
Pukul dua belas siang.
Tika telah selesai dengan kelasnya, ia baru saja berjalan keluar dari gerbang kampus. Ia begitu terburu buru saat melangkah.
Wanita itu sudah tidak sabar lagi untuk cepat sampai ke rumah sahabatnya. "Semoga Hana baik baik aja." gumamnya lalu menaiki motornya. Ia memang terbiasa membawa motor ke kampus.
Saat akan menghidupkan motornya, Leo berlari kearahnya. Mau tak mau Tika mematikan kembali motornya.
"Tika! ...." ucap Leo saat sudah berada didepan Tika.
"Apa lagi sih."
"Lo mau langsung ke rumah Hana?"
"Hmm ...." sahut Tika.
"Lo jangan lupa kabarin, ya." ucap Leo.
"Iyah tenang aja, nanti gue kabarin kamu, kalau udah di rumah Hana." ucap Tika lalu menghidupkan motornya.
"Iyah jangan lupa ya! Gue tungguin nhi." ucap Leo.
"Siap, gue kabarin. Ya udah gue pergi ya." tak mau lagi membuang waktu, Tika langsung menjalankan motornya, berlalu pergi meninggalkan pria bule itu yang tampak masih ingin berbicara.
"Ha .... emang ya tuh anak. Gue juga masih mau ngomong, udah ditinggalin gitu aja." Leo menatap kesal Tika yang sudah berlalu pergi.
"Han ..... lo kenapa sih? Gue harap lo baik baik aja. Baru satu hari aja lo ngga masuk, gue udah rindu banget." batin Leo.
"Rindu siapa lo?" Alex tiba tiba datang dari arah belakang.
"Astaga lo tuh ya, kenapa suka banget nongol dari belakang gini sih!" kesal Leo.
"Lagi rindu-in wanita seksi itu ya? Memangnya dia kemana?" tanya Alex dengan wajah santainya.
"Bukan urusan lo." ucap Leo lalu melengos pergi meninggalkan Alex.
Alex hanya bisa menatap sebal temannya itu. Bisa bisanya ditinggal pergi saat dia lagi penasarannya. "Benar benar ya, tuh bule. Untung Lo sahabat gue, kalau ngga gue bantai aja sekalian." gerutunya.
Ia tidak sadar jika ia juga serupa dengan sahabatnya itu sama sama bule dan suka usil. Jika orang tidak tahu mereka adalah sahabat, mereka pasti mengira keduanya adalah saudara kembar, karena wajah dan juga tingkah mereka tidak beda jauh. Alex memutuskan untuk menyusul Leo.
Satu jam telah berlalu.
Di kediaman Adam Matteo. Tepatnya dikamar Hana, wanita itu baru saja menggeliat pelan dari tidurnya. Ia meraba raba ranjang disampingnya, mencari sosok yang pagi tadi menemaninya tidur.
"Eungh! ...." lenguhan pelan terdengar dari mulutnya. Ia perlahan membuka matanya saat merasakan kosong disampingnya tidak ada Daddy-nya di-atas ranjang.
"Dad! .... Daddy!?" panggil Hana, buru buru mendudukkan tubuhnya di-atas ranjang.
Ia mengarahkan pandangannya ke seluruh arah kamar itu. Tapi tak melihat sedikit pun sosok pria bertato itu.
Wajahnya sudah terlihat sendu karena tidak mendapati daddy-nya di kamar itu. Tapi wajah sendu itu perlahan hilang, saat sosok yang dicari tadi baru saja membuka pintu kamarnya.
Adam tersenyum menatap Hana. Ia nampak sedang membawa nampan berisi sarapan siang untuk Hana. Pria itu melangkah mendekati Hana di-atas ranjang.
__ADS_1
"Kamu udah bangun, Maaf Daddy tadi ngambil sarapan buat kamu." ucap Adam saat sudah meletakkan nampan itu di atas meja samping ranjang.
"Aku pikir Daddy ninggalin aku, tadi." ucap Hana menatap Adam.
"Ngga, daddy ngga akan tega ninggalin kamu dengan kondisi seperti ini." ucap Adam lalu mengecup puncak kepala wanitanya.
"Ayo kamu harus makan siang." ucap Adam tersenyum.
Hana menganggukkan kepalanya membalas senyuman Adam. "Jadi Dads ngga ke kantor?" tanya Hana menatap pria itu yang sedang mengambil nampan.
"Ngga, Daddy kerja dari rumah untuk hari ini, kamu lebih baik dulu baru Daddy pergi." jawab Adam sambil tersenyum kearah Hana.
"Maafin Hana, ya Dad. Karena Hana, Daddy jadi nggak bisa kerja hari ini." ucap Hana dengan nada menyesal.
"Ngomong apa sih, ini justru ulah Daddy makanya kamu ngga bisa ke kampus. Udah jangan dibahas lagi, Daddy ngga mau kamu banyak pikiran. Kamu harus tenang dan jangan mikirin apa pun." ucap Adam dengan tegas.
Pria matang itu lalu menyodorkan satu sendok makan ke-mulut Hana. "Ah .... ayo makan!" ucap Adam.
Hana tersenyum lalu membuka mulutnya menerima suapan Adam. Ia mengunyahnya perlahan-lahan sambil terus memandangi Adam.
Suapan pertama Habis, Adam lalu menyuapkan lagi sendok kedua pada mulutnya, dengan senang hati Hana menerima suapan itu.
Adam dengan telaten menyuapkan Hana, hingga bunyi ketokan pintu terdengar dari luar kamar Hana. Adam menghentikan pergerakannya, menatap kearah pintu itu.
Aryo mengetuk pintu itu.
"Ada apa?" teriak Adam dari dalam kamar.
"Tuan, dibawah ada tamu." jawab Aryo.
"Temannya Nona Hana."
Hal itu membuat Hana dan Adam langsung saling menatap dengan ekspresi berbeda. Adam menatap menelisik sedangkan Hana dengan wajah bingung.
"Kamu nyuruh teman kamu datang ke sini?" tanya Adam.
"Nggak, seingat aku ngga ada yang aku nyuruh buat datang ke rumah.
"Aryo teman pria atau wanita?" tanya Adam dengan nada teriak.
"Wanita, Tuan. Sahabatnya nona Hana, namanya Tika."
"Tika!" Hana sontak melebarkan senyum senang karena sahabatnya itu menemui dirinya.
Adam yang mendengar nama Tika pun bernapas lega karena bukan teman pria. Ia memang tahu Tika adalah sahabat Hana.
"Kamu mau Daddy panggil Tika ke sini?" tanya Adam mengelus pipi Hana. Ia lalu menaruh nampan itu kembali di-atas meja.
"Boleh Hana ke bawah aja, buat nemuin Tika?" Dengan wajah memohon.
"Nggak, kamu nggak bisa kebawah. Kamu masih kesusahan jalan sayang. Biar Tika yang disuruh keatas nemuin kamu." sahutnya tegas.
Hana pun pasrah dengan keputusan Daddy-nya, lebih baik mengiyakan. Dari pada nantinya pria itu akan berubah pikiran dan mengusir Tika dari sini.
__ADS_1
Adam lalu beranjak menuju pintu itu, terlihat Aryo sedang berdiri di depan pintu itu. "Antar Tika ke kamar Hana!" perintah Adam kepada Aryo.
"Baik Tuan." sahut Aryo lalu melangkah pergi menuju lantai bahwa.
Setelah kepergian Aryo, Adam masuk kembali ke dalam kamar. Ia mendekati Hana. "Kamu mau ngobrol sama Tika?" tanya Adam saat duduk disisi ranjang, tepat di-samping Hana.
Hana mengangguk. "Iyah Dad." Hana menatap daddy-nya.
"Baiklah, Daddy beri kamu waktu buat ngobrol berdua. Tapi kamu harus habisin sarapan kamu, okay!." ucap Adam mengusap rambut Hana.
"Iyah, Dad. Nanti Hana habisin." Hana tersenyum menatap Adam.
Hingga pandangan mereka terhenti saat bunyi ketokan pintu terdengar lagi. "Itu pasti teman kamu, ya udah Daddy tinggalin kamu sama Tika." ucap Adam sembari mengecup pipi Hana sebentar, lalu beranjak dari kasur itu.
Hana tersenyum menerima kecupan Adam. Adam melangkah kearah pintu. Saat pria itu membuka benda itu, nampak sosok gadis berdiri didepan kamar Hana.
"Om ..." sapa Tika tersenyum remah.
"Kamu boleh masuk kedalam, Hana udah nungguin kamu." sahut Adam dengan wajah datarnya.
"Iyah Om." sahut Tika lalu masuk kedalam kamar Hana, setelah diijinkan masuk oleh pria matang tersebut.
Adam lalu menutup pintu kamar Hana, ia menatap sebentar kearah kamar itu lalu berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Ia memberikan kesempatan ia ini untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Sementara didalam kamar, tepat saat Tika msuk. Hana sudah terlihat begitu senang. "Tik! .... aku ngga nyangka kamu datang ke sini." ucap Hana dengan nada girangnya.
"Han! .... gue Khawatir banget tau nggak sama lo. Kamu kenapa ngga jawab panggilan dari gue sih. Dari semalam loh gue nelpon kamu." Tika dengan nada omel. Setelah mendudukkan tubuhnya di-atas ranjang milik Hana. Ia menggenggam tangan Hana terlihat raut Khawatir di-wajah Tika.
"Maaf, gue ngga tau kalau lo lagi hubungi gue." sahut Hana tersenyum kecil. Ia senang karena Tika begitu Khawatir padanya. Itu artinya sahabat itu begitu perduli pada dirinya.
"Kamu ngga kenapa napa kan?" tanya Tika sambil tangannya membalik badan Hana kearah kiri dan kanan, bermaksud memastikan sahabatnya itu baik baik sajam.
Hana terkekeh melihat tingkah Tika. "Gue ngga apa apa, cuman ngga enak badan aja kok." bohong Hana.
"Cuman ngga enak badan, tapi kamu cuman di tempat tidur. Aku ngga percaya kalau sekedar ngga enak badan." Tika tidak mempercayai ucapan Hana.
"Beneran aku cuman ngga enak badan aja. Udah, ngga usah Khawatir berlebihan gitu ih. Yang penting sekarang kamu udah lihat aku, gimana sekarang. Aku baik baik aja kok." ucap Hana tersenyum lebar.
Hana masih ragu dengan ucapan Hana. Tapi ia mencoba menepis keraguan itu. "Beneran kamu baik-baik aja?" tanya Tika.
"Hahah, Iyah kenapa sih kamu gitu banget reaksinya." Hana tertawa.
"Ih malah ketawa, aku tuh khawatir banget sama kamu tahu, dari semalam loh." ucap Tika.
"Iyah deh, Maaf ya sahabat baik ku." ucap Hana tersenyum meledek.
"Jangan bercanda ih, aku lagi serius juga."
"Iyah iyah, sekarang kamu udah di sini, ayo suap-in aku makan." ucap Hana manja sambil tersenyum.
Tapi tak membuat Tika menolak permintaan Hana. Ia tertawa kecil lalu meraih makanan Hana yang belum dihabiskan. Menyuapkan perlahan kearah Hana.
"Makan yang banyak, biar kamu bisa ke kampus lagi." kata Tika. Layak ibu yang sedang menasehati anak gadisnya.
__ADS_1
"Hu um." sahut Hana dengan mulut penuh makanan.
Tika terkekeh melihat tingkah Hana. Mereka mengobrol disela Tika menyuapkan Hana makan. Obrolan mereka pun berlanjut hingga Hana menghabiskan makanannya.