
Hana terlihat mempersiapkan pakaian ganti untuk suaminya di-atas ranjang. Ia memutuskan membiarkan Adam bersama anak-anak karena Zoe dan Kendrick masih betah di gendongan Daddy nya.
Dan hal itu ia manfaatkan untuk mempersiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
Saat ia sedang serius mengambil salah satu kaos santai untuk suaminya di lemari pakaian, tiba tiba lengan kekar itu memeluk nya dari belakang.
Hana sudah bisa tebak siapa pemiliknya, ia tersenyum kecil. Adam menyibakkan rambut Hana ke sisi kiri lalu mengecup leher Hana. "Apa kamu tidak merindukan suami mu?" sambil menghirup dalam aroma tubuh Hana yang selalu membuatnya candu.
Hana mengigit bibirnya seiring bibir Adam menjelajahi leher belakangnya.
"Apa aku harus menjawabnya?"
"Harus,"
"Tentu saja papi sudah mengetahui jawabannya, aku sangat merindukan papi." setelah mengatakan itu Hana dengan cepat berbalik kebelakang dan memeluk tubuh pria itu.
Bahkan pelukan wanita tersebut begitu erat. "Mommy merindukan papi, sangat." sambil membenamkan wajahnya di leher suaminya.
Adam tersenyum mengecup puncak kepala Hana beberapa kali. "Papi juga merindukan mommy, maaf."
Hana menggeleng dalam pelukan pria itu. "Tidak, jangan minta maaf. Bukannya ini juga sebuah keharusan. Papi bekerja untuk mommy dan juga anak anak." ucapnya.
Adam melepaskan pelukan itu lalu meraih wajah istrinya, menatap sebentar manik itu dengan lekat. Keduanya saling bersitatap. Wanita yang begitu sempurna ia dapatkan. Tanpa membuang waktu lagi, Adam dengan cepat menempelkan bibir mereka.
******* lembut benda kenyal itu, Hana memejamkan matanya menerima ciuman Adam. Bibirnya pun bergerak membalas ciuman suaminya. Saling menyesap, ******* dengan penuh kelembutan.
Bahkan Adam menahan tengkuk istrinya agar ciuman mereka semakin dalam. Hana seketika mengalungkan lengannya di leher Adam.
"Hmmpt," suara decapan keduanya terdengar.
Cukup lama mereka melakukan itu, hingga kini Adam berdiri sambil menggendong tubuh Hana bak koala. Hana dengan refleks menguatkan pegangannya di leher Adam sambil kedua kakinya melingkar di pinggang suaminya.
Sembari melangkah kedua bibir itu masih terus bertautan merasakan manisnya bibir satu sama lain.
"Hmppt, Pi. Papi mau ngapain?" ucap Hana sambil melepaskan ciumannya.
Ia tersadar saat menyadari Adam sudah membaringkan tubuhnya di-atas ranjang.
"Kita akan melakukan penyatuan, aku sudah merindukan momen ini." ucapnya sambil mengecup Hana.
"Tapi bagaimana anak-anak? Mereka akan nyusul ke sini Pi." Hana sedikit khawatir sambil sesekali menoleh kearah pintu.
"Tidak akan, mommy tidak perlu khawatir karena mereka papi titipkan pada Dimas dan Siti. Mereka akan menjaga Kendrick dan Zoe."
"Apa!"
"Ayo jangan membuang waktu lagi, papi sudah begitu merindukan mommy." ucapnya dengan suara terdengar memelas.
Hana pun mengangguk dan membiarkan Adam melakukan keinginan nya. Adam kembali ******* bibir Hana.
Beberapa menit kemudian ...
"Hmmpt, pelan pelan Pi." lenguh Hana saat benda tumpul itu memasuki dirinya.
Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Melepaskan rindu selama dua minggu ini tidak mereka lakukan.
__ADS_1
"Aaa hmmpt! Eungh!" erangan nikmat terus bersahut sahutan di kamar besar itu.
Beruntungnya kamar mereka kedap suara dan tidak bisa di dengar oleh orang lain di luar sana.
****
"Zoe jangan lari lari nanti jatuh sayang!" teriak Dimas saat melihat gadis kecil itu begitu semangat lari larian di taman belakang.
Ia begitu frustasi selama tiga jam menjaga kedua anak majikannya. "Kenapa mereka lama sekali? Apa? Astaga aku lupa kalau mereka sudah pasti melakukan ritual pertempuran setelah Tuan Adam kembali." Adam seketika lemas karena akan menjaga Zoe dan juga Kendrick lebih lama lagi. Mengingat bagaimana kedua insan itu jika sudah bertemu pasti akan melakukan kuda kudaan dengan durasi Berjam jam.
"Om ayo ke sini, kita harus menembak Zoe." teriak Kendrick sambil memegang pistol mainan, sembari berlari kejar kejaran dengan Zoe.
"Tidak jangan lakukan itu, Zoe bisa mati. Zoe tidak mau berdarah." Zoe bahkan terdengar akan menangis sambil berlari menghindari pistol Kakanya.
"Ini tidak akan berdarah Zoe, ini hanya mainan biasa. Ayo biarkan kakak menembak mu." ucap Kendrick terus mengejar adiknya.
"Jangan, om tolong Zoe! Zoe tidak mau ditembak." rengekan Zoe.
"Ya ampun lama lama aku bisa pingsan, kenapa aku harus mendadak jadi babysitter seperti ini? Hah dan dimana Siti? Dia bahkan sudah kabur dan membiarkan aku melakukan ini semuanya."
"Om tolong Zoe."
Seketika Dimas menepuk jidatnya melihat tingkah kedua anak kecil itu. "Astaga."
Dimas pun berdiri dan menghentikan keduanya. Ia berlari kearah Zoe dan meraih tubuh mungil itu lalu mengendongnya. "Ayo hentikan, kalian sudah cukup lama bermain main, ayo sekarang kalian harus istirahat dulu." ucap Dimas.
"Yah ... nggak seru lagi, padahal Zoe belum tertembak om."
"Tidak, Zoe tidak mau bermain tembak tembak, kita main boneka saja."
"Sudah sudah jangan berdebat lagi, bagaimana kalau kita beli ice cream?" usul Dimas mengalihkan perhatian kedua bocah kecil itu.
"Kita sudah membelinya tadi." ucap Kendrick dan Zoe secara bersamaan. Keduanya pun dengan sinkron menatap wajah Dimas.
Dimas yang ditatap itupun seketika menggaruk kepalanya dengan kikuk. "Udah beli ya? Hmm terus om harus beliin apa dong buat kalian?" sambil berpikir pikir.
"Bagaimana kalau kita main kuda-kudaan saja Om, Om yang jadi kudanya terus Kendrick dan Zoe yang naik."
"Ap apa! tidak tidak, bisa bisa punggung Om patah karena ulah kalian." Dimas terkejut mendengar usulan konyol Kendrick.
"Iya Om, kita main kuda-kudaan ya om." sela Zoe dengan suara imutnya.
"Hah ya tuhan cobaan apa lagi ini." batinnya begitu tersiksa.
"Ayo Om kita main." Kendrick menarik pergelangan tangannya.
"Om tidak bisa sayang. Kalian main mobil mobil saja."
"Tidak mau, Zoe pengen main kuda. Kalau Om tidak mau Zoe akan adukan papi kalau Om tidak mau bermain dengan kita." bahkan gadis kecil itu pintar sekali mengancamnya.
"Tidak jangan lakukan itu nanti om bisa diamuk sama papi kamu, oke oke ayo kita main." Dengan pasrah Dimas pun mengiyakan permintaan kedua anak itu.
"Hore ..." girang Zoe dalam gendongan Dimas.
"Yeah asik kita main kuda kuda." teriak Kendrick dengan wajah senang.
__ADS_1
Melihat wajah senang kedua anak lucu itu seketika membuat Dimas tersenyum.
"Tidak apa demi anak Tuan Adam, aku rela melakukan ini." batinnya menyemangati diri sendiri.
***
Berbeda dengan Dimas yang dibuat pusing dengan tingkah Zoe dan juga Kendrick.
Adam malah sebaliknya, bermanja-manja di atas ranjang bersama istrinya. Setelah bergulatan panas mereka, keduanya memutuskan berbaring kembali dengan saling memeluk dibalik selimut tebal.
Keduanya masih dengan tubuh yang sama sama polos. Adam membenamkan wajahnya di satu benda kembar milik istrinya, sesekali meremas benda itu.
"Apa anak anak tidak merepotkan Dimas?" tanya Hana sedikit merasa cemas dengan tangan yang terus mengusap rambut suaminya.
"Tidak, mereka hanya akan membuatnya mendapatkan pengalaman." ucap Adam sambil terkekeh.
"Pengalaman? Pengalaman apa?" tanya Hana dengan bingung. Bahkan tangannya terhenti mengelus rambut Adam.
"Lanjutkan lagi, papi suka jika mommy mengelus seperti itu." ucap Adam saat merasakan usapan istrinya terhenti.
Hana mendongakkan kepalanya kebawah menatap Adam, lalu kemudian mengusap kembali rambut Adam sambil bertanya. "Memangnya pengalaman apa yang papi maksud?"
Adam terkekeh. "Pengalaman menjaga anak, biar kelak dia menikah dia tidak akan kaku lagi mengurus anak anaknya karena sudah punya pengalaman mengurus Zoe dan Kendrick." sambil tertawa kecil.
"Astaga, papi sengaja mengerjai Dimas?" tanya Hana.
"Tidak, papi hanya ingin memanfaatkan kesempatan bukan?"
"Ck ..."
"Aow kenapa di gigit." sentak Hana tiba tiba karena gigitan Adam pada Coco chip nya.
"Ukuran nya begitu besar apa mommy hamil lagi?" Adam mendongak keatas menatap wajah Hana.
"Ck mommy belum siap untuk hamil lagi. Papi lihat bukan? Bagaimana sikap manja Zoe? Dia tidak ingin dibagi kasih sayangnya. Bahkan dia tidak ingin mempunyai adik perempuan."
"Benarkah? Kenapa Zoe tidak mau?"
"Dia mengatakan kalau ada adik perempuan, nanti dia tidak menjadi tuan putri satu satunya lagi di rumah ini." Hana yang mengingat itu tersenyum merasa lucu dengan pemikiran anak gadisnya.
"Astaga, kenapa dia begitu lucu. Huh, mommy benar Zoe memang tidak ingin perhatian kita padanya berkurang itu sebabnya ia tidak ingin mempunyai adik." Lalu kembali membenamkan wajahnya di dada Hana.
"Hmm manjanya seperti papi." ucap Hana.
"Hahah, tidak masalah mereka adalah anak anak papi." sambil tersenyum mengingat wajah lucu kedua anaknya.
"Lalu Kendrick mirip dengan sifat kamu yang penyabar, dia akan selalu mengalah untuk adiknya." ucap Adam.
"Iya."
Kedua pasangan itu pun asik membicarakan tentang anak anak mereka dengan saling memeluk.
***
Like, vote, favoritkan, Hadiah nya jangan lupa!😍
__ADS_1