
"Jangan pernah bermain dibelakang, Daddy. Daddy tidak akan membiarkan kalian begitu saja,Hana!" teriaknya menggema di ruangan kamarnya.
Adam menarik nafas dan menghembuskan nya secara perlahan. Pelan-pelan dia mencoba untuk tenang dan akhirnya ponsel yang dia genggam kembali bergetar, menampilkan nama sang asisten.
Tanpa berpikir panjang, Adam langsung menerima panggilan itu. Mulutnya mulai gatal, siap untuk memaki pria yang ada di seberang sana.
"Brengsekklk! Ke mana saja kamu, Aryo? Kamu tidak melaporkan apapun tentang keadaan Hana. Aku memberikan kamu tugas untuk melaporkan apapun yang Hana lakukan di-sana. Sebenarnya apa yang kamu kerjakan seharian ini, hah? Pria cilik itu bahkan datang ke villa dan menemui Hana. Kamu malah tidak bicara apa-apa, seandainya aku tidak bertanya pada bodyguard itu, aku mungkin tidak tahu! Sialan!"
Adam mulai memaki Aryo yang dianggapnya tidak becus menjalankan tugasnya. Ah, bukan tidak becus sebenarnya.
Aryo hanya berpikir bagaimana resikonya jika dia mengatakan keadaan Hana yang sesungguhnya. Aryo menghela nafas, menerima semua makian yang keluar dari mulut Adam. Dia sudah terlalu kebal untuk itu, sehingga dia tidak menganggapnya benar-benar serius. Saat ini, Adam hanya sedang emosi.
"Tuan, maafkan saya. Saya tidak bermaksud seperti itu. Pengawal tadi juga baru melaporkannya pada saya, dan saya berniat menelpon anda. Tapi anda ternyata sedang menghubungi bodyguard itu," sahut Aryo pelan-pelan.
Mana berani ia menyahut makian Adam dengan makian juga, yang ada dia akan ditendang jauh jauh dari kota itu. Sebagai bawahan yang sudah mengabdi bertahun-tahun pada Adam, Aryo mengerti bagaimana sifat pria ini.
Adam mendengus kasar. "Ceritakan semua yang terjadi hari ini. Semuanya, tidak boleh ada yang ditutup-tutupi ataupun kamu mencoba melewati sedikit pun masalah yang sedang terjadi di situ." cetus pria bertato tersebut.
__ADS_1
Bukannya lekas bercerita, Aryo justru bertanya. "Bagaimana dengan operasi anda? Apa berjalan lancar?" Dan hal itu membuat Adam mengepalkan tangannya, dengan mata yang menukik tajam.
"Jangan coba mengalihkan pembicaraan, Aryo! Apa yang sedang terjadi di sana, ada apa dengan Hana hari ini. Kalau tidak, kamu akan tahu akibat nya!" Adam menekan setiap kalimatnya. Memberitahu pada Aryo bahwa dia tidak sedang main-main dengan ucapannya.
Bahkan urat di dahinya sangat kentara, menandakan dia benar-benar butuh jawaban secepatnya. Di ujung sana, Aryo menelan ludahnya kasar.
Dia harus siap untuk mendapatkan makian yang lebih banyak dari tuannya. Tapi tidak apa-apa, ini sudah tanggung jawabnya.
"Sekali lagi maafkan saya, Tuan.
"Aku tidak butuh maaf kamu. Cepat katakan!" potong pria yang semakin dilanda cemas juga emosi itu. Dia semakin bergerak tidak sabaran, takut terjadi sesuatu dengan gadisnya.
"APA? SAKIT?" Adam kembali memotong dengan teriakan yang memekik telinga. "****! Aryo, kenapa tidak bilang dari awal padaku. Masalah serius seperti ini dan kamu tidak memberitahukan kepada aku? Apa sudah dibawa ke rumah sakit? Bagaimana kondisinya, cepat katakan sialan! Dasar gila, kenapa tidak bicara padaku, hah, Hana sakit apa?"
Adam semakin dibuat frustasi mendengar wanita pujaannya tengah sakit. Otaknya tidak bisa diajak untuk berpikir waras, dia benar-benar tak bisa mengendalikan perasaan cemasnya.
Di ujung sana ludah Aryo terasa tercekat. Bagaimana dia bisa menjelaskan bila yang bertanya saja seperti ini. Baru membuka mulut, Adam kembali bicara, baru mau menjawab, Adam kembali memakinya.
__ADS_1
Dada Adam naik turun, seiring emosinya yang tak bisa diluapkan. Dia memejamkan mata sejenak. Mengusir pikiran-pikiran buruk yang bersarang di otaknya.
"Aku akan pulang sekarang!" putus Adam, dia benar-benar tidak bisa tinggal diam. Dia tidak bisa terus seperti ini jika seseorang yang ada di sana tidak baik-baik saja.
"Tuan, apa yang anda bicarakan? Tetap di sana sampai anda pulih. Nona Hana sudah tidak apa-apa. Saya sengaja tidak memberitahu anda, karena saya tahu apa akibatnya. Lihat, baru seperti ini saja anda sudah berkeinginan untuk pulang...
"Bagaimana jika tadi pagi saya memberitahu anda kondisi Nona yang sebenarnya? Benarkah anda akan berhasil operasi? Saya pikir tidak! Jadi tetaplah di sana, biar di sini menjadi urusan saya. Semua ini untuk anda dan Nona Hana kedepannya, jadi jangan khawatirkan apapun!'
"Tapi aku khawatir pada Hana, Aryo." Suara Adam mulai melemah mendengar ucapan Aryo memang ada benarnya. Tetapi tak dipungkiri, dia tetap merasa khawatir dengan gadis itu.
"Kalau begitu anda bisa menghubunginya. Sebentar lagi dia pasti selesai makan malam. Di sana ada teman temannya juga bi Surti yang menemani mereka. Jangan terlalu khawatir, atau semuanya akan memperburuk keadaan dan kondisi Tuan," jelas Aryo panjang lebar.
Berharap otak waras Adam terbuka sedikit untuk mencerna ucapannya. Adam menghela nafas panjang, lalu menganggukkan kepala. Seolah seseorang yang ada di seberang sana tahu apa yang sedang dilakukannya.
Lalu tanpa mengatakan apapun lagi, dia mematikan panggilannya. Karena dia ingin menghubungi Hana. Membuat Aryo menggelengkan kepalanya dahi, merasa tak habis pikir.
"Astaga, tidak ada terimakasih nya! sabar Aryo, kamu dibayar." sembari menghembuskan nafasnya pelan.
__ADS_1
Kok cuman sedikit like nya? Udah malas ya sama jalan ceritanya? Yuk like yuk biar aku lebih semangat lagi nulisnya.