Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Akhirnya


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, kini sudah sembilan bulan kandungan Hana. Dan tinggal kini hanya menunggu nunggu waktu untuk lahiran.


Hari ini Adam memutuskan untuk tidak ke kantor, karena istrinya yang sedari tadi mengeluh perutnya sakit. Ia memilih melanjutkan pekerjaannya di rumah saja sambil menemani istirnya.


Biasanya sakit perut yang Hana rasakan tidak seperti ini. Biasanya ia merasakan sakit tapi hanya sebentar lalu hilang kembali sakit nya.


Berbeda dengan hari ini, wanita hamil tua itu merasakan sakit dan mulas yang semakin sering, bahkan frekuensi nya semakin sering ia rasakan.


Hana yang sedari tadi duduk di atas sofa ditemani Adam yang melanjutkan pekerjaannya sambil menemani Hana.


Hana memutuskan beranjak dari duduknya saat merasakan ada sesuatu yang mengalir dari ***********. Hana berusaha bangkit dari duduknya dengan bertumpu pada pundak suaminya.


"Mau kemana?" Adam lantas mengalihkan pandangannya dari laptop kearah Hana, ia pun bangkit mengikutinya berjalan pelan ke kamar mandi, setelah tadi meletakkan laptop itu keatas meja.


Saat sudah di kamar mandi, Hana melepaskan ****** ***** yang dikenakannya.


"Papi, .." Hana memekik kala melihat ada bercak darah pada ****** ********.


"Kenapa?" Adam menghampiri. Pria itu terkejut.


"Mommy mau melahirkan?" nada suara nya sudah terdengar panik.


"Jangan panik!" Hana hampir berteriak sambil menarik lengan suaminya.


Berkali-kali perempuan itu menarik dan menghembuskan napasnya secara perlahan untuk mengurangi rasa sakit yang terus mendera perut bagian bawahnya.


"Apa yang harus papi lakukan?" Adam kembali meracau saat membantu istrinya berjalan menuju tempat tidur dan mendudukkannya disana.


Hana masih masih mengatur nafasnya perlahan. Sesekali mendesis dan mengernyit menahan nyeri pada perutnya. Tentu saja membuat suaminya panik setengah mati karena dia tidak menjawab pertanyaannya.


"Apa masih terasa sakit? Ayo kita ke rumah sakit sekarang." katanya. Tanpa berpikir panjang, pria itu segera berlari kearah luar.


"Pi, papi mau kemana?" Hana berteriak.


"Papi akan memanggil Aryo untuk menyiapkan mobil, untuk kita ke rumah sakit!"


Adam balas berteriak.


Hana mengeram. Lagi, rasa sakit kian mendera. Adam kini telah tiba di depan pos satpam dimana biasanya Aryo dan juga Dimas berbincang-bincang di sana.


"Aryo .... Aryo." teriak Adam dengan wajah panik.


"Iya Tuan, a .. ada apa tuan?." Aryo dan Dimas keluar dari pos dengan wajah gugup, keduanya ikut panik saat mendengar teriakkan bos nya.


"Siapa kan mobil, kita harus ke rumah sakit sekarang!" perintah Adam.


"A apa .. tapi kenapa Tuan? Apa ada sakit?" tanya Aryo menjadi bingung dan cemas secara bersamaan.


"Jangan banyak tanya, ayo lakukan saja tugas kamu. Istri saya mau melahirkan." teriak Adam dengan emosi.


"Ap-ap! astaga baik Tuan, saya siapkan mobilnya." Deng buru buru ia pergi ke garasi mobil menyiapkannya.


"Dan Dimas kamu siapkan lagi satu mobil untuk bi Surti, aku ingin berjaga jaga jangan sampai aku membutuhkan bantuan kalian di rumah sakit nanti." pintanya.


"Baik Tuan." bergegas pergi menyusul Aryo.


Adam lalu berlari keatas menemui Hana di kamar. Para pembantu pun ikut panik saat melihat Tuan nya terlihat panik seperti itu.


"Bi Surti ... segera siap siap, kita akan ikut tuan ke rumah sakit, Nona Hana akan melahirkan." kata Dimas yang tiba tiba masuk ke ruang tamu memberitahukan wanita tua itu.


"Apa, kenapa tidak memberitahukan kita tadi, ya sudah kamu akan siap siap."


***

__ADS_1


Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mencapai rumah sakit terbesar di kota Jakarta itu. Keadaan jalan yang masih terlihat sepi membuat mereka cepat sampai ke tempat yang dituju.


Beberapa petugas dan perawat telah bersiap didepan pintu masuk beberapa menit sebelum Adam tiba.


Setelah sebelumnya mereka mendapat telfon dari Aryo bahwa istri sang Adam Mateo itu akan melahirkan. Adam segera turun lalu berbalik bersiap mengendong Hana dari duduknya, terlihat wanita itu sedari tadi menahan rasa sakitnya.


"Mommy masih bisa. Biarkan mommy berjalan saja Pi." Hana menolak, walau dia meringis kesakitan.


"Kamu yakin?" tanyanya lagi.


Hana mengangguk.


"Tidak! papi yang akan menggendong mommy!" katanya lagi,


lalu meraih tubuh perempuan itu dan berjalan tergesa memasuki lorong rumah sakit.


Pria itu membaringkan tubuh Hana di blankar yang sudah disiapkan. Lalu para petugas mendorongnya dengan tergesa menuju ruang bersalin.


Tampak dokter wanita berkacamata sudah menyambut didepan pintu ruang bersalin ketika mereka tiba. Dia segera mendatangi rumah sakit begitu mendapat panggilan dari kakak sepupunya yang panik.


Beberapa hari yang lalu Adam memang sudah meminta dokter tersebut untuk menangani proses persalinan bayinya jika istrinya tersebut melahirkan dan tentu saja itu ditepati oleh dokter tersebut.


"Tunggulah disini, aku akan memeriksanya." merentangkan tangannya menghalangi Adam yang berniat ikut masuk kedalam ruangan itu.


"Tapi aku ingin menemani istri ku, dia butuh aku disampingnya."


"Nanti saja, kita akan mengecek terlebih dahulu." dokter itupun lalu dengan cepat menutup pintu ruang bersalin.


Beberapa menit kemudian.


Adam berjalan mondar mandir didepan pintu yang tertutup itu. Pria itu gelisah. Sesekali meremas rambut dikepalanya. Rasa panik dan ketakutan menjadi satu, terlihat jelas diwajahnya.


"Tuan sebaiknya duduk dulu, istirahatlah sebentar. Nona pasti baik baik saja." Aryo menghampiri, mencoba menenangkan Bosnya.


"Aku tidak bisa tenang sebelum mendengar hasilnya." jawab pria itu,


Adam masih tak mau meninggalkan tempat dia berdiri. Dan beberapa detik kemudian ...


Pintu terbuka, tampak dokter wanita tadi keluar dari ruangan itu.


"Tinggal menunggu sebentar lagi, Sudah di pembukaan delapan dan dia sebentar lagi akan segera melahirkan." ucap dokter itu sambil tersenyum.


"Benarkah? Apa Istri saya akan baik-baik saja? Dia sudah menahan sakit sedari tadi." terlihat raut cemas begitu jelas pada wajahnya.


"Istri Tuan akan baik-baik saja. Kondisinya sangat sehat. Nona mengalami kontraksi yang sangat bagus. Bahkan pembukaannya juga sangat cepat. Tadi saat datang dia sudah di pembukaan tujuh, dan bertambah dalam beberapa menit saja. Ini tidak akan sulit." jelas dokter meyakinkan.


"Apa saya sudah bisa masuk?"


"Boleh, Tuan sudah bisa masuk. Silakan." dokter tersebut mempersilahkan Adam masuk kedalam sana.


"Baiklah, terima kasih." Adam dan dokter tersebut masuk kedalam. Tersisa Bi Surti, Siti dan juga Aryo dan Dimas di depan ruang bersalin. Duduk menunggu.


"Semoga persalinannya berjalan lancar." ucap bi Surti dengan penuh doa.


"Iya Amin, semoga." sahut siti."


Aryo dan Dimas pun mengangguk setuju.


Sementara di dalam sana. Tampak Hana yang tengah terbaring di atas blankar bersalin.


"Mommy, mommy baik baik saja?" Adam segera meraih pergelangan tangan Hana. Menatap wajah pucat perempuan itu yang sedang menahan rasa sakit.


Hana mengangguk, mencoba tersenyum.


"Kamu akan baik-baik saja. Kita akan melalui ini bersama, ok?" lanjut pria itu, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Perempuan itu hanya bisa mengangguk lagi. Hana melenguh kala merasakan sesuatu seperti menyayat rahimnya dari dalam.


Dia meremat tangan suaminya kuat-kuat. Sesuatu terasa mengalir dari rahimnya.


"Dokter." Adam berteriak dengan panik.


Dokter menghampiri, dan segera memeriksa keadaannya.


"Ketubannya sudah pecah, pembukaan sudah lengkap." Dokter tersebut mendongak sambil tersenyum.


"Sayang, mommy, bertahan lah?"


Hana mengangguk.


"Baiklah, nyonya. Tarik napas, lalu buang. Dalam hitungan ketiga, Nona mengejan, ya?"


Hana kembali mengangguk. Dia mengikuti instruksi dari Dokter cantik itu.


"Mommy pasti kuat, ayo! mommy bisa!" Adam menyemangati istrinya sambil terus mengecup pipi Hana. Memberikan kekuatan pada istirnya.


Beberapa kali Hana menarik dan membuang nafas, lalu mengejan. Namun belum berhasil mengeluarkan bayi yang selama sembilan bulan tumbuh didalam rahimnya.


Setelah beberapa menit, dan perempuan itu terkulai lemas dengan keringat yang membanjiri wajah dan tubuhnya, dia hampir menyerah.


"Papi, mommy tidak bisa, mommy tidak tahan lagi ..." Hana merintih.


"Sayang." Adam mengusap wajah istrinya. Dengan perasaan panik dan ketakutan pria itu mencoba kuat,


"Mommy pasti bisa, ayo. sekali lagi! papi yakin mommy bisa melakukannya." bisiknya di telinga Hana.


"Bisa! nona pasti bisa!" dokter itu ikut menyemangati.


"Ayo kita coba lagi. Kali ini lebih kuat."


Sekali lagi Hana mengikuti instruksi dokter wanita itu. Menarik dan menghembuskan nafas, lalu mengejan. Namun masih belum juga membuahkan hasil,


Perempuan itu menggeleng lemah, matanya mulai berkaca-kaca.


Ia kembali menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengumpulkan kekuatan. Sebelah tangannya mulai menggenggam erat lagi tangan suaminya. Kemudian dia kembali menarik napas dan


menghembuskan nya beberapa kali. lalu mengeian sekeras yang dia bisa.


"Hiks papi, mommy tidak sanggup lagi!" ucap Hana dengan suara lemah, bahkan air matanya ikut menetes kala si bayi belum juga ingin keluar.


"Tidak, mommy pasti bisa. Ayo mommy harus yakin bisa melakukannya." Adam ikut menetaskan air matanya saat melihat wajah tak berdaya istrinya. Begitu besar perjuangan istrinya untuk melahirkan buah cinta mereka.


Ia menggenggam erat tangan Hana, mengecupnya berulang ulang. Lalu kembali mengecup kening Hana.


"Mommy harus yakin jika bisa melalui ini, sebentar lagi kita akan bertemu anak kita." Adam kembali menyemangati istrinya. "I love you." sambil mengecup pipi Hana.


Tubuh Hana sudah benar-benar lemas. Tenaga nya bahkan sudah begitu terkuras, terasa kaku akibat berpegangan terlalu keras.


"Sedikit lagi, nona. Kepalanya sudah terlihat jelas." Dokter memberitahukan, membuat semangat perempuan itu yang sempat hilang kini bangkit lagi.


"Ayo, sayang." Adam kembali memberi semangat. Dan pada saat Hana mengejan lagi lebih keras untuk yang terakhir kalinya, pada saat itu juga dia merasakan sesuatu seperti dirobek pada inti tubuhnya.


Malaikat kecil itu akhirnya keluar, dokter lalu membantu menariknya dengan lembut. Dokter tersebut tersenyum menatap malaikat kecil itu.


"Mommy, anak kita sudah lahir. Papi mencintai mommy. Oh ya tuhan, terimakasih." Adam meraup kepala istrinya yang sudah sangat basah oleh keringat. Menciuminya secara bertubi-tubi.


Tangisan yang sangat nyaring keluar dari mulut bayi kecil itu.


"Selamat, anak tuan dan juga Nona berjenis kelamin laki laki." dokter begitu senang memberitahukan hal itu.


Tangis Hana pecah dalam pelukan suaminya. Dia begitu tidak percaya bisa melalui hal ini.

__ADS_1


"Hikss papi."


"Iya mommy, anak kita." Adam memeluk tubuh Hana dengan perasaan begitu haru, ia juga berusaha menahan tangis bahagianya. Sambil mengecup seluruh wajah Hana.


__ADS_2