Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Tidak diangkat


__ADS_3

Jam 2 siang.


Di salah satu cafe milik keluarga Nanda. Adam tengah duduk berhadapan dengan Nanda, setelah menemui kliennya satu jam yang lalu Adam Kemudian memutuskan langsung menemui Nanda.


"Jadi maksud kamu menemui saya karena apa?" tanya Adam setelah meletakkan kopinya di-atas meja.


"Apa kamu bahagia dengan pernikahan, kamu Dam?" Nanda malah balik memberikan pertanyaan. Ia menatap penuh harap menunggu jawaban yang akan diucapkan Adam.


"Kamu belum menjawab pertanyaan aku, untuk apa kamu menanyakan hal itu." keningnya tertaut.


"Apa kamu bahagia Dam?" wajah Nanda sudah terlihat sendu.


"Sangat, aku bahkan sangat bahagia." ucap Adam dengan cepat.


"Jadi maksud kamu ingin menemui aku karena hal ini? Karena ingin tahu apakah aku bahagia atau tidak? Nanda, kamu hanya buang buang waktu saja jika maksud kamu ingin mengetahui tentang pernikahan aku dan istriku." menatap Nanda yang sudah menundukkan wajahnya.


"Bukan .... aku ke sini bukan karena itu, tapi aku mau memberitahukan sesuatu sama kamu." mengangkat wajahnya menatap Adam dengan wajah serius.


"Sesuatu? Sesuatu apa yang ingin kamu bicarakan?" Adam menatap Nanda dengan bingung.


"Ayah aku mau menyetujui pernikahan kita, dia sudah mau melanjutkan pernikahan kita." ucapnya.


"What, hahaha kamu gila? Aku sudah menikah untuk apa kamu memaksa ayah kamu untuk menarik keputusannya?" Adam menatap tidak percaya pada Nanda.


"Aku nggak masalah jadi istri kedua kamu, aku akan terima itu asal kamu menikah dengan aku."


"Ya Tuhan, kegilaan apa lagi yang coba kamu lakukan Nanda? Apa kamu sudah tidak waras! Kamu bahkan memohon pada seorang pria seperti ini untuk menikahi kamu." bentak Adam dengan nada suara yang sudah meninggi.


Hal itu mengundang perhatian para pengunjung di cafe tersebut, mereka menatap keduanya dengan tatapan aneh sekaligus bertanya tanya.


"Ya aku memang sudah tidak waras, aku tidak waras karena kamu Adam, kamu yang membuat aku seperti ini. Bertahun-tahun aku menunggu cinta kamu dan apa sekarang? Kamu memilih menikah dengan anak angkat mu sendiri!" teriaknya dengan suara yang tak kalah tinggi.


Adam menahan emosinya detik itu juga, ia menyadari jika perdebatan mereka sedang disaksikan banyak orang di cafe itu. Ia memejamkan matanya sejenak mencoba meredam emosinya.


"Kamu memang benar benar keterlaluan Nanda." ucap Adam dengan pelan.


"Kenapa? Kenapa kamu tidak mengeluarkan semua emosi kamu di sini? Apa kamu takut orang orang mengetahui cinta terlarang kamu? Hahah." ucap Nanda sambil tertawa remeh.


Adam seketika berdiri dan melangkah kearah Nanda, tanpa banyak bicara ia langsung menarik paksa tangan Nanda dengan kasar, membawanya pergi dari tempat itu.


"Lepaskan Adam, sakit! kamu benar-benar kejam." Nanda meronta ingin dilepaskan.


Adam tidak menggubrisnya, ia terus menarik paksa tangan Nanda hingga sampai di mobil sport miliknya. Ia memasukkan paksa tubuh Nanda kedalam mobil berwarna hitam tersebut. Ia langsung ikut masuk kedalam mobil dan membanting pintu mobil dengan kasar hingga menyebabkan bunyi dentuman keras.


Ia menatap Nanda dengan tatapan tajam, "kamu sengaja kan buat semua orang dengar apa yang kamu ucapkan tadi? Jawab!" bentak Adam dengan suara yang menggema dalam mobil itu.


"Hahah, kamu memang takut jika orang tau tentang Kisha cinta terlarang itu."


"Cukup Nanda, apa sebegitu maunya kamu aku nikahi? Apa sudah tidak ada pria lain hingga membuat kamu memaksa untuk mau menikah dengan pria yang sudah jelas jelas mempunyai istri." teriaknya kesal.


"Kamu milik aku Adam, dia yang sudah merebut kamu dari aku. Aku yang lebih dulu mengenal kamu bukan dia Dam." ucapnya dengan sendu.


Adam menghembuskan kasar menatap Nanda.


"Aku cinta sama kamu, aku bahkan rela menunggu kamu hingga selama itu dan dia dengan mudahnya datang merebut semua itu dari aku. Dia sudah mengambil apa yang aku miliki." ucap Nanda dengan air mata yang sudah menetes.


"Nanda kamu memang mengenal aku lebih dulu sebelum istriku tapi bukan berarti aku pernah punya hubungan dengan kamu, aku tidak mencintai kamu. Untuk apa kamu memaksakan diri yang pada akhirnya kamu yang akan terluka."


"Cobalah untuk menerima kenyataan bahwa kita tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Kadang tuhan hanya ingin sekedar mempertemukan kita bukan untuk mempersatukan kita. Dan itulah yang terjadi dalam kehidupan." ucap Adam dengan suara yang sudah kembali lembut.


Ia merasa kasihan melihat Nanda yang dulunya ceria malah jadi menyedihkan seperti ini hanya karena cintanya yang tak terbalaskan.

__ADS_1


Nanda menggeleng cepat sambil menghapus air matanya. "Please aku tidak bisa lagi memilih pria lain selain kamu, aku hanya mencintai kamu Adam." ucapnya memohon sambil tangannya meraih pergelangan Adam.


Adam menatap sambil menghembuskan nafasnya berat. "Kamu bukan cinta tapi obsesi. Jika kamu mencintai orang itu kamu akan rela membiarkan pria itu memilih pilihannya. Cinta itu tidak selamanya memiliki." ucap Adam.


"Ya mungkin pada dasarnya cinta mempunyai arti seperti itu tapi bagi aku cinta tetap lah cinta tanpa membiarkan orang yang kita cinta dimiliki wanita lain. Aku benar-benar cinta sama kamu Adam, bukan obsesi apa kamu tidak bisa lihat itu?" ucapnya lirih.


"Aku tidak bisa menuruti permintaan konyol dari kamu, aku sangat mencintai istri aku. Dia segalanya buat ku." ucapnya menolak sambil melepaskan tangannya dari genggaman Nanda.


"Maka jadikan aku istri kedua kamu, aku janji akan siap berbagi dengan istri kamu. Asalkan kamu menikahi aku!." teriaknya dengan wajah yang sudah begitu kacau.


"Hah berapa kali aku harus memberikan kamu pengertian kalau aku tidak bisa menduakan istriku, kamu mungkin saja bisa berbagi tapi tidak dengan aku ataupun Hana. Kami sudah bahagia dengan rumah tangga kami." Adam tetap pada pendiriannya.


"Oke baiklah tapi setelah ini kamu hanya akan mendengarkan sebuah nama dari aku." ucapnya sambil tersenyum menyeringai.


Adam menatapnya dengan tatapan bingung. "Maksud kamu apa?"


"Maybe dead, aku ingin bunuh diri aku ingin mati saja dari pada aku hidup dan tidak mendapatkan cinta dari orang yang aku cintai. Hiks hiks." ucap Nanda sambil menangis lirih.


"Jangan gila kamu, kamu sudah benar benar dibutakan oleh cinta. Sadar dengan ucapan kamu Nanda. Masih ada ayah yang sangat menyayangi kamu untuk apa kamu dengan gila nya mengorbankan nyawa kamu demi sesuatu yang sia sia." bentak Adam dengan wajah terkejut.


"Hahah aku nggak perduli sekarang bagiku semuanya sudah berakhir pria yang aku cintai sudah bahagia dengan wanita lain lalu apa gunanya aku hidup melihat kamu bahagia dengan Hana, hiks hiks." tawa Nanda diiringi tangisan yang begitu lirih.


Melihat itu Adam semakin dibuat bersalah, ia semakin tidak tega melihat Nanda yang begitu kacau. Apa begitu pentingnya dia untuk Nanda? Sampai sampai wanita itu begitu sangat kacau.


"Aku ingin keluar, aku ingin pergi dimana semua orang tidak bisa melihat ku selamanya." sambil menyeka air matanya ia lalu beralih membuka pintu mobil.


Baru saja pintu itu akan terbuka, Adam dengan cepat menarik tangan Nanda dan masuk kedalam pelukannya, ia memeluk tubuh Nanda dengan erat agar wanita itu tidak bisa melarikan diri dan berbuat sesuatu hal yang nekat.


Nanda sedikit tersentak kaget dengan aksi Adam. Ia memberontak ingin dilepaskan. "Lepaskan aku Adam, jangan mencegah aku untuk melakukan itu. Aku tidak ingin mengangu kalian maka biarkan aku untuk mati. Biar aku pergi untuk selama lamanya dari hidup kalian, hiks hiks." tangis Nanda dalam pelukan Adam, ia sudah tersedu sedu.


Adam mengelus punggung Nanda mencoba menenangkan wanita itu. "Jangan lakukan itu, kamu akan membuat ayah kamu begitu terpukul. Kamu harus sadar itu bukan tindakan yang benar untuk kamu pilih. Cobalah untuk berdamai dengan semua ini." ucap Adam lembut terus mengelus punggung wanita itu.


Adam tidak menjawab dan terus menenangkan Nanda dengan pelukannya. Untuk saat ini ia ingin Nanda tenang terlebih dahulu agar wanita cantik itu tidak mencoba melakukan hal-hal yang membahayakan nyawanya.


***


Sementara di rumah.


Hana terus berulang-ulang menghubungi suaminya, karena ingin dibelikan Tacos Crispy di restoran yang pernah mereka makan.


Ia mondar mandir didalam kamarnya sambil terus menelpon suaminya. "Kenapa belum juga diangkat? Bahkan ini sudah panggilan kesepuluh kali." desah Hana sedikit kesal karena panggilannya tak kunjung dijawab.


"Apa aku yang keluar aja kali ya? Lagian papi nggak angkat juga sih panggilan Hana, aku juga udah kepengen banget lagi makan makanan itu." ucapnya sambil menelan ludahnya ngiler.


"Aku sama Om Aryo aja, lagian nggak terlalu jauh juga hanya butuh setengah jam perjalanan." Hana berbicara sendiri.


Ia bergegas menganti pakaiannya dengan dress berwarna biru mudha panjang, sebatas lutut berlengan pendek. Menguraikan rambutnya kebelakang, tak lupa dompetnya ia bawah untuk menaruh beberapa lembar uang.


Hana memang lebih suka membeli sesuatu dengan pembayaran tunai daripada menggunakan kartu kredit ataupun debit.


Ia lalu keluar dari kamarnya lalu turun perlahan kearah tangga. Bi Surti yang tidak sengaja berjalan kearah ruang tamu menoleh keatas dimana Hana sedang berjalan turun, bahkan Nona-nya sudah terlihat rapi akan pergi keluar.


Ia lalu menghentikan langkahnya menunggu Hana, "Nona mau kemana?" tanya bi Surti saat Hana sudah berjalan mendekat.


Hana tersenyum kecil melihat kearah bi Surti. "Ini bi aku mau keluar sebentar."


"Kemana? Ini sudah sore untuk Nona keluar." wajahnya sudah tampak khawatir.


"Nggak pa-pa Hana cuman beberapa menit aja kok di luar, soalnya Hana pengen banget makan Tacos Crispy bi, tadinya Hana mau minta tolong aja sama Daddy tapi nggak diangkat."


"Kenapa nggak tunggu aja sampai Tuan Adam kembali? Saya takutnya Tuan jadi ngamuk karena nggak ketemu Nona setelah pulang."

__ADS_1


"Kalau nunggu Daddy kelamaan bi, Hana pengennya sekarang. Lagian mungkin Daddy sangat sibuk di kantor jadi Hana nggak mau repotin Daddy." ucapnya tersenyum manis.


"Aduh kok bibi jadi takut ya."


"Nggak apa apa Daddy ngga akan pulang lebih awal kok buktinya tadi Hana nelpon Daddy tapi nggak diangkat karena Daddy sibuk sama banyak kerjaan di perusahaan." ucap Hana mencoba meyakinkan bibi.


"Oh iya, om Aryo nya ada nggak?"


"Aryo nya lagi keluar mungkin mengurus sesuatu." jawab bibi.


"Padahal aku mau minta ditemani." ucapnya dengan wajah sedikit kecewa. Keinginan untuk memakan makanan tadi semakin menjadi jadi ia sudah begitu ngiler mengingat akan menyantap makanan yang dinginkan itu.


"Ya udah aku ke-depan dulu."


"Loh nanti Nona sama siapa perginya? Bukannya Aryo sedang keluar." Bi Surti mengikuti Hana.


"Nggak tau bi, nanti ke-depan biar lihat ada pekerja yang bisa di ajak pergi." terus melangkah tanpa menoleh kearah belakang.


Saat sudah berada di depan, Hana mendapati Dimas sedang duduk santai di pos satpam dengan segelas kopi di-atas mejanya.


Sontak Hana langsung menatap penuh binar, akhirnya ada orang yang akan ia minta tolong. Dengan cepat ia berjalan dengan langkah lebar menuju ke arah pos itu.


"Non hari hati jalannya." bibi yang berada dibelakang Hana memeringati majikannya itu.


"Hehehe maaf bi, Hana sampai lupa." lalu memelankan langkah kakinya.


"Nona Hana mau ngapain ya ke arah pos?" gumam Dimas saat melihat Hana yang sudah berjalan kearah nya. Ia dengan cepat cepat bangkit berdiri dari duduknya.


"Akhirnya ada Om Dimas, aku ke sini mau minta bantuan Om." ucap Hana tersenyum lebar memperlihatkan giginya.


"Mau minta bantuan apa ya Non?" Dimas menatap tidak mengerti.


"Aku pengen makan di restoran Meksiko."


"What! jangan aneh aneh minta bantuannya masa kita harus ke negara Meksiko yang ada kita bakalan di bunuh sama Tuan Adam gara gara aku bawah nona pergi." ucap Dimas dengan polosnya sekaligus terkejut.


"Ish Om Dimas! bukan maksud aku ke negara Meksiko om, tapi ke restoran Meksiko yang ada di Plaza Senayan. Masa Om nggak tahu sih." kesal Hana.


Dimas menggaruk kepalanya sambil tersenyum kikuk. "Saya pikir Nona mau ke Meksiko, hehehe."


"Ya udah cepat aku udah ngiler banget pengen makan di-sana."


"Ma-maksdunya saya juga harus ikut? Tapi saya nggak punya uang Non."


Hana menepuk jidatnya sambil menggelengkan kepala. "Memangnya siapa yang minjam uang Om. Hana mau diantar om ke restoran Meksiko. Sekarang!" ucapnya dengan nada kesal.


"Ta-tapi Tuan Adam_"


"Udah Daddy udah ijinin, ayo cepat keburu malam tuh." kata Hana sambil menunjuk kearah langit sore.


"Eh iya, saya siapkan mobil dulu."


"Hem cepetan."


Hana menunggu pria itu mengeluarkan mobil dari garasi. Sambil menunggu Hana kembali menghubungi suaminya, tapi nihil pria matang itu tak kunjung menjawab panggilannya.


"Apa Daddy sesibuk itu ya di kantor? Bahkan Daddy nggak biasanya kayak gini. Sesibuk apapun pasti Daddy akan mengangkat panggilan Hana." gumamnya memikirkan Adam.


"Non ayo! mobilnya sudah siap." ucap Dimas yang sudah membukakan pintu mobil untuk Hana.


Hana langsung tersadar dari pikirannya dengan cepat ia memasukkan HP-nya kedalam tas, lalu masuk kedalam mobil. Beberapa detik kemudian mobil yang dinaiki Hana berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2