
Adam segera naik ke atas, tetapi bukan ke kamarnya, melainkan ke kamar Hana. Dia langsung membuka pintu, dan beruntungnya benda persegi panjang itu tidak dikunci oleh sang pemilik kamar.
Hana yang kala itu tengah menangis, dengan buru-buru menyeka air matanya. Lalu kemudian melayangkan tatapannya ke arah pria itu dengan tersenyum kecil agar Adam tidak curiga, jika dia baru saja habis menangis.
Adam melangkah sambil mengulum senyum. Ia mencoba tenang didepan Hana agar Hana tidak tahu apa yang telah terjadi dibawah tadi, pikirnya. Pria itu tidak tahu saja, jika Hana sudah mendengar semu pertengkaran mereka diruang tamu tadi.
Begitu sampai didekat Hana, dia langsung merengkuh pinggang ramping itu. Dan melesakkan wajahnya di antara ceruk leher Hana, Adam menghirup aroma tubuh Hana dalam-dalam, aroma yang benar-benar memabukkan untuknya.
Hana menggeliat merasakan geli, apalagi wajah Adam ditumbuhi bulu-bulu halus, dan kini menyapa leher jenjangnya.
"Kamu sedang apa, Baby?" tanya Adam, tetapi wajahnya tak berhenti mengusak di leher wanitanya.
"Daddy stop, ini geli Dad," ujar Hana dengan wajah yang merenggut. Mendengar itu, Adam terkekeh dan menghentikan aksinya, lalu menyuruh Hana untuk berdiri, Hana menurut meski tidak mengerti apa yang akan dilakukan Adam
"Kamu lagi ngapain tadi? Tunggu! kamu habis nangis?" tanya Adam saat baru menyadari wajah Hana yang sembab. Ia menatap Hana penuh tanya.
Ya walaupun Hana mencoba menutupi hal itu, tetap saja Adam akan mengetahui dari wajahnya yang sudah terlihat sangat sembab.
"Aku ngga kenapa napa kok, tadi ada debu aja yang kena mata Hana, makanya jadi gini." balas Hana beralasan lalu menunduk menghindari tatapan mata Adam. Matanya sudah mulai lagi mengeluarkan kristal bening itu.
Lagi pula kenapa mesti ditanya, dia cuman mau dipeluk kalau lagi nangis gini. Semakin ditanya malah buat kita para wanita akan semakin nangis.
Adam yang melihat itu dengan cepat merengkuh tubuh Hana kedalam pelukannya. Ia mengerti sekarang, pasti Hana sudah mendengar pembicaraan dan juga papinya.
Adam memeluk tubuh Hana begitu erat dan memberikan kecupan berulang ulang dipuncak Kepalanya.
Tak kuasa lagi menahan tangisnya, tangisan Hana pecah begitu saja dalam pelukan Daddy-nya.
"Hiks hiks ...." Tangisan Hana begitu terdengar lirih
__ADS_1
"Jangan nangis, kamu akan tetap bersama Daddy. Daddy pastikan itu." ucap Adam disela pelukan itu. Hatinya begitu teriris mendengar tangisan Hana yang begitu pilu.
Hana terus menangis tersedu-sedu dalam pelukan Adam, ia menangis dengan mengigit kaos bagian depan pria itu. Tangisannya begitu menyayat hatinya.
Adam membiarkan Hana meluapkan tangisannya, cukup lama Hana menangis, hingga tangisan itu mulai reda Adam lalu melepaskan pelukannya.
Ia mengapit kedua pipi wanita itu sambil menatap lekat wajah Hana.
"Ingat, mulai saat ini juga. Siapapun yang mau memisahkan kita, kamu cukup berada di-samping Daddy dan percaya sama Daddy. Kita akan lalui bersama apapun itu. Oke!" Ucap Adam sambil satu jarinya menyeka air mata Hana.
Hana bergeming menatap daddy-nya dengan mata sembab. Ia masih begitu ragu akan hal ini, mengingat Oma yang belum tahu mengenai hubungan mereka.
"Ta .... tapi Dad, Oma gimana?" tanya Hana dengan ragu."
"Biarkan Daddy yang menyelesaikan semuanya, kamu cukup diam dan tetap bersama Daddy. Daddy hanya ingin itu dari kamu." ucap Adam meyakinkan Hana.
Adam lalu membawa tubuh rapuh itu, kembali dalam pelukannya. "Daddy milik kamu, siapa pun nggak berhak untuk rebut Daddy dari kamu." ucap Adam mengelus rambut Hana.
"Hiks hiks ....
Tangisan itu Kemabli terdengar. "Udah jangan nangis, Daddy disini bersama kamu." imbuh Adam.
"Da-Daddy janji kan, nggak ninggalin Hana." ucap Hana disela tangisnya, dengan sesenggukan.
"Daddy janji, sayang." sahut Adam.
Tangisan wanita itu perlahan reda dan tidak terdengar lagi. Ia masih dalam pelukan Adam dengan tangannya melingkar erat di-pinggang Adam, Kepalanya ia sandarkan di-dada bidang pria itu
Adam Kemudian melepaskan pelukan Hana, menatap wanitanya sebentar. Hana membalas tatapan Daddy-nya. Cukup lama mereka saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
Adam kemudian meraih wajah Hana mengecup dahi Hana beberapa detik lalu berganti mencium pipi Hana secara bergantian, ia lalu menarik dagu itu dan melesatkan sesapan di bibir tebal milik Hana. Sesapan yang terasa begitu lembut.
Cukup lama Adam melakukan itu, ia lalu menarik wajahnya dari benda itu. Mengusap benda kenyal tak bertulang itu dengan lembut.
"I am sorry, Baby." ucap Adam tersenyum menatap Hana dengan senyuman yang begitu tulus.
Hana hanya diam menatap Adam. "Ayo kamu harus istirahat." Adam meraih tubuh Hana dan dibaringkan perlahan ke atas ranjang.
Hana memang harus beristirahat karena wanita itu banyak menguras tenaganya dengan menangis dan juga karena ulahnya semalam, membuat Hana kehabisan tenaga.
"Daddy mau ke mana? Jangan ninggalin Hana sendiri." pinta Hana saat melihat Adam yang akan beranjak dari kasur. Han sudah terlihat takut.
Ia takut jika Adam pergi, kakek Barack akan datang menemui dirinya. Ia tidak siap berhadapan dengan pria itu, tanpa Adam disampingnya
"Daddy mau ambil laptop Daddy, diruang kerja. Daddy akan kembali lagi ke sini."
"Jangan ninggalin Hana Dad, please!" Hana dengan wajah memohon. Terlihat guratan takut di-wajah perempuan itu.
Adam yang mengerti pun, memilih membaringkan tubuhnya di-samping Hana dan memeluk tubuh Hana. "Ayo istirahat, Daddy ngga kemana mana. Daddy nemenin kamu disini." kata Adam sembari mengecup kepala Hana.
Satu tangannya mengelus punggung Hana dan satu tangannya lagi ia letakkan dibelakang kepala Hana, menjadikan tangannya sebagai bantal.
Hana memeluk Adam begitu kuat seakan takut pria itu akan pergi meninggalkan dirinya. Ia menyadarkan wajahnya di-depan dada bidang Daddy-nya. Menikmati sapuan lembut di-punggungnya yang diberikan Adam untuknya, juga kecupan yang tak ketinggalan dari pria itu di kepalanya.
Cukup lama Adam melakukan itu hingga lambat laun, Hana tertidur juga dalam pelukannya. Adam mendongakkan kepalanya kebawah melihat Hana, ia lalu tersenyum menatap wanitanya. "Kamu pasti takut sama kakek, kan? Jangan takut, ada Daddy bersama kamu." ucap Adam kepada sosok yang sudah tertidur pulas dalam pelukannya.
Terlihat jelas raut sedih, takut dan juga hancur bercampur menjadi satu. Itulah yang Adam lihat dari wajah Hana. Hatinya ikut terluka dan tidak tega melihat Hana seperti ini, maka dari itu ia ingin cepat cepat menyelesaikan semua masalah ini. Ia ingin Hana ceria seperti dulu lagi.
Yuk sebelum dan sesudah membacanya, jangan lupa untuk berikan vote, like, komen, favoritkan, berikan bintangnya, dan jangan lupa untuk subscribe Author ya🙏
__ADS_1