Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Merasa hanya dibutuhkan karena tubuhnya


__ADS_3

"Apa om beta bekerja di sini?" tanya Hana menatap Dimas.


Dimas tersenyum kecil melihat Hana. "Jika di bilang Beta mungkin sekarang, tidak untuk awal awalnya karena waktu pertema bekerja di sini aku sedikit tidak nyaman karena sikap Tuan Adam." hana menatap simpati pada Dimas.


"Maafkan sikap suamiku, mungkin aku tidak tau apa saja yang sudah suami aku lakukan hingga membuat om merasa tidak nyaman, tapi aku mohon maafkan dia." Hana meminta maaf atas nama suaminya.


"Kenapa malah sedih seperti ini, kamu tidak perlu minta maaf karena sikap Tuan Adam. Lagipula itu sudah menjadi tantangan kita untuk menjalankan pekerjaan ini apalagi ini bekerja di rumah seorang Tuan Adam." ucap Dimas.


"Ya tetap saja aku tetap akan memohon untuk memaafkan suamiku." ucap Hana.


"Ya baiklah, sudah aku maafkan sebelum kamu minta." ujar Dimas tersenyum.


"Aku lega mendengarnya. Semoga Om tetap bekerja di sini sampai nanti om mempunyai calon istri, maybe hehehe." Hana terkekeh.


"Cih doakan yang baik bisa kan?" Dimas pura pura mencebik kesal.


"Hahahah baiklah, semoga Om mendapatkan jodoh yang baik dan setia." ucap Hana.


"Aku ingin jodoh seperti kamu boleh?"


Eh eh apa ini? Kenapa tiba tiba om Dimas mengatakan itu. Hana seketika menatap canggung pada dimas.


"Hahahaha, om hanya bercanda kenapa malah terdiam seperti ini." tawa Dimas.


"Ih ommmmmm! kenapa suka banget ngerjain Hana." teriak Hana kesal wajahnya sudah terlihat sebal menatap Dimas.


"Hahhaha maafkan Om, baiklah sebagai permintaan maaf, kamu bisa memerintah om sesuka kamu."


"Benar ya? Aku boleh minta tolong sesuka aku?" Hana seketika berbinar.


"Iya tapi jangan yang aneh aneh dan susah karena aku tidak akan bisa." ucap Dimas.


"Ish tetap bisa karena om sudah mau menawarkan diri." Hana menatap tajam kearah dimas.


"Iya terserah kamu, sekarang apa permintaannya?"


"Hmmm, aku ingin makan soto sepertinya enak." Hana bahkan sudah membayangkan memakan makanan itu detik ini juga.


"Soto? Dimana? Jangan bilang kita akan ke resto itu lagi?" tebaknya.


"Tidak, aku ingin memakan soto yang ada di depan."


"Mas mas gerobak maksud kamu?"


"Iya, kok om tau? Apa om sering makan di situ?


"Tidak juga tapi hanya sekedar melihatnya saja kalau sedang melewati jalan itu."


"OOO."


"Ya sudah, biar om belikan." dimas lalu berdiri melangkah keluar.


"Makasih om." senang Hana di tempatnya.


Dimas tersenyum lalu pergi. Coba andai saja Hana adalah istriku sudah pasti aku sangat beruntung." membatin konyol. Diam diam pria itu juga suka dengan Hana tapi saat mengetahui Adam mempunyai hubungan dengan Hana membuat ia mengubur dalam dalam rasa sukanya.


*


*


*


"Sial, aku tidak bisa fokus jika seperti ini!" membanting dengan kasar berkas yang dipegangnya.


"Hei ada apa? Kenapa kamu terlihat kacau seperti ini?" Nanda bertanya saat masuk kedalam ruangan Adam.

__ADS_1


"Nanda! Kamu kenapa bisa ada di sini?" Adam bangkit dengan wajah kaget.


"Ya, aku menelepon kamu tadi tapi kamu tidak menjawabnya." Nanda tersenyum.


"Lalu?"


"Ya terus aku ke sini, apa lagi?" Nanda terkekeh dengan pertanyaan Adam.


"Tidak bukan itu maksud aku tapi kenapa kamu mendadak ke sini?"


"Cih apa kamu lupa? Kalau malam ini acaranya di mulai jadi aku ingin mengingatkan kamu lagi tapi kamu malah tidak mengangkat panggilan aku." Nanda menuju kearah sofa dan duduk di sana.


Adam lalu mengikuti Nanda dan duduk di-samping wanita itu.


"Astaga ia aku jadi lupa kalau hari ini acara ayah kamu." ucapnya menepuk jidatnya.


Masalahnya tadi pagi, berhasil membuat ia melupakan semuanya.


"Aku ke sini juga membawakan kamu makan siang, aku tau kamu pasti belum makan bukan?" Nanda mengeluarkan kotak bekal makanan itu dari kantung makanan yang ia bawa.


Adam bergeming menatap Nanda. "Apa kamu berubah pikiran lagi?" tanya Adam hati hati.


"Berubah pikiran? Maksudnya?" Nanda menatap bingung.


"Jika kamu datang membawa makan siang ini dengan maksud lain aku tidak ingin menerimanya. Bukankah kamu sudah sepakat jika mengikhlaskan aku dengan Hana?" Adam sudah dengan mode serius.


"Hahahha kamu kenapa sih Dam, aku cuman berniat membawa makanan untuk kamu karena perhatian sebagai seorang teman tidak lebih. Kenapa kamu malah berpikiran seperti itu." Nanda tertawa melihat Adam.


Adam merasa lega karena Nanda tidak bermaksud lain. "Syukurlah." batinnya lega.


"Ini dicoba dulu aku jamin pasti kamu akan suka dengan makanan buatan ku." senang Nanda menyodorkan kotak bekal itu pada Adam.


"Terima kasih." melihat makanan itu Adam jadi teringat tadi pagi saat berangkat ia tidak membuatkan susu hamil untuk istrinya, rasa bersalah menyinggahi dirinya.


"Ti-tidak aku hanya takjub saja dengan masakan kamu." ucapnya berbohong sambil tersenyum paksa.


"Ya sudah dicoba makanannya!" Nanda mempersilahkan.


Adam mengangguk lalu meraih sendok dan memasukkan makanan kedalam mulutnya dengan perlahan.


"Gimana? Enak?" tanya Nanda.


"Hemm enak, enak banget." ucap Adam menikmati makanan buatan Nanda.


"Aku senang kamu suka dengan makanan nya." sahut Nanda sambil menampakkan wajah senangnya.


*


*


*


Jam sembilan malam, dikamar Hana wanita itu sedang berbaring menyamping menghadap kearah pintu kamarnya.


"Apa papi tidak akan pulang? Ini bahkan sudah menjelang malam." gumamnya.


"Atau papi langsung ke acara Tante Nanda? Bukankah malam ini acara mereka dimulai? Lalu kenapa aku harus repot-repot menunggu, cih." kesal Hana lalu dengan cepat menarik selimut menutupi tubuhnya.


Hana membalikkan tubuhnya memunggungi pintu. Mendadak air matanya jatuh menetes di pipi mulus itu, ia merasa sedih hanya karena menolak keinginan suaminya tadi membuat Adam marah padanya.


Bahkan pria itu tidak pulang dan mungkin saja suaminya sudah menghadiri undangan makan malam Nanda, dibandingkan pulang menemui dirinya. Ia merasa suaminya hanya sekedar menginginkan tubuhnya saja, memikirkan itu membuatnya sedikit kecewa. Hana dengan cepat menyeka air matanya.


"Tidak boleh sedih! Kamu harus tetap bahagia Hana, ingat ada bayi di dalam perut kamu jika kamu sedih anak kamu juga akan ikut sedih." Hana menyemangati dirinya sendiri sambil mengelus perutnya.


"Apa mam akan melalui ujian baru, Nak? Jika memang iya, maka kuatkan mama agar bisa melalui itu." ucapnya sendu.

__ADS_1


Sementara Adam tengah berada di acara ayah Nanda, sore tadi ia sebenarnya ingin pulang terlebih dahulu menemui istrinya tapi ditahan oleh Nanda karena wanita itu menunggunya hingga sore hari di kantor.


Terpaksa Adam mengiyakan saja permintaan Nanda, mereka juga sempat ke butik untuk memesan baju menghadiri acara makan malam itu.


Acara itu diadakan di sebuah hotel bintang lima yang berada di Jakarta.


"Terima kasih Dam sudah datang."


"Sama sama Om."


"Ayo Dam, semuanya nikmati makan malam kalian." ayah Nanda mempersilahkan Adam dan juga para tamu undangan untuk menikmati makan malam mereka.


Setelah tadi pria tua itu memberikan sedikit pidato atas pembukaan cabang baru perusahaannya ayah Nanda, ayah Nanda pun beralih pada makan malam untuk para tamu undangan.


Adam satu meja dengan ayah Nanda dan juga Nanda, mereka tengah menikmati hidangan mereka. "Bagaimana dengan istri kamu?" tanya Hendra menatap Adam sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Dia sangat baik." ucap Adam tersenyum lalu meraih gelas jusnya.


"Itu bagus, apa dia tidak kuliah?"


"Dia sedang aku cuti kan." ucap Adam masih berusaha santai dengan pertanyaan pria itu.


"Wah sayang sekali bukan? Jika seseorang istri dari Adam Mateo tidak melanjutkan pendidikannya." ucapnya sedikit sombong.


Nanda yang mendengar ucapan ayahnya dengan cepat menyela. "Ayah!" Nanda memberikan peringatan dengan tatapan matanya.


"Tidak apa apa Nanda, lagipula kuliah atau tidaknya istri aku, dia tetap tidak akan kekurangan apapun karena aku sudah mencukupi semua hal untuknya." ucap Adam menatap serius pria didepannya.


Nanda yang berada di samping Adam menatap keduanya sambil menghela nafasnya. "Apa kita akan berdebat? Ayolah nikmati acaranya kenapa harus berdebat seperti ini." ucap Nanda.


Sontak kedua pria itu menoleh kearahnya. Lalu mereka kembali lagi, sibuk dengan hidangan mereka.


Satu jam berlalu Adam kini akan kembali pulang. Ia dan Nanda tengah berada di lobi hotel.


"Aku pamit," ucap Adam tersenyum kearah Nanda.


"Sampai ketemu lagi, aku senang karena bisa menghabiskan waktu dengan mu hari ini." ucap Nanda dengan cepat memeluk tubuh Adam.


"Sama sama, karena besok kamu akan pergi jadi aku menerima permintaan kamu, kalau tidak aku juga tidak akan mau." ucap Adam sambil membalas pelukan Nanda.


"Hahaha dasar menyebalkan." Nanda terkekeh lalu melepaskan pelukannya.


Adam tersenyum. "Ya sudah, aku pamit pulang." ucap Adam.


"Hati hati, salam pada istri mu." Nanda memandangi Adam yang sudah berlalu masuk pada mobilnya.


Tak ada sahutan, Adam hanya membunyikan klakson mobil dan menjalankan mobilnya meninggalkan lobi hotel.


Satu setengah jam perjalanan Adam tiba di rumahnya. Dimas dengan setia membukakan pintu gerbangnya. Adam langsung turun saat mobilnya sudah masuk dan berhenti.


"Selamat datang Tuan,"


"Hem, parkir kan mobil saya!" langsung memberikan kunci mobil kepada Dimas.


"Baik Tuan." Adam kemudian melangkah masuk kedalam rumah.


Adam membuka pintu kamar dengan pelan. Saat masuk kedalam kamar ia mendapati tubuh Hana yang sudah terlelap dalam selimut memunggungi pintu.


Ia langsung membuka jas kerjanya menggantungnya di gantungan khusus jas kerja. Ia melonggarkan dasinya, lalu melepaskan sepatu miliknya. Ia lalu berjalan menuju tempat tidur naik keatas ranjang.


"Maafkan papi, seharusnya papi tidak kekanakan seperti tadi." Bisik Adam menatap wajah terlelap Hana, pria itu lalu memindahkan guling yang dipeluk Hana.


Ia merapatkan tubuhnya pada Hana lalu membawa Hana kedalam pelukannya. "Papi salah karena meninggalkan mommy begitu saja." ucap Adam mengecup puncak kepala Hana.


Hingga beberapa menit kemudian Adam terbawah kedalam mimpinya dengan tubuh memeluk Hana.

__ADS_1


__ADS_2