Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Kunjungan mama mertua


__ADS_3

Jangan lupa like, vote, berikan hadiahnya, favoritkan dan jangan lupa subscribe author ya teman teman🙏


Selamat membaca ....


****


Keesokan harinya.


Hana tengah mengantarkan suaminya ke depan untuk berangkat ke kantor. Karena waktu yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Mereka tengah berdiri di depan mobil Adam yang sudah Dimas siapkan beberapa menit yang lalu.


"Hati hati Pi, selamat bekerja." ucap Hana tersenyum menciumi punggung tangan Adam.


"Hmm, jangan melakukan pekerjaan berat. Jika butuh sesuatu bilang saja pada Bi Surti ataupun Aryo dan Dimas." mengusap rambut Hana.


Hana mengangguk mengiyakan.


"Oh iya, katanya Oma mau ke sini?" tanya Hana.


"Iya Oma mau ke sini jenguk mommy sama malaikat kecil kita." ucapnya sambil mengelus perut Hana.


"Asik ...." Hana dengan nada senang.


"Tapi ingat kamu tidak boleh melakukan apapun, jangan terlalu aktif ingat kehamilan kamu sudah begitu besar papi tidak mau mommy kenapa-napa."


"Iya Pi, Hana janji."


"Ya sudah papi berangkat." ucap Adam lalu mengecup bibir hingga kedua pipi Hana, sebelum masuk kedalam mobil.


Dimas dan juga Aryo yang sedari tadi berdiri tak jauh dari tempat Hana dan juga Adam, mereka berdua sedari tadi menonton adegan romantis suami istri tersebut.


"Huh beginilah nasib jomblo, selalu saja diperlihatkan hal hal seperti itu setiap harinya." batin Aryo dengan mata yang mengarah kearah sepasang suami istri tersebut.


"Bayangin aja kalau gue yang di posisi Tuan Adam, bakalan gimana ya rasanya ciuman itu. Eh .. astaga kenapa gue jadi mesum begini ya? Kelamaan jomblo sih." gerutunya dalam hati.


Adam pun masuk kedalam mobilnya, sebelum menjalankan kendaraannya pria bertato itu menurunkan kaca mobilnya untuk melihat Hana sebentar. "Papi berangkat ya mommy. I love you." ucapnya tersenyum manis sambil mengedipkan sebelah matanya pada Hana.


Kedua pipi Hana seketika bersemu merah. "I love you to papi. Cepat pulang mommy menunggu papi di rumah." ucap Hana tersenyum malu.


Adam tersenyum lalu mengangguk dan beberapa detik kemudian ia pun menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah. Hana melambaikan tangannya untuk Adam sambil melihat kepergian suaminya.


Setelah mobil itu berlalu pergi, Hana lalu melangkah masuk kedalam rumah. Sebelum masuk kedalam kamar, Hana terlebih dulu menuju kearah dapur.


Di dapur tampak para pembantu sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Tapi mata Hana langsung tertuju pada Bi Surti dan juga Siti.


"Bibi."


"Nona Hana, ada yang bisa dibantu Non?" bi Surti langsung membalikkan badannya menatap Hana.


"Sebentar lagi Oma ke sini, jadi Hana mau bibi buat menu sarapan yang enak untuk Oma ya bi." ucap Hana dengan lembut.


"Oh iya boleh Non, akan kamu buatkan." ucap Siti dan Bi Surti secara bersamaan.


"Makasih bi, ya sudah Hana ke kamar dulu mau mandi. Selamat bekerja bibi." ucap Hana kemudian berlalu pergi.


***


Pukul Sepuluh pagi.

__ADS_1


Di rumah kakek Barack, terlihat Oma Ani sudah rapi akan siap siap untuk menjenguk Hana dan calon cucunya di rumah Adam.


Awalnya ia dan Barack yang akan ke sana tetapi ada kakek Barack yang sedang mempunyai urusan penting hingga ia harus terpaksa membatalkan rencananya untuk ikut bersama Oma Ani.


"Mami benar benar akan pergi tanpa papi?" Barack memastikan kembali, menatap istrinya dengan wajah tidak rela.


Bukan ia tidak rela istrinya pergi untuk menjenguk menantunya tetapi ia tidak rela jika istrinya itu pergi sendirian tanpa ia ikut.


"Iya Pi, memangnya kenapa? Papi ngga mau? Lagian mami juga udah terlanjur bilang sama Adam kalau mami sama papi mau ke sini, tapi karena papi mendadak punya urusan penting jadi mami sendiri saja yang pergi." ucap mami sambil meraih tas sampingnya di atas sofa kamar.


"Huh ... ya sudah tapi setelah selesai dari rumah Adam langsung pulang ke rumah tidak perlu lagi ke tempat lain." pintanya dengan nada posesif.


"Iya Pi lagian mami mau kemana lagi selain ke rumah Adam? Mami langsung pulang kalau sudah selesai." sambil mengusap lengan suaminya.


"Jangan lupa mami punya banyak teman sosialita di luar sana jadi mami mami bisa saja pergi menemui mereka." ucap Adam.


"Astaga tidak papi, mami tidak pergi kemana mana lagi setelah dari rumah Adam. Udah papi jangan khawatir." ucap Oma Ani sambil mengecup pipi kakek Barack.


"Ya sudah mami duluan ya Pi."


"Iya hati hati, ingat pesan papi tadi." ucap kakek Barack lalu balas mengecup pipi Oma Ani.


"Siap papi."


"Oh iya mami perginya diantar Joko. Papi udah nyuruh dia nyiapin mobil di depan, Joko akan nunggu mami sampai pulang nanti." kakek Barack memberitahu.


Oma mengangguk mengerti lalu pamit pergi. Setelah kepergian istrinya, kakek Barack pun bersiap siap untuk segera menemui rekan bisnis nya.


***


Di kantor Adam.


Tok Tok


"Masuk!" perintah Adam tanpa mengalihkan perhatiannya pada berkas di depan tersebut.


Aldi pun masuk kedalam ruangan, berjalan mendekati bosnya. "Selamat pagi Tuan, ini ada beberapa berkas yang butuh tanda tangan Tuan." ucap Aldi.


Adam menghentikan pergerakannya lalu menatap kearah sekertaris nya. "Sini saya lihat!"


Aldi lalu menyodorkan berkas tersebut kearah Adam. "Ini Tuan."


Setelah menerima benda itu Adam langsung membuka lembar demi lembar, membacanya dengan teliti lalu menandatangani berkas tersebut.


"Ini, apa masih ada lagi yang harus saya tanda tangani?" tanya Adam sambil memberikan berkas tersebut.


"Tidak lagi Tuan,"


"Baiklah, lanjutkan lagi pekerjaan mu!." perintah Adam lalu kembali fokus pada lembaran di depannya.


"Baik Tuan kalau begitu saya permisi." sambil menunduk sopan, Adam mengangguk sembari memberikan kode tangan agar Aldi pergi dari tempat itu.


***


Waktu pun sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Oma Ani juga sudah sampai di rumah Adam beberapa menit yang lalu. Kini Oma dan Hana tengah duduk santai di taman samping sembari berbincang-bincang.


"Apa Adam pergi kerja?"

__ADS_1


"Iya suami ku pergi jam sembilan pagi tadi karena ada berkas berkas penting yang butuh tanda tangannya." jelas Hana.


Oma mengangguk mengerti. Ia pun mengalihkan pandangannya kearah perut Hana yang sudah begitu besar. Tangannya pun terangkat mengelus perut wanita hamil tersebut.


"Ngga terasa ya kehamilan kamu sudah delapan bulan, mami sudah tidak sabar ingin menyambut cucu pertama mami ke dunia." ucap Oma sambil mengelus perut besar Hana.


Hana tersenyum kecil sambil menatap mertuanya.


"Iya mami, padahal Hana merasa baru saja hamil. Tapi waktu berlalu begitu cepat, tidak lama lagi Hana akan menjadi ibu." ucap Hana tersenyum membayangkan akan mengendong bayi imut di gendongannya.


"Iya mami juga merasa begitu. Banyak hal yang sudah kamu lalui bersama Adam. Maafin mami karena pernah menyakiti hati kamu, maafin papi dan mami sempat tidak menerima kehadiran kamu sebagai menantu keluarga kami. Mami salut sama kamu setelah apa yang kami perbuat pada mu kamu masih bisa memanfaatkan kesalahan kami." ucap Oma dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Hana tersenyum haru lalu meraih tangan Oma, menggenggam nya." Oma ngga salah, ini semua sudah takdir. Bagi Hana itu adalah cara Tuhan memberikan ujian dalam hubungan Hana dan suamiku. Aku ikhlas menerima semua itu." ucapnya tersenyum menatap mama mertuanya.


Oma Ani begitu tersentuh, ia tidak bisa lagi menahan air matanya yang sedari tadi ia tahan. Dengan cepat ia memeluk tubuh Hana bersamaan dengan pelukan itu, air mata wanita paru baya tersebut menetes membasahi pipinya.


"Terimakasih Hana, mami sangat bersyukur mempunyai menantu yang begitu sabar seperti kamu nak. Sekali lagi maafkan kesalahan mami di masa lalu. Maafkan juga kesalahan kakek yang pernah berkata kasar pada mu, kakek memang sudah menerima kalian tapi dia hanya gengsi dan perlu waktu saja untuk memperlihatkan rasa sayangnya pada kalian." ucap Oma.


Hana mengangguk dibalik pelukan itu sambil mengusap-usap punggung Oma. "Iya Oma, udah Oma jangan sedih begini, Hana tidak ingin melihat Oma sedih. Oma harus bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan cucu pertama Oma." ucap Hana tersenyum bahagia.


Oma melepaskan pelukannya, ia lalu mengelus perut besar Hana. "Maafkan Oma kamu ya sayang, baik baik kamu di sana. Oma tidak sabar menunggu kamu." ucapnya sambil satu tangannya menghapus air matanya.


Hana tersenyum mendengar ucapan mama mertuanya. "Aku juga tidak sabar ingin bertemu Oma." sahut Hana menirukan suara anak kecil.


Oma pun menatap Hana lalu keduanya tertawa bersama.


Keduanya pun melanjutkan perbincangan mereka dari hal lucu hingga berlanjut dengan nasehat nasehat baik dari Oma untuk menantunya. Cukup lama mereka saling mengobrol tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul satu siang, Oma dan juga sempat makan siang beberapa menit yang lalu setelah Oma memutuskan untuk pulang.


Sebenernya wanita paru baya itu masih ingin lebih lama lagi mengobrol dengan Hana tetapi pria tua yang tak lain suaminya itu terus saja menelponnya berulang ulang agar cepat kembali, hal itu sedikit menganggu dirinya yang sedang asik berbicara dengan Hana. Ia pun terpaksa harus pulang mengikuti perintah suaminya.


Hana pun menemani Oma menuju ke-depan untuk mengantarkan wanita paru baya tersebut ke-depan. Terlihat supir Oma juga sudah siap siap di depan mobil berwarna hitam tersebut.


"Kapan Oma akan ke sini lagi? Hana masih ingin Oma di sini bersama Hana." wajah Hana terlihat sedih.


"Iya Oma pengennya seperti itu juga hanya saja kakek kamu terus meminta Oma untuk pulang, dia tidak bisa ditinggal lama lama." ucap Oma.


Hana seketika terkekeh. "Ternyata kakek posesif juga ya Oma, Hana pengen hubungan Hana bisa terus langgeng seperti Oma dan Kakek." ucap Hana tersenyum.


"Itu pasti sayang, karena Oma tau bagaimana sikap suami kamu itu. Dia sebelas dua belas dengan papi nya." ucapnya tersenyum geli.


"Hahah benarkah, berarti kakek juga pencemburu?"


"Iya dia juga seperti itu walaupun sudah tua." keduanya pun terkekeh di depan halaman rumah.


"Ya sudah mami pergi ya sayang, jaga kandungan kamu. Jangan terlalu capek capek!" Oma Ani mengingatkan menantunya sembari mengelus perut Hana.


"Iya Oma."


"Ya sudah jika Adam pulang sampaikan salam kepadanya, karena mami juga tidak bisa menunggu hingga Adam pulang."


"Iya akan Hana sampaikan." ucap Hana lalu menciumi tangan mertuanya.


"Hati hati Oma." ucapnya setelah wanita paru baya tersebut masuk kedalam mobil.


Oma Ani melambaikan tangannya dari balik jendela mobil. Hana pun tersenyum lalu membalas lambaian itu.


"Rasanya seperti mimpi bisa berbicara dengan Oma seperti tadi. Semoga kakek perlahan-lahan bisa sepenuhnya menerima Hana." gumamnya dalam hati sambil tersenyum.

__ADS_1


Ia pun melangkah masuk kedalam rumah dengan perasaan bahagia.


__ADS_2