
Adam mengenakan jas dan dasi nya dengan tergesa, karena aktivitas panas mereka satu jam yang lalu. Yang tadinya kejar kejaran, malah berakhir dengan kuda-kudaan. Jam sembilan pagi ini dia harus menghadiri rapat penting dengan beberapa investor luar negeri.
Sementara Hana memperhatikan Daddy-nya sambil berbaring di bawah selimut.
"Kamu, jangan kemana-mana! tetap di dalam, sampai Daddy pulang, okay! Suasana disini masih asing buat kamu. Kalau kamu pengen sesuatu yang memang mengharuskan kamu untuk keluar, kamu tinggal hubungi Aryo biar dia yang lakukan." ucap Adam dengan nada perintah.
Hana mengangguk, lalu bangkit, menyugar rambut coklatnya yang berantakan, kemudian membenahi selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. Menggerakkan jarinya, mengisyaratkan Adam untuk mendekat.
"Kenapa?" tubuh Adam mendadak menegang, "Kamu jangan macam-macam. Daddy nanti terlambat. menatap penuh curiga.
Hana hanya tersenyum, terus menggerakkan jarinya menyuruh Adam mendekat. Pria itu menghela napasnya pelan, tak mampu menolak gadisnya yang sudah tak gadis lagi.
Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Hana, mendekatkan wajahnya, bersiap menerima apapun yang akan dilakukan perempuan itu.
Hana masih terdiam, mengulurkan kedua tangannya ke pundak Adam. Mengelusnya pelan, membuat dada pria itu bergemuruh lagi.
"Dasinya miring." tangannya membenahi dasi Adam yang memang benar miring. Merapikannya kembali. Seketika membuat wajah pria di depannya memerah.
Bisa bisanya pria dingin sepertinya dibuat memerah karena gadis seksi didepannya ini.
"Cih!!" Adam berdecak kesal.
"Daddy kan mau meeting, harus rapi dong." Hana mengulum senyum. Mengetahui pria di hadapannya sedang salah tingkah.
Adam mengusap lagi pundak lebar Hana yang tubuhnya masih condong ke arahnya.
"Katanya terlambat?" Hana mengingatkan. Adam tersadar dari khayalannya, kemudian terkekeh pelan. Saat menyadari kekonyolannya.
"Pokoknya jangan kemana-mana, tunggu Daddy pulang. Oke?"
"Oke Daddy." Hana mengangguk lagi. Pria itu bangkit, mengecup puncak kepala Hana sebentar. "Ingat pesan Daddy!" Adam mengingatkan kembali.
"Iyah Daddy." ucap Hana tersenyum lebar." Adam kemudian melangkah pergi meninggalkan Hana di dalam vila itu.
Hana menatap kepergian daddy-nya sambil menghela napas pelan. "Gue mau ngapain ya, di vila sendirian kayak gini? Koleksi buku aku juga belum dibawah ke sini lagi." Hana mengingat bukunya yang tidak sempat dibawah.
Karena Hana berpikirnya Adam hanya sekedar mengajak jalan-jalan saja keluar, makanya dia tidak punya persiapan sama sekali.
"Hah mandi dulu ah, biar nggak lengket." Hana mengulas senyum lalu bangkit dari ranjang itu, berjalan berlenggak lenggok dengan tubuh polosnya.
Lima belas menit kemudian. Hana sudah terlihat segar berjalan keluar menuju lemari pakaian. Nampak baju baju yang sudah tertata rapi didalam sana, bahkan ia bisa tebak semu baju itu sesuai dengan ukuran badannya. Bukan hanya baju tetapi pakaian dalam pun lengkap berada didalam lemari.
"Daddy emang benar benar udah siapin semuanya, begitu sempurna." gumamnya begitu takjub dengan persiapan daddy-nya. Hana meraih pakaian santai dan memakinya.
__ADS_1
Setelah selesai, Hana memutuskan untuk keluar menuju tokoh terdekat yang tidak jauh dari vila itu.
Berlama-lama diam sendiri didalam bangunan cantik itu membuatnya agak boring. Dengan membawa tas kecil yang didalamnya berisi ponsel dan beberapa lembar uang, untuk membeli beberapa cemilan
Hana mengenakan tank top berwarna hitam, dipadu bawahan celana pendek sebatas paha, memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus.
Hana berjalan menyusuri pinggiran pantai yang lengang. Sepertinya dia lupa perkataan daddy-nya yang mengatakan dirinya tidak boleh pergi terlalu jauh.
Pantai itu memang baru dibuka belum lama. Pembangunan resort dan fasilitas pendukung baru akan diresmikan bulan ini. Itulah sebabnya belum ada pengunjung yang datang.
Ditambah dengan konsep resort yang memang difungsikan sebagai pulau pribadi. Membuatnya menjadi destinasi wisata eksklusif bagi kalangan tertentu yang mampu membayar dengan sangat mahal.
Hana seperti lupa dengan segala hal. Matanya begitu dimanjakan oleh pemandangan luar biasa indah, yang ada didepannya ini. Air pantai yang bersih sehingga dirinya dapat melihat ikan-ikan cantik yang berenang lincah dibawah dasar juga pasir yang begitu putih dan bersih.
Udara bersih dan angin sepoi-sepoi seperti melayangkan segala ingatannya tentang apapun. Perempuan itu begitu menikmati petualangannya yang baru saja dimulai. Hana tak henti-hentinya mengabadikan setiap momen indah yang dia alami di pantai.
Hana kemudian memamerkannya di story sosial media nya. Dia senang berlama-lama berada di tempat itu. Hana berlarian seperti anak kecil mengejar burung pantai yang sedang mencari makan, melihat hewan hewan laut.
Hingga tibalah dia di sebuah tempat indah lainnya. Hutan yang terhubung dengan tebing yang menghadap ke lautan lepas.
Hana berdiri hampir di pinggir tebing, menatap dari jauh. Laut biru dan langit yang cerah. Awan putih menghiasi cakrawala tempat yang begitu eksotis itu.
Hana memejamkan mata, menghirup udara bersih dalam-dalam. Mengisi paru-paru nya dengan oksigen yang masih alami. Tanpa polusi dan campuran asap kendaraan.
"Astaga, aku lupa jalan pulangnya!" gumamnya, menepuk kepalanya.
Hana merogoh ponsel di dalam tas kecilnya, bermaksud membuka aplikasi g**gle m*ps. Dan sialnya, benda itu kehabisan baterai dia lupa semalam tidak mencharge ponselnya. Lagi-lagi Hana menepuk kepalanya, kali ini cukup kuat.
"Bodoh!! Hana mengumpat dirinya.
Gadis berumur 19 tahun itu memutuskan untuk mencoba berjalan menyusuri jalan setapak yang diingatnya. Namun lagi lagi dirinya tetap kembali ke tempat semula.
"Ah!!" Hana mendesah frustasi. Pikirannya tertuju kepada Adam mengingat peringatan pria itu sebelum pergi menghadiri meeting pentingnya.
"Stupid banget gue! kenapa gue nggak diam aja tadi, didalam vila sih." Hana menggerutu dirinya sendiri. Hana membayangkan raut wajah marah Adam ketika tak menemukannya didalam villa.
Seketika nyalinya menciut. Tapi hal itu malah membuatnya meyakinkan dirinya untuk segera bisa pulang ke villa. Perlahan lahan Hana mengingat jalan-jalan yang telah dia susuri tadi siang, membuatnya bersemangat untuk menemukan jalan pulang.
Dan benar saja, setelah dua jam berjalan menyusuri pantai dan hutan kecil, juga melewati batu-batu karang, dia sampai di pantai yang bangunan villa tempat dia dan Hana tinggali berada diatasnya.
Perempuan itu bisa bernapas lega. Langit telah menguning ketika Hana tiba diambang pintu villa yang terbuka lebar. Dengan tergesa dirinya memasuki bangunan luas yang bergaya klasik modern tersebut.
Takut ada orang asing yang memasuki kediaman mereka. Namun yang dia dapatkan adalah suara Adam yang tengah khawatir dan marah marah berbicara dengan seseorang dibalik telfonnya.
__ADS_1
"Cari dia kesemua tempat! Saya nggak peduli kamu nyebur ke dasar laut atau mendaki gunung sekalian Temukan dia sekarang juga!" teriaknya, menggema di seluruh ruangan. Adam khawatir jika Hana nantinya bertemu Papinya.
Pria dewasa itu meremat rambutnya, kemudian melepaskan dasinya secara kasar. Dan pada akhirnya Aryo lah yang menjadi pelampiasan kemarahan pria kekar itu.
Hana berjalan pelan, hampir tertatih merasakan sakit dikakinya karena telah berjalan begitu jauh untuk pulang.
"Daddy" panggilnya, menghampiri Adam yang sedang panik. Pria itu langsung membalikkan tubuhnya, dan tertegun.
Menemukan perempuan itu di hadapannya yang baru tiba entah berkeliaran darimana. Membuatnya mengalami kepanikan yang teramat sangat.
"Darimana aja kamu?!" Adam menarik lengan Hana dengan kasar. Kekesalan terpancar jelas diwajahnya.
"Tadi Hana habis jalan-jalan, ke pantai, ke tebing. Hana menceritakan semua tempat yang ia kunjungi tadi dengan wajah senangnya. Hana tidak menyadari kemarahan yang membuncah di-kepala sang Daddy.
"Hana lupa jalan pulang. Hana keliling berjam-jam sampai jalannya ketemu. dan akhirnya bisa pulang deh." mengakhiri cerita serunya telah berpetualang seharian dengan kekehan kecil, yang mana benar-benar membuat pria dihadapannya itu semakin kesal.
"Kamu tahu, kamu udah buat Daddy begitu panik setengah mati!! sebagian pegawai resort sudah Daddy perintahkan untuk mencari kamu ke semua tempat pulau ini." Adam mengeram.
Hana terdiam dengan mulut menganga." Tapi Hana kan udah pulang, Daddy." ucap Hana.
Adam memejamkan mata, menahan amarah yang hampir saja menyembur dari dirinya. Wajahnya memerah dengan rahang yang mengeras.
"Hana." Adam mendekat, memegangi kedua bahu Hana. "Janji sama Daddy kalau kamu nggak akan ulangi lagi!"
"Mengulangi apa?" Hana dengan polosnya.
"Jangan pergi kemanapun tanpa Daddy." Adam sedikit berteriak, membuat Hana terkejut.
Perempuan itu terdiam menatap mata elang milik sang Daddy. Ada kilat kemarahan dari matanya. Hana mengangguk pelan meskipun tak mengerti apa yang membuat Adam terlihat begitu marah dan panik.
"Berjanjilah!' ucap Adam lagi, sedikit mengguncangkan bahu Hana.
"lya Dad, Hana janji."
Kemudian pria itu menarik Hana kepelukanya. Membenamkan kepala perempuan itu di-dadanya.
"Kamu nggak tahu Daddy panik setengah mati. Takut sesuatu terjadi sama kamu, sayang." Adam mengeratkan pelukan ditubuh seksi Hana nya.
"Maaf," Hana mendongak, menatap wajah Adam yang kini perlahan tenang, tak semarah tadi.
"Jangan ulangi!" Adam menempelkan keningnya dengan milik Hana.
"Iya." Hana tersenyum. Merasa lucu dengan sikap panik berlebihan pria bertato yang tengah memeluknya ini.
__ADS_1