
Kedua pasangan itu sedang bersantai di balkon kamar mereka sambil menikmati angin malam juga pemandangan pantai yang terlihat begitu indah dari atas balkon. Hana berbaring di sofa panjang berwarna abu abu milik brand ternama tersebut.
Dengan berbantalkan paha Adam, Hana terlihat begitu nyaman karena Adam yang terus mengelus rambutnya dengan begitu lembut.
"Oh iyah, kalau kita punya anak nanti, Daddy mau punya anak berapa?" Hana begitu antusias berceloteh pada daddy-nya. Hana mendongakkan kepalanya keatas menatap Adam dari bawah, Menunggu jawaban dari Adam.
Mendengar pertanyaan Hana. Adam yang tengah asik mengelus rambut Hana, langsung menghentikan pergerakan tangannya. Ia membalas tatapan Hana.
"Daddy tidak tahu, Daddy belum memikirkan hal itu. Daddy masih ingin menghabiskan waktu bersama kamu." ucap Adam.
"Tapi kalau seandainya dalam waktu dekat ini, aku hamil gimana?" Hana masih berusaha tersenyum.
"Itu tidak mungkin, kamu tidak akan hamil dalam waktu dekat ini." ucapnya dengan penuh tanda tanya oleh Hana.
"Maksud Daddy?" senyuman Hana mendadak hilang digantikan oleh raut bingung diwajahnya. Ia tidak mengerti dengan apa yang daddy-nya katakan tadi, seakan akan tahu jika Hana tidak mungkin hamil.
Hana merubah posisi berbaring menjadi duduk menghadap Adam. Adam balas menatap Hana dengan serius.
"Dad, apa maksud Daddy tadi? Hana masih tidak paham dengan ucapan Daddy." tanyanya lagi.
"Tidak usah pikirkan, Daddy akan menjelaskan jika diwaktu yang tepat." ucapnya.
Hana semakin dibuat bertanya tanya dengan jawaban Adam yang sangat tidak memuaskan untuk dirinya. Ia belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tadi.
Adam menarik pinggang Hana merapatkan tubuh Hana padanya, menarik tubuh itu kedalam pelukannya.
"Sudah jangan pikirkan, itu hanya masalah kecil." Adam mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tapi Hana butuh jawaban dari Daddy." Hana mendongakkan kepalanya keatas menatap Adam sebentar, dengan bibir yang sudah meruncing.
"Jangan dibahas jika kita sedang berduaan seperti ini, nikmati saja tanpa memikirkan hal lain yang bisa mengusik pikiran kamu, Hana." ucapnya dengan nada dingin.
"Tapi kan–"
"Hana!" Adam dengan cepat menyela, suaranya sudah meninggi menahan amarahnya.
Hana langsung mengatupkan bibirnya rapat, tidak berani lagi bertanya karena suara Adam yang terdengar menahan emosi.
Yang hanya bisa Hana lakukan adalah memeluk tubuh Adam dengan erat membenamkan wajahnya di-dada bidang itu.
Adam menghembuskan nafasnya perlahan, pria itu sadar sudah membuat Hana ketakutan. "Maaf kan Daddy." ucapnya pelan sambil mengecup puncak kepala Hana.
Tidak ada sahutan dari wanitanya, Hana Hana bisa mengeratkan pelukannya tanpa mengatakan apapun. "Ayo kita masuk, jangan terlalu lama di luar. Angin malam tidak baik untuk tubuh kita." ucapnya sudah terdengar lembut.
Hana langsung melepaskan pelukannya, ia kemudian berdiri mendahului Adam, kakinya akan melangkah meninggalkan pria itu tetapi dengan cepat Adam menarik tangannya. Hana menoleh kearah Adam.
"Kamu marah?" tanya Adam masih memegang tangan Hana.
"Apa Hana berani untuk marah, sama Daddy?" Hana mala menyahut dengan pertanyaan.
"Maybe. Tapi sepertinya tidak." ucapnya terkekeh.
"Ish, Daddy menyebalkan." wajah Hana sudah terlihat ditekuk. Menatap kesal daddy-nya.
__ADS_1
"Hahahah, Daddy jadi pengen makan kamu kalau bibir kamu digituin." ucap Adam bercanda mencoba menghilangkan rasa penasaran Hana soal tadi.
"Tau ah ... Hana sedang merajuk sama Daddy." ucapnya lalu melangkah tapi dengan cepat Adam menarik tubuhnya, tanpa pikir panjang pria matang tersebut langsung membopong tubuh Hana seperti karung beras, masuk kedalam kamar.
"Akh .... Daddy!" pekik Hana karena terkejut dengan aksi Adam yang tiba tiba.
Adam tertawa disela ia membopong Hana kedalam, ia merasa lucu karena Hana yang merajuk tetapi mengatakan itu padanya. Dimana mana jika orang sedang merajuk mereka akan diam dan tidak memberitahukan, tapi Hana beda dari yang lain malah mengatakan padanya secara langsung. Ada ada saja, pikirnya.
"Jangan melawan, kamu harus istirahat ini sudah malam." ucapnya saat Hana yang meronta ingin diturunkan.
"Dasar Daddy pemaksa." ucapnya kesal. Tapi perkataan itu tidak bisa ia utarakan secara langsung melainkan hanya dalam hati. Mana berani Hana mengatakan itu pada beruang ganas, bisa bisa ia di terkam habis habisan malam ini.
Adam membaringkan Hana di-atas ranjang dengan perlahan. Menyelimuti tubuh Hana lalu mengecup keningnya dengan lembut. Hana memejamkan sebentar matanya saat bibir Adam tepat di keningnya.
Perasaan kesalnya perlahan hilang saat perlakuan lembut yang Adam berikan. Perhatian kecil seperti ini selalu membuat hatinya menghangat dan merasakan ketulusan dari Daddy-nya.
Perlahan bibirnya tertarik kebelakang membentuk senyuman. Adam lalu melepaskan kecupannya dari keningnya saat merasa cukup. Ia tersenyum membalas tatapan Hana.
"Ayo tidur." Adam membenarkan selimut Hana, Kemudian berdiri ingin beranjak.
"Daddy mau kemana?" Hana menahan tangan Adam dengan cepat.
"Daddy mau menyelesaikan pekerjaan Daddy, di ruang kerja." ucapnya tersenyum manis.
"Kenapa harua pekerjaan lagi yang Daddy pikirkan, Hana tahu sangat penting untuk Daddy tapi bisakah jika sedang di rumah Daddy melupakan dulu pekerjaan itu? Hana masih ingin bermanja manja dengan Daddy, Hana masih ingin dipeluk sama Daddy tanpa harus ada pekerjaan yang menganggu waktu kita, Dad." Hana mengeluarkan apa yang selama ini ia tahan. Ia cukup lega karena ucapan itu sudah ia lontarkan.
Adam tertegun mendengar ucapan Hana. Ya memang selama ini Adam selalu mementingkan pekerjaannya, dimana pun ia berada pasti ia sisihkan waktu untuk bekerja.
Karena sudah biasa di dididik seperti itu oleh papi Barack, membuat ia terbawah hingga sekarang. Sikapnya memang sangat duplikat dengan Papinya.
"Daddy ha–" Adam menghentikan ucapannya saat bunyi telepon mengalihkan perhatiannya. Ia melirik sebentar kearah benda pipi yang terletak di atas nakas.
"Daddy harus menjawab panggilan." ucap Adam. Hana tak mengatakan apapun lagi dengan cepat ia melepaskan tangannya dari pria itu. Berbalik memunggungi Adam dan menutupi selimut hingga ke lehernya. Adam menghela nafasnya kasar saat melihat Hana yang sudah terlihat kecewa, ia melangkah kemudian kearah benda pipi yang terus saja berbunyi.
Hana merasa sedih karena Adam yang lagi lagi mengacuhkan ucapannya. Wajahnya sudah terlihat berkaca-kaca, memang secengeng itu sosok Hana. Hal itu membuat ia merutuki dirinya kenapa tidak bisa menahan air mata itu. Dengan cepat Hana menghapus nya saat buliran bening berhasil jatuh membasahi pipinya.
"Halo" terdengar suara pria yang berbicara diseberang sana. Saat Adam sudah menjawab panggilan tersebut.
"Katakan!" perintah nya yang tak mau basa-basi. Wajah tegasnya terlihat datar.
"Begini Tuan, dokter yang menangani proses operasi Tuan, mengabarkan bahwa operasinya dimajukan lusa."
"Bagaimana bisa? Bukankah tanggalnya sudah dijadwalkan tiga hari lagi? Kenapa tiba-tiba?" ucapnya dengan suara meninggi. Adam dengan cepat melangkah keluar menjauhi Hana, takut wanita itu akan mendengar percakapan mereka.
Hana yang sempat mendengar sekilas, membalikkan badannya melihat Adam yang tengah berbicara serius di balkon kamarnya.
"Tanggal apa yang Daddy maksud?" batinnya bertanya. Malam ini Hana makin dibuat penasaran dengan Adam, pria itu seolah menyembunyikan sesuatu darinya.
Sementara di balkon, Adam terus melampiaskan kemarahannya pada Aryo. "Kenapa dia tidak mengabari aku? Bena benar tidak bertanggung jawab, kenapa cara kerjanya kali ini bena benar buruk."
"Sebenarnya bukan karena tidak bertanggung jawab Tuan, tapi karena terkendala dengan masalah keluarga membuat ia harus terpaksa memajukan operasi lebih cepat dari waktu yang sudah ditentukan." ucap Aryo mencoba menjelaskan.
"What, keluarga? Untuk apa ia membawa masalah keluarga dalam urusan pekerjaan? Itu sangatlah tidak profesional." bentaknya. Berjalan mondar-mandir di area balkon.
__ADS_1
Aryo membuang nafas berat karena mendengar Adam yang terus meluapkan amarahnya, tanpa mau bertanya dulu apa penyebab dokter yang menangani operasinya beberapa taun lalu.
Yap saat Adam memutuskan memulai hubungan terlarang dengan Hana, pria itu sudah melakukan operasi vasektomi. Berjaga jaga jika ia lepas kendali dan bisa saja menyetubuhi Hana.
Tapi ternyata setelah memasang itu, Adam tidak melakukan lebih dengan Hana selain bermain main menggunakan cara lain tanpa menyatu dengan Hana. Keduanya melakukan penyatuan disaat amarah Adam beberapa minggu yang lalu, itu pertama kalinya mereka melakukan hubungan badan.
Setelah Aryo menjelaskan alasannya, Adam akhirnya menyetujui keputusan dokter Riki, selaku dokter pribadi keluarga Matteo. Dokter yang sudah jelas berkompeten dan cara kerjanya sudah pasti diacungi jempol.
Ia sebenarnya tidak masalah dengan operasi yang akan berjalan lusa dan sudah pasti dia harus berangkat pada esok hari. Tapi ia sudah terlanjur mengatakan akan mengurus pernikahan mereka besok, kepada Hana.
Dan juga sudah berjanji akan pulang lebih awal besok. Hana pasti sedih mendengar ia akan berangkat besok ke luar negeri menjalankan operasinya. Adam berjalan masuk kedalam kamar, terlihat Hana yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Kenapa belum tidur?" menatap Hana yang terus melihat kearah nya. Ia berjalan mendekati Hana, merangkak naik keatas ranjang.
Adam langsung masuk kedalam selimut dan meraih tubuh Hana kedalam pelukannya, menutupi tubuh keduanya dengan selimut yang tadi sempat Hana turunkan.
"Kenapa belum tidur, hmm?" tanyanya lagi karena Hana yang belum menjawab.
"Hana nggak bisa tidur, mau dipeluk Daddy." ucapnya pelan sambil membalas pelukan Adam.
"Sekarang Daddy sudah di sini, ayo tidur." Ucapnya sambil mengelus punggung Hana.
"Dad ta tadi Daddy ngomong sama siapa? Dan tanggal apa yang Daddy bicarakan?" Hana memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Bukan apa apa, urusan pekerjaan. Daddy baru saja ditelpon oleh Aldi sekertaris Daddy." Adam berbohong.
"Oh, apa masalah serius?" Hana sudah terlihat percaya. Ia menepis rasa curiganya karena Adam yang begitu pandai mengelabui dirinya.
"Sedikit tapi tidak perlu dipikirkan. Daddy akan ada keberangkatan mendadak keluar negeri." ucap Adam.
Hana terkejut dengan cepat menatap wajah Adam. "Bukannya Daddy bilang sedang mengurus pernikahan kita untuk besok? Kenapa tiba-tiba?"
"Ini diluar dari rencana Daddy, Daddy harus menghadiri acara peresmian cabang perusahaan, karena Daddy sebagai pemiliknya." ucap Adam.
Memang hal itu Adam mengatakan dengan benar jika ia juga mempunyai acara diluar negeri selain operasi yang akan dilakukan.
Yang sebenarnya acara itu ia berniat tidak menghadiri karena akan mengurus pernikahan mereka, tetapi karena operasinya di negara yang sama membuat ia mau tak mau juga akan menghadiri acaranya sebagai tuan dari pemilik acara itu.
"Hana nggak mau ditinggal sendiri, Daddy." rengek Hana.
"Daddy akan menyuruh Bi Surti untuk menemani kamu di sini." ucapnya.
"Tapi Hana maunya Daddy."
"Sayang, mengerti lah!"
"Tapi Dad."
"Cukup, kamu akan ditemani Bi Surti." ucapnya tegas tak ingin dibantah.
Hana langsung berbalik badan memunggungi Adam, matanya sudah berkaca-kaca menahan tangisnya karena akan ditinggal mendadak oleh Adam keluar negeri.
Adam menghembuskan nafasnya kasar, melihat Hana yang sudah memunggungi dirinya. Ia merapatkan tubuhnya dan memeluk Hana yang masih membelakangi dirinya. Memberikan kecupan di punggung wanita itu.
__ADS_1