
Baru juga membuka pintu kamarnya, bunyi telepon miliknya dari atas nakas sudah berbunyi.
"Ha ... astaga Daddy emang ngga bisa buat Hana nafas." ucap Hana ngos-ngosan karena berlari.
Ia lalu berlari pelan kearah nakas itu, kemudian mengambil benda persegi miliknya.
"Iyah Daddy." ucap Hana mengatur napasnya sebelum akan mendengar Omelan pria itu.
"Apa kamu menikmati jalan jalan kalian?" tanya Adam.
Hana bernafas lega saat mendengar pertanyaan Adam. Rupanya Adam tidak mengomeli Hana, terbukti dari nada bicaranya yang sudah tidak terdengar marah.
"Eh ... Iyah Daddy, tadi Hana sempat juga ikut Tika ke Mall buat beli beberapa barang.
"Setelah itu?" tanya Adam sambil melihat kearah pintu tampak di-sana sekertaris nya baru saja masuk membawa beberapa berkas untuk ditandatangani lagi.
Adam memberikan kode dengan gerakan tangan, agar Aldi menaruh berkas itu di-atas meja.
"Setelah itu kita berdua langsung pulang kok, Daddy." sahut Hana jujur.
"Benar? Udah ngga ketempat lain lagi?" tanya Adam ingin benar benar memastikan sambil mempersilahkan Aldi untuk keluar meninggalkan ruangannya dengan gerakan kepala.
Aldi langsung saja mematuhi hal itu tanpa banyak bertanya lagi.
"Apa iyah, tuan udah punya pacar? Tapi kenapa Tuan ngga pernah bawah ke kantor ya?" batin Aldi saat sudah keluar dari ruangan CEO.
"Ah ... kenapa gue jadi kepo sendiri sih." Aldi merutuki dirinya. Ia lalu berjalan pergi ke ruangannya.
"Bagus, Daddy percaya sama kamu. Sebentar lagi Daddy akan pulang." sahut Adam.
Adam lalu mematikan sambungan itu. Sementara Hana hanya bisa menghembuskan nafasnya.
"Kenapa gue bisa jatuh cinta ya sama Daddy. Padahal banyak pria yang seusia aku tapi kenapa ngga buat aku untuk ngelirik mereka dan malah Daddy gue sendiri." Pikir Hana tidak habis pikir dengan perasaannya.
Ia lalu menggelengkan sebentar Kepalanya mencoba menghilangkan rasa lelah dalam pikirannya. Ia lalu berjalan ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Sementara di tempat lain. Leo senyum senyum sendiri di balkon kamarnya sambil memainkan gitarnya mengingat kembali momen di depan kampus itu, dimana Hana menyentuh pundaknya waktu itu.
"Astaga, lo benar benar buat gue kepikiran terus Han." ucap Leo menghentikan tangannya yang memainkan gitar itu.
"Unik sih kamu, makanya buat laki laki playboy kayak gue aja bisa langsung bucin sama kamu." ucapnya dengan mengakui dirinya playboy.
Leo tersenyum mengigit bibirnya. "Gue bakal coba dekat-in dia perlahan lahan." ucap Leo menyemangati dirinya.
Tok tok.
"Leo ... di bawah ada teman kamu yang datang." teriak nyokap nya di depan kamar Leo.
Leo yang sedang asik memikirkan Hana, menjadi kesal karena di ganggu.
"Cih ... ganggu banget."
"Iyah nanti Leo ke bawah." sahut Leo kesal karena mendengar ketukan pintu yang semakin kuat.
Pria itupun berjalan malas membuka pintu kamarnya.
๐๐๐
Langit pun telah gelap, menandakan malam telah tiba. Tampak mobil Adam baru saja memasuki halaman rumahnya tepat pukul tujuh malam.
__ADS_1
Ia turun dari mobilnya. Aryo berlari pelan kearah Tuanya untuk menyambut kepulangan Adam.
"Parkiran mobil saya di garasi!" perintah Adam sambil melempar pelan kunci mobil itu kearah Aryo.
Dengan sigap Aryo menangkap benda itu. "Baik Tuan."
Adam lalu melangkah masuk kedalam rumahnya. Ia terlihat tidak sabaran menaiki tangga menuju kamar Hana.
Saat masuk kedalam kamar wanita itu. Adam tidak menemukan Hana di kamarnya. Ia lalu berjalan kearah kamar mandi, membuka pintu itu tapi tidak ada.
Ia lalu berjalan kearah balkon kamar, berharap menemukan Hana ada di sana tapi nihil.
"Kemana lagi kamu Hana!" Adam mengeram tertahan dengan perasaan yang sudah khawatir sekaligus kesal.
Adam lalu berjalan kembali kearah pintu bermaksud keluar untuk melihat Hana dilantai bawah.
Baru saja pria itu akan meraih ganggang pintu kamar, benda itu sudah lebih dulu dibuka dari luar sana.
Nampak Hana baru saja masuk, dengan segelas jus ditangannya. Hana terkejut melihat tubuh tegap itu berdiri tepat di depan pintu.
"Omo! Daddy bikin kaget aja deh." ucap Hana terkejut sambil mengelus dadanya karena kaget tiba tiba Daddy nya, sudah berdiri layaknya patung hidup di depan kamarnya.
Sementara Adam hanya menatap datar kearah Hana. "Kamu dari mana?" tanya Adam lalu menarik tangan Hana masuk.
"Ini, Hana abis dari bawah buatin jus." sahut Hana melihatkan gelas berisi jus coklat itu, kearah Adam.
Adam mendudukkan tubuhnya di atas kasur sambil melihat pergerakan Hana yang menaruh jusnya di-atas meja. Hana kemudian berjalan lagi mendekati Adam duduk tepat dipangkuan Adam dengan melingkarkan kakinya di pinggang pria itu sambil kedua tangannya melingkar di leher Adam.
Karena kaki Adam yang masih menjuntai ke lantai, membuat Hana dengan mudahnya naik kepangkuan lelaki itu. Keduanya kini dengan posisi saling berhadapan.
Adam tersenyum senang melihat aksi Hana, mendadak rasa kesalnya tadi, hilang begitu saja. "Kamu nakal." ucap Adam sambil mencubit pelan pipi Hana.
Adam tidak tahan lagi melihat tingkah Hana yang sangat seksi dan menggemaskan. Pria itu langsung mendekatkan kedua bibir mereka dan ciuman mereka pun terjadi.
Mereka saling mengekspor dengan lidah yang saling berbelit menikmati ciuman mereka.
"Hmmpt ..." ******* keduanya terdengar.
"Daddy ... Ah." Hana mendesah enak dengan kenikmatan yang Adam berikan.
Ciuman Adam perlahan turun ke ceruk leher Hana, menyesap leher mulus itu dengan penuh ga*ir*ah.
Hana mendongakkan kepalanya keatas dengan mengigit bibirnya kuat menikmati gerakan mulut Adam di lehernya.
Adam lalu melepaskan bibirnya dari tempat itu. Ia memindahkan tubuh Hana dengan membaringkan wanita itu di atas kasur.
Adam kemudian melepaskan semua pakaiannya dengan gerakan cepat lalu membuang nya asal. Dan tampaklah tubuh atletisnya tanpa sehelai benang pun lagi yang menempel.
Menampakan pedang panjang yang berdiri kokoh di tempat sana.
Deg
Hana meneguk ludahnya dengan kasar melihat benda panjang besar dan berurat itu. "Ya ampun, itu bisa ngga ya masuk di gue?" Hana dengan pikiran konyolnya sambil mengigit bibirnya.
Adam kemudian naik keatas ranjang menciumi Hana sebentar, lalu melepaskan lagi ciuman itu. Ia lalu melepaskan baju Hana melemparnya asal.
Ia kemudian menurunkan Bra Hana sebatas perut dan terpampang jelas dua gundukan kembar itu. Adam menatap lapar keduanya lalu menurunkan kepalanya di satu buah melon itu. Menyedotnya dengan rakus Hingga menimbulkan suara hisapan.
"Aow ... Daddy pelan pelan." Hana meringis ngilu dengan pergerakan di buah itu sambil meremas kepala Daddy-nya kuat.
__ADS_1
Adam tak membalas ucapan Hana dan malah membawa tangan wanita itu kearah pedangnya sambil menggosokkan pelan di tempat itu.
"Manjakan dia baby." ucap Adam saat melepaskan mulutnya dari buah itu menatap Hana dengan tatapan yang sayu.
Hana lalu mengerakkan tangannya perlahan di tempat itu mencoba memberikan kenikmatan untuk prianya.
"Ah ... faster baby! Ini begitu nikmat." ucap Adam menikmati gerakan tangan Hana.
Ia lalu kembali menyedot buah kesukaannya di sana. Dan aktivitas hot mereka kembali mereka rasakan.
๐๐๐
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dan di meja makan sudah tampak Hana, Adam dan kedua orangtuanya menikmati makanannya. Mereka tiba satu jam yang lalu.
Adam duduk di samping Hana dengan posisinya berhadapan dengan kakek Barack sementara Hana duduk berhadapan dengan Nyonya Ani.
Banyak sekali hidangan makanan yang tersaji di-atas meja besar dan panjang itu yang sudah disiapkan para pembantu.
"Gimana pekerjaan kamu di kantor?" tanya Barack menatap sebentar anaknya.
"Lancar, hari ini juga Adam sendang menjalankan kerjasama dengan beberapa perusahaan lainnya." sahut Adam sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Bagus, kamu begitu tekun dalam pekerjaan mu. Itulah mengapa kamu dengan cepat mensukseskan perusahaan kamu hanya dalam kurun waktu yang singkat." Barack memuji anaknya dengan bangga.
"Itu sudah pasti, karena didikan dari papi." sahut Adam menatap pria tua itu tersenyum.
"Ya kamu benar." Barack membenarkan ucapan anaknya.
"Tapi jangan hanya fokus saja dengan kerjaan, sesekali cobalah untuk mencari pasangan Dam." mami Ana membuka suara.
"Cih ... selalu itu yang kalian katakan disaat ke rumah Adam.
"Loh, memang harus diingetin. Kamu tuh terlalu fokus dengan pekerjaan, makanya belum punya pasangan di usia kamu yang sebentar lagi memasuki empat puluh tahun." sahut mami Ana menatap kesal anaknya.
"Memangnya kamu mau jadi perjaka tua." ucap mami Ana lagi.
Sontak Adam langsung menatap maminya dengan wajah kaget. "Mami bisa bisanya doain Adam kayak gitu." sahut Adam tidak terima.
"Maka dari itu, cobalah cari pasangan! Siapa tahu ada yang kamu rasa cocok."
"Benar apa kata mami kamu, cobalah untuk dekatkan diri dengan wanita siapa tau kamu merasa cocok." sela papi Barack.
Sementara Hana hanya bisa menyaksikan percakapan ketiga orang itu tanpa berani mengeluarkan suaranya.
"Ya baiklah, Adam akan coba saran papi sama mami." ucap Adam lalu Melirik sebentar kearah Hana yang terlihat murung.
"Papi akan mengenalkan kamu dengan anaknya teman papi. Yang pernah papi kenalin ke kamu. Nanda dia akan tiba dalam satu Minggu lagi dan jika kamu rasa cocok dengannya papi langsung jodohkan kalian berdua." sahut Barack.
Deg!
Detik itu juga jantung Hana berdetak kuat mendengar ucapan kakek Barack.
"Dijodohkan?" Hana membatin dengan perasaan sesaknya menatap sebentar kearah Adam.
"Kamu mau tidak?" tanya mami Ana."
"Iya Mi, Adam mau." sahutnya mengiyakan saja ucapan mereka.
Dan jawaban Adam pun membuat Hana kembali sakit dan menahan rasa sesak di-dadanya. Hancur? Itulah yang Hana rasakan detik ini, saat mendengar Adam mengiyakan saran orang tuanya.
__ADS_1