
Saat Adam masuk kedalam kamar Hana. Ia melihat Tika sedang berpelukan, Tika rupanya sudah akan pulang. Ia memperhatikan gerak-gerik keduanya sambil kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, jangan lupa tatapan datar itu tak pernah ketinggalan.
"Hati hati ya Tik!" ucap Hana tersenyum saat pelukan itu terlepas.
"Iya, kamu juga jangan banyak pikiran." Tika memeringati Hana.
"Siap Bos." ucapnya dengan gerakan hormat di depan wajahnya.
Tika terkekeh geli melihat tingkah Hana. "Ya udah, kamu istirahat. Aku pergi ya." pamit Tika memegang sebentar telapak tangan Hana.
"Iyah, maaf aku ngga anterin kamu ke depan."
"Ngga apa apa, santai aja." sahut Tika.
"Ehem .... Kalian udah selesai?" suara bariton itu menghentikan obrolan mereka, keduanya sama sama mengarahkan matanya kearah pria matang itu.
Hana tersenyum kecil saat melihat sosok itu. Sementara Tika, ia sudah merasa canggung berhadapan dengan Adam setelah mengetahui hubungan keduanya. Tika hanya bisa tersenyum kaku pada pria matang itu.
"Iyah Om, saya udah mau pergi." jawab Tika seraya tersenyum canggung.
"Ya sudah, kamu boleh keluar." ucap Adam dengan nada mengusir, tidak ada rasa terima kasih sedikit pun dari pria berwajah datar itu.
"Dad! ...." Hana membulatkan matanya mendengar Adam langsung mengusir Tika untuk pergi, tidak ada jawaban yang lebih baik apa.
"Ah iyah Om. Han gue pamit ya." Pamit Hana sambil tersenyum kearah Hana, ia lalu melangkah kearah pintu.
"Permisi, Om." pamit Tika pada Adam saat melewati pintu itu.
"Hmm." sahut Adam dengan begitu datarnya, tanpa melirik sedikit pun kearah Tika.
Adam menutup benda itu setelah Tika sudah berlalu keluar. Tika mengembuskan napasnya saat sudah berada diluar sana.
"Benar benar dingin banget tuh, orang." Hana menuruni anak tangga sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Di kamar Hana.
Adam berjalan mendekati Hana di atas ranjang, sembari tersenyum manis padanya. Berbalik dengan beberapa detik tadi, saat masih ada Tika di kamar itu.
"Kalian lagi ngomongin apa tadi, Hmm?" tanya Adam dengan posisinya yang sudah berada di-samping wanitanya. Satu tangannya terangkat mengelus pipi Hana dengan lembut.
"Tika khawatir sama Hana, makanya dia ke rumah buat nemuin Hana, Dad." sahut Hana dengan wajah yang terlihat kesal pad Daddy-nya.
"Kok mukanya gitu? Kenapa, kamu marah sama Daddy?" Adam terkekeh.
"Abisnya Daddy gitu banget jawabannya, masa ngga ada kesan baik sih sama Tika."
"Loh, memangnya Daddy ngapain?" tanya Adam berpura-pura tidak mengerti.
"Ish Daddy." kesal Hana, bibirnya semakin mencebik kesal pada Adam.
"Hahah. Memangnya Daddy harus jawab gimana, baby?" Adam mencubit gemas pipi Hana.
"Sakit Dad!" keluh Hana sambil berusaha melepaskan tangan kekar itu dari pipinya.
Umaach umaach ummach ummach ....
"Dad! berhenti geli ih." Hana memekik sambil memukul pelan bahu Adam, karena Adam terus saja menciumi wajahnya. Ia jadi kesusahan bernafas karena telah dikuasai pria itu.
Adam lalu mengangkat wajahnya dari tempat itu, menatap Hana sambil tersenyum. "I love you." Lagi lagi ungkapan cinta itu kembali diucapkan Adam.
Sontak Hana menarik sudut bibirnya membentuk senyuman dengan begitu lebarnya. "I know that."
Wajah Adam yang tadinya tersenyum, menjadi kesal karena jawaban yang Hana berikan. "Kenapa ngga jawab, hmm? Kamu harus jawab ungkapan cinta dari Daddy. Ayo ulangi lagi!" Adam mendorong tubuh Hana hingga terlentang di-atas ranjang.
Kini posisi Adam setengah menindih tubuh Hana, Hana menahan tawanya melihat wajah Adam yang sudah terlihat kesal karena jawabannya.
"Cih .... kenapa malah senyum gitu, Daddy nyuruh kamu buat jawab bukan senyum kayak gitu." kesalnya.
__ADS_1
"Daddy lucu kalau lagi kesal gini." Hana tersenyum dibawah tubuh Adam.
"Kamu memang harus diberi hukuman." ucap Adam lalu dengan cepat mengunci kedua tangan Hana di atas kepala Hana.
"Dad! Daddy mau ngapain?" Hana terkekeh dibawah sana.
"Ternyata kamu mau tantangin Dady, rupanya."
"Hahaha, Daddy geli! Aaa .... Dad hentikan!" Hana tertawa, tidak mampu lagi menahan rasa geli yang Adam berikan pada perutnya.
Adam terus menggelitik perut Hana. "Hahaha Dad! Hana nyerah Dad, stop!" Nafas Hana memburu karena rasa geli itu.
Adam pun menghentikan gerakannya, ia menatap wanitanya sambil tersenyum puas. "Ayo jawab!"
"I love you to Daddy." sahut Hana disela nafasnya yang ngos-ngosan.
Adam lalu tersenyum senang menatap Hana. "Good." Ia mengelus pipi Hana sebentar. Kedua pandangan itu saling terpaku saling memberikan senyuman bahagia, hingga perlahan Adam mendekatkan wajahnya di wajah Hana.
Ia menyatukan dahinya di-dahi Hana hingga jarak kedua wajah itu hanya sejengkal hidung. Napas mereka saling menerpa satu sama lain.
Perlahan tapi pasti Hana memejamkan matanya, saat bibir Adam sudah terbenam di-bibirnya. Pertautan kedua benda kenyal itu pun dimulai.
Ciuman itu terasa semakin dalam, saat perlahan kedua tangan Hana yang ditahan Adam tadi terlepas dan berganti mengalungkan dileher Adam.
Adam menahan tengkuk Hana dengan kedua tangannya, suara decapan nikmat yang terus mengisi kamar itu yang mereka tempati.
Adam terus membolak-balikkan wajahnya menikmati pertautan itu. Menyesap dengan pelan, sambil menggigit kecil di-benda tak bertulang milik Hana. Bibir tebal Hana yang terasa begitu candu.
Kedua pasang mata itu terpejam. Terus bertukar saliva dan menikmati sensasi yang tercipta, bagian bawah tubuh Adam mulai bergerak mencari ruang.
Selagi mulut itu terus beraktivitas. Tangan Adam pun tak kalah untuk bergerak, merayap dibalik punggung mulus itu, mencari muara pengait yang menyembunyikan dua buah kesukaannya.
Dan terjadilah pertempuran itu dikamar Hana.
__ADS_1
Jangan terlalu panjang ya, soalnya noveltoon suka sensi😁. Beberapa bab aku selalu ditolak padahal adegannya ngga terlalu vul*gar, malah penulis penulis lain adegannya lebih parah dari punya saya dan malah bisa lolos reviews ya? Maklum mungkin berlaku buat para penulis terkenal aja.