Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Tidak ingin termakan akal akalan Adam


__ADS_3

Di luar sana Aldi menghembuskan nafasnya lega. Akhirnya ia bisa keluar dari ruangan atasannya, melihat tatapan Adam yang seakan memakannya hidup hidup. Ia merutuki matanya yang tidak bisa dikondisikan.


"Untung kamu selamat Aldi, hah hampir saja." ucapnya lega sambil mengelus dadanya.


Ia melirik sebentar kearah pintu ruangan tersebut lalu kemudian melangkah dengan cepat meninggalkan tempat itu.


***


Pasangan suami istri itu sudah di perjalanan pulang ke rumah mereka. Setelah beberapa saat yang lalu menikmati ciuman mereka, keduanya pun memutuskan pulang. Adam tengah mengemudikan mobilnya dengan satu tangannya lagi menggenggam tangan Hana. Ia mengecup punggung tangan Hana berkali kali dengan pandangan fokus menyetir.


Hana tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat sikap suaminya yang begitu romantis, walaupun pria itu terkesan dingin tapi ia sangat romantis pada istrinya.


Adam menoleh sebentar menatap Hana sambil tersenyum lalu kemudian kembali menatap ke depan.


"Fokus ke depan Pi." Hana mengingatkan suaminya agar tidak terus menerus menoleh kearahnya.


"Iya sayang."


"Oh iya, pi besok jadwal cek kandungan. Apa papi bisa menemani mommy lagi?"


"Astaga kita hampir lupa, untung saja mommy mengingatkan papi. Iya papi tetap bisa menemani mommy." sahut Adam.


"Syukurlah." Hana senang.


***


Saru jam perjalanan. Mobil Adam telah tiba di rumahnya.


Ia kemudian turun dan membukakan pintu untuk Hana. Setelah itu keduanya pun melangkah masuk kedalam rumah setelah sebelumnya ia memerintahkan Dimas untuk memindahkan mobilnya di garasi. Mengingat ia tidak akan balik lagi ke kantor dan ingin menemani Hana jadi ia menyuruh Dimas untuk memarkirkan mobilnya saja.


Setelah sampai di kamar mereka Hana langsung membaringkan tubuhnya di-atas ranjang. Sementara Adam membuka jas kerjanya, meletakkan di penggantung jas. Ia lalu menghampiri Hana, mendudukkan bokongnya di sisi ranjang.

__ADS_1


"Apa papi tidak balik lagi ke kantor?" tanya Hana.


"Tidak, papi akan menemani mommy di sini." ucap Adam lalu naik keatas ranjang, membaringkan tubuhnya menghadap Hana. Mereka saling bertatap tatapan.


"Apa kita akan terus seperti ini?" tanya Hana sambil terkekeh dengan tingkah mereka.


"Lalu kita harus apa jika bukan seperti ini? Apa mommy menginginkan sesuatu yang lain?" tanya Adam sambil menaik turunkan alisnya dengan nakal.


"His papi Hana hanya bertanya saja kenapa reaksi papi seperti itu." Hana mencubit pipi Adam.


Dengan perlahan Adam menarik pelan tubuh Hana lebih dekat dengannya. "Memangnya papi kenapa? Papi memang seperti ini bukan?" Adam menggoda istrinya sambil memeluk pinggang Hana.


Hana merotasikan matanya. "Dasar mesum."


Adam terkekeh. "Jika papi tidak mesum, mommy tidak akan hamil anak kita."


"Ih papi ucapannya jadi frontal gini sih." Hana sudah dibuat merona karena ucapan Adam.


"Papi sangat mengerikan jika seperti itu." Hana melepaskan belitan tangannya yang melingkar di tubuh Suaminya.


"Memangnya papi kenapa?" Tanya Adam, lalu bangkit sebentar untuk membuka seluruh pakaiannya hingga menyisakan bokser.


Hana menatap Adam dengan kening yang mengerut.


"Papi mau ngapain buka baju? Jangan aneh aneh ini masih siang untuk melakukan itu." Hana sudah tau jika suaminya seperti itu.


Adam hanya menanggapi sambil tersenyum, ia melangkah kembali dimana istrinya masih di sana.


"Papi!' Pekik Hana, ketika ia bersiap untuk turun menganti bajunya dengan pakaian santai. Tiba-tiba Adam sudah mendahuluinya, dengan cepat ia menghisap Choco chips yang menempel di pepaya gantungnya.


Hana bahkan tidak menyangka jika suaminya secepat itu, bahkan dengan mudanya Adam menarik turunkan br* nya. Dan jadilah ia sudah setengah polos.

__ADS_1


"Shhhh. Jangan di sedot!"


"Papi hanya meminta sedikit saja." Ucap Adam, lalu segera melepaskan dress yang di kenakan istrinya, tidak lupa ia juga melepaskan penutup pepaya gantung itu.


"Ahh, papi." Racau Hana, ketika Adam mengullum Choco chips itu bergantian.


"Berikan message terbaikmu untuk pedangku ini." Ucap Adam yang sudah melepaskan boxernya, dan memperlihatkan Pedang panjang yang sudah siap untuk diasah.


Tanpa di suruh dua kali, Hana memulai aksinya dan membuat Suaminya itu merem melek dan hingga mengeluarkan suara laknat yang menggema di kamar tempur tersebut.


Tak lupa keduanya itu juga saling mematuk dan membelit lidah, membuat Hana kelimpungan sendiri karena ia juga merasakan sarung sempitnya sudah terasa kembang kempis.


"Yeahh, terusss mommy. Ini sangat enak tapi lebih enak kue apem mommy." Racau Adam, ketika ia merasakan Pedangnya di urut lembut dengan tangan halus itu.


"Lebih cepat!!" Ucap Adam ketika akan sampai pelepasan, lalu Adam mengambil tisu yang berada di nakas samping ranjang dan dengan cepat menutup si kepala botak dengan tisu.


Hana pun mempercepat gerakan tangannya, hingga membuat si kepala botak berdenyut dan memuntahkan Vla puding yang begitu banyak di tisu berwarna putih tersebut.


"Terimakasih mommy." Ucap Adam, lalu mencium bibir istrinya yang terlihat membengkak karena ulahnya.


Hana tersenyum lalu mengecup pipi Adam. "Sama sama. Ayo ke kamar mandi bersihkan tubuh papi."


"Mommy juga harus membersihkan tangan mommy bukan? ayo kita sama sama saja masuk kedalam."


"Tidak, papi saja yang duluan baru setelah itu mommy." Hana tahu maksud suaminya. Ia tidak ingin termakan akal akalan Adam.


Ia masih lelah jika harus melakukan penyatuan.


"Ya sudah papi ke dalam dulu." ucap Adam.


Hana mengangguk lalu membiarkan Adam turun dari ranjang setelah memberikan kecupan pada bibir tebalnya.

__ADS_1


__ADS_2