
"Daddy pergi. Ingat jangan keluar lagi dari villa." Pamit Adam setelah keduanya sudah berdiri di depan vila sembari mengecup bibir Hana. Hana mengalungkan tangannya dileher Adam.
"Iya Dad, Hana nggak akan keluar lagi." ucap Hana tersenyum. Peringatan itu sudah berulangkali Hana dengar dari mulai mereka menikmati sarapan pagi, tadi.
"Kalau kamu butuh sesuatu, kamu telfon Daddy okay?"
"Iyah."
"Ya udah Daddy berangkat." Adam tersenyum mengelus sebentar kepala Hana, lalu kemudian mendaratkan lagi satu kecupan pada bibir wanitanya.
Cup ....
Adam melangkah masuk kedalam mobilnya, yang sudah siap beberapa menit yang lalu.
"Bye Daddy." Hana melambaikan tangannya kepada Adam yang baru saja menjalankan mobilnya. Adam tersenyum dibalik mobilnya saat melihat wajah ceria Hana dibalik kaca spion.
Setelah kepergian Adam. Hana membalikkan badannya masuk kedalam villa, wajahnya tak henti hentinya mengukirkan senyuman di-sana.
"Hmm, hari ini aku mau ngapain ya?" Hana bertanya tanya sambil melangkah kearah kulkas. Dibukanya pintu kulkas itu, tersusun segala macam buah buahan, sayuran, bermacam jenis snake, minuman, susu kotak juga sereal, dan juga ice cream melengkapi isi kulkas berukuran besar tersebut. Semuanya sudah disiapkan Adam dengan baik.
"Kayaknya buat frozen chocolate banana, enak deh." Hana berpikir sebentar di depan kulkas itu sembari memilih beberapa bahan yang akan ia ambil. Hana akhirnya mengambil sepuluh buah pisang, mengeluarkan dari kulkas itu. Tak lupa beberapa bahan menyusul untuk melengkapi apa yang Hana masak tersebut.
Lima belas menit berkutat, Akhirnya Hana telah selesai dan menaruhnya didalam kulkas untuk mendinginkannya sebentar. Ia ingin mengemilnya di siang nanti.
"Saatnya mandi." Hana melangkah menuju kamarnya, menaiki anak tangga satu demi satu.
Membawa tubuh-nya kedalam ruang bilas, Beberapa menit kemudian Hana telah keluar dengan handuk kecil yang melilit tubuhnya. Saat kakinya akan melangkah, terdengar bunyi telepon dari hpnya yang berada di-atas nakas.
Hana mengerutkan keningnya bertanya tanya. Bukankah daddy-nya baru saja pergi? Apa Daddy yang menelpon?, batinnya. Ia melangkah mendekati benda pipi itu dan tertera nama Tika dilayar.
"Tika." Hana bergumam sambil bibirnya tertarik kebelakang. Dengan cepat ia langsung menjawab panggilan Tika.
"Halo, kamu di mana sih. Aku ke rumah kamu nhi, tapi kata orang yang bekerja di sini kamu lagi keluar. Keluar kemana sih, Han?." Tika langsung menyodorkan pertanyaan pada Hana.
Hana tersenyum mendengarkan pertanyaan Tika, "Maafin aku Tik, aku lupa banget kasih tau kamu soal itu. Jadi gini, untuk sementara waktu aku sama Daddy tidak tinggal di rumah itu."
"Hah .... terus kamu tinggal dimana dong, sekarang?" Tika begitu kaget dengan pernyataan Hana.
"Hmm, aku sama Daddy tinggal di villa pribadi."
"What jadi sekarang kamu udah di villa? Kasih tahu aku dimana villa yang kamu tinggal, aku mau kesana." ucap Tika.
"Iyah aku udah di villa. Tapi aku ijin dulu sama Daddy, kalau Daddy ijinkan baru aku kasih tahu dimana letak villa nya." ucap Hana.
"Iya aku tungguin ya." ucap Tika tidak sabaran.
"Iya bawel ih. Udah matiin dulu, biar aku telpon Daddy." ucap Hana.
__ADS_1
"Iya cepetan." Dan sambungan itu berakhir, Hana mematikan sambungan mereka.
Hana menekan kontak Adam lalu meneleponnya.
Di kantor tampak Adam sedang mengadakan meeting dengan beberapa investor baru, pria itu tengah serius mendengarkan apa yang dua pria bule itu katakan. Hingga kemudian bunyi ponselnya berdering dibalik saku jasnya.
Adam permisi sebentar menjauh dari mereka. Saat melihat panggilan tersebut dari Hana, Adam langsung bergegas menjawabnya.
"Halo, sayang. Ada apa?"
"Dad, Hana boleh ijin ngga?"
Adam mengerutkan dahinya. "Mau ijin? Daddy tidak akan mengijinkan kamu untuk keluar, tetap di rumah sampai Daddy pulang." ucapnya tegas berpikir Hana ingin keluar untuk jalan jalan.
"Bukan Daddy, Hana bukan mau keluar tapi Tika mau ke sini jenguk Hana di villa. Boleh ngga Daddy, kalau Tika ke sini?"
Adam bernafas lega, karena bukan Hana yang ingin keluar. "Daddy pikir kamu yang ingin keluar, ya sudah suruh dia datang biar kamu juga punya teman ngobrol hari ini." ucap Adam tersenyum.
"Asik .... makasih Daddy. I love you." ucapnya dengan begitu gembira. Adam menggelengkan kepalanya mendengar suara Hana yang begitu senang.
"I love–" ucapan Adam belum juga selesai Hana sudah mematikan sambungan telponnya lebih dulu. Hal itu membuat Adam berdecak kesal
"Ck .... anak itu benar benar." Adam menatap layar ponsel sambil menggelengkan kepalanya. Ia lalu kemudian melangkah lagi kearah dua pria tadi.
"Maaf sudah menunggu, ayo lanjutkan lagi." ucap Adam mendudukkan bokongnya di kursi.
...****************...
Tika dalam perjalanan menuju villa saat Hana mengirimkan alamat vila mereka. Cukup lama ia membela jalan dengan motor Vespa kesayangannya, Tika pun sampai di depan villa bergaya klasik modern tersebut, terlihat sangat elegan.
Ia menatap sebentar villa milik Adam, berdiri tepat di pintu depan setelah tadi ia memarkirkan motornya di garasi vila.
"Pemandangan di sini, sejuk banget." batin Hana melihat kesana kemari pepohonan, pantai juga langit yang begitu bersih karena tidak tercemar oleh asap kendaraan.
Tak lama kemudian pintu terbuka dari dalam. Hana muncul dari pintu itu dengan wajah bahagia. "Tika! kangen banget." Hana langsung berlari memeluk Tika dengan begitu gembiranya.
Membuat Tika yang sedang asik memandangi pemandangan villa itupun dibuat terkejut, oleh aksi Hana yang tiba- tiba.
"Astaga Hana, segitu kangennya kamu, sama aku?" Hana menahan rasa sesaknya saat Hana memeluk Tika dengan begitu eratnya.
"Han! astaga kamu mau buat aku mati berdiri? Ya ampun aku sampai ngga bisa nafas, tahu." ucapnya sembari terkekeh geli dengan tingkah Hana.
"Biarin, aku terlalu rindu sama kamu, tahu." ucapnya.
"Udah lepasin dulu ih, tamu ngga di suruh masuk malah pelukan di sini." ucap Tika.
"Hehehe, ya udah masuk. Aku udah siapin cemilan buat makan berdua sama kamu." Hana tersenyum senang lalu menarik tangan Tika memasuki vila mereka.
__ADS_1
Tika hanya bisa menyesuaikan langka kakinya dengan Hana, karena Hana yang berjalan begitu cepat.
"Ya ampun, pelan pelan kenapa sih." Tika menggelengkan kepalanya.
"Aku tuh terlalu excited Tik, sama kedatangan kamu."
"Excited tapi ngga kasih tahu aku kalau udah pindah." ucapnya menyindir.
"Ini diluar rencana aku, aku bahkan ngga tahu kalau Daddy bakalan pindahin aku hari itu juga."
Tika dan Hana mendudukkan bokongnya di sofa ruang tamu.
"Jadi kamu sendirian dong, kalau Daddy kamu berangkat kerja?" tanya Tika menatap Hana yang duduk didepannya.
"Iya, aku kadang bosan tahu sendirian kayak gini. Daddy udah siapin segala hal di vila ini tapi tetap aja rasa bosan itu selalu menghampiri aku." ucapnya mengeluarkan apa yang ia rasakan beberapa hari ini.
"Lama lam juga kamu udah terbiasa, aku malah suka sama suasana di sini. Sejuk banget, pemandangannya juga indah banget." ucapnya memuji.
"Iya itu juga aku akui tapi ya gimana lagi coba." memanyunkan bibirnya ke-depan.
"Hubungan kamu sama Om Adam masih baik baik aja kan? Aku tuh terus-menerus mikirin kamu, takut aja gitu sama masalah kalian yang belum terselesaikan." ucap Tika.
"Iya, sebenarnya itu juga yang masih mengganjal dalam pikiran aku, Daddy sama Kakek belum damai juga." ucapnya dengan wajah yang sudah terlihat sendu.
Tika yang mengerti dengan cepat menyampari Hana, ia duduk disampingnya lalu mengelus bahu sahabatnya. "Udah jangan mikirin itu, aku ngga suka lihat kamu sedih lagi."
"Aku egois ngga sih Tik?" dengan pandangan matanya terlihat sendu.
"Maksudnya?" Tika menatap bingung kearah Hana.
"Aku ngerasa udah rebut Daddy dari kakek. Kakek pasti benci sama aku Tik." menatap kesamping dimana Tika berada.
"Hus .... jangan ngomong kayak gitu. Kamu ngga salah atas semua ini, Om Adam benar-benar cinta sama kamu, dia yang tahu siapa yang harus dipilih." ucap Tika mengingatkan.
"Tapi kakek adalah Papinya Daddy, dia yang udah mendidik Daddy dari kecil dan itu rasanya nggak adil buat dia karena aku Daddy jadi membantah semua yang ia perintahkan." ucap Hana sendu.
"Dia memang ayah dari Om Adam tapi dia juga tidak berhak memaksakan perasaan om Adam untuk memilih pilihan yang ia tetapkan. Seharusnya seorang ayah harus menerima keputusan anaknya jika itu membuat anaknya bahagia." ucap Tika sambil menggenggam tangan Hana, ia menatap dalam mata Hana.
Hana terdiam mendengarkan nasehat Tika. Ia kembali kuat setelah mendengarkan itu dari Tika. "Makasih ya, kamu udah yakin kan aku." Hana memeluk Tika dengan perasaan haru.
"Sama sama, yang harus kamu lakukan adalah selalu berada di samping Om Adam, jangan dengarkan hasutan diluar sana. Aku yakin Om Aryo begitu mencintai kamu." ucapnya mengusap punggung Hana.
Beberapa detik mereka berpelukan, Hana melepaskan pelukan itu. "Mau ngemil nggak? Aku udah siapin cemilan sama IC cream buat dimakan." ucapnya tersenyum.
"Mau dong. Dari tadi aku udah pengen, tahu." dan seketika tawa keduanya terdengar.
Hana dan Tika mengeluarkan cemilan yang dibuat dari buah buahan itu ke balkon samping, dimana pemandangan pantai terlihat dari situ. Hana kembali masuk mengambil beberapa minuman untuk dinikmati berdua.
__ADS_1
Obrolan mereka terus berlanjut sembari mengemil makanan di-atas meja itu, sesekali gelak tawa terdengar dari keduanya. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah keduanya juga terdengar bunyi ombak di pinggiran pantai. Udara yang begitu sejuk membuat keduanya asik dengan obrolan mereka.