
Setelah menyelesaikan aktivitas panas mereka di kamar mandi, Adam dan Hana akhirnya keluar.
"Papi tidak ke kantor?" tanya Hana dengan heran saat melihat suaminya belum juga mengenakan pakaian.
"Papi akan menemani mommy hari ini, kemarin papi membuat mommy sedih karena meninggalkan mommy begitu saja dan hari ini papi ingin menebus kesalahan papi dengan menemani mommy." ucap Adam lalu mendekati Hana yang sedang menyisir rambutnya didepan cermin.
Hana melihat Adam yang berjalan mendekatinya dari balik kaca. la menghentikan pergerakannya saat Adam sudah memeluknya dari belakang.
Adam menciumi leher Hana menahannya sedikit lama hingga menimbulkan tanda. Hana membiarkan Suaminya melakukan itu, tangannya terulur kebelakang mengelus kepala Adam.
"Biarkan Hana memakai baju dulu Pi, ayo papi juga harus memakai baju." ucap Hana menatap kearah kaca rias.
"Hmmpt, papi masih ingin. Apa boleh sekali lagi?" Adam terus menciumi ceruk leher Hana. lalu kemudian berpindah di-bahu telanjang Hana. Karena Hana yang masih memakai handuk membuat bahunya terekspos bebas.
"Apa papi tidak lelah?" Hana begitu heran dengan suaminya yang seakan punya tenaga untuk bergulat.
"Tidak lelah tapi papi hanya ingin meminta asupan susu saja setelah itu papi akan membuatkan susu untuk mommy." bujuk Adam.
"Yakin hanya menyusu saja? Aku tidak yakin papi hanya melakukan itu."
Hana tidak percaya dengan ucapan suaminya karena sudah pernah terjadi berulang ulang jika pria itu menjanjikan hanya sekedar susu maka itu tidaklah benar, dia akan melanjutkan ke aksi berikutnya yang mana mereka akan menguras banyak tenaga.
"Iya papi yakin. Ayo papi harus puas puaskan untuk itu karena setelah anak kita lahir papi tidak akan bisa seleluasa ini. Aku pasti berbagai dengan nya. ucapnya dengan wajah dibuat kasian.
__ADS_1
"Hahaha papi ada ada saja. Hana menertawakan suaminya. Ia lalu berbalik menghadap Adam.
"Ya mommy mau, asal papi pakai baju dulu, apa papi tidak malu bertelanjang seperti ini? Papi bahkan lebih parah dari bayi." Hana mengomeli Adam.
"Nanti saja pakai bajunya, papi ingin susu. Ayo!" Adam lalu mengangkat tubuh Hana memindahkannya di ranjang mereka.
Hana tersenyum kecil lalu memeluk leher Adam. Adam lalu membaringkan Hana di-atas ranjang setelah itu ia menyusul dengan merangkak naik.
Setelah itu ia menyusul dengan merangkak naik. Membaringkan tubuh nya di samping Hana yang sudah terlentang dengan handuk kecilnya.
"Tutup dulu, tubuh papi," Hana menunjuk kearah selimut untuk Adam naikan.
Adam menurut ia menarik keatas selimut itu hingga menutupi setengah tubuh mereka. Dan hanya membiarkan dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu terekspos.
"Ayo mommy: Adam lalu menurunkan sedikit handuk Hana kebawah hingga memperlihatkan dua pepaya gantung yang semakin berisi itu.
Adam begitu gemas dan meremas pepaya gantung Hana. "Hah setelah anak kita lahir mungkin saja papi akan berbagi dengannya." Adam menatap kearah itu.
"Jangan pelit papi, dia juga anak papi. Hana terkekeh.
"Papi tidak akan pelit tapi papi merasa kasian saja dengan nasib papi. ucapnya konyol.
"Cih.
__ADS_1
Adam lalu turun mengecup perut Hana yang masih tertutupi oleh handuknya. "Hai sayang, kamu harus bisa berbagi dengan papi setelah lahir nanti. Papi bisa berbagi dengan papi setelah lahir nanti. Papi memang begitu menyayangi kamu tapi jika itu soal mommy maka kita akan siap siap saling merebut." ucapnya sambil terkekeh pelan.
"Jangan mengatakan hal itu padanya! astaga, bahkan dia belum juga lahir papi sudah mengatakan itu." Hana menggeleng.
Adam tersenyum lalu mengecup lagi perut Hana sebelum bangkit dari sana. "Papi dan mommy begitu menyayangi kamu, tetap sehat di sana kami sudah tidak sabar menunggu kehadiran kamu. bisiknya.
Hati Hana seakan menghangat mendengar suaminya mengucapkan itu. la membayangkan akan ramai dengan tangisan bayi mereka di rumah itu.
"Papi begitu mencintai mommy dan juga bayi kita." ucap Adam setelah kembali mensejajarkan wajah mereka.
Cup
Adam mengecup bibir Hana sekilas. "Mommy juga mencintai papi dan anak kita." sahut Hana tersenyum.
Dan detik selanjutnya Adam sudah melakukan kegiatannya di pepaya miliknya. Menyedotnya dengan rakus seperti bayi yang kehausan.
"Hmmpt pelan pelan Pi! tidak ada yang akan memintanya." Hana meringis saat mulut Adam menyesap begitu kuat di Coco chip itu. Dan di kamar itu Hana tengah memberikan asupan untuk suaminya.
***
Yuk like, vote, favoritkan dan beri hadiahnya. Aku semangat banget loh nulis buat kalian, jangan pelit untuk berikan dukungannya.
Pembacanya banyak tapi yang like cuman sedikit dan bahkan saya sudah jarang dikasih vote dan hadiah. Apa kalian udah bosan sama cerahnya? Kalaupun ia aku akan tamat kan ceritanya saja dan beralih ke cerita lain lagi.
__ADS_1