
Keesokan paginya.
Adam dan Hana masih terlelap dibawah selimut, setelah drama memijat semalam keduanya langsung memutuskan tidur tanpa adanya aktivitas panas.
Adam tidak ingin membuat Hana semakin lelah karena ulahnya. Adam mengerjapkan kedua matanya perlahan, terdengar suara kicauan burung di-pagi itu.
Mata tajam itu terbuka sempurna melihat kearah jam yang baru saja menunjukkan pukul enam pagi. Ia mengeratkan otot lengannya, sambil menguap.
Adam melirik kearah Hana dan mengulum senyumnya, ia perlahan menurunkan wajahnya di wajah Hana lalu memberikan morning kiss pada bibir tebal istrinya. Sedangkan si wanita masih juga terlelap tanpa merasa terganggu sedikit pun dengan ciuman Adam.
Adam tersenyum dan terus memberikan kecupan berulang ulang dibibir Hana, tapi tak kunjung membuatnya terbangun. Mungkin merasa terlalu capek hingga membuatnya begitu nyenyak.
"Morning mommy, apa mommy begitu lelah Hmm?" Adam bertanya pada tubuh yang masih memejamkan matanya itu.
"Kehamilan membuat kamu mudah lelah." Adam lalu turun kebawah di perut Hana memberikan kecupan di-sana sambil menahannya sedikit lama.
"Jangan membuat mommy kamu kecapean, kamu harus tenang tenang didalam sana." bisik Adam pada calon bayinya didalam perut Hana lalu sambil terus mengecup.
Puas mengecup dan membisikkan kata-kata pada bayi yang masih didalam perut istrinya itu, Adam lalu mengangkat wajahnya dan kembali mengecup wajah.
Tidak ada yang terlewati di wajah Hana, Adam mengecup dari dahi, kening, kedua pipinya, bibir semuanya yang ada pada wajah Hana ia berikan kecupan di-sana. Bahkan kini bibirnya sudah turun di ceruk leher Hana membenamkan wajahnya di sana.
Memberikan gigitan kecil pada ceruk lehernya. Dan berhasil membuat si empunya menggeliat kecil. "Hmmpt, Pi. Hana masih ngantuk." keluhnya sambil mencoba melepaskan kepala Adam dari sana.
"Tidurlah lagi, papi hanya ingin menikmati aroma tubuh kamu." ucapnya yang masih sibuk di leher Hana.
"Mommy nggak bisa tidur kalau papi terus gangguin mommy seperti ini." ucap Hana membuka matanya.
Keluhannya tidak digubris oleh Adam, "Pi, bukannya papi akan ke kantor hari ini? Kenapa masih gangguin mommy, ayo mandi dan bersiap-siap ke kantor. Mommy akan siapkan baju kerjanya." mencoba mengalihkan perhatian Adam.
"Ck kamu menganggu diwaktu yang tidak tepat, yasuda papi segera mandi." ucap Adam mengalah lalu bangkit dari posisinya.
Sebelum turun di-atas ranjang Adam kembali mengecup bibir Hana lembut lalu turun dan melangkah kearah kamar mandi.
Hana tersenyum melihat suaminya yang berjalan kearah kamar mandi.
__ADS_1
Sebelum menutup pintu kamar mandi, Adam menengok kebelakang. "Mommy tidak ingin mandi berdua?" tanya Adam sambil menaik turunkan keningnya dengan genit.
Hana yang sedang akan turun dari ranjang seketika melihat kearah Adam. "Nggak ah, nanti kita bukannya mandi malah kuda kudaan di dalam sana." Hana menolak ajakan suaminya.
Jawaban Hana langsung membuat tawa Adam pecah seketika. Ia tidak bisa menahan tawanya saat mendengar perkataan Hana tadi. Istrinya memang sudah hafal dengan akal akalanya.
Memang itulah yang terjadi jika Adam meminta mereka untuk mandi bersama, bukannya mandi malah Adam menggempur Hana didalam sana seperti kejadian yang sudah sudah.
Adam langsung menutup pintu kamar mandi, sambil tertawa didalam sana. Sedangkan Hana menggeleng Kepala dan langsung berjalan kearah walk in closet menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya.
Setelah mendapatkan pakaian Adam, Hana kemudian berjalan keluar menuju kearah sofa dan meletakkan jas berwarna hitam juga satu buah dasi, celana dan kemeja lengan panjang berwarna putih.
"Sekarang tinggal buat kopi untuk papi." ucapnya tersenyum. Lalu akan berjalan kearah pintu kamar.
"Mommy jangan kebawah sebelum papi keluar." ucap Adam tiba tiba nongol di balik pintu kamar mandi dengan tubuh telanjang yang masih menempel busa sabun mandi di-seluruh tubuhnya.
Hana begitu terkejut dengan suara suaminya karena begitu tiba tiba. Ia mengelus dadanya sambil menghela nafasnya. "Astaga papi kaget-in aja deh." kesalnya menatap pada Adam yang masih berdiri di tengah tengah pintu kamar mandi, ia bahkan tersenyum tanpa dosa.
"Ingat jangan turun sebelum papi keluar, papi tidak mau dibantah." Adam kembali mengingatkan Hana.
Bagaimana tidak benda itu sudah bergerak kesana kemari mengikuti gerakan tubuh Adam. Lantas Adam menengok kebawah lalu kembali menatap Hana sambil tersenyum kecil.
"Udah sana mandi Pi, nanti papi terlambat." usir Hana yang sudah merasa kesal pada suaminya karena tak kunjung kembali untuk mandi.
Tanpa banyak bicara Adam langsung kembali menutup pintu kamar mandi dan melanjutkan kembali kegiatannya.
Tak berapa lama Adam masuk, telpon Hana berdering di-atas nakas. Hana lalu berjalan menuju benda itu dan mengambilnya.
Hana sontak tersenyum saat panggilan masuk berasal dari sahabatnya Tika. Ia langsung menggeser layar hijau tersebut.
"Halo."
"Gimana kabar kamu? Apa baik baik aja?"
"Baik, gimana kabar kamu?" Hana kembali bertanya.
__ADS_1
"Aku juga baik, hari ini juga aku mau ke rumah kamu. Kamu ngga lagi ingin sesuatu? Biar aku beliin." tawar Tika.
"Hmm, aku ngga lagi ingin makan makanan tokoh sih." ucapnya.
"Aneh, biasanya kan ibu hamil suka ingin makan berbagai makanan kenapa kamu malah sebaliknya." Hana dengan wajah bingung.
"Nggak tau juga kenapa, mungkin anak aku pengertian kali ya sama aku." ucapnya tersenyum kecil lalu satu tangannya turun mengelus lembut perutnya.
"Ya uda kalau gitu aku bawah buah buahan aja ya buat kamu, siapa tahu kamu kepengen makan sewaktu waktu kan." usul Tika.
"Hmm ya udah deh." sebenarnya di rumah Hana sudah banyak sekali stok buah buahan yang sudah suaminya lengkapi. Tapi karena tidak ingin menolak tawaran Tika hingga membuatnya mengiyakan.
"Mungkin sekitar jam 10 pagi aku udah di situ, udah ngga sabar pengen elus perut kamu. Calon keponakan ku tunggu Tante Tika datang." ucap Tika penuh semangat.
"Hahah, iya cepetan Dede bayinya udah nggak sabar ketemu aunty nya." Hana tertawa pelan.
"Segera ..." dan keduanya tertawa bersamaan.
Tika memang sudah tau kehamilan Hana saat Hana menelponnya satu hari yang lalu, berita kehamilan Hana disambut bahagia oleh Tika bahkan Tika begitu excited mendengarnya. Jika waktu itu ia tidak punya jadwal mendadak di luar kota sudah dipastikan ia langsung pergi menemui Hana.
Saat Hana sedang asik berbicara dengan Tika, lengan kekar milik Adam memeluknya dari belakang sambil menyadarkan dagunya di bahu Hana.
Tau suaminya tengah memeluknya, Hana kemudian berucap pada Tika untuk mengakhiri panggilan teleponnya. "Udah dulu ya Tik, aku harus gantiin suami aku dulu. Aku tungguin kamu ya jam 10, by." ucap Hana mematikan sambungan telponnya.
"Jam sepuluh? Kalian mau ngapain, jangan bilang mommy mau jalan keluar? Tidak papi tidak ijinkan mommy keluar rumah dengan keadaan hamil seperti ini." ucap Adam menarik badan Hana menghadapnya.
"Siapa yang mau pergi, Hana lagi nungguin Tika buat datang ke rumah. Soalnya dia mau ke sini jenguk mommy."
"Hah papi pikir apa." lega Adam.
"Ck, papi terlalu overthinking."
Adam tersenyum kikuk dan memeluk tubuh Hana. "Udah sini mommy pakaikan baju nya."
Adam tersenyum lalu melepaskan pelukannya dan menuruti ucapan Hana.
__ADS_1
Setelah selesai memakaikan baju untuk Adam, keduanya kemudian turun untuk menikmati sarapan mereka.