapan pagi mereka dengan sepiring berdua, hal itu bukanlah keinginan Hana melainkan pria matang yang sudah begitu jatuh cinta dengan wanitanya itu.


Beberapa menit yang lalu mereka saling berdebat kecil karena Adam yang mau sepiring berdua dan Hana yang ingin makan dengan piring yang berbeda, dan pada akhirnya Adam lah yang jadi pemenangnya.


Perdebatan mereka disaksikan langsung oleh para pembantu di rumah Adam. BI Surti dan menahan senyumnya melihat kedua pasangan itu, sementara pembantu mudah lainnya menatap iri pada Hana. Mereka membayangkan jika mereka lah yang ada di posisi itu.


"Ah ..... buka mulutnya! kamu harus makan yang banyak, biar punya tenaga ke kampus nanti." ucap Adam setelah satu suapan itu masuk kedalam mulut Hana.


Hana mengunyah makanan itu dengan wajah ditekuk. Bagaimana tidak, pria matang itu menggempur nya pagi tadi, saat mereka mandi bersama. Yang katanya hanya sekedar mandi saja, pada akhirnya Adam malah menggempur nya di kamar mandi.


Dan Adam malah mengatakan makan yang banyak untuk menambah tenaganya, untuk ke kampus nanti? Hah pria itu memang semaunya saja. Tidak ada kata bosan dalam kamus Adam jika itu menyangkut Hana.


"Jangan digituin bibirnya, nanti Daddy malah ngga tahan dan mengulangi lagi, adegan romantis kita di kamar mandi. Pas juga di dapur Kayaknya bagus buat main kuda-kudaan." ucap Adam sambil menyeringai nakal.


"Jangan aneh aneh, Daddy! masa kita lakuin itu didepan pembantu, yang benar aja." Hana tidak bisa membayangkan hal itu akan terjadi.


Sontak Adam menahan tawanya. Niatnya ingin menjahili Hana, malah wanitanya dengan polos mengira Adam akan melakukan hal itu di depan pembantu.


"Daddy cuman bercanda, ayo makan lagi." ucap Adam tersenyum kecil, Adam lalu menyodorkan satu sendok ke-mulut Hana.


"Bercandaan Daddy menakutkan." ucap Hana lalu menerima suapan Adam.


Adam terkekeh menatap wajah kesal Hana dengan mulut yang masih terus mengunyah makanannya. "Makan dulu, baru setelah itu ngomong." Adam menggelengkan kepalanya.


Hana hanya me-nyengir kuda saat mendengar perkataan Adam. "Hari ini jam berapa pulangnya?" tanya Adam menatap Hana.


"Mungkin agak lebih awal sih Dad, jam sebelas gitu udah balik." sahut Hana.


"Hari ini Aryo yang akan jemput kamu." ucap Adam sambil satu tangannya membersihkan sisa makanan di suruh bibir Hana. Ia membersihkan menggunakan jari jempolnya.


Tapi sisa makanan itu bukan dibuang malah sebaliknya, ia memasukan sisa makanan itu kedalam mulutnya. "Dad jorok ih!" Hana kaget melihat Adam yang tidak jijik dengan hal itu.

__ADS_1


"Ini bukan jorok sayang, tapi ini romantis." ucap Adam santai.


"Tapi kan, itu bekas dari mulut Hana."


"Tidak masalah, mulut kita juga sama sama menyatu kan setiap hari? Jadi untuk apa Daddy harus jijik." ucap Adam dengan frontal.


Blush .....


Seketika semburat merah menghiasi pipi Hana, karena tersipu malu. Rasanya ia begitu malu mendengar penuturan Adam, padahal mereka sudah berulang ulang melakukan itu tapi tetap saja wanita itu akan malu jika digoda seperti itu oleh Adam.


Hana mengulum senyum tipis melihat pipi Hana yang sudah memerah. "Pipi kamu kenapa, hmm?" Adam berpura-pura tidak tahu.


"Apa sih Dad, udah ah jangan godain Hana lagi. Nanti kita bisa terlambat kalau Daddy terus terusan menjahili Hana." ucap Hana mencoba menutupi rasa malunya.


"Kamu tambah seksi kalau lagi malu gitu, Daddy jadi pengen lagi." ucap Adam tersenyum smirk.


"Daddy!" Hana tidak bisa lagi menutupi pipinya yang memerah dan yang ia lakukan hanya tersenyum mengigit bibirnya.


"Hahaha, ayo minum! tadi kamu belum minum kan." Adam memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi kejahilannya. Ia menyodorkan satu gelas air untuk Hana.


Hana tersenyum lebar lalu menerima gelas itu, meneguknya hingga tandas. "Oh iyah Dad, kenapa Aryo yang jemput Hana dan bukan Daddy?"


Hana tersenyum. Wanita 19 tahun itu mengalihkan tangannya kearah sendok makan, lalu menyuapkan sesendok makanan kearah Adam.


Adam menerima suapan itu dengan wajah senang. "Daddy belum jawab pertanyaan Hana, tadi." ucap Hana sambil menatap lekat wajah Adam.


"Daddy hari akan ke rumah kakek dan Oma, Daddy ingin menyelesaikan masalah ini sama mereka. Daddy ngga mau lagi menunda-nunda." jawab Adam menatap serius manik itu.


Hana yang tadinya tersenyum, kembali menarik senyum itu dengan wajah yang sudah terlihat khawatir. Ia takut saat Daddy ke rumah kakek Barack, pria itu akan berubah pikiran lagi dan malah mengiyakan permintaan kakek Barack.


Adam dengan cepat menangkup kedua pipi Hana dan mengarahkan wajah Hana tepat didepan wajahnya.


"Hei, jangan khawatir! Daddy tau apa yang kamu takutkan. Daddy akan tetap dengan keputusan Daddy untuk mempertahankan hubungan kita, Daddy juga akan berbicara baik baik dengan Oma buat terima kamu sebagai pasangan Daddy."


Adam berusaha meyakinkan Hana dari ucapan dan sorot matanya itu. Dan memang benar Hana melihat pria matang itu begitu bersungguh sungguh mengatakannya.


Hana pun menganggukkan kepalanya. "Tapi kalau Daddy sama Oma tetap nggak ma–"


Cup ....


Adam menghentikan ucapan Hana dengan kecupan dibibir wanita itu. Hana bergeming menerima kecupan tiba tiba dari Adam.

__ADS_1


"Jangan katakan itu, Daddy pasti bisa meyakinkan Oma. Daddy butuh restu dari Oma jika kakek kamu tidak mau merestui hubungan kita, maka Daddy hanya butuh itu dari Oma kamu." ucap Adam setelah melepaskan kecupannya dari bibir Hana. Ia menatap serius manik wajah Hana.


"Tapi kalau Oma juga ngga terima, gimana?" Hana masih merasa khawatir dengan hal itu. Ia takut wanita tua itu akan membencinya, saat mengetahui hubungannya dengan Adam.


Karena bagaimanapun, wanita itu juga orang kedua yang menerima dirinya di-keluarga Matteo setelah Adam.


"Shut .... jangan pesimis kayak gitu, Daddy akan membawa restu itu dari oma untuk kita. Okay?" Adam meyakinkan sambil tersenyum menatap Hana.


Hana menganggukkan kepalanya, walaupun ia masih ragu tetapi tidak salahnya untuk optimis akan hal itu. "Pintar." Adam tersenyum senang mengusap kepala Hana.


"Ayo suap-in Daddy!." sambil membuka mulutnya.


Hana tersenyum lalu menyuapkan makanan untuk Adam.


Keduanya pun menikmati sarapan itu dengan perasaan yang bahagia, sesekali Adam kembali menggoda Hana hingga membuat wanita itu tersipu malu.


Mereka ingin menikmati rasa bahagia itu sebelum nantinya ada masalah lagi yang akan datang kedepannya.


Berbeda dengan kedua pasangan itu. Di kediaman kakek Barack tepatnya di kamar pasangan paru baya itu, mami Ani terus menanyakan anaknya pada suaminya.


Oma Ani sedang memakaikan jas kerja untuk suaminya. "Pi .... kok Adam ngga ada kabar ya? Papi ngomongin apa sih? sampai Adam ngga ke rumah kita, satu minggu yang lalu papi ke rumah Adam kan? Nanda terus-terusan nanyain Adam loh, Pi." keluh mami Ani.


"Kenapa harus Adam terus yang mami tanya, sih. Papi lagi ngga mau bahas soal anak sialan itu, ha." bentak papi Barack menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Lantas mami Ani terkejut dengan bentakan suaminya, tangannya dengan spontan terlepas dari bahu pria itu, saat tadi sedang merapikan jas kerja suaminya.


"Kok papi jadi bentak mami sih, mami kan cuman bertanya. Apa salah? Seorang ibu menanyakan anaknya sendiri" kata mami Ani dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Kakek Barack menatap istrinya dengan helaan nafasnya. "Papi tidak ingin membahas itu untuk sekarang, jangan buat Papi tambah pusing!" kata Papi Barack dengan nada tidak suka.


"Lalu sampai kapan papi mau jelasin sama mami? Sampai kapan Pi!" teriak mami Ani didepan suaminya.


Mami Ani sudah begitu kesal pada suaminya karena terkesan menghindar dari pertanyaan itu. Sejak kepulangan suaminya dari rumah Adam satu minggu yang lalu, pria itu terkesan diam dan tidak banyak bicara soal anaknya. Ia seakan akan menutupi sesuatu darinya.


Papi Barack memang tidak ingin memberitahukan hal itu pada istrinya, ia takut istrinya tidak siap dengan apa yang ia ucapkan.


"Mami tanya sampai kapan? ....." Papi Barack menatap istrinya cukup lama, lalu kemudian. "Sampai anak sialan itu datang ke rumah ini, biar dia yang jelaskan apa yang sudah terjadi." ucap papi Barack dengan wajah marah.


Pria tua itu lalu melangkah keluar meninggalkan istrinya di dalam kamar. "Pi .... papi!" teriak mami Ani dengan air matanya menetes membasahi pipinya. Papi Barack tak menggubris panggilan istrinya dan terus melangkah pergi.


Ia hanya bisa berdiri menatap kepergian suaminya dari kamar itu. Wanita tua itu merasa pusing dan mendudukkan tubuhnya di-atas ranjang. "Apa yang kalian sembunyikan dari mami, Pi." gumam mami Ani sambil memegangi pelipisnya.

__ADS_1


__ADS_2