
Keesokan harinya. Adam benar-benar berangkat ke luar negeri, tepat di kota new York dengan pesawat pribadinya.
Dia hanya berangkat sendiri, pekerjaannya ia alihkan sementara kepada Aldi sekertaris nya. Hanya pria itu yang dapat di andalkan untuk pekerjaan kantor, sekarang.
Sementara Aryo, Adam tugaskan untuk mengawasi dan menjaga Hana di villa, Ia juga membayar dua bodyguard untuk memantau aktivitas Hana diluar sana. Dia tidak mau kalau sampai sesuatu terjadi pada gadis itu selama dia pergi.
Masalah operasi itu hanya Aryo yang tahu, selain itu tidak ada lagi. Kini, Adam sudah berada di hotel Four Seasons, New York. Hotel termahal di kota itu.
Adam Membaringkan tubuh lelah nya setelah perjalanan yang memakan waktu cukup lama. Adam meraih benda pipi yang dia simpan di dalam saku jas. Seperti biasa, orang yang pertama dia hubungi adalah kekasihnya, Hana.
Adam langsung menggeser tanda panggilan video, dan tak berapa lama kemudian dari balik layar itu muncul wajah pujaan hatinya. Adam tersenyum sumringah, berbeda dengan Hana yang terlihat murung. Gadis itu naik ke atas ranjang dan memiringkan tubuhnya ke arah kiri.
Awalnya dia ingin membantu Bi Surti menyiapkan makan malam, tetapi melihat Adam menelpon dia membuat ia mengurungkan niatnya.
"Halo, Daddy. Daddy sudah sampai? tanya Hana lebih dulu, wajah gadis itu terlihat sudah begitu rindu dengan Adam. Saat melihat wajah Adam, dia merasa semakin rindu dengan pria matang itu.
Sebuah rasa rindu yang tidak pernah dia berikan pada pria manapun. Adam adalah pria pertama yang membuatnya begitu rindu.
"Iya, sayang. Daddy baru aja sampai, kamu sedang apa? Biasanya hanya memakai tank top kalau di kamar," ujar Adam, melihat Hana memakai dress rumahan, seperti ingin keluar dari kamar.
"Tadi Hana mau kebawah bantuin bibi buat nyiapin makan malam, tapi Daddy malah menelpon, jadi ya sudah," jelas gadis itu apa adanya.
Membuat Adam tiba-tiba cemberut. "Jadi kamu tidak senang mendapat telepon dari Daddy?" Hana menautkan kedua alisnya mendengar rengekan Adam.
"Mana mungkin, Hana bahkan tidak ingin Daddy pergi. Tapi Daddy tetap dengan keputusan Daddy, Hana di sini udah rindu sama Daddy." ucapnya sendu.
Mendengar itu, bukan lagi senyum lebar yang tersemat di bibir pria matang itu, Adam merasa bersalah tapi ia tetap harus secepatnya melakukan operasi ini. Dia pun sangat merindukan Hana, dia ingin selalu didekat Hana, tetapi semua ini juga demi kebaikan mereka berdua.
"Sabar, sayang. Daddy akan secepatnya pulang jika pekerjaan di sini sudah selesai. Kamu mau dibelikan apa untuk ole ole?" mencoba menghilangkan rasa rindu Hana dengan menanyakan hal itu.
"Hah, Hana bahkan tidak menginginkan apa pun selain kedatangan Daddy. Hana cuman pengen Daddy." Hana sudah terdengar merengek seperti anak kecil.
"Dua bulan itu terlalu lama," keluh Hana. Matanya terlihat sendu.
"Ternyata kamu menjadi tidak sabaran, apa karena Jerry? sampai kamu begitu tidak semangat seperti itu." Adam mencoba bercanda untuk mengalihkan kesedihan Hana.
"Dad! aku serius. Kenapa malah membahas hal itu, cih." kesal Hana. wajah sendunya malah berganti kesal karena ulah Adam.
"Daddy tahu kamu tidak sabaran. Awas kamu nanti! setelah pulang nanti, Daddy buat kamu tidak bisa bangun lagi." Sebuah ancaman yang justru membuat Hana merotasikan matanya. Gadis itu sama sekali tidak takut, dan membalas ancaman Adam.
"Lakukan saja, Hana tidak takut! Ayo buat Hana tidak bisa berdiri. Tapi sayangnya Daddy tidak di sini." sahut Hana sambil menjulurkan lidahnya, mengejek Adam yang sedang berada di sebrang sana.
Jawaban Hana benar-benar membuat Adam kehabisan kata-kata. Detik kemudian Adam terkekeh.
"Untuk sekarang Daddy memang tidak bisa. Tapi nanti setelah Daddy sampai di situ. Kamu tidak akan bebas, sayang."
"Coba aja, Hana akan kabur lebih dulu sebelum Daddy sampai di sini." ucapnya berbohong.
"Dan Daddy tidak akan membiarkan itu terjadi, sebelum kamu kabur kamu sudah ditangkap lebih dulu, hahahah." Adam menertawakan Hana.
__ADS_1
"Ish Daddy! ah nggak seru." kesalnya dengan wajah ditekuk. Niatnya ingin mengerjai Adam, malah sebaliknya Adam yang mengerjai dirinya.
Adam mengulum senyumnya melihat wajah Hana. Ia merasa lega setidaknya ia bisa membuat Hana melupakan sejenak rasa rindu itu.
Ia mengingat saat Hana mengantar kepergian ia di depan villa, wanita itu menangis dengan memeluk tubuhnya erat, tidak mau jika Adam pergi meninggalkan dirinya sendiri, apalagi Keluar negeri.
Tapi beruntung Adam bisa membujuk Hana pelan pelan hingga gadis itu akhirnya mengiyakan, ia jadi merasa bersalah mengingat hal itu.
Mereka terus bercengkrama, sampai melupakan malam. Hana masih begitu rindu dengan kebersamaan mereka, hingga terus menolak saat Adam ingin menutup panggilan.
"Sayang, kamu belum makan malam. Kita makan malam dulu, habis itu Daddy akan meneleponmu lagi. Okey?"
"Hah, tapi Hana masih peng–" Hana menghentikan ucapannya, menengok kearah pintu.
Tok Tok Tok..
Pintu kamar Hana diketuk, sepertinya makan malam sudah siap. Dengan terpaksa Hana harus memutus panggilannya bersama Adam. Bibir gadis itu mencebik, tetapi langsung tertarik kembali saat Adam memberikan kecupan dari balik layar itu.
"Nona Hana, makan malam sudah siap, turun yuk!" teriak bi Surti dari luar sana. Mendengar suara Bi Surti, Hana segera mematikan panggilannya bersama Adam dan buru-buru turun dari ranjangnya.
"Iya, Bi ." Balasnya tak kalah berteriak. Dia berjalan tergesa, hingga tangan langsingnya berhasil meraih gagang pintu.
Sementara di negara lain, Adam langsung menghubungi seseorang. Tak butuh waktu lama, panggilan pria itu sudah diterima.
"Besok aku akan langsung ke rumah sakit, lakukan sesuai jadwal. Aku tidak bisa menunggunya lebih lama lagi." ucapnya tegas.
...****************...
Adam akan membuka kembali jalur itu, dia sudah memikirkan ini semua sebelum menikahi Hana. Adam mengulum senyum, mengingat wajah Hana di setiap langkahnya menyusuri lorong rumah sakit. Ia sengaja memilih lebih banyak waktu di sini, karena berada didekat Hana ia tidak bisa melakukan penyatuan. Adam tahu jelas bahwa berada didekat Hana, Adam tidak bisa menahan gairahnya.
Hingga akhirnya Adam mengambil ancang-ancang, mengambil waktu sebegitu banyaknya untuk masa pemulihan. Setelah itu, dia akan pulang dan mengurus pernikahannya bersama Hana.
"Hana, Daddy sudah tidak sabar ingin pulang," gumam Adam sambil menggigit bibirnya, gemas dengan bayangan wajah Hana yang selalu terbayang dalam otaknya.
Sementara di belahan bumi yang lain, Hana tengah meringkuk di bawah selimut. Hari ini dia berniat untuk tidak masuk kuliah, karena kepalanya yang terasa berat sebelah. Bahkan dia melewatkan sarapan pagi, karena tak sanggup untuk turun ke bawah.
Bi Surti yang sudah menganggap Hana sebagai anaknya pun akhirnya merasa sedikit khawatir. Wanita itu memutuskan naik ke atas, dan melenggang ke arah kamar Hana.
"Non," panggilnya sambil terus memberi ketukan pada benda persegi panjang itu.
Mendengar itu, Hana menyembulkan kepalanya. Keningnya senantiasa mengernyit dengan nafas yang terasa panas. Ah, kenapa dia malah seperti ini saat Adam tidak ada.
Apa karena terlalu rindu pada pria bertato itu? Hana tidak bisa bayangkan jika ia sedang sakit seperti ini dan tidak ada Bi Surti, entah mungkin ia sudah tidak mampu lagi. Baru ditinggal satu hari, fisiknya malah drop.
"Hana, kamu ada di dalem kan?" bi Surti masih berteriak di luar sana, berusaha memastikan kalau Hana memang baik-baik saja. Rasa khawatir mulai menjalar saat Hana tak kunjung membuka benda itu.
Sementara di dalam sana, Hana sedikit tertatih untuk sampai di depan pintu, tubuhnya begitu lemas. Sekuat tenaga dia menggerakkan kakinya untuk melangkah, disaat denyutan di kepalanya semakin melanda.
Hingga akhirnya pintu kamar itu berhasil terbuka dan menampilkan wajah pucat Hana. Binar mata gadis itu hampir redup, sementara nafasnya terdengar memburu.
__ADS_1
"Astaga, Non! Nona kenapa? Nona sakit?" tanya bi Surti sambil memeriksa suhu tubuh Hana. Dia sedikit tersentak, saat merasakan panas menjalar ke telapak tangannya.
"Ya ampun ... Non, badan Nona panas banget." Surti segera memapah tubuh Hana ke ranjang untuk kembali berbaring, dan gadis itu sama sekali tidak menjawab. Kepalanya benar-benar terasa berat, dan tidak bisa melakukan apapun selain menurut pada bi Surti.
"Nona tunggu di sini, bibi buatkan bubur hangat untuk nona Hana." ucapnya dengan wajah sudah panik.
Wanita itu kembali turun untuk membuat bubur, dan tak lupa dia juga menelpon dokter keluarga Matteo untuk memeriksa keadaan Hana.
Bodyguard yang ditugaskan adma untuk mengawasi Hana di vila itu, juga menghubungi Aryo saat mendengar Hana yang sedang sakit. Mendengar itu, Aryo membelalakkan matanya, bagaimana bisa baru ditinggal sehari saja sudah seperti ini, kalau kabar ini sampai ke telinga Adam bahwa Hana sedang sakit, tuannya itu pasti akan seperti orang gila.
"Bagaimana keadaan Nona Hana?" tanya aryo ikut merasa cemas.
"Dokter sedang memeriksanya. Pembantu di vila ini yang memanggil dokter untuk datang." balas bodyguard tersebut.
"Baiklah, terus awasi Nona Hana. Kalau ada kabar yang lain, segera hubungi aku."
Setelah mengatakan itu panggilan terputus. Aryo melihat jam di pergelangan tangannya, saat ini tuannya pasti tengah berada di rumah sakit untuk menyiapkan jadwal operasinya.
Dia tidak mungkin mengganggu waktu Adam, apalagi sampai membuat pria itu kepikiran tentang kondisi Hana yang sedang sakit.
Aryo memutuskan mengurungkan niatnya untuk menghubungi pria itu. Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas, dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
Waktu bergulir, siang mulai menjelang. Keadaan
Hana kini sudah mulai membaik karena dia sudah makan dan meminum obat yang diresepkan oleh dokter yang memeriksanya.
Dia mengerjapkan kelopak matanya, lalu tangannya terulur untuk meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Dia menyalakan benda pipih itu, ada beberapa pesan dari Adam yang belum sempat dia baca.
Saat dia ingin membukanya, terdengar suara ketukan dari arah pintu kamarnya. Hana meletakkan kembali ponsel itu di-atas nakas.
"Nona, ini saya," ucap Bi Surti sopan. Mendengar itu, Hana langsung menyahut. "Masuk aja, Bi. Hana nggak kunci pintunya."
Gagang pintu itu mulai berputar, dan langsung terbuka, Hana melihat Bi Surti berdiri di depan sana sambil tersenyum kecil.
Wanita paru baya tersebut berjalan mendekati Hana, dengan membawa beberapa buah untuk Hana makan.
"Bibi bawain ini buat Nona," meletakkan itu di atas nakas.
"Makasih ya bi." jawab Hana tersenyum kearah Surti.
"Bibi mau kemana?" tanya Hana menghentikan langkah kaki BI Surti yang ingin beranjak dari kamar Hana.
"Mau ke bawah buat beres beres." sahut bi Surti tersenyum kecil.
"Bibi di sini dulu, temani Hana, ya!" pinta Hana memelas.
"Tapi Nona ..."
"Udah nggak apa apa, aku pengen ngemil buah ditemani bibi." ucapnya tersenyum sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Dan bi Surti mengiyakan permintaan Hana, mana bisa ia menolak saat melihat Hana yang begitu memelas. Ia kemudian duduk di sisi ranjang dan
Hana tersenyum senang melihat Bi Surti yang menurut. "Ayo bi kita makan, buahnya." Hana memakan buah itu, disusul bi Surti yang juga mengambil sepotong buah apel untuk dimakan, setelah Hana menyuruhnya.