Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Amarah yang memuncak


__ADS_3

Di kampus.


Kabar bahwa Hana sakit, sudah terdengar hingga ke telinga Leo. Leo begitu Khawatir, ia tak bisa diam saja, dia langsung bergegas pergi ke ruangan Hana.


"Tika!" panggil Leo saat melihat perempuan itu sedang akan berdiri dari duduknya. Kelas Tika baru saja selesai kelasnya dan ia berniat keluar dari ruangan itu, tapi mendengar suara Leo memanggilnya Hana sontak mengarahkan pandangannya kearah pria bule tersebut.


Leo buru buru berjalan mendekati Tika di tempatnya.


"Tik, gue tahu lo pasti udah dengar kalau Hana sakit kan? please ajak gue kesana temui Hana." ucapnya memohon setelah sampai didepan Tika.


"Kamu tahu dari mana?" Tika menautkan kedua alisnya.


"Gue tadi WA Hana, karena ngga lihat dia di kampus makanya gue coba buat nanyain kabar dia, dan dia bilang sedang sakit makanya ngga bisa masuk kampus." jelas Leo.


Tika menghela nafasnya pelan, "Iya dia lagi sakit, dan rencananya aku mau jenguk dia hari ini." sambil membenarkan tasnya.


Mendengar kata jenguk, Leo seperti mendapatkan angin segar dengan cepat ia menyahut. "Gue ikut, gue mau lihat juga keadaan Hana, Tik."


"Aduh gimana ya?" Tika nampak bingung karena takut Adam mengetahui hal itu.


"Gimana apanya, aku cuman ingin jenguk Hana kok, please! sama kamu biar daddy-nya ngga marah." Leo masih terus membujuk.


Tapi melihat Leo yang terus memelas seperti ini, membuat Tika menjadi tidak tega. Pada akhirnya ia mengijinkan Leo untuk ikut bersamanya.


"Sore aja yah, gue juga mau beli beberapa bingkisan buat Hana dulu, sebelum jenguk dia." ujar Tika.


"Iya terserah kamu, yang penting gue bisa jenguk Hana, hari ini." Leo sudah terlihat senang. Dia tidak bisa sendirian menghadapi Hana, karena gadis itu pasti akan menghindar. Berharap dengan dibantu oleh Tika, dia bisa melihat Hana hari ini.


"Ya udah, nanti kita ketemu di cafe kamu aja, biar bareng." ucap Tika.

__ADS_1


"Oke, gue tunggu." ucap Leo.


"Ya udah gue duluan ya." pamit Tika.


"Iya hati hati and thanks ya." Leo berterima kasih pada Tika.


...****************...


Senja mulai memenuhi langit, sang surya pun sudah condong ke arah barat, menandakan malam hampir saja datang menyapa para penduduk ibu kota.


Tika dan Leo turun dari motor masing-masing. Seperti kesepakatan tadi siang, Leo benar-benar ikut ke villa, dan mengekor pada Tika. Untuk pertama kalinya dia menginjakkan kaki di vila itu, tempat tinggal Hana beberapa minggu ini.


Ia memang pernah pergi ke tempat ini, saat mengantar Hana malam itu tetapi ia tidak sampai ke depan villa seperti saat ini.


Leo memperhatikan bangunan luas nan klasik modern itu dengan seksama, dan tiba-tiba matanya tertuju pada satu arah. Dia sedikit mengulas senyum, saat melihat sebuah figura foto Hana terpajang di salah satu meja.


"Cantik,' gumaman yang hanya terdengar oleh telinganya sendiri. Leo terus berdiri di sana hingga mendapat teguran dari Tika.


Seketika Leo tersadar, dia tersenyum canggung dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lantas dia kembali melangkah, mengikuti Tika yang sudah berjalan lebih dulu di depannya.


"Iya."


Di sisi lain, pria yang ada di negeri seberang baru saja sampai di kamarnya. Setelah melakukan operasi, Adam banyak diminta untuk tidak melakukan aktivitas apapun sampai kondisinya benar-benar pulih.


Dia sudah menghubungi Hana sejak tadi siang, tetapi sampai sekarang belum ada balasan dari gadis cantik nan seksi itu.


Tiba-tiba hatinya gundah.Dia tahu bagaimana waktu Hana, wanita itu punya banyak waktu dan dia sudah sangat menghafalnya. Tidak akan mungkin jika Hana tidak bisa untuk sekedar membalas pesan singkatnya.


"Tidak, kemana kamu, Hana?" gumam Adam, masih berusaha menghubungi Hana.

__ADS_1


Bahkan Aryo pun tidak memberikan laporan apa-apa padanya. Dan hal itu semakin membuatnya merasa cemas. Dadanya mulai bergemuruh, ada apa sebenarnya dengan gadisnya?


You are can't calling ...


Mendengar itu, Adam melemparkan ponselnya ke atas ranjang dengan kasar. "Oh, shitt!" nampak kesal sekaligus khawatir.


Pria yang tengah diliputi rasa cemas itu meninju udara di sekitar untuk menguapkan kekesalan, pikirannya mulai tidak bisa diajak untuk kompromi. Dia sangat kacau sekarang. Sumpah demi apapun, kalau keadaannya tidak seperti ini, dia akan segera pulang.


Hingga dering ponselnya terdengar, Adam mengalihkan pandangannya. Dengan gerakan cepat Adam menyambar benda pipih itu, dan membaca nama si penelepon.


My darling is calling ...


Adam menghela nafas panjang, dia sedikit merasa lega. Adam dengan segera mengangkat ibu jarinya untuk menggeser tombol hijau di layar, tetapi pada saat yang sama Hana justru mematikan panggilannya. Kening pria matang itu mengernyit. Dia mencoba menghubungi Hana kembali, tetapi nihil, karena tidak terhubung sama sekali.


"Hana. Jangan buat Daddy khawatir, Sayang." Adam menggigit kepalan tangannya. Dan terus menekan tombol hijau itu untuk membuat sebuah panggilan pada ponsel Hana.


Hingga akhirnya pada panggilan ke 30 Adam menyerah. Dia mendesah kesal sekaligus emosi, lalu mencari nama lain yang sekiranya dapat memberikan sebuah informasi padanya.


Adam menghubungi pengawal yang ditugaskan untuk mengawasi Hana. Tak butuh waktu lama, pada dering kedua seseorang yang ada di ujung sana langsung menerima panggilannya.


"Dimana dia?" tanya Adam tanpa basa-basi, bahkan suaranya terdengar tidak sabaran. Ingin segera tahu apa yang sedang Hana lakukan hingga panggilan darinya tidak diangkat.


"Nona Hana sedang makan malam bersama temannya Tuan. Ada seorang pemuda juga di sini, dia datang bersama teman wanita yang satunya, tadi." ucap bodyguard tersebut.


"Pria yang mana?" tanya Adam dengan suara yang sudah terdengar meninggi.


"Sepertinya dia juga sekampus dengan nona Hana, karena mereka terlihat akrab, Tuan." ucap bodyguard tersebut melaporkan sesuai apa yang barusan ia lihat.


Mendengar itu, Adam langsung tertegun. Dadanya kembali bergemuruh hebat. Tanpa bicara sepatah katapun, Adam langsung mematikan panggilannya.

__ADS_1


Jelas pria bertato itu tahu siapa yang dimaksud tadi, yang sudah pasti pria yang datang itu adalah pria yang sama saat mengantar Hana di pantai beberapa hari yang lalu.


"Brengsek." teriaknya dengan amarah yang memuncak.


__ADS_2