Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
makasih karena udah berjuang


__ADS_3

Hana terus menatap Adam sejak tadi, sejak lelaki itu tiba di depannya dan memeluk tubuhnya erat. Sejak lelaki itu membawanya di-atas ranjang hingga kini selesai dari aktivitas panas mereka, Hana masih terus menatap Adam. Hana tidak berani beralih sedikit pun, ia takut itu hanyalah mimpinya saja.


"Ini sudah malam, kamu ngga ngantuk?" tanya Adam yang mendapati wanita di dalam dekapannya ini masih terjaga. Keduanya kini masih sama sama polos dibalik selimut tebal itu.


"Daddy tidak akan kemana-mana." ujarnya lagi mencoba menenangkan.


Tapi Hana menggeleng, masih terus memandangi Adam. "Hana belum ngantuk, kalau Daddy ingin tidur, tidur saja."


"Kamu kenapa, hmm?" Adam akhirnya bertanya demikian karena merasa heran pada Hana yang sejak tadi terus menatap wajahnya.


"Ada yang sakit? Apa karena permainan Daddy terlalu kasar?" sambil mengelus punggung polos Hana.


Kepala itu menggeleng lagi, kali ini diiringi dengan lipatan di bibirnya, membuat Adam gemas dan ingin menggigitnya. "Hana takut ini hanya mimpi."


"Hana takut ini hanya bayangan Daddy." Adam sontak membelalak, sedikit menjauhkan tubuhnya untuk menatap lebih jelas lagi wajah Hana.


"Maksud kamu?"


"Hana takut ini cuman mimpi, karena Daddy pergi meninggalkan Hana begitu aja." Adam membawa jari jemari Hana untuk ia letakan di atas wajahnya.


"Ini Daddy, Hana. Daddy beneran pulang, di sini, sama kamu."


"Daddy datang untuk kamu."


"Jadi semua udah selesai?" Adam menggeleng seraya menyunggingkan senyumnya. "Bukan sudah selesai, tapi ini adalah awal yang baru buat kita.


"Jadi, kita benar-benar akan bahagia?" Adam terkekeh geli, pria itu menarik pelan hidung mancung Hana gemas.


Mengapa wanitanya masih saja tidak mempercayainya?


"Daddy ngga apa apa?" tanya Hana khawatir.


"Memang Daddy kenapa?" Adam bertanya dengan alis terangkat tinggi. Ia menatap bingung wanitanya itu.


"Orang tua Daddy?" Lalu spontan Adam terdiam.


Sebelum pamit pulang dari rumah orangtuanya. Adam sempat bertengkar dengan Papi Barack yang disaksikan oleh Mami Ani.


Papi Barack melarang istrinya untuk bertemu dengannya, beliau bilang ini hukuman karena ia telah melawan keinginan Papinya.


Adam merasa sangat tidak masalah, jika Papi-nya tidak menyukainya lagi dan membencinya. Yang terpenting untuknya adalah restu dari mami Ani yang sudah ia dapatkan. Tapi, Adam merasa sedih saat Papi Barack melarang Maminya untuk bertemu dengannya.


Bahkan Papi Barack sempat mengatakan kalau beliau tidak sudi lagi Adam datang menjenguknya saat ia tiada nanti. Seburuk apapun Papi Barack, beliau tetap lah seorang ayah yang sangat Adam hormati. Pria itulah yang membuat ia menjadi Adam yang sekarang.


"Apa ada masalah lagi?" tebak Hana saat mendapati Adam yang terdiam.


Adam buru-buru mengelak. "Tidak."


"Itu pasti karena Hana, bukan?." perasaan seorang wanita.


"Ini bukan karena kamu. Jangan pernah salahkan diri kamu atas masalah ini." ucap Adam cepat. Ia tidak suka jika Hana terus menyalakan dirinya sendiri.


Hana terdiam menatap Adam. "Memang benar kan? Karena Hana, Daddy jadi bermasalah dengan Oma dan juga Kakek."

__ADS_1


"Shut .... jangan bilang kayak gitu lagi, Daddy akan tetap mempertahankan kamu." ucapnya sambil mengunci bibir Hana dengan satu jarinya ia letakkan di depan bibir seksi itu.


Hana menatap daddy-nya dengan perasaan terharu sekaligus sedih. Sedih karena Adam mempunyai hubungan yang tidak baik lagi dengan Oma dan kakeknya. Hana pun mengeluarkan perkataannya.


"Daddy ngga sendiri lagi, Ada Hana yang akan selalu berada di-samping Daddy. Jadikan Hana kekuatan Daddy, jadikan Hana tempat Daddy pulang dan bercerita, jadikan Hana sebagai sandaran dari segala macam ujian di hidup Daddy.


Adam tertegun. la tidak pernah merasa senyaman ini, Adam tidak pernah merasa begitu lega seperti ini hanya karena mendengar kalimat-kalimat penguat dari seorang wanita.


Bersama Hana terkadang Adam dapat merasakan sesuatu yang baru, bersama Hana ia bisa menembus batasan-batasan yang selama ini tidak pernah ia lakukan.


Melawan Papi yang selama ini ia hormati, bertengkar hebat dengan Papinya yang selama ini tidak pernah ia lakukan. Tapi Adam merasa lega, karena bisa melewati hal itu.


"Terima kasih, sayang." Karena Hana adalah ketidakmungkinan yang terasa benar. "Terima kasih karena kamu masih mau bertahan dan menunggu Daddy, walaupun sikap Daddy yang pernah kasar sama kamu."


Karena terkadang dari sebuah kesalahan, membuat kita bisa mengerti artinya kehidupan.


Hana tersenyum dengan mata berkaca-kaca mendengar ucapan tulus Daddy-nya, Hana masuk kedalam pelukan Adam dan memeluk pria bertato itu dengan erat.


"Sama sama, maafin Hana karena sempat salah paham sama Daddy, karena Daddy yang tiba tiba hilang kabar."


Adam tersenyum tipis mendengar sahutan Hana. Ia memang sempet berpikir seperti itu jika Hana akan terluka dan salah paham dengannya, karena pergi tanpa kabar sama sekali.


"Jangan nangis, Daddy punya kabar gembira untuk kamu." ucap Adam saat mendengar Hana yang menangis pelan.


Adam melepaskan pelukan Hana, meraih wajah itu dan menatap dalam wajah Hana sambil tersenyum. Hana membalas tatapan itu dengan wajah yang bertanya tanya.


Kabar gembira? Bukannya Adam sedang sedih karena bermasalah dengan orang tuanya? Kenapa malah kabar gembira yang ingin Adam sampaikan.


"Kabar gembira? Kabar apa Daddy?"


Hana sudah menyiapkan perasaannya saat Adam akan mengatakannya. Kabar gembiranya adalah ...."


"Apa Daddy? Jangan buat Hana semakin bertanya tanya." Hana sudah terlihat menahan air matanya.


"Hei Daddy juga belum mengatakan apapun, kamu sudah mau nangis gini." Adam merasa lucu dengan wajah Hana.


"Kamu tau kenapa Daddy pulang?" Adam semakin bermain tebak-tebakan dengan Hana. Sontak hal itu membuat Hana menjadi kesal.


"Karena Daddy diusir sama kakek." tebak Hana dengan asal. Hal itu membuat Adam tergelak lucu.


"Hahah, bukan sayang. Ayo tebak lagi." ucap Adam.


"Atau jangan jangan, Daddy mau ke sini karena mau main kuda-kudaan sama Hana." tebak Hana dengan wajah yang sudah terlihat kesal sekaligus menahan marah.


Dia sendiri yang mengatakan hal itu, dia sendiri juga yang merasa kesal. Hana memang benar benar aneh.


Sontak hal itu membuat Adam tertawa kencang. Bisa bisanya Hana berpikiran negatif seperti itu disaat seperti ini. "Hahaha, kenapa pikiran kamu jadi sempit gini sih sayang." ucapnya sambil mencubit gemas pipi Hana.


"Aow sakit Daddy." desis Hana dengan wajah menekuk.


"Daddy jadi pengen makan lagi kan." ucap Adam.


"Jangan aneh aneh Daddy, Daddy belum jawab pertanyaan Hana tadi." Hana memang tau apa yang Daddy nya maksud dengan ucapan pengen makan tersebut.

__ADS_1


Adam mengusap gemas rambut Hana lalu mengecup puncak kepala Hana dengan lembut. Setelah memberikan kecupan itu Adam kembali menatap Hana. "Jadi kabar bahagianya adalah, Oma telah merestui hubungan kita sayang." ucapnya dengan nada bahagia.


"Ap apa?" Hana masih berusaha menyesuaikan pendengarannya atas pernyataan lelaki itu tadi.


"Iyah, Oma udah restu-in kita. Dia meminta maaf karena sempat menolak kamu sebagai menantu keluarga Matteo." ucap Adam dengan wajah bahagia.


"Daddy ..... Ini benar, kalau Oma udah restu-in kita." tanyanya tidak percaya.


"Iyah sayang, benar. Itulah alasan kenapa Daddy memutuskan pulang, karena berusaha meminta restu itu." ucap Adam.


"Ya ampun, ini benar benar seperti mimpi, Daddy."


"Dan sayangnya ini adalah kenyataannya." sahut Adam tersenyum lebar.


Hana langsung memeluk kembali tubuh itu, membenamkan wajahnya di-dadanya bidang Adam. "Makasih karena udah berusaha mendapatkan restu itu." ucapnya sambil meneteskan air mata haru.


Adam mengecup berulang ulang kepalanya dengan sayang. "Sama sama."


Ia lalu melepaskan pelukannya itu saat mengingat sesuatu. "Tunggu sebentar! Daddy punya sesuatu lagi dari Oma."


Adam kemudian beranjak dari ranjang itu dengan tubuh tanpa sehelai benang pun dan melangkah mendekati sofa, dimana celana kerjanya tergeletak. Meraih sebuah kotak kecil dan juga surat yang dititipkan oleh maminya.


Sementara Hana sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Adam dengan wajah bingung. Sebenernya apa yang pria itu ambil.


Pria itu lalu melangkah Kemabli di-atas ranjang tersebut. Posisi Hana sudah kembali terduduk. "Daddy ngambil apa?"


Hana bertanya saat melihat Adam memegang satu kotak kecil dan sebuah lembar kertas, yang bisa ditebak ada sebuah tulisan didalamnya.


"Ini dari Oma untuk kamu. Ayo dibaca!" Ia menyodorkan sebuah surat itu dan juga kotak kecil kepada Hana.


Hana langsung membuka duluan kertas itu. Tertera nama Oma Ani di akhir kalimat itu. Ia membaca kata demi kata, dan dua bulir kristal lolos begitu saja di pipinya. Ia terharu membaca permintaan maaf dari Omanya.


"Dad ...." Adam yang mengerti pun dengan cepat memeluk tubuh polos Hana.


"Are you happy, for this?" tanya Adam disela pelukan itu. Hana mengangguk. "Verry." sahut Hana.


"Udah sekarang kamu buka juga kotak itu." melepaskan sebentar pelukannya.


Hana menurut lalu dengan cepat membuka kotak kecil itu. Matanya terbelalak melihat benda tersebut. "Dad .... Ini dari Oma?"


"Iya, kamu senang?" Tanya Adam dengan wajah berbinar.


"No, I want cry for this." Hana memang mudah sekali tersentuh hatinya.


"Why? Kenapa harus sedih?"


"Karena Hana terharu Daddy." ucapnya dengan bibir monyong ke-depan.


Adam tergelak lalu meraih tubuh itu memeluknya erat. "Itu bentuk permintaan maaf dari Oma."


"Tapi Hana ngga butuh itu, Hana hanya butuh Oma menerima Hana."


"Anggap aja ini bonus untuk kamu."

__ADS_1


Dan mereka terus berpelukan di-atas ranjang itu dengan tubuh polos. Sesekali terdengar tawa dari keduanya yang mengisi malam sunyi itu. karena Adam yang mencoba memberikan candaan pada Hana. Mereka terlihat begitu bahagia.


__ADS_2