Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Khawatirnya seorang sahabat.


__ADS_3

Sementara di bawah sana. Papi Barack begitu emosi karena anaknya pergi begitu saja, dari ruangan itu. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan keputusan anaknya itu.


"Dia sudah benar-benar, dibutakan oleh anak itu." gumam Papi Barack dengan wajah menahan amarah.


Ia lalu berjalan pergi dari ruangan itu. Saat akan melangkah kearah pintu pria tua itu menghentikan langkahnya. "Apa Adam membayar kalian hanya untuk mendengarkan pembicaraan orang lain!" bentak papi Barack dengan wajah marah. Sontak beberapa pekerja itu diam membisu dengan wajah takutnya.


Pria itu menjadi semakin emosi karena saat akan melangkah keluar, ia malah melihat para pekerja diam diam menguping pembicaraan mereka, sedari tadi.


"Siapapun yang sudah menyaksikan perdebatan tadi, aku peringatkan tutup mulu kalian rapat rapat! jika ada yang berani menyebarkan hal ini diluar sana, aku pastikan kalian tidak akan selamat. Paham kalian!" bentaknya dengan suara keras.


"Pa-paham Tuan ....." ucap mereka sambil menunduk dengan gugup. Seluruh badan mereka bergetar takut oleh amukan papi Barack.


"Bagus ...." Pria tua itu, lalu berjalan meninggalkan mereka dari tempat itu.


"Karena aku tidak mau sampai ada yang tahu jika anak ku menyukai gadis sialan itu, gadis pungut yang tidak punya keluarga, ha ...." batin papi Barack dengan begitu kesal, disela langkah kakinya.


Ia tidak ingin malu karena anaknya menyukai wanita sebatang kara, yang tidak mempunyai keluarga sama sekali.


Di depan ruang tamu, tepatnya memasuki pintu ruangan tamu. Tiga pekerja yang habis dimarahi oleh papi Barack itu nampak sedang bernafas lega karena pria tua itu sudah pergi dari tempat itu.


"Gue benar benar gugup banget tadi, ya ampun anak sama papi sama sama jahat, ternyata." ucap salah satu dari mereka.


"Iyah benar, tapi gue masih nggak percaya banget tentang Tuan Adam sama Nona Hana, selama ini mereka diam diam udah jalin hubungan terlarang. Jadi apa yang kita pikirkan memang benar terjadi." sahut salah satu pembantu itu.


"Iyah benar, gue juga udah curiga dari awal sih sama gerak geriknya Tuan Adam. Perhatiannya dia ke Nona Hana memang udah beda banget dari perhatian ayah untuk anaknya." ucap salah satu pembantu itu dengan menggeleng kepala.


Dan tiba tiba terdengar suara BI Surti menghentikan pembicaraan mereka. "Jangan terlalu mengurusi masalah orang lain, kalau diri sendiri aja belum benar. Apa begitu cara kalian menghakimi orang lain yang sedang tertimpa masalah?" kata bi Surti menatap kesal kearah tiga wanita itu.


Mereka bertiga hanya bisa diam sesekali melirik pembantu senior itu. "Udah sana lanjutkan pekerjaan kalian."


Ketiganya pun melangkah pergi dari situ. "Ha .... semoga Nona Hana baik-baik aja." wanita paruh baya itu mengembuskan napasnya pelan, sambil bergumam penuh harap agar Hana dan Adam bisa melewati masalah ini. Karena keduanya sudah berani memulai dan harus berani juga menyelesaikan masalah ini.

__ADS_1


...****************...


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang.


Di kampus. Tika mondar mandir didalam kelasnya dengan guratan khawatir, tampaknya sedang menelepon seseorang tetapi tak kunjung diangkat.


"Lo kemana sih, Han?" ucapnya khawatir.


Pasalnya sejak semalam ia menelpon wanita itu, juga tak kunjung dijawab hingga siang ini, sahabatnya pun sama sekali tidak mengangkat panggilannya.


Dan rasa khawatirnya makin menjadi saat Hana juga tidak masuk hari ini. "Semoga lo, ngga kenapa napa." ucapnya menatap layar hp itu, memandangi panggilan yang sudah berulangkali ia lakukan.


Terlihat Leo memasuki kelas Hana dan juga Tika. Pria bule itu mencari cari sosok yang dari semalam mengangu pikirannya, tapi nihil tak terlihat sosok itu sedikit pun. Ia lalu berjalan menuju Tika.


"Tika! ....." panggil Leo sambil melangkah mendekati wanita itu.


Tika yang masih terus menghubungi Hana, sontak mengarahkan pandangannya kearah Leo. "Leo?"


"Gue juga ngga tau, kenapa Hana nggak masuk hari ini. Gue udah nelpon dia dari semalam tapi ngga dijawab sama dia." ujar Tika memberitahukan.


"Kok bisa? Terus sampai siang ini juga ngga dijawab?"


"Iyah, makanya gue Khawatir banget nhi, soalnya dia ngga biasanya kayak gini. Apa gue ke rumah dia aja ya?" Tika memberikan ide.


"Dia kenapa?" Leo mendadak bego sendiri dengan melontarkan pertanyaan itu.


"Astaga Leo, ya mana gue tau, orang gue aja ngga dijawab telfonnya." ucapnya kesal


"Ah sorry, maksud gue bukan itu. Tapi kenapa Hana nggak ada kabar, itu artinya Hana ngga baik baik aja. Gue juga mau ikut lo ke rumah Hana." ucap Leo dengan wajah khawatir.


"Jangan buat gue makin khawatir lah, gue udah berusaha meyakinkan diri gue bahwa Hana baik-baik aja, lo malah ucapin gitu." kesal Tika.

__ADS_1


"Ya bukan gue bermaksud kayak gitu, tapi bisa aja kan?" ucap Leo menatap Hana.


Hana pun membatin setuju dengan ucapan bule playboy itu. Mungkin saja sahabatnya itu sedang punya masalah. "Gue harus ke rumah Hana, entar pulang." ucap Hana.


"Gue juga ikut ke rumah Hana."


Tika menatap sebentar kearah Leo lalu berucap. "Kayaknya lo ngga bisa ikut ke rumah Hana deh, soalnya udah pasti Daddy-nya ngga bakal ijinin masuk."


"Loh, kenapa? Kita punya niat baik buat ke sana, alright?"


"Iyah gue tau, tapi masalahnya Daddy-nya Hana ngga bisa terima kalau ada teman cowok yang datang, gue tau banget Daddy-nya kayak gimana, dia posesif banget sama anaknya." Hana menjelaskan.


"Tapi kan gue pengen liat keadaannya dia gimana." ucap Leo.


"Atau gini aja deh, nanti kalau gue udah di rumah Hana, gue bakalan video call kamu supaya bisa lihat keadaan Hana di-sana gimana." Tika mencoba memberikan penawaran pada pria bule itu agar tidak ikut juga ke rumah Hana.


Mendengar itu Leo berpikir sejenak, mengiyakan atau ikut juga ke rumah Hana. Cukup lama ia berpikir pria itu pun mengangguk setuju. "Ya udah deh, jangan lupa video call gue kalau udah di sana nanti."


"Ah .... syukurlah. Kalau kayak gini kan gue bisa mudah masuk, ke rumah Hana. Nanti kalau ada si bule ini, yang ada gue di suruh pulang juga sama Daddy-nya Hana." batinnya.


"Oke jadi kita sepakat ya lo, ngga ikut." kata Tika.


"Iyah gue ngga ikut." Leo mengalah.


Obrolan itu pun terhenti saat dosen wanita terlihat memasuki kelas Tika. "Loh Leo! ngapain kamu disini?" ucap salah satu dosen itu, beliau menatap heran bule itu.


"Eh ini Bu, saya baru aja kembalikan bukunya Tika." ucapnya sambil tersenyum.


"Terus kenapa masih di sini?" ucap wanita berbadan besar tersebut.


"Ini juga saya mau keluar Bu, tapi berpapasan sama kedatangan Ibu. Ya udah kalau gitu saya permisi Bu." ucapnya tersenyum melangkah keluar dari kelas.

__ADS_1


Tika dan Para mahasiswa dikelas itu, menggelengkan kepalanya melihat Leo yang begitu pandai memberikan alasan kepada dosen mereka.


__ADS_2