
Hana dan Tika baru saja keluar dari Mall. Setelah dari cafe tadi, keduanya memutuskan untuk shopping ke salah satu Mall terbesar di kota z. Membeli beberapa pakaian, parfum dan juga makeup.
Hana juga membelikan beberapa makanan ringan untuk para pembantu yang bekerja di rumah daddy-nya.
"Bagus nggak bajunya?" Tika mencoba satu kaos t-shirt berwarna merah, memperlihatkan kepada Hana untuk menilai apakah cocok atau tidak padanya.
"Bagus, cocok di badan kamu." Hana mengacungkan dua jempolnya kearah Tika dengan senyum.
"Benar ya, bagus? Berarti gue ambil yang ini aja." ujar Tika lalu mengambil baju itu.
"Iyah, pokoknya kalau gue bilang bagus, berarti loh harus percaya." sahut Hana.
"Cih ... hahaha kamu bisa aja." Tika tertawa mendengar ucapan Hana.
"Hehehe." Hana tertawa kikuk menatap sahabatnya itu.
"Oh iyh, kamu beli kukis sebanyak ini buat apa? Nggak mungkin kan kalau kamu mau makan ini semua," ucap Tika melihat sudah banyak sekali belanjaan yang Hana bawah.
"Bukan gue, tapi ini buat para pekerja di rumah Daddy." ucap Hana sambil tersenyum.
"Kamu masih aja kayak dulu ya, rendah hatinya nggak pernah berubah." ujar Tika memuji Hana.
"Ya loh tahu kan, gue berasal dari mana? Jadi sudah sepantasnya gue nggak boleh sombong." ucap Hana dengan senyum.
Bukan senyum bahagia melainkan senyuman yang terlihat sendu. Ia sadar jika ia hanya seorang anak adopsi saja. Kekayaan yang sekarang ia nikmati bukanlah milik orang tuanya, tetapi milik Adam orang asing yang tidak ada ikatan persaudaraan dengan almarhum kedua orangtuanya.
Pria baik yang membawa Hana kedalam hidup pria itu. hingga ia bisa menikmati hidup enak seperti sekarang ini.
Tika yang melihat tatapan itu, langsung memeluk Hana, mencoba memberikan kekuatan untuk wanita itu.
"Gue tahu kok, apa yang kamu pikirkan. Jangan sedih masih ada aku sahabat sekaligus saudara untuk kamu, apa pun masalah kamu, masih ada aku tempat kamu untuk bersandar." ucap Tika dengan tulus.
Hana langsung berkaca kaca mendengar penuturan Tika. Sebegitu baiknya ia mendapatkan sahabat seperti Tika di dunia ini.
"Makasih, makasih karena kamu udah setia ada di-samping aku selama beberapa tahun ini sebagai sahabat untuk aku." ucap Hana terharu.
Satu Cristal itu jatuh membasahi pipinya.
"Jangan nangis ah, nanti gue bakalan ikutan nhi." ucap Tika melepaskan pelukan itu, lalu tangannya beralih menyeka air mata Hana.
Hana mengangguk sambil terkekeh pelan melihat tingkah Tika sambil menghapus air matanya.
Para pengunjung yang berada di mall itu melihat mereka dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Udah yuk, kita langsung ke-bagian kasir. Mereka udah lihatin kita tuh." ucap Tika saat menyadari jika mereka menjadi pusat perhatian saat ini. Tika lalu mengandeng tangan Hana berjalan pergi dari situ.
Beberapa menit kemudian Hana dan Tika telah keluar meninggalkan Mall itu.
Mereka tampak saling berpamitan untuk pulang. Hana memeluk sebentar tubuh Tika.
"Sampai ketemu lagi di kampus." ucap Tika.
"Iyah sampai ketemu lagi." jawab Hana tersenyum mengusap lengan Tika.
"Ya uda, kita pulang yuk!." Tika dan Hana lalu beranjak berjalan ke mobil mereka yang diparkir.
Hana memasuki mobil berwarna hitam yang dibukakan oleh Aryo. Sementara Tika juga sudah masuk ke-mobilnya.
Mobil Tika terlihat duluan meninggalkan Mall. Sedangkan mobil yang dinaiki Hana, baru saja keluar dari parkiran mobil.
Aryo kemudian mengemudikan mobil itu meninggal tempat keramaian tersebut.
"Om Aryo, Daddy belum tiba di rumah kan?" tanya Hana menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil.
"Belum mungkin sekitar jam tujuh." sahut Aryo melirik sebentar kearah Hana dibalik kaca mobil.
"Oh." Hana kemudian memainkan hpnya.
Sementara di kantor. Adam baru saja selesai meeting dengan beberapa kliennya, membahas kerjasama antara perusahaan mereka. Mereka sudah berdiri dari duduknya masing-masing.
"Semoga kerja sama kami dengan perusahaan anda bisa berjalan lancar." sahut pria tersebut menjabat tangan Adam.
"Hmm, saya harap juga begitu." sahut Adam membalas jabatannya. Terlihat jelas jiwa pemimpinnya.
"Baiklah kalau begitu, kami permisi." pamit mereka dengan senyum, lalu melangkah meninggalkan ruangan rapat.
"Apa masih ada jadwal lagi, setelah ini?" tanya Adam kepada Aldi yang berjalan disampingnya, saat mereka melangkah keluar dari ruangan rapat.
Adam melirik sebentar jam dipergelangan tangannya. waktu menunjukkan pukul enam sore.
"Setelah ini, sudah tidak ada lagi pertemuan. Hanya beberapa berkas yang harus Tuan tanda tangani." sahut Aldi.
"Baiklah, bawah berkas itu ke ruangan saya." sahut Adam berjalan masuk keruangan nya.
"Baik Tuan." Aldi menghentikan langkah sambil membukukan kepalanya, lalu berbalik lagi untuk mengambil berkas yang diminta tuanya.
Adam meraih hp dibalik saku jasnya. Menelepon nomor seseorang di layar hp itu, tertera nama kontak my baby dilayar persegi tersebut.
__ADS_1
Beberapa kali bunyi sambungan, tapi tak kunjung dijawab oleh pemiliknya.
Adam mencoba lagi menelepon sambil mendudukkan bokongnya di-sofa. Tak kunjung lagi panggilan itu diangkat.
"Cih ... kemana dia? Apa Hana belum juga pulang?" Adam mengeram kesal karena panggilannya tak kunjung dijawab oleh Hana.
"Awas aja, jika dia melanggar janjinya." ucap Adam dengan wajah sebal.
Ia lalu memencet nomor Aryo dan menelponnya. Ingin mencari tahu apakah Hana belum juga pulang?.
"Halo Tuan." sahut Aryo dibalik telpon.
"Dimana dia? Apa Hana belum pulang?" tanya Adam dengan wajah datarnya.
"Sudah Tuan, Nona baru saja masuk ke dalam."
"Baiklah, berikan handphone kamu ke-Hana! Saya ingin bicara sama dia." ucap Adam tegas.
"Baik Tuan." Aryo lalu melangkah masuk kedalam rumah mencari Nyonya. Yang ternyata sedang membagikan bingkisan untuk para pembantu di rumah itu.
"Ya ampun makasih banyak nona." ucap bi Surti dan beberapa pembantu lainnya dengan wajah senang.
"Iyah sama sama bi," ucap Hana tersenyum senang.
Ia begitu bahagia melihat raut senang dari pembantu itu.
Saat akan melangkah pergi menuju tangga, langkahnya terhenti karena Aryo yang memanggilnya.
"Nona, tunggu sebentar! Ada telpon dari Tuan Adam." Aryo dengan sedikit berlari.
"Dari Daddy?" tanya Hana dengan keningnya terangkat. Ia heran kenapa Daddy-nya tidak menelepon langsung ke HP-nya.
"Ini Non." Aryo menyodorkan benda persegi itu kearah Hana saat sudah berhadapan langsung dengan Hana.
"Ha_" baru saja Hana berbicara, Adam sudah menyahut duluan dibalik telfon itu.
"Kenapa tidak mengangkat telpon dari Daddy?" tanya Adam dengan nada dingin.
"Astaga, maaf Daddy hp Hana lagi di kamar. Tadi Hana lagi ke bawah buat bagiin kukis buat bi Surti sama pembantu lainnya." Hana menjelaskan pada daddy-nya.
"Kita lanjutkan di hp kamu. Cepat ke kamar!" sahut Adam tidak ingin dibantah.
Hana mengembalikan hp Aryo dan berlari cepat menaiki anak tangga.
__ADS_1