
Di cafe milik perusahaan Adam sedang berbincang bincang dengan koleganya mengenai kerja sama mereka.
Ucap wanita berumur 30 tahun: Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk melakukan meeting ini, Tuan Adam. Saya juga begitu sangat berterima kasih karena Pak Adam mau menerima ajakan kerja sama yang kedua kalinya dengan perusahaan kami.
"Karena kedua perusahaan kita memiliki hubungan yang baik, tentu saja kami akan dengan senang hati menerima kerja sama itu, mengingat performa perusahaan kalian juga begitu bagus jadi saya tidak ragu untuk menerima kerjasama dengan perusahaan kalian." kata Adam dengan memangku satu kakinya. Ia tersenyum tipis.
"Terimakasih kasih, saya sangat bersyukur bisa berkerjasama lagi dengan Pak Adam. Semoga kerjasama kita berjalan dengan lancar.
"Iya sama sama, ayo silakan di minum." Adam mempersilahkan wanita tersebut untuk meminum jusnya.
"Iya." sahut wanita itu sambil tersenyum menatap Adam.
"Ah iya, saya juga ingin mengucapkan selamat atas pernikahan anda." ucapnya setelah meminum seteguk jus miliknya.
Adam mengulum senyum kemudian mengarahkan pandangannya kearah kliennya setelah tadi meminum minuman nya. Ia meletakkan gelas tersebut di-atas meja.
"Terimakasih,"
"Istri anda pasti sangat beruntung memiliki suami seperti anda." pujinya.
"haha tidak, aku yang beruntung memilikinya."
"Benarkah, berarti istri anda sosok yang begitu hebat dalam hidup anda?"
"Dia wanita yang hebat dan juga sabar. Bagiku dia adalah wanita istimewa yang diberikan Tuhan untuk saya." ucapnya sambil pikirannya melayang membayangi wajah Hana, senyum yang selalu ia rindukan itu.
Ia jadi merasa rindu dengan istrinya, padahal baru hitungan jam mereka berpisah tapi pria matang itu sudah ingin cepat pulang dan bermanja-manja dengan istri mudanya.
Wanita tersebut menatap bingung karena Adam yang tiba-tiba melamun.
"Pak .... pak Adam." panggil wanita itu dengan melambaikan tangannya didepan wajah Adam. Mencoba menyadarkan lamunan pria tersebut.
Beberapa detik kemudian pria itu tersadar. "Kalau begitu baiklah, Nona Monalisa. Kami setuju dengan proposal kerjasama kalian. Saya harap kerjasama kita berjalan lancar dan tidak mengecewakan." Adam kemudian berdiri
"Iya, pasti Pak." sahut wanita itu, ia kemudian menjabat tangan Adam.
"Kalau begitu saya permisi." pamit Adam.
"Baik Pak Terimakasih atas waktunya." wanita itu menunduk sopan kepada Adam.
Adam tersenyum tipis lalu kemudian melangkah pergi meninggalkan cafe tersebut.
...****************...
Di vila.
Hana sedang duduk santai di ruang tv, menonton drama Hollywood kesukaannya. Ia tampak serius juga sesekali terdengar gelak tawa karena drama yang ia tonton. Sambil menyantap cemilannya, duduk di sofa dengan kedua kakinya ia naikkan keatas sofa.
Dan aktivitas nya itu terhenti saat terdengar bunyi bel pintu, ia melirik ke arah benda persegi panjang itu dengan alisnya bertaut, "Bukannya Papi baru ke kantor beberapa jam yang lalu? Siapa ya?" ia bertanya tanya lalu kemudian melangkah kearah pintu setelah meletakkan cemilannya di-atas meja.
Ting tong .... Ting tong
"Iya sebentar!" teriaknya dari dalam, dengan cepat membuka pintunya.
"Sia–." ucapan Hana terhenti saat membuka pintunya, Hana mendapati pria bule itu berdiri tepat didepan pintu.
Hana terhenyak melihat Leo sudah berada didepannya itu. Leo datang menemui Hana di vila tak lupa juga beberapa bingkisan di tangannya, yang sengaja ia bawakan untuk wanita tersebut.
"Leo ... kamu .... kamu sama siapa ke sini?" Hana menatapnya sebentar lalu menengok ke belakang berharap ada Tika yang juga ikut bersama pria itu. Bukan tanpa alasan Hana berharap seperti itu, ia hanya takut Adam tahu kalau ada pria lain menemui dirinya di vila mereka. Dan itu sudah pasti membuat suaminya marah.
Leo tersenyum senang menatap Hana yang terlihat semakin cantik bahkan berkali-kali lipat cantiknya. "Aku sendiri ke sini, sengaja aku ngga kasih tahu Tika. Karena mau aja sendiri biar bisa leluasa ngobrol sama kamu." ucapnya jujur.
"Astaga, gimana nhi? kalau aku usir Leo kayaknya ngga sopan juga tapi kalau aku tetap biarin dia di sini, bisa bisa papi bakalan marah besar sama aku. Aduh gimana nhi?" batinnya. Perasaannya sudah begitu cemas.
"Han, Hana ..." Leo mengerakkan tangannya didepan wajah Hana.
__ADS_1
"Ah iya, kenapa Leo." Hana gelagapan saat disadarkan dari pikirannya.
"Lagi mikirin apa sih? Apa karena aku datang ke sini jadi kamu ngga mau?" tanya pria bule itu.
"Engga .... ngga kok. Aku malah senang kamu udah jenguk aku. Makasih loh." ucapnya pasrah sambil tersenyum paksa.
"Aku senang dengarnya, ternyata kamu ngga keberatan buat aku jenguk." sahutnya tersenyum senang.
Hana tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Hana masih berdiri didepan pintu tanpa mempersilahkan pria itu untuk masuk.
"Kamu sendiri?" tanya Leo sambil melihat kearah dalam.
"Iya aku sendirian, kenapa?" menatap bingung pria di depannya itu.
"Aku boleh ngobrol ngga sama kamu, penting banget. Sebentar aja kok ngga lama."
"Ah gimana ya ...." Hana tampak berpikir menerima permintaan Leo atau tidak.
"Please! aku janji cuman sebentar aja kok, setelah itu aku akan pulang." bujuknya sambil mengatupkan kedua tangannya didepan wajah.
Melihat Leo yang begitu memelas membuat Hana merasa tidak tega. "Ya udah tapi hanya bentar ya?"
"Yes .... iya aku janji cuman sebentar." sahutnya begitu senang.
"Ya udah ayo masuk." ucap Leo dengan kakinya ingin melangkah masuk kedalam vila.
Tapi langkah kakinya dengan cepat dicegah oleh Hana. "Eh eh mau ngapain?" tanyanya dengan bingung.
"Mau masuk, bukannya tadi kamu udah setuju mau ngobrol sama aku?"
"Iya aku mau tapi bukan di dalam ngobrol nya, kita ngobrol di tempat lain yang nggak jauh dari vila ini." usul Hana lalu melangkah pergi meninggalkan Leo.
"Mau kemana? ...." Leo menatap Hana dengan bingung saat wanita itu sudah melangkah lebih dulu meninggalkan dirinya.
"Kamu mau ngobrol kan? Kalau mau ngobrol ayo ikut aku kita ngobrol di pantai bawah." Hana menoleh kebelakang menatap Leo dengan satu tangannya menunjuk kearah pantai.
Waktu sudah menunjukkan pukul jam satu siang, Adam memutuskan pulang lebih awal untuk makan siang bersama dengan istrinya.
Hana terhenyak melihat Leo sudah berada didepannya itu. Leo datang menemui Hana di vila tak lupa juga beberapa bingkisan di tangannya, yang sengaja ia bawakan untuk wanita tersebut.
Adam melangkah keluar dari ruangannya, ia mengeluarkan HP dibalik saku jasnya kemudian melakukan panggilan telepon dengan Hana.
Saat sudah memanggil nomor tersebut, Hana tak kunjung menjawab panggilan Adam, pria itu kemudian Kembali memangil hingga panggilan ke tiga Hana juga tak kunjung mengangkatnya. Wajah Adam sudah tampak kesal saat panggilannya tak juga dijawab.
"Kemana dia? Kenapa tidak menjawab panggilan ku." Gumamnya.
Ia terus melangkah dengan terus melakukan panggilan telepon itu. Sesekali beberapa karyawan menundukkan kepalanya sopan saat pria itu melewati mereka.
"Siang Pak ... sapa mereka sambil menunduk.
"Hmmm." sahut Adam dengan tangan yang memberikan kode agar mereka melanjutkan lagi langkah mereka.
"Sebenarnya dimana kamu, Hana. Apa yang kamu lakukan di vila sampai tak mengangkat panggilan papi." kesalnya lalu membuka pintu mobilnya saat sudah berada di depan lobby.
"Ck .... Awas aja kalau kamu sampai berani langgar perintah Daddy." batinnya lalu menjalankan mobilnya meninggalkan perusahaan.
...************...
Di pantai Hana dan Adam sedang duduk di-atas pasir putih itu, sambil menatap kearah air pantai yang bersih.
"Jadi .... kamu mau ngomongin apa?" Hana memulai pembicaraan saat beberapa detik yang lalu terasa hening.
Leo menoleh sebentar kearah Hana sambil tersenyum kecil, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan. "Aku tahu ini pasti bakalan buat kamu cukup terkejut sama pernyataan aku, tapi aku juga harus memberanikan diri buat ungkapin apa yang aku rasain saat kenal sama kamu. Dan aku rasa ini waktu yang tepat buat aku ngomong sama kamu."
Lantas Hana langsung menatap kesamping dimana Leo berada. Tatapannya sudah terlihat tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Leo.
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Sebenarnya aku–." Leo menjeda ucapannya sebentar lalu berdiri dengan meraih tangan Hana. Hana yang tampak kebingungan memilih mengikuti apa yang Leo lakukan.
Ia kemudian menggenggam tangan Hana. "Aku sebenarnya udah jatuh cinta sama kamu, dan niat aku ke sini buat nembak kamu untuk jadi pacar aku. Aku tahu ini mungkin bukan cara yang romantis untuk nembak kamu tapi alangkah baiknya aku mengutarakan dulu perasaan aku ke kamu. Bahwa aku Leo mencintai kamu, dan maukah kamu menjadi kekasih ku?"
Hana tertegun mendengar ucapan Leo, ia begitu dibuat syok dengan pernyataan Leo barusan. Menjadi kekasih? Apa sudah tidak salah? Dia bahkan mengajak istri dari pria lain untuk menjadi kekasihnya. Astaga ini benar-benar gila.
"Hmm Maaf, aku ngga bisa." jawab Hana dengan cepat melepaskan tangannya.
Deg ....
Penolakan Hana sontak membuat dadanya serasa di tusuk. Ia tak menyangka Hana dengan begitu cepat memberikan penolakan, apa ia tidak salah dengar?.
"Mak .... maksud kamu tidak bisa karena apa? Oh atau mungkin karena kamu masih ragu sama pernyataan cinta aku? Sungguh Hana, aku benar benar cinta sama aku. Aku tahu aku dulunya pria playboy yang suka bermain-main dengan para wanita tapi itu dulu, sejak kenal sama kamu aku jadi pria yang hanya mencintai satu wanita dan itu kamu, Han." ucapnya jujur kembali meraih tangan Hana.
"Maaf aku tetap ngga bisa." ucapnya melepaskan tangannya dari genggaman Leo.
"Why? kasih tahu aku alasannya kenapa?" Leo menatap Hana dengan bingung.
"Karena aku .... aku udah nikah Leo, aku istri pria lain." jelasnya.
"Hahaha, jangan bercanda kamu, aku tahu kamu bohong." Leo tertawa mendengar ucapan Hana. Apakah Hana mencoba membohongi dirinya?, pikirnya.
"Oke aku ngga masalah kalau kamu belum siap untuk jawab sekarang, aku akan beri waktu buat kamu untuk terima aku." ucapnya masih mengabaikan jawaban Hana.
Hana menatap kesal kearah Leo karena pria bule tersebut merasa ia sedang bercanda dengan ucapannya. "Leo cukup! aku nggak lagi bercanda, aku serius kalau aku udah menikah. Jadi please aku mohon buang jauh jauh perasaan kamu ke aku karena sampai kapanpun aku tetap ngga bisa kamu miliki. Dan satu hal lagi .... aku ngga menganggap kamu sejauh itu, aku udah senang banget kamu jadi teman aku bukan pacar, Leo." jelasnya panjang lebar.
Deg ....
Senyuman yang sedari tadi terus mengembang lantas menghilang.
Leo seperti ditusuk mendengar ucapan Hana, ia benar benar merasa sesakit ini saat ditolak. Jika sebelumnya ia biasa saja saat diputuskan, tapi ini berbeda. Belum juga apa apa ia sudah ditolak.
"Han kamu ngga lagi bercanda kan?" Leo masih mencoba memastikan kembali ucapan Hana. Ia menolak percaya dengan semu ini, masih belum yakin.
"Aku ngga lagi bercanda aku serius Leo, kalau aku udah menikah." ucapnya menatap Leo.
"Nggak .... ngga mungkin kamu pasti bohong. Oke aku tahu kamu nolak aku karena belum siap dan aku akan ngertiin hal itu. Kamu bisa jawab lain waktu, oke?" rupanya Leo masih tak mau percaya dan bersikeras.
Hana mengembuskan napasnya kasar, saat mendengar jawaban Leo. "Leo berapa kali aku bilang kalau aku udah menikah, tolong jangan buat kamu dalam masalah."
"Aku ngga akan percaya kalau itu ngga ada buktinya." Leo menggeleng tidak ingin mempercayai ucapan Hana.
"Ini ..... ini buktinya kalau aku udah menikah." ucap Hana sembari memperlihatkan cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.
Detik itu juga Leo langsung bergeming di tempatnya. Wajahnya langsung terlihat sendu, berharap tadinya hanya bercanda tetapi Leo malah ditampar oleh kenyataan bahwa wanita didepannya ini adalah milik pria lain.
"Han .... kapan? Dan siapa pria itu? Kenapa kamu ngga ngomong sama aku ataupun Tika." Leo berpikir Tika juga belum tahu soal ini.
"Aku menikah satu hari yang lalu dan Tika tahu soal ini, dan suamiku adalah Adam Mateo. Aku tahu kamu udah kenal siapa dia." jawab Hana terus terang.
"Ap-apa! Adam Matteo?" matanya membulat sempurna. Ini benar benar gila, wanita didepannya ini malah mau menikah dengan pria dewasa bahkan umur mereka sangat terpaut jauh. Apa Hana dipaksa oleh pria dengan segudang kekuasaan itu?, pikirnya.
"Iya dia suami aku."
"Hana kamu pasti dipaksa sama pria itu, iya kan?" Leo memegang pundak Hana.
"Aku ngga dipaksa sama siapapun, aku dan suamiku saling mencintai." sembari melepaskan tangan Leo dari pundaknya.
"Tapi usia dia sama kamu beda jauh Hana, dan astaga! aku ngga bisa percaya sama semua ini." Leo meremas kasar rambutnya.
"Jika kamu tulus mencintai seseorang kamu tidak akan memandangnya dari segi apapun, dan itulah yang terjadi sama aku. Aku mencintai suamikuk."
"Dan aku juga berharap jangan biarkan perasaan kamu semakin terluka karena berharap cinta dari wanita yang sudah bersuami. Lupakan semua itu, ayo berteman seperti biasanya." mencoba memberikan pengertian kepada Leo.
__ADS_1
Pupus sudah harapan Leo untuk mendapatkan wanita idamannya, hatinya benar-benar dipatahkan oleh kenyataan. Ia menyalakan dirinya karena sudah jatuh cinta pada Hana.