Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Emosi


__ADS_3

Hana selesai menganti pakaiannya untuk ke kampus. Ia menatap penampilan di cermin sebelum melangkah keluar.



Ia terlihat cantik dengan kaos lengan panjang berwarna hitam, rambut coklatnya ia biarkan terurai. Setelah memastikan penampilannya sudah terlihat bagus. Ia langsung melangkah keluar meninggalkan kamarnya.


Saat menuruni tangga, hp Hana berbunyi dari dalam tasnya. Ia kemudian meraih benda itu dan mengangkatnya.


"Halo, iyah ini aku juga baru mau berangkat." ucap Hana menjawab panggilan dari Tika sembari terus melangkah turun.


"Iyah buruan ke sini! Benar lagi udah mau di mulai kelasnya." sahut Tika sambil memperhatikan arah pintu ruangan mereka.


Tika memang sudah di kampus dari beberapa jam yang lalu, karena harus mengurus sesuatu di kampus itu.


"Yang benar kamu? Jadi lo udah di kampus? Kenapa ngga bilang sih dari tadi." ucapnya dengan berlari terburu.


Sedari tadi Hana pikir Tika masih di rumah dan hanya memastikan dia sudah berangkat atau belum. Dan ternyata wanita malah telah duluan ke kampus.


"Ya udah, gue udah mau berangkat. Bye." ucap Hana langsung mematikan sambungannya karena sudah terlalu buru-buru.


Sementara Tika yang ingin berbicara pun terhenti karena dimatikan sepihak oleh Hana diseberang sana. Tika menggeleng geleng kepala melihat hpnya.


"Kebiasaan tuh anak." Tika terkekeh pelan.


"Om Aryo, cepat-in dikit dong kecepatan mobilnya!." ucap Hana dengan nada tidak sabaran.


"Iyah Nona, ini juga udah paling cepat kecepatannya." ucap Aryo yang fokus menyetir.


"Aduh, ini semua gara gara Daddy nhi." ucapnya begitu kesal sambil menatap jam ditangannya.


"Memangnya Tuan kenapa Non?" ucap Aryo dengan polosnya menoleh sebentar kebelakang.


"Ngga, ngga kenapa napa, udah om fokus aja nyetirnya." sangkal Hana.


"Iyah Non." sahut Aryo.


Beberapa menit kemudian mobil yang ditumpangi Hana telah memasuki halaman kampus. Sampainya di dalam, Hana langsung dengan cepat cepat turun tanpa menunggu dibukakan pintunya oleh Aryo.


"Sebentar ngga usah jemput saya!." ucap Hana dari luar saat Aryo menurunkan kaca mobilnya.


Aryo menatap dengan wajah bingung. "Loh kenapa ngga di jemput Non?"


"Soalnya saya lagi punya tugas kelompok bareng teman kampus, saya pulangnya sore paling telat ya jam tujuh malam." ucap Hana menyahut pertanyaan Aryo.

__ADS_1


Sontak Aryo membulatkan matanya mendengar waktu yang Hana lontarkan. "Non tapi nanti Tuan ma_"


"Ngga akan marah, saya pulangnya sama Tika. Bilang aja kayak gitu sama Daddy." Hana dengan cepat menyela ucapan Aryo.


"Ya tapi ka_" ucapan Aryo lagi lagi terhenti karena Hana sudah pergi meninggalkannya.


"Ya ampun, Non suka banget buat masalah. Bentar lagi gue bakal jadi sasaran Tuan nhi." ucapnya kesal memukul stir mobil.


Saat masuk ke ruangannya. Hana begitu bernapas lega karena ia masih bernasib baik hari ini, ia datang sebelum dosennya masuk.


Tika dari tempat duduknya menatap Hana dengan senyum senang. "Ayo masuk." ucap Tika sedikit berteriak pelan karena posisi Hana yang masih berdiri di pintu dengan mengatur nafasnya.


Hana lalu melangkah menuju tempat duduknya. "Gue pikir udah mulai materinya." ucap Hana setelah duduk di samping Tika. Tempat duduk mereka memang berdekatan.


"Tadinya sih hampir mulai, cuman dosennya permisi sebentar untuk keluar."


"Yang benar lo?." ucap Hana kaget.


"Iyah, tapi emang bernasib baik sih lo." ucap Tika tersenyum.


"Hu ... untung aja gue suruh om Aryo cepat-in mobilnya tadi." Hana terkekeh pelan.


"Aryo siapa?" tanya Tika dengan heran.


"O ..." Tika hanya membulatkan mulutnya.


"By the way, kelompok kita udah dibagi kan?" tanya Hana.


"Iyah dong, enaknya ditempat mana ya buat tugasnya?" tanya Tika sambil mengetuk-ngetuk pulpennya di kepalanya berpikir.


Hana hanya menatap sahabatnya itu. Ia juga bingung


"Gimana kalau di cafe milik Leo aja?" ucap Tika memberikan ide.


"Boleh juga sih, soalnya cafe keluarga mereka juga gaya anak mudah banget kan? Pasti nyaman kita ngumpul buat kerjain tugasnya di situ." sahut Hana.


"Iyah, itu juga yang gue pikirin tadi." ucap Tika.


Tika memang mengenal dan cukup dekat dengan Leo karena sikap pria itu yang terbilang friendly membuat ia mempunyai banyak teman dan dikenal banyak orang di kampus itu.


Tak berapa lama kemudian dosen pria itu masuk kedalam ruangan mereka.


"Baik, kita mulai materi kita." ucap dosen itu dengan ramah melangkah ke tempat duduknya di depan.

__ADS_1


"Baik pak ... ucap mereka bersamaan.


Mereka begitu fokus mendengarkan apa yang dosen pria itu sampaikan. Hana dan juga Tika dengan serius mendengarkan materi yang beliau paparkan.


🍂🍂🍂


Ditempat lain, Adam baru saja selesai dengan rapat bulanan yang diadakan hari ini. Ia melangkah menuju ruangannya dengan kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana.


Tampak juga beberapa karyawan yang membungkukkan kepalanya dengan sopan saat berpapasan dengan CEO mereka. Adam hanya membalasnya dengan anggukan kepala.


Ia lalu mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya sambil memangku satu kakinya di paha. Baru saja beberapa detik ia duduk, terdengar bunyi telepon yang berada di balik sakit jasnya.


Adam meraih benda itu lalu mengangkatnya. "Hmm." ucapnya singkat.


"CK ... apa begitu cara kamu menjawab panggilan dari papi mu?" ucap kakek Barack dengan berdecak kesal.


"Katakan! Apa lagi yang papi inginkan?" tanya ucap Adam dengan santainya.


Kakek Barack hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Sikap Adam memang tidak beda jauh dengannya, terkesan angkuh dan pemaksa.


"Minggu depan Nanda akan datang, papi hanya ingin mengingatkan hal itu." ucap kakek Barack diseberang sana.


"Masih Minggu depan bukan? Kenapa papi terus aja ingatin Adam, lagian masih lama pi." ucapnya dengan kesal.


"Kakek hanya mau mengingatkan saja karena jika kamu sudah fokus dengan anak kesayangan kamu itu, kamu bisa lupa segalanya. Dan papi tidak suka hal itu." ucapnya marah.


"Pi ... sedikit aja ... Adam ingin dengar papi berkata baik sama Hana. Dia juga anak aku, pi. Yang udah pasti juga cucu papi." ucap Adam terdengar menahan emosi.


Adam sangat tidak suka jika kakek Barack selalu berbicara buruk tentang Hana. Rasanya hatinya juga ikut sakit mendengar hal itu.


"Hahaha ... kamu tuh lucu ya Dam? Cucu papi kamu bilang? Hana itu anak dari keluarga yang tidak jelas asal usulnya hingga kamu membawanya ke dalam keluarga kita menjadikan dia anak angkat kamu." ucap kakek Barack dengan perkataan yang begitu angkuhnya.


Sontak Adam tersulut emosi mendengar penuturan papinya dengan mengepalkan tangannya kuat. "Cukup! Dari mana pun Hana berasal Adam tidak perduli! Dia tetap menjadi bagian kehidupan Adam, dan papi tidak berhak mengatur ngatur hal itu!." ucapnya dengan nada membentak.


"Hahaha, kita lihat saja sampai di mana hubungan ayah dan anak itu." ucap kakek Barack dengan sombongnya.


Barack langsung mematikan sambungan telponnya. Sementara Adam dengan emosi mengebrak meja kerjanya dengan kuat.


Brak


"Akh ... ****! Dasar pria tua." Adam mengumpat papinya dengan emosi.


"Hana ... kamu akan tetap bersama Daddy apapun yang terjadi! Tidak akan Daddy biarkan siapapun yang berani memisahkan kita, tidak akan!." ucapnya dengan tatapan tajam dengan rahang yang mengeras menahan emosinya.

__ADS_1


__ADS_2