
Ayah Nanda akhirnya memutuskan untuk membatalkan pertunangan mereka, saat mengetahui Adam yang menjalin hubungan dengan anak angkatnya sendiri. Tentu saja beliau kecewa, harapannya menginginkan menantu seperti Adam sirna begitu saja karena Adam yang telah diam diam menjalin hubungan dengan wanita lain.
Kurang lebih selama hampir dua jam kedua keluarga itu berkumpul, membahas keputusan mereka yang berbeda pendapat tersebut. Ada perdebatan antara dua pria tua tersebut.
Papi Barack sempat berdebat dengan ayah Nanda, karena dia tidak setuju dengan keputusan ayah Nanda untuk membatalkan pertunangan anak anak mereka.
"Apa tidak bisa dibicarakan baik baik dulu? terkait keputusan kamu? Saya berjanji akan mengurus wanita itu (Hana) untuk tidak menggangu hubungan anak anak kita." bujuk papi Barack.
"Kamu pikir aku akan membiarkan anak aku, dinikahi pria yang tidak mencintai dirinya? Aku tidak akan egois sebagai seorang ayah." ucap ayah Nanda dengan penuh sindiran.
Beliau bisa lihat jika pertunangan ini bukanlah Adam yang menginginkan, tapi karena Barack yang begitu ambisius. Ingin menikahkan anaknya dengan anak dari keluarga terpandang yang setara dengan keluarga mereka, makanya hal itu membuat ia bersikeras untuk membujuk dirinya agar mau menarik kembali keputusan itu.
"Adam akan mencintai Nanda seiring kebersamaan mereka jika sudah menikah nanti." papi Barack masih terus membujuk meyakinkan ayah Nanda.
"Apa kamu bisa menjamin itu?" tanya ayah Nanda dengan tersenyum sinis.
Papi Barack sontak tidak bisa lagi mengeluarkan perkataannya. Ucapan temannya itu begitu menohok hatinya.
"Adam minta maaf, Mi." Mami Ani yang sepanjang perdebatan kedua keluarga itu hanya diam saja akhirnya memilih untuk masuk ke dalam kamar merenung di sana.
"Maaf belum bisa jadi anak yang baik." Adam berlutut di depan tubuh Mami Ani yang terduduk di sofa kecil di dalam kamarnya.
Mami Ani hanya menatap lurus dengan pandangan kosong ke depan. Sejak tadi Papi Barack sudah marah-marah, dua kali kena pukul dari lelaki tua yang berstatus sebagai ayahnya itu.
Adam sebenarnya bisa saja mencegah pukulan dari papinya tetapi kali ini, ia membiarkan pukulan itu terus mengenai tubuhnya. Papi Barack terlihat sangat kecewa, Adam anak mereka satu satunya yang ia harap bisa mendapatkan menantu yang pantas untuk keluarga mereka tetapi Adam malah memilih Hana.
"Adam."
"Iya, mi?" Adam menjawab dengan tangan menggenggam erat tangan Mami Ani yang berada di pangkuan.
"Tolong bawakan buku dan pena untuk mami." Tangan Mami Ani terangkat menunjuk ke arah sebuah laci di meja kamar itu.
__ADS_1
Adam menurut, anak semata wayangnya itu segera melakukan apa yang Mami Ani perintahkan. Mengambil satu buku dan pena dari dalam laci.
"Buat apa, Mi?"
Mami Ani tidak menjawab, beliau terus menuliskan sesuatu didalam sana, setelah selesai ia lalu memberikan itu kepada Adam.
"Berikan surat permintaan maaf ini dari mami untuk Hana, Maaf karena mami tidak bisa menemui dirinya langsung untuk meminta maaf, Maaf karena sempat menolak untuk menerima Hana sebagai menantu keluarga kita."
"Mi ...." Adam lirih, matanya sudah berkaca-kaca, tidak sanggup menatap ke arah Maminya. Pria berwajah dingin itu tidak bisa melihat kedua wanitanya menangis seperti ini. Siapa lagi jika bukan Hana dan mami Ani.
"Pertahankan Hana! Jaga dia dan jangan buat dia sedih, karena cuman kita yang ia punya." ucap mami Ani sambil menyeka air matanya.
"Oh iya, mami juga punya sesuatu untuk Hana." Mami Ani beranjak menuju laci nakas, mengambil sebuah kotak kecil di dalam sana. Ia lalu melangkah kembali ke sofa. "Berikan ini untuk Hana!."
Beliau memberikan satu kotak kecil berisikan sebuah cincin yang sudah pasti dari brand mahal. Ia sodorkan ke tangan Adam. Adam terlihat bertanya tanya.
"Terima itu, Dam. Mami tau kamu bisa membeli benda itu, tapi mami ingin memberikan itu untuk Hana sebagai bentuk permintaan maaf.
"Jaga Hana Dam, mami tau papi kamu tidak akan membiarkan kalian berdua begitu aja." mami Ani mengingatkan anaknya.
Satu bulir cairan bening dari mata Mami Ani jatuh menetes, lalu mengalir membasahi kedua pipinya.
Sebelum kemudian Adam menghapus dengan ibu jarinya. "Jangan nangis, Mi. Adam gak bisa lihat Mami sedih.
"Kamu bahagia kan, Dam?" tanya Mami Ani tiba-tiba yang dibalas anggukan kepala cepat dari Adam.
"Adam pasti bahagia, selama Mami merestui Adam." Kepala Mami bergerak naik turun bersama cairan bening yang menetes semakin deras dari mata indahnya.
"Ya, kamu pasti bahagia. Pasti. Maaf Mami sempat tidak merestui kalian. Maaf mami sempat melarang kamu untuk berhubungan dengan Hana. Mami salut sama kamu karena mau berusaha membujuk Mami untuk mendapatkan restu dari mami."
la cium punggung tangan bidadari yang sudah melahirkannya ke dunia itu. "Terima kasih, Mi, terima kasih sudah menerima Hana."
__ADS_1
"Hm... jaga dia, Nak, jangan sakiti hati wanita yang sudah merelakan dirinya untuk kamu."
"Pasti, Mi."
Ia beranjak berdiri dengan kedua lutut lalu memeluk tubuh Mami Ani. "Aku beruntung terlahir dari ibu sehebat Mami." bisiknya.
...****************...
Sudah pukul sepuluh malam, dan Hana tidak berniat sama sekali untuk tertidur. Matanya masih segar. Tadi siang setelah Tika pulang dari rumah Adam, Hana tidak sadar telah tertidur di dalam kamar, lalu ia terbangun saat langit sudah mulai menggelap.
Bersama televisi yang masih menyalah, sesekali Hana melirik ke arah pintu kamarnya untuk memastikan seseorang yang akan masuk dari sana. Berulang kali ia menghela napas pelan saat pintu itu tak kunjung terbuka. Berharap malam ini ia bisa melihat sosok itu.
Detik demi detik terlewati, hari pun sudah semakin larut. Hana menghela dengan bibir tertarik kecut. Baiklah, mungkin Adam tidak akan pulang sekarang.
Hana yakin Adam pasti sudah menyetujui pertunangan itu. Mungkin sekarang mereka sedang tertawa bersama di sana. Dan dia dengan begitu mirisnya memikirkan pria itu.
Memutuskan untuk tetidur, Hana yang hendak membawa tubuhnya untuk beranjak naik keatas ranjang tiba-tiba saja tersentak, saat mendengar suara handle pintu diputar, dan tak lama benda itu terbuka menampilkan sosok yang sejak tadi berada di dalam pikirannya.
"Kenapa belum tidur?" tanya Adam dengan wajah datarnya. Sosok itu semakin membuat tubuh Hana berdiri kaku.
"Dad .... Daddy pulang?" tanyanya tidak percaya.
"Iya."
Hana mengerjap cepat. "Daddy beneran pulang?"
Adam tersenyum, kini tubuhnya sudah masuk kedalam kamar, hanya berjarak sedikit dari tubuh Hana.
"Hmm .... Daddy pulang." ucap Adam. Dengan cepat Hana berlari menerjang tubuh lelaki itu, melingkarkan tangannya di leher Adam, memeluknya sangat erat.
Daddy-nya, lelaki itu pulang.
__ADS_1
"Hana benci sama Daddy. Hiks hiks." ucap Hana dalam pelukan Adam.
Adam tersenyum lebar saat mendengar Hana mengatakan benci padanya, tetapi malah memeluk dirinya begitu erat.