Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
12 anak?


__ADS_3

Malam hari pun tiba. Dimana orang orang akan mengistirahatkan tubuh mereka dari segala aktivitas yang mereka lakukan siang hari. Sama halnya dengan sepasang kekasih ini, Adam dan Hana tengah berbaring dibalik selimut tebal mereka, setelah makan malam mereka satu jam yang lalu keduanya memutuskan untuk beristirahat.


Adam memeluk Hana dengan menyembunyikan wajahnya dikedua belahan dada sang istri yang sedikit menyembul dari balik lingerie berbahan satin tersebut, sementara Hana mengelus rambut hitam Adam begitu lembut dengan posisi menyamping.


"Kita akan kembali ke rumah besok siang, setelah papi kembali dari kantor." ucap Adam memulai pembicaraan.


"Apa tidak apa apa, papi?" tanyanya dengan terus mengelus rambut Adam.


Adam mendongakkan kepalanya sebentar menatap Hana lalu kemudian kembali membenamkan wajahnya di-dada sang istri.


"Memangnya apa yang kamu khawatirkan?"


"Entahlah, Hana masih sedikit khawatir dengan kakek." ucapnya dengan wajah sendu.


"Daddy tidak akan membiarkan pria tua itu berbuat macam macam sama mommy." ujar Adam mengeratkan pelukannya ditubuh Hana.


Mendengar itu Hana membulatkan matanya terkejut, bagaimana tidak Adam memangil ayahnya dengan sebutan seperti itu terdengar tidak sopan. Ia memukul pelan punggung Adam.


"Astaga Dad! tidak sopan menyebut kakek seperti itu, dia ayah Daddy kenapa malah berbicara seperti itu." omel Hana.


Mendengar omelan istrinya, Adam terkekeh pelan. Tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Dia memang ayah Daddy,"


Hana semakin kesal mendengar jawaban suaminya. Biasa bisanya Adam tidak merasa bersalah dengan ucapannya barusan.


"Daddy hanya bercanda, Daddy tidak ingin membahas tentang itu. Yang Daddy inginkan adalah mommy selalu ada di-samping Daddy. Jangan berani punya niat untuk pergi dari Daddy karena itu tidak akan pernah Daddy ijinkan." ucapnya begitu posesif.


"Hana tidak berniat pergi, kecuali Daddy yang menyuruh Hana." ucap Hana.

__ADS_1


"Tidak akan, Daddy tidak akan pernah melakukan itu." sela Adam dengan cepat.


"Ya mungkin saja kan? Hana tetap akan berjaga jaga jika saat itu tiba,"


"Dan Daddy pastikan itu tidak pernah terjadi, kita akan hidup bahagia dengan anak anak kita nanti." sahut Adam lalu mendongakkan kepalanya keatas mencium pipi Hana sebentar.


"Anak! Jadi Daddy udah siap punya anak?" tanyanya begitu berbinar. Ia tersenyum lebar menatap Adam.


"Memangnya sejak kapan Daddy bilang tidak siap?" tanya Adam dengan bingung, sebab Hana menanyakan hal seperti itu.


"Hana pernah nanya Daddy beberapa bulan yang lalu, mungkin Daddy udah ngga ingat tapi waktu itu Daddy ngga jawab apapun saat Hana tanya." ucapnya sendu saat mengingat hal itu lagi.


"Ck .... bahkan Daddy tidak mengingatnya, lupakan saja! sekarang kita hanya perlu memikirkan masa depan kita bersama anak anak kita nanti." ucap Adam sembari mengelus lembut pipi Hana.


"Hmm .... papi mau punya anak berapa?" tanyanya Hana mengelus rambut Adam saat pria matang itu kembali meletakkan kepalanya di antara belahan dada nya.


Rasanya ia tidak sabar lagi dengan hal baru itu, hidup bahagia dan menjadi seorang ayah dari istri yang sangat ia cintai.


"Tapi banyak itu berapa Pi?" tanya Hana masih begitu penasaran.


"Mungkin 12 anak." ucapnya asal mencoba mengerjai Hana.


Hal itu sontak membuat Hana membelalakkan matanya terkejut, 12 Anak? yang benar saja. Bahkan satu anak saja mereka belum juga mendapatkan hal itu lalu pria yang sedang memeluknya posesif ini malah meminta anak hingga 12. Astaga, membayangkan hal itu saja sudah membuat nya meringis ngilu karena harus merasakan mengandung dan melahirkan hingga 12 kali.


"Tapi papi, apa tidak bisa dikurang? Masa sebanyak itu. Hana ngga sanggup kalau harus mengejan sebanyak itu." ucapnya konyol. Hana menganggap serius ucapan suaminya.


"Hahahaha, astaga kenapa mommy begitu polos. Mana tega Daddy seperti itu. Daddy hanya bercanda, Daddy tidak mungkin meminta anak sebanyak itu. Berapa pun anak kita nanti itu semua Daddy serahkan kepada mommy, Daddy ingin mommy yang menginginkan hal itu. Jika mommy belum siap Daddy tidak keberatan karena yang menanggung semua rasa sakit itu adalah mommy jadi Daddy tidak berhak menuntut agar mendapatkan anak yang banyak. Adanya mommy juga sudah membuat Daddy begitu bersyukur dan bahagia." ucapnya penuh haru.

__ADS_1


Mendengar penuturan Adam yang begitu dalam membuat Hana berkaca kaca, ia begitu terharu dengan ucapan suaminya. Jika bicara bersyukur mungkin hal itu dibalik kan padanya karena ia dipertemukan dengan pria yang sangat baik dan mencintai dirinya, bahkan pria itu rela mempertahankan dirinya saat ujian silih berganti.


Rasanya ia amat bahagia dan merasa wanita yang beruntung memiliki suami seperti Adam. Pria yang memberikan cinta dan kasih sayang tulus untuk dirinya.


Adam yang tidak mendengarkan sahutan dari Hana mendongakkan kepalanya keatas, dan yang ia lihat wanita itu sedang menahan tangisnya. Ia sontak terkejut takut jika ucapannya tadi menyingung perasaan istrinya.


"Hei .... kenapa kok mommy nangis? Ada apa? Apa papi salah bicara?" tanyanya menatap Hana dengan wajah bertanya tanya.


"Hiks .... Hana bahagia bisa bersama Daddy, Hana begitu bahagia karena Daddy tetap memilih Hana disaat orang tua Daddy menjodohkan Daddy dengan Tante Nanda." ucapnya dengan air mata yang sudah jatuh di-pipi mulusnya.


"Hus .... Daddy tidak ingin kamu membahas hal itu lagi ataupun mengingatnya. Bagi Daddy itu sudah berlalu dan tidak perlu untuk dikenang," ucap Adam tegas sembari mengusap air mata Hana dengan jari jempolnya.


"Makasih Pi Hana beruntung punya suami seperti Daddy." Hana langsung memeluk kembali tubuh Adam.


Adam mengulum senyumnya menerima pelukan Hana dengan senang hati. "Daddy lebih beruntung memiliki kamu dalam hidup Daddy." jawab Adam mengelus punggung Hana.


Cukup lama mereka berpelukan, Adam lalu melepaskan pelukannya ia mensejajarkan wajah mereka hingga kedua manik wajah mereka bertemu menatap dengan begitu lekat.


Kedua bola mata mereka mengisyaratkan banyak cinta satu sama lain. Perlahan Adam menempelkan keningnya pada Hana, "I love you, my wife." ucap Adam dengan hembusan nafas yang bisa Hana rasakan.


"I love you more, my husband." jawab Hana mengelus rahang tegas Adam.


Detik selanjutnya kedua bibir mereka menyatu. Saling menyalurkan cinta dari ciuman lembut. Adam ******* bibir Hana dengan tempo pelan, merasakan bibir manis dan tebal itu begitu lama. Saling menyesap bertukar saliva.


Perlahan Adam membaringkan tubuh Hana terlentang, ia berganti Posisi dengan berada di-atas tubuh Hana sambil kedua sikunya bertumpu pada sisi tubuh Hana.


"Eungh .... papi." lenguhan kecil terdengar dari mulut Hana.

__ADS_1


Adam tersenyum kecil lalu melanjutkan aksinya. Suara suara erangan nikmat terdengar dikamar vila sepasang suami istri tersebut. Keduanya kembali melakukan kegiatan panas mereka dengan cinta dan gairah menjadi satu.


__ADS_2