
Waktu cepat berlalu, tak terasa usia kehamilan Hana sudah memasuki bulan ke delapan dan Hana benar-benar sudah mulai merasakan susahnya tidur. semua posisi membuatnya serba salah karena kehamilannya sudah membesar, tubuhnya pun menjadi cepat lelah.
Namun ia menjadi lebih banyak gerak dari sebelumnya. Seperti pagi ini karena ini hari libur dan Hana pun tak memiliki kegiatan, ia memilih mengeluarkan baju-baju bayi yang ia beli bersama Adam tiga hari yang lalu.
Adam baru saja masuk kedalam kamar, ia yang melihat istrinya sibuk pun langsung berjalan menghampiri Hana.
"Mommy lagi ngapain?" tanya Adam.
"Mommy mau beresin baju-baju ini Pi." ucap Hana.
"Jangan kecapean, papi tidak ingin terjadi apa apa dengan mommy dan juga bayi kita. Mommy itu mudah lelah di kehamilan mommy yang sudah memasuki usia delapan bulan." tegur suaminya.
"Iya pi." ucap Hana dengan senyum manisnya.
"Sini biar papi yang bereskan." ucap Adam sambil mulai mengambil alih mengeluarkan baju-baju bayinya.
"Terimakasih kasih papi, papi memang suami yang sangat penyayang dan pengertian." ucap Hana dengan tersenyum manis.
Adam pun tersenyum mendengar ucapan istrinya itu.
"Baju baju ini mau diapakan?" tanya Adam.
"Mau dicuci dulu pi." ucap Hana.
"Loh, kenapa harus dicuci, mommy" tanya Adam dengan bingung.
"Bajunya masih kotor, memang harus di cuci bajunya karena walaupun baru tapi baju itu belum dibersihkan Pi."
Adam mengangguk dan melanjutkan menyimpan baju-baju tersebut kedalam keranjang cuci.
"Ehh mommy mau apa?" tanya Adam terkejut saat Hana mengangkat keranjang cuciannya.
"Mau dibawah ke bawah, kan mau dicuci bajunya." ucap Hana.
"Astaga kenapa mommy ceroboh sekali itu bahaya kalau mommy yang bawah ke lantai bawah, kenapa tidak minta bantu saja sama papi? Papi ada di sini loh. Biarkan papi yang bawah." ucap Adam sambil mengambil alih keranjangnya.
Hana tersenyum dan mengangguk.
"Papi baik banget sih Pi. Ya sudah tolong di antar ya Pi." ucap Hana dan diangguki oleh Adam.
Adam pun turun menuju ruang cuci dilantai bawah dan ternyata ada bibi di sana. Setelah selesai Adam pun kembali ke kamar bayinya dan dilihatnya Hana masih saja sibuk membersihkan box bayinya.
"Biarkan Siti dan Bi Surti yang membereskan itu, ayo mommy tidak boleh terlalu lelah." ucap Adam.
"Tidak usah, kerjaan bibi banyak, jadi ini mommy saja yang kerjakan." ucap Hana.
"Hah nanti mommy jadi kecapean mom." ucap Adam.
__ADS_1
"Kan ada papi yang siap siaga hilangin capek nya mommy." ucap Hana sambil tersenyum genit pada Adam.
"Dasar nakal, biar papi hilangin dengan pijat plus-plus." ucap Adam dengan menyeringai.
Hana terkekeh mendengar ucapan Adam. "Dasar mesum." ucap Hana.
"Mesum itulah yang mommy suka." ucap Adam dengan tersenyum mengejek.
"Ih nggak ya Pi, itu karena papi yang godain mommy." elak Hana.
"Itu karena papi begitu berkarisma makanya mommy mudah tergoda," ucap Adam dengan pedenya.
"Papi terlalu percaya diri ih, orang mommy terpaksa, karena takut nolak papi nantinya mommy kena hukuman papi lagi."
"Apa! Jadi mommy terpaksa?" ucap Adam dengan nada kesal kemudian berlalu meninggalkan Hana.
Hana terkekeh melihat ekspresi kesal suaminya, ia senang sekali mengerjai suaminya itu. Hana kembali menyibukkan dirinya dengan menata pakaian bayi itu.
Beberapa menit kemudian Hana telah selesai. Ia memegang pinggang nya yang terasa pegal karena terlalu banyak bergerak sejak tadi. Ia pun kembali ke kamar nya dan dilihatnya Adam yang tengah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Hana mendudukan dirinya di sofa tepat disamping Adam.
"Aow pinggang aku sakit banget." keluh Hana sambil meringis kesakitan. Tak ada respon dari suaminya, Adam justru masih fokus memainkan ponselnya.
Pria itu masih merajuk dengan ucapan istrinya tadi, ia masih kesal dengan itu.
"Papi." panggil Hana.
"Bukan urusan papi, lagipula mommy yang mau lakuin itu." ucap Adam dingin.
"Kok papi ngomong gitu sih, lagian papi mau siap siaga buat bantuin mommy kalau mommy rasa capek." ucap Hana.
"Tidak jadi, papi juga lelah." ucap Adam dengan masih bernada dingin.
Hana menghela nafas sejenak, ia mengerti suaminya itu pasti sedang ngambek karena ucapannya tadi saat berada dikamar sang bayi.
Hana mencoba menggoda Adam, biasanya Adam akan luluh saat dia menggodanya. Hana menarik dress tidurnya hingga menampakkan kulit seksinya yang begitu mulus, dia pun duduk di samping Adam.
Adam masih tetap diam namun pandangannya sesekali mencuri lihat ke arah istrinya apalagi pada dua bukit kembar yang masih tertutup Bra, benda itu menyembul keluar dari balik benda berkacamata tersebut.
Dia masih diam dan mencoba tetap tenang dan tak tergoda oleh rayuan istrinya itu. Namun siapa sangka Di bawah sana bahkan sudah menegang.
Hana yang tak mendapatkan respon dari Adam pun menjadi kesal sendiri.
"Ya sudah, mendingan mommy istirahat saja biar pegal mommy hilang." ucap Hana sambil memakai kembali dress nya dan akan melangkah namun .... Dengan cepat adam menahan tangan Hana dan membuat Hana menengok kearah Adam.
"Enak saja mommy dengan mudahnya pergi" ucap Adam.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Hana bingung.
"Kamu harus tanggung jawab." ucap Adam sambil menunjukan sesuatu dibawah perutnya.
Hana membulatkan matanya dan dia pun terkekeh geli melihatnya. Dia pikir suaminya itu tak tergoda dengan apa yang dia lakukan.
"Tapi mommy capek, mommy ngantuk mau tidur saja." ucap Hana.
Adam tak mempedulikan ucapan Hana dan langsung mengangkat tubuh Hana dan membaringkannya di atas ranjang mereka.
Adam begitu tergesa-gesa, nafas nya bahkan terdengar berat. Hana tahu apa yang akan dilakukan suaminya itu, tetapi ia benar-benar merasa lelah karena sejak tadi sudah sibuk membereskan kamar buah hatinya.
"Pi apa tidak bisa diundur dulu niatnya? Mommy benar lelah Pi." Hana berusaha memohon.
"Hah, apa mommy benar benar lelah?" Adam menghembuskan nafasnya berat.
Hana mengangguk.
Dibawah sana sudah begitu sesak ingin bertamu tapi pemilik rumahnya begitu lelah, Adam bisa apa jika seperti itu. Ia tidak akan tega menggagahi Hana dengan keadaan Hana yang merasa lelah.
"Sini biar papi pijitin agar lelah nya hilang." Adam mencoba mengesampingkan gairahnya, ia berusaha menahan hal itu demi sang istri mudahnya.
Hana tersenyum lalu menarik dress nya keatas sebatas perut hingga memperlihatkan perut besar Hana yang begitu mulus tersebut.
Melihat itu Adam semakin menahan gairahnya saat nafsunya semakin diuji oleh apa yang ia lihat, tubuh Hana sangat mudah membuatnya terbakar gairah.
"Ayo Pi pijitin." Adam membuyarkan Adam dari lamunannya.
"Eh iya mommy." Ia lalu mengambil minyak urut, menuangkan pada tangannya lalu kemudian ia mengoleskan pada bagian tubuh Hana yang terasa lelah.
"Rasanya enak sekali Pi, aaa." Hana begitu menikmati pijitan Adam.
Sementara suaminya begitu mati matian menahan gairahnya sambil terus memijat Hana.
"****!" Adam langsung berlari ke kamar mandi.
Melihat aksi suaminya membuat Hana sedikit tersentak sekaligus kebingungan. Ia beranjak dari ranjang sambil membenarkan dress nya.
"Papi kenapa?" batinnya bingung.
Hana pun mendekati kamar mandi dimana Adam masuk. Saat mendekati pintu itu Hana melihat suaminya yang melakukan hal yang begitu konyol menurutnya.
Bagaimana tidak pria itu bermain solo di dalam kamar mandi karena sudah tidak bisa lagi menahan gairahnya.
Hana menahan tawa sambil menutup mulutnya. "Astaga papi benar benar." ucapnya sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya di kamar mandi.
Karena pria itu tidak menutup pintu, pada akhirnya Hana melihat kekonyolan suaminya yang bermain solo dengan terus menyebutkan nama istrinya.
__ADS_1
"Aaaaaa sssst mommy!." erangnya begitu menggema di kamar mandi.
Hana tidak bisa lagi menahan tawanya di luar sana. Dengan cepat ia kembali di atas ranjang agar Adam tidak mengetahui jika ia sedang mengintip dirinya.